Setiap kita punya batas kewarasan.
Bagi saya rasanya batas itu adalah ketika hari sudah siang, tangan sedang berjibaku membersihkan udang, mengerat punggungnya dan melihat mungkin masih seratus udang lagi menunggu...
Di kompor yang menyala kentang sedang digoreng, periode ke dua.
Si kakak datang berkata, "Lihat, lihat, ini PR matematikaku, sudah betul?"
Itu adalah penjumlahan menurun yang ditulis kecil-kecil yang diajukan sambil melonjak-lonjak.
"Maaf, nanti saja bisa? Tangan Ibu kotor."
"Cuci saja dulu. Lihat, itu 476 betul?"
"Hmm, mungkin, bawa ke depan, setelah ini Ibu lihat."
dan tiba-tiba ingat, kentang itu seharusnya bukan digoreng, tp dikukus.... bagaimana bisa lupa?!
Si adik teriak dan buuum! Dia pasti melompat lagi dari kasur ke lantai. Oke, dia tertawa...
Selamatkan kentang
Teruskan udang.
Mereka berkelahi.
Si kakak datang bercucuran air mata, masih membawa bukunya. "Lihat dulu ini, please?"
Blender tiba-tiba macet. Kurang air.
Cuci tangan, cek PR. "Oke, betul semua. Ini untuk dikumpul besok? Bukannya besok bagi raport?"
"Ini kan bukuku semester lalu..."
Aah.... I See.
Bumbu yang halus terlihat tidak seperti seharusnya... oke, pertanda buruk.
si adik melompat, si kakak ikut. Buuum! Gedebuk!
Suara tangis, dua anak.
Matikan kompor, cuci tangan, lepas celemek.
"Berhenti lompat-lompat dan ambil buku kalian. satu di depan, satu di kamar."
"Aku mau Tiviiii!"
"Aku pinjam laptop boleeeh?"
Ponsel berbunyi. "Oke, jangan berisik, Ibu harus bicara di telepon. Jarum panjang di dua belas kita makan siang."
Oh! Rice cooker belum di posisi On.
"Hei, haaai... apa kabar?"
bla bla bla...
Dia: "Enak ya jadi dirimu, aku bayangkan ada di rumah. jam segini makan siang udah siap, bisa nonton ulang serial favorit, sambil terima telepon temen... ngeteh, baca majalah, yada yada yada yada...."
Tarik napas. Hitung mundur. Istighfar. Count blessing.
Kakak: Tebak aku jadi apa!
Adik: Monster?
Kakak: Salah! Ibu yang sedang marah!
Yes, ketika kau mengira itu adalah batasmu, nooo... wrong. Masih ada besok dan besok. Tertawa saja. Hari ini memang gila. Tapi lumayan untuk ditertawakan kemudian.
Biasanya, pas
menulis cerita, kebahagiaan si tokoh utama diberikan dekat-dekat ceritanya mau
habis. Bab terakhir. Namanya aja happy ending.
Kalau bukunya masih
tebal tapi sudah bahagia, yakin deh si tokoh utama masih harus mengalami
tantangan sekali lagi. Atau dua kali lagi. Makin besar malah. Ujian utamanya
belum keluar.
Hidup juga kayaknya
begitu.
Kalau masih muda
merasa hidupnya agak susah, wajar. Dimudahkan Allah dalam hal jodoh dan anak,
diuji dari sisi rezeki; yang kerjaannya susahlah, jauhlah, gak naik-naik pangkatlah... gitu juga sebaliknya.
Dimudahkan Allah ke mana-mana,
diuji dengan orang-orang sekitar yang kelakuannya nggak biasa.
Yang rumahnya gede dan
megah ternyata sepi karena isinya pada sibuk. Yang rumahnya rame dari nenek,
ponakan, sepupu, anak ilang, dst, rumahnya enggak gede-gede dan kredit nggak
ada bau-baunya selese. Doh.
Maunya kita sih pas-pas
aja. Pas keluarga kita gede, pas rumah kita juga gede. Pas anak-anak kita usia
sekolah, pas juga tuh sekolah terbaik, murah, ada di dekat rumah.
Bagus lagi kalau: rumah
gede, furnitur minimal IKE*, apa-apa tinggal pencet dan gesek, daaan usia masih di bawah 40an :D
Anggaplah itu gambaran
sukses hidup seseorang. Dan nggak ada salahnya untuk menginginkan kesuksesan. Laa
hawla wa laa quwwata illa billah. Tapi kalau dalam prosesnya kita membenci
masalah, selalu meributkan kesuksesan orang lain, menginginkan semua itu serta merta dalam satu langkah, mengomeli
keadaan yang kayaknya gak berubah... Butuh sulap dong ya.
Kapan matahari terlihat
paling terang?
Semoga tua kita juga
begitu, tenang dan barokah. Meski kita berdoa semoga mudanya nggak pake
badai-badai banget. Semoga kita selalu ingat bahwa dalam perjalanan menuju ke
sana, Allah tidak mungkin membebankan melebihi kemampuan. Yang terasa berat
dijalani, itu adalah niscaya. Dari buruh sampe CEO punya beban. Pasti lewat.
Pasti ada masa untuk happy ending. Tetap usaha dan sabar menunggu happy ending.
Jangan maksa minta segera, ntar epilognya juga segera lho :D
Dan tetaplah jadi orang
baik, karena biasanya yang dapat happy ending itu yang baik-baik.
Sebagai Ibu rumahan saya
cenderung punya waktu yang fleksibel. Karena kedua anak saya juga sekolah di
rumah sebelum mereka mencapai usia 7, biasanya kebanyakan waktu saya habis
dengan anak-anak. Kalau tidak mengerjakan pelajaran dengan mereka, ya
menyiapkan bahan ajar, atau mencicil tulisan untuk penerbit. Pekerjaan rumah
biasanya kalau tidak selesai lebih dulu berarti selesai belakangan. Seringnya
sih selesai belakangan, setelah anak-anak tidur. *guilty*
Pernah, saya
merasa lelah. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih lelahnya. Saya memang tidak
memakai ART, tapi toh pekerjaan rumah juga standar (standar nggak
habis-habisnya). Mengingat ibu saya menderita Diabetes Melitus, saya jadi
curiga saya juga membawa penyakit yang sama. Alih-alih periksa ke dokter dan
jadi horor sendiri, saya kemudian bertekad untuk memperbaiki pola hidup. Mending
berubah sekarang daripada nyesal kemudian.
Saya lihat kalender. Usia saya nyaris 30 (waktu itu). Mau nunggu kapan baru berbenah? Saya
lihat anak-anak. Well, lihat sepintas memang kami baik-baik saja. Tapi
bagaimana kalau sifat easy going saya
selama ini kebablasan dan baru sadar setelah bom meledak.
Hal pertama saya ubah
adalah hubungan dengan Allah. Yang sebelumnya hanya rutinitas, saya berusaha
untuk lebih ter-connect. Bagaimana
caranya supaya ibadah menjadi penyiram kekeruhan hati, bukan sekadar checklist yang harus dipenuhi.
Kedua, kesehatan. Yang namanya perempuan dan pernah melahirkan, kayaknya daftar
yang harus dicek ke dokter bertambah. Sebelum terlambat lebih baik memastikan.
Tapi kesehatan juga berkaitan dengan hal berikutnya yang harus saya perbaiki.
Ketiga, pola makan.
Biasanya saya suka manis, pedas, asin, ekstrem pokoknya. Makanan favorit aja
nasi padang. Camilan goreng-gorengan. Lalu saya pikir, kapan mau berhenti makan seenaknya? Nunggu masuk
rumah sakit? Sederhana saja sih perubahan yang saya buat, saya cuma menambahkan
jumlah sayur, buah dan jumlah air yang dikonsumsi. Lalu perlahan mulai sugar free, caffein free, natrium free...
entah kapan bisa ice cream free
hehehe.
Keempat, pola istirahat. Saya
sedang berusaha keras untuk mendapat istirahat 6 jam per hari, tidak kurang
tidak lebih. Saya percaya tidur yang cukup adalah awal dari fisik yang baik,
dan fisik yang baik adalah awal dari hati dan pikiran yang jernih--karena saya orang
yang cenderung gagal fokus kalau kurang tidur.
Kelima, olahraga. Nggak
pakai ngoyo. Saya ambil jalan kaki 20-30 menit per hari. Saya suka pagi hari
karena udaranya masih bersih dan kaya oksigen, dan anak-anak masih tenang. Duh
jangan tanya gimana beratnya di awal. Tapi nikmatnya melihat matahari terbit
itu... bertahan sepanjang hari!
Mengatur daftar adalah
bagian paling gampang. Yang susah adalah disiplin menjalankannya. Jangan
cuma kuat di niat tapi berat di eksekusi.
Saya memutuskan untuk
#BeraniLebih Disiplin. Disiplin saya artikan sebagai melakukan sesuatu lepas
dari rasa suka atau tidak. Disiplin berarti keluar dari zona nyaman. Disiplin
berarti siap bersusah-susah dahulu baru menikmati hasilnya kemudian.
Demi hasil yang
baik--bukan cuma badan langsing muka cerah ceria tapi juga sehat secara
batiniah, saya harus membiasakan diri. Ini ternyata berdampak ke banyak aspek hidup. Yang saya perlukan
hanya bangun di pagi hari dan berkata, “Ya, saya harus #BeraniLebih Disiplin.”
Words: 479
Bulan Nosarios
FB Bulan Nosarios
Twitter @Bulannosarios
Setelah sekian lama mengikuti bisikan hati setiap kali merasa lapar, saya mulai berpikir, kenapa sepertinya lapar ini mengontrol saya, bukan sebaliknya? Padahal, menurut para ahli, rasa lapar yang memancing tersebut seringkali bukanlah lapar sebenarnya. Bisa jadi hanya rasa haus yang disalahterjemahkan oleh otak, atau hanya kebiasaan untuk mengunyah, atau justru kebutuhan psikologis untuk memuaskan keinginan. Lambung yang tidak bersalah itu tidak benar-benar lapar! Kalaulah ia benar-benar lapar, seharusnya segenggam nasi tanpa rasa sudah bisa membuatnya diam. Tapi ternyata itu tidak cukup kan? Saya masih membongkar kulkas untuk menemukan potongan cake, es krim, roti, atau bahkan mencari mi instan.
Lapar itu manusiawi. Hanya sejengkal menuju sifat hewani kalau kemudian saya hanya memuaskan dan memuaskan dan memuaskan rasa lapar tanpa mengetahui (atau peduli) apa yang saya makan.
Halal dan baik. Itulah sunnahnya. Eat well!
Saya mulai belajar untuk mengontrol keinginan untuk makan. Dan hanya makan ketika tubuh membutuhkan dan memakan makanan halal dan baik. Berhasilkah? I'm struggle on it.
Kebanyakan makanan baik itu tumbuh di tempat paling dekat dengan kita, tidak mengalami banyak proses, dan sayangnya, rasanya tidak terlalu enak :D
Di hari pasar tradisional buka, saya mencari jenis makanan yang tumbuh di dekat saya. Ada bayam merah, bayam hijau, pisang mas, labu kuning, ubi rambat, ketela, terung ungu, lemon, kemangi, pakis. Lumayan bukan? Sebenarnya masih ada kacang panjang, wortel, kentang, dll, namun itu adalah hasil pertanian skala besar. Kenapa saya menomorduakan hasil pertanian besar? karena petani-petani skala besar bersaing bahkan secara nasional untuk hasil terbaik dan terbanyak, yang dalam prosesnya akhirnya memakai pupuk non-organik (yg organik mahal yaaa). Kalau saya harus diingatkan tentang tidak memakan kulit kentang dan timun karena tercemar oleh pestisida, berarti makanan itu bukan yang terbaik kan?
Jadi menurut saya, makanan terbaik adalah makanan yang tumbuh di halaman kita atau halaman tetangga :D Yaaa, paling jauh milik petani desa yang tanahnya hanya sepetak dua petaklah. Kalau sulit menemukannya, berarti itu petunjuk agar kita mulai menanam sendiri ;)
Seperti yang sudah saya sebut di atas, ternyata ada banyak jenis makanan yang tumbuh di sekitar kita.
Eat well, live well :)
Lapar itu manusiawi. Hanya sejengkal menuju sifat hewani kalau kemudian saya hanya memuaskan dan memuaskan dan memuaskan rasa lapar tanpa mengetahui (atau peduli) apa yang saya makan.
Halal dan baik. Itulah sunnahnya. Eat well!
Saya mulai belajar untuk mengontrol keinginan untuk makan. Dan hanya makan ketika tubuh membutuhkan dan memakan makanan halal dan baik. Berhasilkah? I'm struggle on it.
Kebanyakan makanan baik itu tumbuh di tempat paling dekat dengan kita, tidak mengalami banyak proses, dan sayangnya, rasanya tidak terlalu enak :D
Di hari pasar tradisional buka, saya mencari jenis makanan yang tumbuh di dekat saya. Ada bayam merah, bayam hijau, pisang mas, labu kuning, ubi rambat, ketela, terung ungu, lemon, kemangi, pakis. Lumayan bukan? Sebenarnya masih ada kacang panjang, wortel, kentang, dll, namun itu adalah hasil pertanian skala besar. Kenapa saya menomorduakan hasil pertanian besar? karena petani-petani skala besar bersaing bahkan secara nasional untuk hasil terbaik dan terbanyak, yang dalam prosesnya akhirnya memakai pupuk non-organik (yg organik mahal yaaa). Kalau saya harus diingatkan tentang tidak memakan kulit kentang dan timun karena tercemar oleh pestisida, berarti makanan itu bukan yang terbaik kan?
Jadi menurut saya, makanan terbaik adalah makanan yang tumbuh di halaman kita atau halaman tetangga :D Yaaa, paling jauh milik petani desa yang tanahnya hanya sepetak dua petaklah. Kalau sulit menemukannya, berarti itu petunjuk agar kita mulai menanam sendiri ;)
Seperti yang sudah saya sebut di atas, ternyata ada banyak jenis makanan yang tumbuh di sekitar kita.
Eat well, live well :)
Tak akan panjang tulisan ini.
Saya tidak terlalu mengenal wanita itu. Hanya tahu bahwa suaminya terbaring di rumah sakit. Untuk waktu yang sudah cukup lama, dan entah sampai kapan. Mereka masih muda. Bayi mereka baru akan merangkak satu dua langkah. Mungkin ia tidak sekuat yang terlihat, tapi itulah yang saya ingat; ia tak pernah mengeluh. kata-katanya penuh semangat. Senyumnya tak pura-pura dan memancing iba. Setiap kali ia menjawab kabar tentang suaminya, bukan kasihan yang orang rasa, namun takjub, membuahkan doa semoga Allah merahmati mereka.
Ia mungkin tak sekuat omongan saya. Ia mungkin bukan satu-satunya wanita sekuat itu. Ujiannya mungkin bagi beberapa orang tak seberapa.
Namun bagi saya, ketika kembali melihat diri... betapa hebat ia. Sungguh Allah menampakkannya pada saya, mungkin akan saya bisa lebih kuat. Ujian seujung kuku saja saya sudah mengeluh, maka apalah saya jika ada di posisinya. Tak punya pembantu saja sudah merasa jadi babu, padahal suami dan anak-anak masih ada, tertawa di ruang yang sama....
Lalu bagaimana mungkin, wahai diri, beraharp Allah menuangkan rahmatnya, sementara pada ujian saja hati ini jeri. Pada penundaan nikmat dunia barang sekejap saja, diri ini enggan. Pada panggilan adzan, subuh, para yatim, miskin, diri ini masih pura-pura tuli...
Jika saja iri dibolehkan, maka ijinkan aku iri pada mereka; para istri dan ibu kuat yang tak menyempatkan diri mengeluh, melainkan menyelesaikan ujian sebaiknya, semampunya. Semoga Allah merahmati mereka.
Saya tidak terlalu mengenal wanita itu. Hanya tahu bahwa suaminya terbaring di rumah sakit. Untuk waktu yang sudah cukup lama, dan entah sampai kapan. Mereka masih muda. Bayi mereka baru akan merangkak satu dua langkah. Mungkin ia tidak sekuat yang terlihat, tapi itulah yang saya ingat; ia tak pernah mengeluh. kata-katanya penuh semangat. Senyumnya tak pura-pura dan memancing iba. Setiap kali ia menjawab kabar tentang suaminya, bukan kasihan yang orang rasa, namun takjub, membuahkan doa semoga Allah merahmati mereka.
Ia mungkin tak sekuat omongan saya. Ia mungkin bukan satu-satunya wanita sekuat itu. Ujiannya mungkin bagi beberapa orang tak seberapa.
Namun bagi saya, ketika kembali melihat diri... betapa hebat ia. Sungguh Allah menampakkannya pada saya, mungkin akan saya bisa lebih kuat. Ujian seujung kuku saja saya sudah mengeluh, maka apalah saya jika ada di posisinya. Tak punya pembantu saja sudah merasa jadi babu, padahal suami dan anak-anak masih ada, tertawa di ruang yang sama....
Lalu bagaimana mungkin, wahai diri, beraharp Allah menuangkan rahmatnya, sementara pada ujian saja hati ini jeri. Pada penundaan nikmat dunia barang sekejap saja, diri ini enggan. Pada panggilan adzan, subuh, para yatim, miskin, diri ini masih pura-pura tuli...
Jika saja iri dibolehkan, maka ijinkan aku iri pada mereka; para istri dan ibu kuat yang tak menyempatkan diri mengeluh, melainkan menyelesaikan ujian sebaiknya, semampunya. Semoga Allah merahmati mereka.
Ada dua alasan kenapa saya menulis ini.
Pertama, karena udah lama nggak ngisi blog. Sudah sering buka template, tapi kemudian bengong. Semoga kali ini selesai dan beneran tayang, bukan cuma teronggok di kolom draft.
Kedua, mumpung lagi waras, menulis hal2 yang membuat saya waras. biar nanti pas nggak waras lagi, baca ini, dan mudah2an mampu waras kembali.
Tadi saya mau nulis apa ya...
(kembali setelah 7 menit)
Sudah bosan beum denger cerita para ibu tentang betapa jungkir baliknya berada di rumah 24 jam bersama satu anak dan satu balita yang seolah berada di jet coaster? Saya nggak akan mengurainya.
Saya tidak tahu bagaimana para ibu lain mengalami atau merasakannya, karena ketika para ibu berkumpul dan bertukar cerita, telinga saya biasanya jauh dari situ: mencoba menangkap suara anak-anak saya yg sedang bermain di luar. Mustahil untuk duduk tenang dalam sepuluh menit tanpa satu teriakan. Meski seringnya yang teriak ternyata bukan anak saya, hehehe.
Ada masa-masa ketika saya merasa ada sesuatu di kerongkongan. Membuat sulit menarik napas. Dan tiba2 saja mata saya basah. Tak bernai bertanya pada Allah Maha Baik, kira-kira jet coaster ini memiliki berapa putaran lagi?
Tapi kemudian, daripada merasa-rasai sesuatu di kerongkongan itu, saya mencari cara sebanyak mungkin untuk tetap waras. Ada dua artikel yg cukup berpengaruh untuk saya (terima kasih mommy2 yang sudah mengupload ide2 brilian!)--membaca artikel lebih mudah daripada mendengar teman bercerita, karena artikel tidak cemberut kalau saya terpaksa mengabaikan mereka sejenak demi cucian-jemuran-penggorengan-atau kecelakaan toilet.
Artikel pertama tentang self discipline. artikel kedua tentang mother priorities. Kalau di google, insyaAllah kedua topik tersebut banyak sumbernya, dan tinggal pilih mana yang sesuai dengan gaya kita masing2.
Saya sendiri, akhirnya menemukan cara untuk tetap waras. Ini dia:
1. Menjaga hubungan dengan Allah.
Shalat wajib dengan buru2? Mengejar target 1 juz?
Bukan hubungan seperti itu yang cocok untuk saya. saya membutuhkan moment untuk berdiam dan berpikir tentang mengapa saya di sini; mencoba melihat hidup sebagai gambaran utuh, bukan potongan puzzle. Anak menangis dan cucian segunung itu adalah potongan puzzle. Gambaran besarnya pasti lebih baik. Saya cuma perlu berhenti untuk menyadarinya kembali. Dan seringnya, waktu itu saya temukan tepat setelah shlat. Jadi kalau shalat dengan terburu-buru, berarti saya kehilangan momen itu.
Saya tipe yang memilih membaca Al Quran di saat tenang, ketika anak membaca, mewarnai, atau bahkan bersedia mendengarkan. kemudian membaca terjemahan, baik lagi jika lebih dari itu. Kadang hanya tiga ayat. di saat lain, saya mengambil mushaf, membukanya secara acak, dan membaca ayat yang paling pertama ditangkap oleh mata saya. Kadang2 terasa benar2 ajaib :)
Mengingat Allah, memandang semua keberkahan dan ujian itu datang dari Allah, membuat saya tetap waras.
2.. Mengatur prioritas.
Seolah-olah ada banyak sekali yang harus dikerjakan; membersihkan kompor, melap kaca oven, menyusun ulang rak piring, menyapu kolong meja tv, memasukkan baju usang ke kardus, menggosok sudut lantai di toilet, memasang kancing baju kakak, mencari topi adik yang hilang, menyelesaikan hafal Al Buruj, shalat dhuha, menjenguk tante A atau Mbak B, membeli roti atau membuat roti, mengambil lidah buaya, menyiram cabe, menelepon fulan fulanah, ke bank, ke pasar, ke sekolah. Menemani kakak menggambar, memerhatikan adik membangun benteng, mengajari kakak melipat selimut, menemani adik ke toilet dengan benar.
Benar-benar menyenangkan kalau dilakukan satu per satu, bukannya menyerbu di saat bersamaan. Kadang, yang dibutuhkan hanya prioritas, mana yang lebih penting untuk dilaksanakan. Lihat, menulis dan membaca bahkan tidak saya masukkan ke sana :D ada beberapa hal yang akan menumpuk kalau tidak segera dikerjakan, ada hal yang bisa menunggu dan dilakukan kemudian dengan mengorbankan beberapa hal yg tidak penting.
3. Jaga kondisi tubuh
Saya punya masa2 buruk ketika tidur makan dan olahraga tidak menjadi perhatian besar. kemudian saya merenung, kalau bukan saya yg menjaga fisik ini, siapa lagi? kalau bukan skrg menjaganya, kapan lagi? Kalau tidak segera berbenah, apa yang sebenarnya saya tunggu?
Saya mulai memperbaiki makanan, menjadwalkan olahraga, tidur lebih teratur. berhenti keras kepala dan nggaya dengan pola hidup tidak sehat.
Hasilnya? Saya merasa waras sepanjang hari--sebagian besar :p
4. Miliki beberapa sahabat
Yaitu mereka yang tidak menuntut saya ada 24 jam, memaklumi ketika saya terpaksa menghilang, tidak membuat saya melihat dunia dengan negatif, dan kami bisa menerima satu sama lain tak peduli berapa gilanya kami kadang2 :D
5. Bercita-citalah!
Apa sih yang mau saya capai? kalau yang saya mau saja tidak jelas, wajar kalau lihat teman sukses, stres. lihat temen punya anak lucu dan pintar, stres dan mulai deh nilai2 anak sendiri. Lihat temen dapat beasiswa dan kerja di kantor keren, stres; bertanya2 apa memang mau jadi ibu rumahan selamanya. duh, gak ada habis-habisnya... -_-
Setiap orang punya target yang berbeda. Saya menetapkan target sendiri. Masa depan seperti apa yang saya inginkan? Karena saya tipe living in the moment, buat saya masa depan itu ya termausk hari ini. Hidup yang disyukuri dan dinikmati per kepingnya. Ada angin, wah semilir! ada hujan, wah cabenya tumbuh! ada panas, was jemuran kering! ada badai, wah kayak di pilem pilem... :p
Masa depan tidak mungkin baik jika hari itu, saya akan mengingat hari ini sebagai hari penuh keluhan. Miliki cita-cita, apa pun itu. genggam erat2, bekerjalah terang2an atau diam-diam. tapi teruslah berdoa dan percaya. saya yakin, yang hari ini menikmati pemberian Allah, tak mengabaikan keping-keping nikmatnya, insyaAllah akan didekatkan pada cita-citanya.
Kalau hari ini saya tidak bisa menulis untuk novel kedua karena sempitnya waktu, malas, dan beban otak (alessssaaan), saya tidak perlu menyalahkan anak-anak, waktu, dll. Akan ada masanya hal itu menjadi prioritas. Begitu juga dengan pertemanan. Jika skrg saya hanya punya dua sahabat yg nyaris saya telantarkan, saya tidak bisa bilang kalau saya sibuk. itu hanya alasan, jujurnya, saat ini mereka ada di prioritas di bawah urusan anak2. akan ada masanya bagi kami untuk duduk ngeteh dan ngobrolin film. Nanti.
nah, anak2 mulai menjerit, mumpung masih waras, sepertinya saya akan mengambil buku dari rak, membacakannya dan mengantar mereka tidur siang.
:) bersemangatlah membuka halaman hidup berikutnya!
Dear You,
Di antara jemari kita
yang bertautan,
aku meletakkan kepercayaan, rasa hormat, kasih sayang, dan
permohonan akan kesabaran.
Kurasa itulah cinta.
Percayalah bahwa aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia;
Lebih sering tertawa, dan berlapang dada pada satu-dua duka.
Mungkin akan ada kelebatan mendung yang lewat,
Kurasa kita bisa melewatinya, berbagi humor kering sebelum
matahari muncul kembali.
Mungkin akan ada nada yang lepas meninggi, kata-kata yang
tak kausukai.
Kurasa aku membutuhkan banyak maaf dan kesabaran, kita akan
terus belajar.
Dari fajar ke petang, senin ke minggu, hari ke tahun...
Entah berapa banyak yang akan kita lewati, aku tak akan
menghitungnya.
Aku akan menghabiskannya dengan mengenalmu,
lewat sepotong pagi, sejumput hujan, bahkan dalam heningnya
malam.
Aku akan bertahan meski sekali dua kali mungkin orang
mengatakan aku pasti bosan.
Tidak, aku akan bertahan. Aku akan ada saat kau tertawa,
kesal, marah, luka dan berduka.
Aku hanya meminta, agar Tuhan mengijinkannya.
Aku meminta ruang, waktu, dan kesabaranmu.. menjalani ini
bersamaku. Tanpa batas waktu.
Will you?
Pada subuh itu, aku akhirnya mendengar sesuatu yang lebih baik dari segala musik, lebih bermakna dari segala lagu.
Pada adzan yang memecah keheningan, entah bagaimana membuatku berani. Ah, hari, terus datang satu per satu, tak bosan meski aku selalu menggerutu; mengisinya tak sepenuh hati. Subuh, membuka hari yang baru, menawarkan semangat yang baru. Adalah aku; mengambilnya atau tetap menutup mata.
Pada kokok ayam itu, aku ingat jauuh ke kampung halaman. Tempat masa kanak-kanakku tertanam. Bersama orang-orang yang sudah tiada. Aneh rasanya, bagaimana kenangan itu terasa begitu hidup; seolah aku masih mendengar keran yang mengalir di belakang, bagaimana aku membaui arang dari tungku dan kopi panas pertama hari itu. Semuanya lekat dalam benak. Aku bahkan mengingat bagaimana penyiar radio itu menyapa pendengar dengan suara serak bangun tidurnya. Dulu aku membencinya, sekarang, aku ingin mendengarnya kembali, bersama orang-orang yang sudah pergi.
Pada segaris jingga di balik bukit yang perlahan naik itu, aku seperti melihatnya bersamamu, Ayah. Aku seperti kembali pada tahun-tahun di mana yang kukhawatirkan hanyalah; dengan siapa aku akan bermain hari ini.
Pada bintang terang yang kemudian hilang, pada rumput yang terjejak oleh kaki, pada air yang mengalir, pada cicit burung yang keluar dari sarang... aku menjumput semangat hidup.
Terima kasih sibuh. Terima kasih untuk lembar-lembar kenangan yang terus melekat.
Pada adzan yang memecah keheningan, entah bagaimana membuatku berani. Ah, hari, terus datang satu per satu, tak bosan meski aku selalu menggerutu; mengisinya tak sepenuh hati. Subuh, membuka hari yang baru, menawarkan semangat yang baru. Adalah aku; mengambilnya atau tetap menutup mata.
Pada kokok ayam itu, aku ingat jauuh ke kampung halaman. Tempat masa kanak-kanakku tertanam. Bersama orang-orang yang sudah tiada. Aneh rasanya, bagaimana kenangan itu terasa begitu hidup; seolah aku masih mendengar keran yang mengalir di belakang, bagaimana aku membaui arang dari tungku dan kopi panas pertama hari itu. Semuanya lekat dalam benak. Aku bahkan mengingat bagaimana penyiar radio itu menyapa pendengar dengan suara serak bangun tidurnya. Dulu aku membencinya, sekarang, aku ingin mendengarnya kembali, bersama orang-orang yang sudah pergi.
Pada segaris jingga di balik bukit yang perlahan naik itu, aku seperti melihatnya bersamamu, Ayah. Aku seperti kembali pada tahun-tahun di mana yang kukhawatirkan hanyalah; dengan siapa aku akan bermain hari ini.
Pada bintang terang yang kemudian hilang, pada rumput yang terjejak oleh kaki, pada air yang mengalir, pada cicit burung yang keluar dari sarang... aku menjumput semangat hidup.
Terima kasih sibuh. Terima kasih untuk lembar-lembar kenangan yang terus melekat.
Setiap kita memiliki hak untuk memilih. Setiap kita memiliki hak untuk menyuarakan pilihannya, atau menyembunyikannya. Itulah makna merdeka.
Setiap orang berhak merasa aman dengan pilihannya, yang bearti kewajiban orang lain untuk menghormati itu; tidak menekan, mengintimidasi, merendahkan, apalagi mencelakai.
Hanya karena seseorang diam, bukan berarti dia tidak berpartisipasi dalam pemilu. Mereka mungkin hanya memilih untuk tidak bertarung di perang semu yang tidak ada habisnya.
Hanya karena seseorang tidak ribut-ribut di socmed, bukan berarti dia tidak peduli. Bisa jadi bentuk pedulinya lain; tidak ikut membagi-bagi berita yang alih-alih membuat negeri ini maju dan damai, melainkan porak poranda dan terpecah belah.
Hanya karena seseorang berbeda pilihan denganmu, bukan berarti ia tidak menginginkan yang terbaik untuk negeri ini: pilihan seseorang selalu dipengaruhi pengalaman dan harapan-harapan hidupnya. Siapa yang lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri? Lalu apa hakmu memaksa ia berganti pilihan.
Hanya karena pilihan kita sama, bukan berarti aku harus membenarkan segala caramu dalam mendukung pilihan ita; salah ya salah, benar ya benar. Aku masih memiliki hak suaraku sendiri, dan tidak harus selamanya sepakat denganmu.
Hanya karena kita teman, bukan berarti pilihan kita sama. Ekspektasi kita berbeda, karena pengalaman terkecil saja bisa berpengaruh di sana, sementara, tak semua pengalaman hidupku kuhabiskan denganmu.
Hanya karena pilihan kita berbeda, bukan berarti kita harus putus hubungan. Aku memilih ini, kau memilih itu. Kita tanggung resikonya masing-masing. Kita nikmati proses ini sedamai mungkin.Toh ini akan berakhir, sementara kau adalah temanku--kuharap selamanya.
Kita pikir nasib bangsa ini benar-benar ditentukan oleh apa pilihan kita. Kita lupa kekuatan yang lebih besar: kita sendiri. Kita adalah dua ratus juta lebih nyawa, pikiran, dan hati, yang sanggup berbuat dan bertahan dalam hidup. Mengapa merendahkan diri dengan menganggap salah pilih berarti kiamat? Jika dua ratus juta lebih jiwa itu saling berperang dan memusuhi... kurasa itu baru bisa disebut nyaris kiamat.
--to be continued--
Setiap orang berhak merasa aman dengan pilihannya, yang bearti kewajiban orang lain untuk menghormati itu; tidak menekan, mengintimidasi, merendahkan, apalagi mencelakai.
Hanya karena seseorang diam, bukan berarti dia tidak berpartisipasi dalam pemilu. Mereka mungkin hanya memilih untuk tidak bertarung di perang semu yang tidak ada habisnya.
Hanya karena seseorang tidak ribut-ribut di socmed, bukan berarti dia tidak peduli. Bisa jadi bentuk pedulinya lain; tidak ikut membagi-bagi berita yang alih-alih membuat negeri ini maju dan damai, melainkan porak poranda dan terpecah belah.
Hanya karena seseorang berbeda pilihan denganmu, bukan berarti ia tidak menginginkan yang terbaik untuk negeri ini: pilihan seseorang selalu dipengaruhi pengalaman dan harapan-harapan hidupnya. Siapa yang lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri? Lalu apa hakmu memaksa ia berganti pilihan.
Hanya karena pilihan kita sama, bukan berarti aku harus membenarkan segala caramu dalam mendukung pilihan ita; salah ya salah, benar ya benar. Aku masih memiliki hak suaraku sendiri, dan tidak harus selamanya sepakat denganmu.
Hanya karena kita teman, bukan berarti pilihan kita sama. Ekspektasi kita berbeda, karena pengalaman terkecil saja bisa berpengaruh di sana, sementara, tak semua pengalaman hidupku kuhabiskan denganmu.
Hanya karena pilihan kita berbeda, bukan berarti kita harus putus hubungan. Aku memilih ini, kau memilih itu. Kita tanggung resikonya masing-masing. Kita nikmati proses ini sedamai mungkin.Toh ini akan berakhir, sementara kau adalah temanku--kuharap selamanya.
Kita pikir nasib bangsa ini benar-benar ditentukan oleh apa pilihan kita. Kita lupa kekuatan yang lebih besar: kita sendiri. Kita adalah dua ratus juta lebih nyawa, pikiran, dan hati, yang sanggup berbuat dan bertahan dalam hidup. Mengapa merendahkan diri dengan menganggap salah pilih berarti kiamat? Jika dua ratus juta lebih jiwa itu saling berperang dan memusuhi... kurasa itu baru bisa disebut nyaris kiamat.
--to be continued--
![]() | ||||||||
| Pohon Bungur, Sakura-nya Jogja :D |
Dulu saya bertanya-tanya, akan seperti apa rasanya, jika buku saya sudah dibaca orang. Saat itu, tentu saja rasanya luar biasa. Akhirnya! Sekarang, sebulan setelah novel perdana saya muncul di toko buku dan sampai ke tangan pembaca... rasanya campur aduk. Kekhawatiran terbesar saya adalah pembaca kecewa sudah menghabiskan uangnya untuk membeli novel ini. Pfffiuuu... tapi kita tidak bisa menyenangkan semua orang, bukan?
Ketika teman-teman lama mengirimkan foto mereka bersama novel saya, rasanya luar biasa.... terharu, tak menyangka :) Saya berterima kasih karena kalian mau membaca novel ini, semata-mata karena kalian mengenal saya. Terima kasih karena terus percaya dan tetap mendukung saya, teman-teman...
Dan ada beberapa catatan yang saya ingat, dan saya akui memang layak #ByYourSide terima. Di antaranya adalah miskin konflik. Sepertinya saya terlalu menghayati kelas manajemen konflik sewaktu kuliah :p Jadi alih-alih memupuk bibit2 konflik supaya pecah dan seru, saya malah memadamkannya sejak semula. *huf huf huf* :D Baiklaaah, ilmu satu itu nggak akan saya ulangi kapan2. Saya berterima kasih pada pembaca yang bersedia meluangkan waktu untuk menulis review dan menyampaikan kritikan. Ketika selesai menulis novel ini, saya bisa dibilang kehilangan perspektif. Satu-satunya orang yang saya percayai ByYourSide saat itu adalah editornya. Tapi karena beberapa alasan, saya tidak berani mengganggu dan bertanya lebih banyak. Kadang saya membayangkan kami meluangkan waktu untuk makan siang yang mendiskusikan novel ini, mungkin saya bisa tercerahkan :D
Jadi, satu-satunya yang bisa saya lakukan sebagai permintaan maaf adalah mencatat kekurangan saya dan belajar lagi. Jangan kapok baca karya saya ya ;)
Pernah seseorang bertanya, "Apa yang membuat novel ini beda?" intinya adalah, di antara novel-novel romance yang dikemas dengan cantik, yang memenuhi rak-rak di toko buku, apa yang membuat novel ini layak dibawa pulang?--udahlah penulisnya anak bawang, tebel, mahal pula :p
Well... saya khawatir, saya tidak menawarkan banyak perbedaan. Ceritanya mungkin sama, kacangan, banyak di mana-mana. Tapi saya percaya, setiap kita tumbuh bersama pengalaman, nilai warisan, dan kultur yang berbeda-beda. Itulah yang membentuk siapa kita. Jadi meski cerita saya tidak jauh berbeda dengan orang lain, saya yakin ada beberapa hal yang tak sama. Semoga pembaca menemukan hal itu di ByYourSide. :)
Saya bukan pengiklan yang baik. Saya malu untuk mengatakan, "Dear Friends, baca novel pertama saya ini ya?" Tapi saya akan dengan senang hati menawarkan kalian, pembaca yang baik, untuk berkenalan dengan orang-orang yang lahir dari benak saya ini. Berkenalanlah dengan mereka; Erga, Kania, Evan, Vidya, Emi, Oma Linda, Dr. Rashid, Dr. Bian, bahkan Nina... saya percaya mereka orang baik, dan saya berharap mereka bisa menularkan ketulusan dan semangat.
Terus membaca dan mereview! ;)
![]() | |
| Prambanan at Night |
Ketika dunia terasa begitu ramai, hiruk pikuk, sahut menyahut...Telinga terus berdengung sementara mata mencari-cari apa lagi yang masih dikenali.
Kita hidup di masa ketika dunia ada dalam sepetak layar. Ketika teman baru ikut tertawa bersama, atau orang yang sama sekali tidak kita kenal mencibir dan berhasil membuat kita merasa buruk. Keduanya kita terima. Tapi sering kali, diam-diam kita merindukan gua sepi ntuk menarik diri sejenak.
Dan ketika hiruk pikuk semakin menjadi...
Close out all the tabs. Turn the phone on silent.
Open the window.
Take a deeep breath...
Look at the tree. A new branch, a new leaf.
Look at the sky. It's clean, or the clouds remind you of someone.
Pick a book. Choose a seat.
Read something that's really meaningful to you. Enjoy the words. Swallow the sentences. Let it dance in your mind.
Close the book. Close your eyes.
Now, can you hear them?
Your soul voices.
Kita hidup di masa ketika dunia ada dalam sepetak layar. Ketika teman baru ikut tertawa bersama, atau orang yang sama sekali tidak kita kenal mencibir dan berhasil membuat kita merasa buruk. Keduanya kita terima. Tapi sering kali, diam-diam kita merindukan gua sepi ntuk menarik diri sejenak.
Dan ketika hiruk pikuk semakin menjadi...
Close out all the tabs. Turn the phone on silent.
Open the window.
Take a deeep breath...
Look at the tree. A new branch, a new leaf.
Look at the sky. It's clean, or the clouds remind you of someone.
Pick a book. Choose a seat.
Read something that's really meaningful to you. Enjoy the words. Swallow the sentences. Let it dance in your mind.
Close the book. Close your eyes.
Now, can you hear them?
Your soul voices.
Alhamdulillah :)
Novel ini saya tulis pas baru-baru nyampe Gorontalo, tiga tahun lalu. Masih sepi, belum ada temen, anak-anak masih lama tidurnya, suami ngajar sampe sore. Belum ketemu endingnya, terus saya simpan. Tahun 2012 (ya Tuhan....udah selama itu ternyata :D) ada lomba Amore dari Gramedia Pustaka Utama. Saya coba ikutkan naskah ini, meski nggak yakin juga ini novel jenisnya apaan hehehe... Daaan, April 2013, keluar pengumuman gelombang kedua, saya termasuk pemenang berbakat, finalislah pokoke :D itu aja udah seneeeng banget. Tahun 2012, ulang tahun saya dapat hadiah pengumuman naskah anak saya menang lomba, juara satu, dapat dua jeti :p Jadi pas tahun 2013 dapat 1,5 jeti, girang kebangetan. Waktu itu gosip2nya sih segera diterbitkan. Oh ya, waktu itu diumumkan ada total sebelas finalis.
Lamaaaaa banget, finalis-finalis lain bukunya sudah mejeng di toko buku. Saya nanya ke editor dan dikabari, masih ngantri. Saya kira itu ngantrinya dua minggu-dua bulanlah. Temen-temen yang ngasih selamat pas pengumuman April itu sudah mulai bosan mungkin bertanya ke saya, "kapan terbitnya?"
Ada rasa sedih, malu, minder... dan sempat berpikir, eh, jangan2 nama saya nyelip dan sekarang mereka udah nyadar kalau naskah saya nggak layak :D waktu itu sediiih pake banget. Bertanya-tanya kenapa, tapi nggak tau mau nanya ke mana. Untunglah, sahabat dumay saya, Mbak Indah Hanaco, punya bejibun kalimat penyemangat--ya ampun mak, terharu deh kalo inget--yang bikin saya lumayan bisa move on. Dengan dia saya bisa cekikikan tiap hari dan merasa ringan saja kalau ada yang bertanya, "kapan terbit?" --udah kayak nerima pertanyaan "kapan lulus?" pas jaman skripsian dulu :D
Oktober 2013, saya pulang ke Jogja. Setiap hari hujan, nggak tau mau ke mana. Nggak ada temen yang pengangguran, dan anak2 sibuk sama neneknya. Saya melototin naskah di laptop tiap hari, ngecek e-mail sehari bisa tiga kali (pagi, siang, deket magrib) kkkk.... parah beud. Daripada nganggur dan sakit jantung, saya baca-baca tulisan Mbak Hetih Rusli, Editor Gramedia yang juga megang naskah saya waktu itu. Dari tulisan-tulisan beliau saya banyak belajar. Pelan-pelan, saya merapikan naskah saya, membuat pembuka, mengganti ending, meniadakan basa-basi, dll. Desember saya mengirimkan naskah hasil revisi itu. Dipandu oleh tulisan Mbak Hetih :)
Januari, Februari... saya dikabari proses editing sudah dimulai, naskah dibaca dan dikoreksi Mbak Ruth Priscilia A. Mereka jeli sekali. Saya sampai mikir, wuiih, kayak laser, tau aja salahnya nyelip di mana. Mereka membantu saya memahami kalimat yang benar tapi tetap indah. Mbak Hetih meminta saya memerhatikan PoV. Dikasi contoh dan beberapa tips, tapi tetep aja saya gablek :D ngutak-atik, bukannya tambah bagus malah ancur, kkkk.... akhirnya dua atau tiga malam berkutat dengan si PoV.
Bulan itu juga saya milih judul, membahas sampul. Dulunya novel ini berjudul When (WIll) You Merry Me? :D yang diputuskan demikian selagi nunggu mesin fotocopy bekerja (beberapa menit sebelum dikirim). Akhirnya dikasih judul By Your Side (setelah sebelumnya At Your Side ternyata ada yang punya. Saya malah nawarin A Lifetime Promise, tp kok kayak judul Hisrom, hehehe).
Maret saya diberikan pilihan sampul. Ada yang lebih bagus dari ini sebenarnya, maniiis banget. Mbak Hetih juga suka yang itu. Tapi saya dan Mbak Indah Hanaco ntah kenapa terhipnotis sama yang ini :D dan diam-diam berharap, aduh, semoga nggak kualaaat. Semoga teman-teman di luar sana menyukai sampul yang ini dan memutuskan membelinya ^__^
April saya diminta membuat sinopsis, lembar terima kasih dan profil penulis.
Dan inilah jadinya.
Ffiuuuuh.....
Biarlah keluar paling buntut, yang penting saya menikmati proses belajar melalui tulisan-tulisan Mbak Hetih. Membuat saya ingin menulis lebih baik :)
Selamat datang di dunia, Kania dan Erga! :D
Langganan:
Postingan (Atom)








