Tampilkan postingan dengan label child behavior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label child behavior. Tampilkan semua postingan
Pictureperfectforyou.tumblr
Anak laki-laki itu wajahnya bersih, giginya rapi, dengan rambut keriting menggemaskan. Ia begitu lucu, kalau saja ia mau diam sejenak. Umurnya antara 4-5 tahun, sekelas dengan Ami di TK A. Kami memanggilnya Afiz.

Ia seperti tak bisa diam. Ada saja yang membuat kaki dan tangannya bergerak. Menyapa ke sana ke mari, menyentuh ini itu, berlari, menendang, melompat, memukul, melempar... dan semuanya ia lakukan sambil tertawa atau berteriak. Tidak peduli 'korban'nya yang menangis.

Ia anak paling nakal di sekolah. Begitulah kata orang-orang. Jika seorang anak menangis, pastilah nama Afiz yang pertama diteriakkan. Pengasuhnya yang kurus tampak kwalahan mengejar dan mencegah bencana. Konon, beberapa anak sudah babak belur dibuat Afiz.

Setiap kali bertemu anak-anak, saya mematikan asumsi. Biarlah apa yang saya lihat sendiri yang berbicara. Pagi itu, sambil menemani Nizam bermain di ruang balita, saya melihat Afiz keluar dari kelasnya dan menghampiri kami.
"Halo," katanya dengan seringai lebar.
"Hai Afiz," kata saya. "Afiz tidak duduk di kelas?"
Dia menggeleng, masih menyeringai. Dalam satu gerakan cepat, ia merubuhkan jembatan balok Nizam. Dengan kakinya.
Nizam menatapnya kaget.
"Afiz akan membantu menyusun ulang," kata saya cepat, sebelum Nizam balas mengamuk.
Afiz mengangkat bahu, duduk di dekat saya dan mulai membantu Nizam menyusun kembali balok-balok itu. Saya kembali pada bacaan saya. Beberapa menit berselang, saya melihat keduanya sudah berhasil membangun jalan layang, menara, 'lumbung mobil busuk' dan sebagainya. Mereka tertawa bersama.
Di luar, saya lihat pengasuhnya mulai mencari ke mana Afiz.

Sebulan setelah kejadian itu, Afiz berulang kali keluar kelas dan bermain di kelas balita. Pengasuhnya cemas hal ini akan memengaruhi pembelajaran Afiz. Saya heran, apa sih yang diharapkan anak seusianya dipelajari selain bekerja sama dengan baik dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu? Bagi saya, dua hal itu jauh lebih penting daripada kemampuannya berhitung dan membaca, di usia ini. Tapi saya tidak punya hak mencampuri urusan pendidikan Afiz. Saya hanya bisa 'meracuni' pemikiran pengasuh dan gurunya, untuk membiarkannya bermain bersama kelas balita yang belum dicekoki calistung.

Suatu hari, kami di luar mendengar suara jeritan anak dari dalam kelas. Di kelas, guru sedang kesulitan memisahkan dua anak yang sedang berkelahi. Afiz dan seorang anak. Ibu-ibu yang sedan menunggu di luar berkata, "Anak itu memang nakal."
Tidak ada orang tua yang mau anaknya duduk di dekat Afiz.

Pengasuhnya tertunduk dengan rasa bersalah.

Siang itu saya mengawasi anak-anak bermain di dekat perosotan. Afiz dan Nizam bermain bersama. Dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang anak menyikut Afiz. Afiz, yang cenderung cepat terpancing, berteriak dan mengejar anak itu. Untungnya ada yang segera memisahkan mereka.

 "Afiz nakal!"
"Kenapa Afiz pukul?"
"Memang nakal. Dihukum saja."
Begitulah suara penonton.
Ia meronta-ronta di pelukan gurunya. Menangis begitu keras. Ketika akhirnya ia tidak mau masuk kelas dan memilih duduk di ayunan di luar, ia masih tersedu.

Tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada yang peduli untuk bertanya siapa yang memulai. Meski saya sendiri tidak pernah bertanya siapa di antara anak-anak yang lebih dulu memulai, setidaknya orang tua harus bersikap adil, tidak menyalahkan salah satunya. Keduanya berhak didengar. Keduanya berhak mendapatkan kesempatan untuk saling memaafkan, tanpa harus ada yang disebut di biang kerok atau si anak nakal.

Karena memang begitulah mereka berinteraksi. Menguji batas kesabaran satu sama lain. Menguji batas toleransi orang lain. Mencoba-coba apa yang membuat orang memerhatikannya. Mencari tahu mana yang boleh, mana yang berbahaya, mana yang tidak boleh tapi sebenarnya tidak apa-apa jika dilakukan.
Anak-anak adalah manusia yang masih cepat merasa bosan, ingin tahu banyak hal, ingin mencoba semua cara, tidak hanya cara biasa seperti yang ia lihat atau orang tua ajarkan. Itulah yang seringnya kita sebut nakal. Padahal, mereka hanya belajar tentang dunia dengan caranya sendiri.

Anak-anak yan dilabeli nakal, bodoh, bebal, liar, seperti kehilangan haknya untuk dipercayai. Seolah-olah ia tak lagi pantas didengar. Di mana ada suara tangisan, maka anak nakal itulah yang menjadi tertuduh sebagai penyebabnya.

Melihat Afiz yang menangis tersedu tanpa seorang pun yang memercayai bahwa ia tak salah, membuat hati saya ngilu. Sayang, saya bukan ibunya, pengasuhnya, gurunya, apalagi kepala sekolah. Saya hanya bisa  mengeluarkan pesawat mainan dari tas Nizam,
"Kita masih punya waktu sepuluh menit, Ijam mau main sama Afiz? Pinjamkan dia ini,"
Putra kecil saya, yang sedari tadi memerhatikan Afiz, berlari memanggil temannya, dengan pesawat merah di tangan. "Kakak Apiiiz, ayo maiin..."

Andai saya bisa melakukan lebih. Andai saya bisa memeluknya dan berkata bahwa saya memercayainya.

Di sekolah, ketika tiba waktunya bermain, ada pemandangan yang selalu sama.
Anak-anak yang heboh bermain, jungkir-balik, tertawa, menjerit, menangis.
Ada guru dan pengawas yang ikut gembira sekaligus cemas.
Ada orang tua dan pengasuh yang seperti elang, mengawasi dari jauh dalam diam, melesat cepat tepat sebelum sasaran jatuh ke tanah. Atau ada pula yang seperti bangau, yang sesekali mengangkat kepala dari gadget, dan berseru, "Awas!"

Ada yang hilang di sana.
Seseorang yang mengingatkan tentang baiknya mengantri, serunya bergiliran, asiknya bekerja sama, indahnya memaafkan.... di antara hiruk pikuk itu, sesungguhnya kesempatan untuk mengasah perilaku anak telah terbengkalai.

Alih-alih teriakan cemas dan segala larangan.

Ada yang hilang di taman bermain sekolah anak-anak hari itu. Pendidikan. Sejak perilaku baik dan sopan tinggallah kata-kata dalam poster di dinding kelas atau lembar-lembar buku. Kalah oleh gaung berhitung dan membaca.







Sekolah sudah bubar beberapa saat yang lalu. Masih ada beberapa anak bermain di halaman. Hujan turun rintik. Anak-anak tak peduli. Mereka berlari, memanjat, melompat. Menjerit dan tertawa. 
Saya duduk di gazebo di samping gerbang sekolah, menunggu jemputan datang. Tak jauh dari saya, seorang anak perempuan duduk dengan kakinya yang bergoyang. Matanya menatap teman-temannya yang sedang bermain, sesekali melempar pandang ke gerbang. 
Orin, gadis kecil bermata tajam dan berambut hitam lebat itu adalah anak dari kawasan tinggal saya juga. Ia juga sekelas dengan Yasmin, putri sulung saya. Kadang mereka memang berdua. Saya ingat Orin beberapa kali ikut makan dan mandi di rumah. 
"Hari ini Mama yang jemput?" tanya saya setelah menggeser duduk untuk lebih dekat dengannya.
"Em..." jawabnya, mengangguk dan kembali menggoyangkan kaki. 
Rinai hujan semakin rapat. Saya memanggil anak-anak agar berteduh. Mereka mengabaikan, tentu saja. Mereka baru mendekat dengan kepala basah beberapa menit kemudian, tergelak di antara kecipak air yang dihentak kaki-kaki kecilnya.
Jemputan datang.
Saya memanggil Orin, mengajaknya pulang bersama. "Nanti Tante telepon Mama Orin, ya? Mungkin Mama masih ada pekerjaan."
Orin menatap ke seberang jalan, tempat gedung kantor mamanya berada. Ia mengangguk, menyeret tas dan langkahnya.
Hujan sudha berhenti, menyisakan bau tanah dan rumput segar. Bunga pukul sepuluh tetap mekar dengan bandel di pot-pot di halaman. Sementara anak-anak masuk dengan berisiknya, saya mengantarkan Orin. Baru beberapa langkah, telepon saya berbunyi. Ada pesan masuk.

Bunda Ami? Masih di sekolah? Orin belum pulang juga Bu, bisakah tolong ibu lihatkan? Saya khawatir.

Saya segera membalas. Orin sudah dengan saya. Ini Mama Orin ya? Nomor baru ya Bu? :)

Di depan rumahnya, di bawah payung, seorang wanita paruh baya berdiri. Pengasuh Orin di rumah, saya mengenalnya. Ia sedang memakai ponselnya sambil berjalan.

Ponsel saya kembali berbunyi.

Tak peduli pada hujan, Orin berlari menuju pengasuhnya. Ia tertawa. "Aku pulang bareng Amii..."
Setelah mengantar Orin dan sedikit berbasa-basi, saya pulang. Anak-anak sudah berganti baju dan menunggu susu hangat. "Jangan terlalu panas ya Bundaaa..."

Saya memerika ponsel saya. Meski saya sudah tahu jawabannya. 

Ini Tante yang jaga Orin, Bunda. Terima kasih banyak, Bu. Biar saya jemput Orin ke sana...

Setiap anak mungkin menginginkan seorang ibu. Setiap anak, pasti menginginkan cinta dan kasih sayang. Handuk kering di saat kehujanan. Susu hangat di saat kedinginan. Segelas air di saat kehausan. Berbahagialah mereka yang memiliki ibu untuk menyediakannya. Jika tidak ada, semoga Allah hadirkan orang penuh cinta lainnya di hari-hari mereka, dan semoga Allah membalas jerih ibu yang bekerja dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Pengasih. Allah Maha Penyayang. Aamiin.






"Nizam, jangan digigit-gigit stik esnya."
"Kenapa?"

"Nizam, kalau nyeberang pegang erat tangan Bunda, ya."
"Kenapa?"

"Nizam, segera pakai celanamu."
"Kenapa?"

"Nizam, matikan televisinya kalau sedang makan."
"Kenapa?"

Hanya perasaanku saja atau memang benar kepala ini mau lepas dari tempatnya???
Saya sudah lupa fase "Why" -nya Yasmin. Jadi waktu Nizam (3+ y.o) sedikit-sedikit bertanya "Kenapa?" saya merasa cenut-cenut. Oke kalau kondisi lagi lapang dan bahagia. Kalau lagi sibuk, heboh, crowded, dan dia terus menerus menjerit "Kenapa???" sampai saya menjawabnya...arghhh...
Ya Allah...kasihinilah hambamu yang ini.... >.<

Jadi sekarang saya memangkas kalimat itu menjadi,
"Kalau tidak mau kena tabrak, pegang tangan bunda ya!"
"Pakai celanamu sebelum penismu digigit semut atau kejepit sesuatu."
"Matikan televisi sebelum kamu tersedak nasi dan sakit tenggorokan."
"gigit saja batang esnya kalau mau tenggorokanmu sakit."

Memangnya dia mau berhenti bertanya kenapa? NOOO.
Di akhir semua kalimat itu, dia tetap bertanya, "Kenapa?"

Akhirnya saya mengalah. Inilah fasenya bertanya tentang mengapa begini dan mengapa begitu.
"Nak, tolong matikan televisinya kalau sedang makan."
"Kenapa?"
"Kalau matamu ke tivi terus nanti tersedak."
"Kenapa?"
"Karena kamu jadi nggak lihat apa yang masuk ke mulut."
"Kenapa?"
"Karena matamu sedang melotot ke Tv."
"Kenapa?"
"Karena kamu nggak mau matikan TVnya."
"Oh..."

Tenang, dia cuma bilang OH. bukan berarti dia mau mematikan TV. Percakap mirip2 itu terulang lagi.
"Kenapa Bunda matikan tv nya?" (menjerit)
"Karena kamu sedang makan."
"Kenapa??"
"Karena orang makan matanya ke piring bukan ke tv."
"kenapa????"
-----------teruskan saja sendiri-------------

Pertanyaan KENAPA ini berarti dua hal: menguji kesabaran saya, dan memancing akal pikirannya. Amiin.
Dan lama2 saya paham, lebih baik bercerita padanya di waktu lapang daripada memberinya instruksi di waktu kejepit. Dan "kenapa?" nya itu tidak melulu tentang apa alasan di balik sesuatu. Kadang, ternyata dia mau tau BAGAIMANA, bukan KENAPA. Dan yang jelas dia mau saya berbusa busa cerita padanya. Sampai dia bosan mendengarkan dan akhirnya berhenti bertanya kenapa.

N.B: Bahkan di usia setua ini saya masih sering bertanya, "Kenapa, ya Allah?"






          Siapa yang tidak cinta pada buah hatinya? Rahmat Allah yang diturunkan pada kita, sepasang ibu dan ayah. Darah kita mengalir di tubuhnya. Raut kita terpahat di wajahnya. Ia menjadi ahli waris kita. Mewarisi nama, harta, ilmu. Ia menjadi medan amal bagi kita. Ia menjadi amal yang pahalanya akan terus mengalir. Doanya, doa anak shaleh, menjadi peringan beban kita di yaumul akhir.

Cinta kita begitu besar. Sampai lupa mengapa kita mencintainya. Sebagian kita mengatakan cinta tanpa syarat. Sehingga kita rela memberi segalanya. Segala yang menurut kita akan membuatnya bahagia. Kita lupa, hakikat dirinya sama dengan kita: hamba yang diturunkan ke bumi untuk beribadah.

Kita takut dia sakit. Kita takut dia terluka. Kita ingin dia selalu baik-baik saja. Kita lupa, dia bisa tetap baik-baik saja meski dia sakit, dia terluka, jika hatinya di tempat yang aman: di dekat Rabb-nya.
Anak-anak ibarat spons. Ia menyerap segalanya. Bukan hanya apa yang dikatakan padanya. Tapi juga apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia lakukan bersama orang lain. Serapan-serapan itu, saya yakini sebagai apa yang akan membentuknya kelak.
Usia putri saya tiga tahun. Waktu bergulir cepat, dan saya merasa berbalapan dengan waktu untuk mengenalkannya dengan hakikat diri sebagai ciptaan Allah. Dulu saya bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk memulai semua itu. Lalu saya sadar, waktu itu tidak perlu ditunggu. Proses ini adalah proses panjang yang harus dicicil sedikit demi sedikit.
Anak-anak senang meniru. Mereka melekat pada kebiasaan. Ketika menjadi orang tua, tampaknya kata teladan dan konsisten juga disematkan di pundak kita. Anak-anak seperti pengawas yang akan meniru semua perilaku kita, baik atau buruk, bahkan yang paling tidak sengaja seklipun. Bukan perkara mudah, karena saat malas menyerang saya, ada sepasang mata manusia kecil yang mengawasi. Ada sebuah kepala mungil dengan otak aktif yang sedang berpikir dan mencerna mengapa saya demikian. Ada sebuah hati yang begitu bersih sedang berdebat apakah ia akan meniru saya atau memprotes saya. Seringnya, ia memprotes saya. Bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Sejatinya, mereka sedang menguji seberapa konsisten orang tuanya.
Saat usianya belum 2 tahun, dia sudah berdiri di sebelah saya untuk ikut shalat. Saat itu dia belum memiliki mukena sendiri. Dengan perasaan campur aduk, saya memakaikannya jilbab saya yang tentu saja kebesaran untuknya. Dia begitu senang dengan ‘mukenanya’ itu. setelah adzan berkumandang, dia akan membuntuti saya atau ayahnya untuk berwudhu, memperhatikan cara kami, dan menirunya. Tak perlu banyak intruksi tambahan, hanya membuatnya kesal dan batal mengikuti. Ia senang meniru tanpa ketahuan kalau dia sedang meniru, begitulah anak-anak. Mereka senang diberi tahu apa yang sedang kita lakukan, tapi pura-pura tak mendengar ketika kita memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kadang dia enggan, kadang dia bergerak lebih dulu ketika adzan berkumandang. Seolah-olah ingin menguji, seberapa sabar dan konsisten kita melakukannya. Jika kita lulus, sisanya lebih mudah, mereka akan meniru konsistensi kita. Sampai ia tahu fungsi adzan adalah memanggil orang untuk shalat. Ia pun dengan ringan berkata, “sudah adzan, kok nggak shalat?” Ya. Kadangkala lisan mereka menjadi perpanjangan teguran Allah.
            Jika gerakan shalat mudah ia tiru, tidak demikian dengan bacaannya. Semakin dini memperkenalkannya, semakin baik. Meski mereka hanya pendengar pasif, ternyata semua yang saya lafalkan terekam dengan baik. Tak apa-apa shalat menjadi lebih panjang karena harus mengeraskan suara dan membacanya pelan-pelan, karena ada anak yang mengikuti di sebelah kita. Anak usia 2 tahun saya bertahan hanya sampai rakaat kedua. Tak masalah bagi kami. Mendekati salam, dia akan kembali duduk dan menunggu waktunya berdoa.
            Suatu kali, saya sudah membaca ulang surah Al Ikhlas setidaknya tiga kali. Dan, bukannya mengikuti potongan demi potongan, anak saya malah memainkan rambutnya. Hati saya sedikit kecewa. Tapi saya memilih memejamkan mata dan pura-pura tidur. Pelan-pelan, saya mendengarnya mengulangi surah itu sepotong demi sepotong. Suaranya begitu halus, seolah takut membangunkan saya. Dia menyerapnya, meski belum sempurna di telinga saya, tapi saya tahu sudah terekam dengan baik di kepalanya. Hanya masalah waktu sampai dia bisa mengucapkannya dengan sempurna.
            Saya tak berani muluk-muluk memasang target anak menghafal sebuah surah. Menyenangkan memang ketika melihat ada anak sesusianya yang sudah hafal satu atau dua surah pendek. Tapi setiap anak berbeda. Bisa jadi anak itu sudah memulai lebih awal, bahkan di dalam kandungan. Membebani diri dan anak dengan target hanya akan membuat proses belajar itu sebagai sesuatu yang berat. Menjadi tergesa-gesa, dan akhirnya terjebak untuk kecewa. Padahal, setiap sorot kecewa di mata kita, diserap anak dalam benaknya, membuat mereka enggan, takut, dan tidak percaya diri.
            Begitu pula dengan mengaji. Awalnya dia mengikuti orang tua di dekatnya, ikut membuka sebuah Al-Qur’an, dan bersuara layaknya orang mengaji. Saya mengikuti alur itu. Ketika dia mulai menunjukkan kesanggupan untuk lebih, saya memberikannya buku Iqra’ jilid satu.
Ketika saya kecil, jam-jam belajar Al-Qur’an adalah jam yang tidak mengenakkan. Hanya karena guru mengaji saya suka memukul dengan rotan, keseluruhan yang saya ingat dari proses itu adalah sakitnya. Saya tidak menginginkan hal yang sama pada anak saya. Maka upaya pertama saya adalah membuat momen itu menyenangkan. Ketika ayah dan ibu duduk bersama, mengaji bersama, dalam suasana tenang tanpa ketegangan. Apakah saya akan memberikan hadiah boneka untuk prestasinya dalam mengaji? Tidak. Saya memujinya, mengucapkan hamdallah, tapi tidak memberinya sesuatu untuk membelokkan motivasinya. Jika dia lelah, dia boleh berhenti. “Allah pasti pasti rindu suaramu membaca surat-surat-Nya, apa kita besok mengaji lagi?”
Lalu, datanglah masa ketika saya mulai bertanya-tanya. Rutinitas beribadah tidaklah cukup. Bagaimana agar ibadah-ibadahnya tidak sekedar rutinitas, sehingga saya membenarkan segala cara untuk membuatnya menepati tenggat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan jajan tambahan agar anaknya shalat tepat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan kerudung cantik dan menakut-nakuti agar anaknya berjilbab. Tapi, di kemudian hari, anak-anak itu membelok dan mematahkan semua rutinitas itu, seperti mematahkan pohon yang tak berakar. Mendirikan shalat yang kosong, memakai kerudung yang hanya menutupi rambut. Bagian mana yang salah?
Mengenalkan anak pada Allah sama pentingnya dengan mengenalkan anak pada ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Membuat anak mengerti mengapa ia harus shalat, mengapa ia perlu membaca surat-surat Allah dalam Al-Qur’an, mengapa ia perlu mengenal dan mencintai Rasuulullah.
Banyak orang mengatakan, berbicara dengan anak menggunakan bahasa sederhana. Saya percaya, kemampuan anak lebih dari yang kita duga. Mengajaknya mengenal Allah dalam keseharian, dalam rinai hujan yang turun, dalam gugurnya daun-daun, dalam lezatnya hidangan, bahkan dalam petir yang menggelegar. Ada campur tangan Allah dalam segala hal. Itu menjadi pondasi kuat ketika mengajaknya untuk mendekati Allah.
            Petang itu dua balita saya bermain di lapangan yang luas. Matahari bersinar hangat dan langit begitu indah dengan awan-awannya yang berarak. Putri saya memunguti buah yang bertebaran di antara rerumputan, memasukkannya ke dalam keranjang. Ia begitu takjub melihat buah berwarna kuning kemilau itu. Seperti ketika baru mendapatkan sebuah pemberian, dia bertanya pada saya, “Bunda, ini dari siapa?”
Saya menunjuk pohon yang berbaris di tepi lapangan. Pohon itu menjulang tinggi. “Dari sana, mungkin dibawa angina dan burung, jatuh ke tengah rumput-rumput,” jelas saya panjang lebar. 
“Bukan itu. Ini dari siapa?” tanyanya sekali lagi, dengan penekanan pada kata siapa. Kalimatnya belum terlalu jelas, saya menebak-nebak arah pembicaraannya.
“Dari Allah,” jawab saya pendek, menguji akan kemana lagi dia mengarahkan pembicaraan ini.
“Seperti hidung? Rambut? Mata?”
“Ya benar. Ini pemberian Allah untuk pohon itu, seperti Allah memberi kita hidung, mata, dan semuanya.”
Dia puas dan melanjutkan kegiatannya, memunguti buah.
Magrib itu, sekali lagi dia menguji kesabaran saya. Ia ngambek, tidak mau ikut shalat. Mungkin kelelahan. Ia tidak memakai mukenanya, hanya mondar-mandir di sekitar sajadah saya. Meski demikian, saya tetap mengeraskan suara. Begitu juga ketika berdoa, bershalawat, dan menyebut namanya dalam doa saya. Saat itu kegiatannya memutar-mutar sajadah saya terhenti. Ia menatap satu titik dan diam. Entah bagian mana yang diserapnya.
Saya mendiamkannya setelah itu. Sebagai tanda bahwa ia kehilangan sedikit perhatian saya karena tidak ikut shalat. Bagi saya, itu adalah imbalan yang pas. Menjelang tidur, usai membaca cerita, surah pendek, dan shalawat, tiba saatnya membaca doa tidur. Saya memintanya berbicara pada Allah, apa saja.
“Allah duduk d Arsy-Nya, di atas sana.”
“Di dekat bintang?”
“Lebih tinggi lagi.”
“Allah bisa dengar Ami?”
“Allah Maha Pendengar, Nak. Allah juga dengar waktu semut minta hujan berhenti supaya dia bisa menyeberang ke rumahnya, untuk membawakan anaknya gula.”
Saya meredupkan lampu, dan berbaring di sebelahnya. Ia tampaknya melihat saya menutup mata. Lalu saya mendengar kalimat itu, kalimat yang membuat saya dapat merasakan Allah sedang melihat putri saya. Allah sedang mendengar doa putri saya, doa yang datang dari hatinya, bukan dari meniru saya.
“Allah, maaf Ami nggak shalat magrib. Tolong jaga Ami, jaga bunda, jaga ayah, jaga dek Nizam, jaga semut, jaga nenek… makasi untuk buah-buahnya, ya Allah. Amiin…”


*Tulisan ini dimuat bersama kisah-kisah orang tua lainnya di buku yang gambarnya ada di sebelah ini. I'm wondering, kenapa judulnya panjang banget ^__^ 

Anak siapa yang nggak pernah tantrum, ayo ngacung? :) Whining, stomping, screaming, even slap-thing, sebut saja yang mana variasinya.
There are so many articles telling us about tantrum. Teori, tips, whatever, semuanya ada, tinggal Google.
Apa anak saya pernah mengamuk? whoaaa.... who doesn't? Bahkan anak sulung saya yang paling kalem saja pernah mengamuk sekali dua kali selama masa tumbuhnya. Dan anak saya yang kedua sedang dalam tahap itu, tantrum, as a unwanted of developmental milestone.

Ya benar, horibel-horibel begitu, tantrum itu bagian dari emosional dan sosial milestone. Jadi, jangan buru-buru merasa anak Anda tidak beres hanya karena dia teriak setiap kali Anda suruh tidur siang. Ray Levi, Ph.D, psikolog yang juga konsultan majalah Parents, mengatakan adalah wajar ketika anak melakukan penolakan atau bahkan mengamuk dengan cara yang sedikit mengerikan itu, karena mereka belum selesai memahami bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkan penolakan itu.
Orang udah gede aja masih ada yang suka ngotot :D
Michael Potegal, Ph.D, pediatrik dan neuropsikolog dari Universitas Minessota yang sudah melakukan penelitian terhadap tantrum selama bertahun-tahun mengatakan bahwa tanrum sebagai respon biologis terhadap amarah dan frustasi adalah normal, senormal orang menguap ketika penat.





Seperti yang saya bilang tadi, ada banyak tips untuk mengatasi anak tantrum. Tantangannya apakah kita bisa konsisten menerapkannya. Saya sendiri suka gigit geraham kalau menghadapi anak mengamuk. Lama-lama emaknya ikutan ngglesor di tanah kali ya... jangan sampe deh >,<

Beberapa kali menghadapi anak tantrum di depan umum, akhirnya saya tahu kalau sebaiknya mencegah daripada menghadapi. Putri sulung saya tidak pernah mengamuk di luar, beneran. Tapi luar biasa kalau dia mengamuk di dalam rumah. She has a kind of ear-bleeding-screaming!  With her, the only way for me to deal with is just wait.

Saya akan duduk atau berbaring (tergantung posisinya dia) dan membiarkan dia selesai teriak. Setelah mereda dan dia menunjukkan tanda-tanda dia capek dan butuh pelukan, saya memeluknya, begitu saja. Selesai? No. Ketika sudah tenang dalam pelukan saya biasanya minta dia untuk tidak mengulanginya. Saya minta si kakak untuk mengungkapkan apa maunya jika besok-besok dia meminta sesuatu. Tentu saja ini bukan cuma omongan. Kalau menawarkan kesempatan negosiasi ke anak berarti harus siap untuk kalah sewaktu-waktu. Misal, ketika dia tidak mau tidur siang, dan dia memilih untuk negosiasi... "Lima menit lagi, Bunda?" maka saya harus menghormati hasil kesepakatan itu. She follows my rule, so I should follow the result.


Kebiasaan untuk lobbying and negotiating itu kebawa sampai ke luar rumah. Dia boleh minta apa saja, tapi tidak mendapatkannya saat itu juga. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku :) dia menurut, karena tahu ayah bundanya akan menepati janji. Jadi, kalau mau lobbying and negotiating ini berhasil, orang tua haruslah bisa dipercaya. Kalau nggak, anak akan cari jalan lain: ngamuk!

Saya kira saya sudah pakar dalam masalah tantrum ini. Ternyata, ketika anak kedua mencapai usia 1,5 (masa-masa awal tantrum) haishhh..... saya balik lagi ke titik nol! Dengan si adik, perlu usaha dan tenaga lebih untuk bernegosiasi. Dan seringnya gagal, karena dia belum memahami konsekuensi kalau dia melanggar perjanjian. Well, setiap anak berbeda, bukan?

Si adik bersikap penuh penentangan di waktu... hampir setiap saat. Jam tidur siang, ganti pakaian, jadwal mandi, jadwal makan, jadwal minum susu, ke toko (it's horrrrible!) bahkan di taman bermain. Karena temperamennya yang meledak-ledak ini, saya jadi harus waspada, jangan sampaaai deh dia tantrum di wilayah publik, bakal susah diamnya (juga berat malunya). Tapi, tidak bisa 100% dihindari. It happens.

 
Percayalah, setiap ibu pasti bisa membaca tanda-tanda apa yang menyebabkan anaknya mengamuk. Kadang, ibu suka mendadak blank dan merasa tidak tahu bagaimana anaknya bisa mengamuk karena sedang fokus pada hal lain: komentar orang yang melihat adegan itu.

Saya pernah mengalaminya. Maka saya mulai menyuruh diri untuk fokus pada si adik dan mencari tanda-tanda (juga mengingat-ingat) apa gerangan yang membuat dia mengamuk. Ini hal yang mebuat anak saya mengamuk:

1. Ketika berpergian dalam keadaan lapar.
2. Disuruh tidur ketika sedang asik main
3. Disuruh mandi dengan rapi dan tertib
4. Bosan tingkat tinggi sampai mencari sesuatu yang seru yang ternyata bahaya hingga dilarang emaknya
5. Mencari perhatian (saat emaknya keasikan menatap monitor atau ponsel atau ngobrol)
6. Kurang tidur atau terlalu lelah

Maka, saya melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Tidak membawanya pergi di jam makan atau jam tidur. Kalau harus, maka bawa bekal. Terutama air minum.
2. Sebelum jam tidur, pastikan dia memiliki waktu untuk mendinginkan adrenalinnya (oke, ini istilah yang salah kayaknya, semacam itulah). Misal, jam tidurnya jam 2, maka sepuluh menit sebelum waktu habis saya sudah memberitahunya supaya dia bisa siap-siap.
3. Kalau dia mau mandi dengan gayanya, silakan, selama tidak bahaya.
4. Tidak membiarkan dia bosan. Berarti mengawasi jam kegiatannya agar bervariasi. Kalau bosan ketika bertamu, saya atau suami akan membawanya keluar sejenak untuk refresh.
5. Tidak melewatkan jam tidur. Memastikan dia tidak terlalu lelah.
6. Pay attention, pleaseee. Main dengannya lima belas menit, lalu dia akan merasa cukup dan bisa main sendiri selama setengah jam. Main di sini bukan main di luar tanpa pengawasan lho ya... :) instead mengawasinya 12 jam tapi disambi mengawasi lalulalang status facebook... (hm, sounds familiar)

Ada teman yang bertanya, kalau dia minta mainan terus ngamuk karena nggak dikasi, gimana?
Bagi saya, penyelesaian soal beli beli barang ini ada jauuh di belakang saat anak mengamuk. Ketika anak mengamuk yang dipicu beberapa hal di atas, semua tuntutannya akan keluar. Lihat saja, Anda akan mendapati permintaan-perminaat super ajaib keluar dari mulutnya di sela-sela tangisan. Bukan tidak mungkin dia minta Anda membawakan Jake and The Never Island Pirrates ke hadapannya! Tapi, bukan itu sebenarnya yang mereka minta. Anda pernah kan, merasa kesal dan tiba-tiba kekesalan yang sudah terlupakan tiba-tiba teringat lagi?



Kalau sejak di rumah--ketika mereka masih tenang--anak sudah diberi pemahaman (gradually of course) tentang apa dan kapan mereka boleh membeli mainan, Anda tidak akan gampang takluk dan menyerah. Mengabulkan semua permintaan anak ketika mereka mengamuk, akan mereka terima sebagai tanda bahwa itulah cara mengomunikasikan keinginan: teriak.

Jadi, tidak ya tidak.

Saya selalu bilang, "I love you, tapi mainan itu sudah ada di rumah/untuk usia yang lebih besar/bahannya berbahaya untukmu/etc..." jadi dia bisa faham bahwa menolak permintaannya bukan karena kita tidak mencintainya.





Saya masih terus memperpanjang catatan tentang perilaku anak-anak saya. Catatan ini cuma sekedar berbagi, sekedar isyarat kalau Anda tidak sendirian. Soal tips dan how exactly you supposed to deal with it, percayalah, Anda akan tahu, hanya perlu fokus pada kebutuhan anak.

Ya, fokus pada kebutuhan dan perasaan anak.


Kalau sudah terlanjur terjadi... dia nggelesor dan meraung-raung di tempat umum, teriak, melempar, atau mojok sendirian, jangan salahkan anak Anda, Moms...
Saya biasanya cukup percaya diri untuk mengangkat wajah dan minta maaf pada orang di dekat situ yang mungkin terganggu. Lagi pula, hanya ada dua kemungkinan: orang-orang tua yang ada di dekat situ pasti mengerti apa yang saya hadapi, dan anak-anak muda yang menatap saya dengan tatapan "I will never having kids!" oh you will, trust me, dan kalian saat itu akan memaklumi semua ayah ibu yang anaknya tantrum di depan umum --karena pada akhirnya anak kalian juga akan melewati milestone itu, like or not.
 
So far, pelukan selalu menjadi obat terbaik bagi anak-anak yang merasa lapar, lelah, bosan, apalagi kurang perhatian. Jadi, berhenti memelototi mereka dan raih mereka pelan-pelan, Moms! Gooood luck!