Tampilkan postingan dengan label children education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children education. Tampilkan semua postingan
Siapa yang masih geli sama siput sampai usia dewasa? Saya salah satunya. Beda dengan anak-anak saya, yang kalau lihat siput di rerumputan setelah hujan, bukan ajaib lagi kalau mereka langsung memungut dan mengintip ke balik cangkangnya. "Apa sih ini?" FYI, mereka masih 5 dan 4 tahun :)

Jadi, setelah minggu lalu belajar tentang gajah, minggu ini kami belajar tentang siput. Temanya siput, belajarnya, yaa.... pas Ami pingin nulis, dia nulis "Siput di halaman" atau "siput licin" atau "siput lucu aku suka" dst dst. Lalu kita menggambar siput. Ah, ada satu siput yang menemani di dinding kamar, tepat arah saya menghadap ketika tidur. Mewarnai siput, so far, yang anak suka adalah mewarnai cangkangnya dengan warna pelangi. Biarlah, sebelum mereka mengenal cupacabra snail yang menyeramkan itu :D

Saya jadi tau kalau siput itu hemaprodit, tapi tetep aja butuh siput lain buat kawin... (saya belum menjelaskan ini ke anak-anak sih) :D terus, siput itu hapal jalan pulang ke rumah. Sebenarnya rumahnya di punggung itu sih, kayak kantong tidur, tapi ada sarang di dalam tanah atau di tempat-tempat dingin yang mereka hapal arahnya. Siput itu penyendiri tapi kalau ada makanan dan bertemu temannya, dia suka berbagi. Siput suka keluar basah-basahan di saat hujan. Bukaaan, bukan karena romantis, tapi karena siput nggak mau tenggelam di rumahnya yang biasanya di dalam tanah. Mereka lebh sering ditemui ketika hujan, gerimis, setelahnya, atau malam hari, karena mereka suka suhu dingin. Dan kalau suhu terlalu panas, mereka akan menutup pintu cangkangnya dengan cairan mucus supaya udara di dalam tetap sejuk.
Ini nih ya, ngefek banget untuk mempengaruhi anak supaya masuk rumah kalau cuaca lagi hot-hot-nya. "Kalau panas apa yang dilakukan siput?"
Mereka jawab, "masuk cangkang!"
"apa kalian mau jadi siput sampai matahari redup??"
"Mauuuuu!" :D

btw, pas lg nyari2 bahan cerita, ketemu web cantik, yang memuat foto-foto luar biasa dari Photographer Vyacheslav Mishchenko (semoga ga salah nulis namanya -__-)













Pertanyaan yang sering kami terima sejak anak-anak homeschooling:

Kapan anaknya duduk belajar? --kelihatannya main terus :p
Yang diajarkan apa saja?
Apa anaknya sudah bisa baca? pakai metode apa?
Anaknya bisa berhitung? --nyanyi terus kedengarannya
Nanti susah lho beradaptasi...bergaul...
Sampai kapan?







Anak2 tidak punya jam khusus utk duduk dan belajar, karena homeschool bukanlah sekolah yang dipindahkan ke rumah. Anak bahkan belajar ketika berdiri di depan keran, jendela, ngglesor di lantai, mengukur ubin, dll. Di pagi hari, setelah main sepeda sebentar, mereka masing-masing membuka buku. Kadang mewarnai, kadang  gunting-tempel, kadang minta dibacakan buku. Tapi yang paling sering mereka menulis mandiri, artinya mereka tidak mau didikte tentang apa yang harus mereka tulis. Mereka menyalin kata-kata yang mereka lihat, atau sekadar membuat kode yang hanya Tuhan yang Tahu apa artinya.

Yang diajarkan adalah apa yang menarik perhatiannya saat itu. That's why anak yang belum bisa membaca kadang bisa tahu Nicaragua itu ada di mana, kenapa paus itu mamalia, dan kenapa gajah tidur berdiri. Anak2 akan siap membaca dan orang tua akan melihat kesiapannya, kalau dia sudah tertarik, proses membaca itu tidak perlu dua tahun duduk di kelas utk mengeja. Yang penting, mereka menikmati buku dan antusias mengenal kata per kata.
Kurikulum? Ya, kami punya, tapi tidak sebaku sekolah umum. Saya tidak menargetkan apa-apa dan tidak ada ujian apapun. Kami mengantarkan asmaul husna dalam cerita sehari-hari, ketika anak melihat burung, melihat awan, hujan, petir, orang sakit, dll. Nabi-nabi dikenalkan dalam cerita sebelum tidur (1 bagian dari 4 pengantar tidur: cerita nabi, fabel, pesan ayah-ibu, doa). Kami tidak mengajarkan berhitung secara khusus, tapi kami mengajarkan anak tentang alam, bagaimana hujan, beda laut dan danau, dari mana datangnya petir, dll. Apakah mereka mengerti, mengingat usia mereka baru 5 setengah dan 4? so far, mereka mengerti. Karena kami mengantarnya melalui cerita, gambar, foto, video, dan melihat langsung. Kami hanya sedikit berbicara, sisanya mereka bertanya.
Iqro' diajarkan setelah magrib, dan tidak ada target apapun. Ami mulai dari Iqro' 1 dan ingin melompat ke Iqro' 4. karea dia bisa menangkap, ya sudah, toh akhirnya dia tahu kalau dia harus melewatinya setahap demi setahap.

Anak2 tidak tahu 13 ditambah 4 itu berapa. Tapi mereka sadar kalau 4 jeruknya tinggal 3 karena 1 ada yang mengambil. Kami percaya bahwa matematika adalah logika tentang bilangan.

Anak tidak bisa beradaptasi? Banyak teman saya yang hasil produk sekolah publik, sampai usianya 30an masih merasa dialah yang harus diterima tanpa mau mengerti bahwa dia juga harus belajar menerima. Adaptasi bukanlah segala-galanya, saya tidak akan menyuruh dia menyesuaikan diri pada sesuatu yang dia anggap tidak cocok. Saya tidak mau dia mengikuti kehendak banyak orang hanya sekadar untuk diterima. Dan menerima seseorang sebagai bagian dari kita bukan berarti orang itu harus menyesuaikan dirinya agar sama dengan kita. Begitu juga sebaliknya.

Di rumah, dengan hubungan yang sehat di dalam anggota keluarga, anak akan mengerti tentang menghormati pilihan orang lain, mendengar pendapat tanpa menyela, namun tetap percaya diri ketika mengungkapkan pendiriannya--karena tidak ada yang membully pemikirannya di rumah. Kebanyakan basis komunikasi sehat itu asalnya di rumah. Kompromi, negosiasi, compassion... mereka pelajari melalui contoh di dalam keluarga.

Anak-anak lain terlihat lebih hebat, cepat membaca, berprestasi, dan sebagainya....
Salah satu alasan kenapa kami menarik anak dari sekolah publik adalah karena tidak ingin di usia dini mereka sudah berkompetisi dengan tidak sehat. Anak bukanlah sesuatu yang harus dibanding-bandingkan dengan orang lain. Apa yang ia lalui untuk belajar sangat berbeda dengan yang dilalui anak lain.

Sampai kapan?
Sampai kami melihat ia siap dan merasa aman untuk sekolah di luar, dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan pendapatnya, setidaknya tidak terganggu dengan pendapat orang. Kapan itu tepatnya? entahlah, kami sedang mengamati hari-harinya, dan menikmati proses menuju ke sana :) Tak masalah berapa lama...
Pictureperfectforyou.tumblr
Anak laki-laki itu wajahnya bersih, giginya rapi, dengan rambut keriting menggemaskan. Ia begitu lucu, kalau saja ia mau diam sejenak. Umurnya antara 4-5 tahun, sekelas dengan Ami di TK A. Kami memanggilnya Afiz.

Ia seperti tak bisa diam. Ada saja yang membuat kaki dan tangannya bergerak. Menyapa ke sana ke mari, menyentuh ini itu, berlari, menendang, melompat, memukul, melempar... dan semuanya ia lakukan sambil tertawa atau berteriak. Tidak peduli 'korban'nya yang menangis.

Ia anak paling nakal di sekolah. Begitulah kata orang-orang. Jika seorang anak menangis, pastilah nama Afiz yang pertama diteriakkan. Pengasuhnya yang kurus tampak kwalahan mengejar dan mencegah bencana. Konon, beberapa anak sudah babak belur dibuat Afiz.

Setiap kali bertemu anak-anak, saya mematikan asumsi. Biarlah apa yang saya lihat sendiri yang berbicara. Pagi itu, sambil menemani Nizam bermain di ruang balita, saya melihat Afiz keluar dari kelasnya dan menghampiri kami.
"Halo," katanya dengan seringai lebar.
"Hai Afiz," kata saya. "Afiz tidak duduk di kelas?"
Dia menggeleng, masih menyeringai. Dalam satu gerakan cepat, ia merubuhkan jembatan balok Nizam. Dengan kakinya.
Nizam menatapnya kaget.
"Afiz akan membantu menyusun ulang," kata saya cepat, sebelum Nizam balas mengamuk.
Afiz mengangkat bahu, duduk di dekat saya dan mulai membantu Nizam menyusun kembali balok-balok itu. Saya kembali pada bacaan saya. Beberapa menit berselang, saya melihat keduanya sudah berhasil membangun jalan layang, menara, 'lumbung mobil busuk' dan sebagainya. Mereka tertawa bersama.
Di luar, saya lihat pengasuhnya mulai mencari ke mana Afiz.

Sebulan setelah kejadian itu, Afiz berulang kali keluar kelas dan bermain di kelas balita. Pengasuhnya cemas hal ini akan memengaruhi pembelajaran Afiz. Saya heran, apa sih yang diharapkan anak seusianya dipelajari selain bekerja sama dengan baik dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu? Bagi saya, dua hal itu jauh lebih penting daripada kemampuannya berhitung dan membaca, di usia ini. Tapi saya tidak punya hak mencampuri urusan pendidikan Afiz. Saya hanya bisa 'meracuni' pemikiran pengasuh dan gurunya, untuk membiarkannya bermain bersama kelas balita yang belum dicekoki calistung.

Suatu hari, kami di luar mendengar suara jeritan anak dari dalam kelas. Di kelas, guru sedang kesulitan memisahkan dua anak yang sedang berkelahi. Afiz dan seorang anak. Ibu-ibu yang sedan menunggu di luar berkata, "Anak itu memang nakal."
Tidak ada orang tua yang mau anaknya duduk di dekat Afiz.

Pengasuhnya tertunduk dengan rasa bersalah.

Siang itu saya mengawasi anak-anak bermain di dekat perosotan. Afiz dan Nizam bermain bersama. Dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang anak menyikut Afiz. Afiz, yang cenderung cepat terpancing, berteriak dan mengejar anak itu. Untungnya ada yang segera memisahkan mereka.

 "Afiz nakal!"
"Kenapa Afiz pukul?"
"Memang nakal. Dihukum saja."
Begitulah suara penonton.
Ia meronta-ronta di pelukan gurunya. Menangis begitu keras. Ketika akhirnya ia tidak mau masuk kelas dan memilih duduk di ayunan di luar, ia masih tersedu.

Tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada yang peduli untuk bertanya siapa yang memulai. Meski saya sendiri tidak pernah bertanya siapa di antara anak-anak yang lebih dulu memulai, setidaknya orang tua harus bersikap adil, tidak menyalahkan salah satunya. Keduanya berhak didengar. Keduanya berhak mendapatkan kesempatan untuk saling memaafkan, tanpa harus ada yang disebut di biang kerok atau si anak nakal.

Karena memang begitulah mereka berinteraksi. Menguji batas kesabaran satu sama lain. Menguji batas toleransi orang lain. Mencoba-coba apa yang membuat orang memerhatikannya. Mencari tahu mana yang boleh, mana yang berbahaya, mana yang tidak boleh tapi sebenarnya tidak apa-apa jika dilakukan.
Anak-anak adalah manusia yang masih cepat merasa bosan, ingin tahu banyak hal, ingin mencoba semua cara, tidak hanya cara biasa seperti yang ia lihat atau orang tua ajarkan. Itulah yang seringnya kita sebut nakal. Padahal, mereka hanya belajar tentang dunia dengan caranya sendiri.

Anak-anak yan dilabeli nakal, bodoh, bebal, liar, seperti kehilangan haknya untuk dipercayai. Seolah-olah ia tak lagi pantas didengar. Di mana ada suara tangisan, maka anak nakal itulah yang menjadi tertuduh sebagai penyebabnya.

Melihat Afiz yang menangis tersedu tanpa seorang pun yang memercayai bahwa ia tak salah, membuat hati saya ngilu. Sayang, saya bukan ibunya, pengasuhnya, gurunya, apalagi kepala sekolah. Saya hanya bisa  mengeluarkan pesawat mainan dari tas Nizam,
"Kita masih punya waktu sepuluh menit, Ijam mau main sama Afiz? Pinjamkan dia ini,"
Putra kecil saya, yang sedari tadi memerhatikan Afiz, berlari memanggil temannya, dengan pesawat merah di tangan. "Kakak Apiiiz, ayo maiin..."

Andai saya bisa melakukan lebih. Andai saya bisa memeluknya dan berkata bahwa saya memercayainya.
Tahun lalu, saya masih bisa tertawa ketika membicarakan pilihan sekolah untuk anak. Waktu itu saya sedang menulis artikel untuk koran lokal. Tanpa kecurigaan saya berhasil melist beberapa sekolah bagus. Tahun ini, ketika putri saya siap menginjakkan kakinya di Taman Kanak-Kanak, saya tidak bisa tertawa lagi. Ini masalah serius. Sekolah-sekolah yang ada di list saya tahun lalu, mulai saya tatap dengan pandangan skeptis.
Kalau ada teman yang memuji sekolah anaknya, saya pasti langsung cara tahu, di mana??
Waktu masih tinggal di Jogja, saya sudah mencoret-coret kriteria sekolah untuk anak saya bahkan waktu dia masih dalam perut. Saya bakan nanya ke Bambini, kira-kira per tahun biaya sekolahnya naik berapa persen--berkaitan dengan tabungan dan sebagainya-- dan kalau-kalau anda mau tau, jawabannya adalah 20 % kenaikan setiap tahun. Bagooss...

Sayangnya di Kota ini saya tidak punya banyak pilihan. Montessori yang Islami, ada nggak? :D

Sejauh ini saya berhasil menahan anak-anak untuk belajar dari rumah. Ya ampun, belajar... main-main doang aslinya. Main masak-masak, susun-susun, cari harta karun, nonton Dora, main playdough, dll.... Sejauh ini anak saya masih terbalik balik menghitung 1-10. So what? Setidaknya dia sudah bisa membuka pintu dan menginterogasi tamu. Di dunia yang beringas ini (kalau nenek saya masih hidup, dia pasti kaget lihat dunia skarang) keterampilan menghadapi orang lebih saya hargai daripada menghitung 1-10 (karena toh pada akhirnya dia akan hafal. Lihat saja saya, memangnya umur berapa saya bisa berhitung, nggak ngefek juga ke kehidupan saat ini)--oh well, saya mendengar beberapa orang berkata: kalau kamu lebih cepat belajar berghitung, siapa tau kamu sudah bekerja di NASA saat ini :p

Tapi, demi satu dan lain hal, saya harus mencarikan sekolah yang tepat untuk anak saya. Nah, kata tepat itu yang nggak mudah.
Ada sebuah sekolah keren. SDIT. Pertama, jauhnya minta ampun. Baiklah, sekolah memang butuh pengorbanan, tapi kalau tenaga dan waktunya harus habis di perjalanan? Apalagi yang tersisa untuk di rumah? padahal dunia yang harus dieksplorasinya bukan cuma sesempit lapangan sekolah.
Kedua, mahal. Beruntunglah anda-anda yang berhaisl menemukan sekolah relijius yang jarak dan biayanya terjangkau. Saya nggak akan belagu dengan bilang kalau saya bukan pendukung komersialisasi SDIT, masalah saya adalah ini terlalu mahal dan nggak sesuai dengan budget saya. Kalau menurut anda saya harus berkorban, menabung, dan berasuransi, tengkyuverymuch, katakan itu pada tujuh puluh persen penduduk negeri ini yang kebutuhannya bukan cuma membiayai kaca anti peluru sekolahnya atau biaya perawatan rumput bermuda di halaman sekolah.
Kenapa harus sekolah relijius? Padahal di sekolah seperti itu anak-anak akan didoktrin, diharuskan menghafal...blablabla... "alim aja bisa korupsi" kata seorang teman. Rrr... itu dia, yang alim aja bisa khilaf, apalagi yang buta? Saya berharap anak-anak punya pegangan, masalah apakah pegangannya kuat dan selamanya, tentu bukan perkara sekedar membalik tangan. Orang tua dan pendidik di sekolah harus sama-sama menginstal jiwa-jiwa yang kuat itu pada anak-anak. Well, akan banyak kritik, apa sih yang dikritik orang saat ini. But for me, jawabannya cuma satu kata: aqidah. tidak bisa didebat lagi.

Soal aqidah tidak bisa diganggu gugat, yang lain masih bisa dinego. Dulu, daftar saya panjaaang sekali. Akhir-akhir ini saya mulai insaf.
Ini daftar insaf saya:
1. Tidak ada sekolah yang sempurna untuk melepaskan anak anda. Tapi ada banyak yang cukup baik untuk anda jadikan partner mendidik anak. ingat ya, partner, jadi jangan lepas tangan.

2. Sekolah bukanlah semesta pendidikan. Sekolah hanya sebuah tempat. Sebuah rantai dari serangkaian upaya untuk mengajarkan anak melihat dunia. Jadi saya tidak bisa menganggap urusan pendidikan anak selesai dengan memberinya sekolah, tak peduli bagaimana rating sekolah itu. Bagus atau tidak sekolah, kami tetap masih harus mendidiknya di rumah.

3. Kadang-kadang saya pikir, urusan mencari sekolah yang baik ini, apakah benar-benar karena saya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, atau karena saya tidak ingin mereka kalah dibandingkan anak-anak lain? Karena kalau saya benar-benar mempertimbangkan kepentingan anak saya semata, maka seharusnya saya mengukur kredibilitas sekolah itu dari sudut pandang anak saya. Apakah itu tempat yang nyaman, apakah toiletnya tidak ketinggian, apakah guru itu tidak galak, apakah sekolah itu mengerti tentang beberapa keterbatasannya dan mengapresiasi dengan tulus beberapa kelebihannya?

4. Saya bertemu seorang ibu dari generasi di atas saya. Tinggal di desa, dengan sekolah negeri yang gaji gurunya pas-pasan, fasilitas terbatas, namun anak-anaknya berhasil tumbuh dewasa sebagai pribadi yang hebat? Dikasih apa Buuu?
"Sekolah itu tempat dia mendengar, melihat. Rumah itu tempat dia menyaring mana yang harus diterimanya, mana yang harus diabaikan."
Sang ibu menyediakan waktunya (sudah belasan tahun,kalau dihitung-hitung) untuk mendengarkan anak-anaknya. Obrolan seperti, tadi di sekolah belajar apa, temanmu kenapa, siapa yang terluka, siapa yang merusak apa, apa yang kalian lakukan ketika dihukum...

5. Tidak ada guru yang sempurna. Tentu saja, guru sesekali marah dengan yang berkecenderungan psikopat tentu berbeda. Saya mengenal seorang guru yang selalu mencaci-caci di wall facebooknya, memaki anak didiknya (meski di belakang) dan mengaku telah mematahkan penggaris di pantat muridnya. Saya berdoa cukup dia saja guru yang punya kelabilan jiwa seperti itu. Aamiin. Tapi, saya cukup tenang membaca nasihat Marie Hartwell--psikolog dan konsultan pendidikan untuk orang tua-- bahwa, guru bukanlah malaikat. Dia punya tekanan, masalah rumah, masalah sekolah, tuntutan orang tua dan kepala sekolah.. ketika suatu hari anda menemukan ia marah, jangan buru-buru memakinya balik dan mengeluarkan anak anda dari sekolah. Ajak ia bicara. siapa tau kepala dingin anda bisa menular padanya ;)

6. Dan, saya menemukan sekolah itu. TK negeri yang mungil, dengan halaman hijau dan pohon-pohon teduh. Ada banyak yang mengkritik, oke, bertanya, kenapa dan berapa. Bagi saya ini mencukupi. Semuanya bisa diatur, saya hanya perlu menginstal jiwa pembelajar dalam diri saya dan anak-anak. Kekurangan yang akan kami temui, akan kami bicarakan, akan kami perbaiki. Sebisanya. Kata seorang teman generasi tua: hadiahkan guru anakmu sebuah buku, atau sebuah obrolan dari hati ke hati....

Tentu saya khawatir pada efek kekerasan--apapun bentuknya-- termasuk tindakan bullying. Di negeri ini, drama komedi saja isinya mbully. Tapi, saya sendiri menghabiskan dua pertiga masa SD saya dengan menjadi korban bully sesama teman. Separo masa SMP saya dibully oleh guru. Masa SMU saya sepenuhnya dibully oleh sistem. Dan sebagian besar teman-teman saya merasakan hal yang sama. Kekerasan pada masa itu dianggap tindakan wajar, pendisiplinan. Tapi saya baik-baik saja, thank to my mother. Dan buku-buku serta kepercayaan diri yang diwariskan ayah saya.
Di masa ini, bukan berarti saya akan memaklumi tindak kekerasan di sekolah. Tapi saya akan kehilangan waktu dan banyak kesempatan jika hanya fokus menghindari. Kalaupun saya dan anak-anak bisa menghindari, tidakkah sebagai ibu cukup untuk membuat saya mempertimbangkan kecemasan ibu lain yang anaknya harus masuk ke sekolah negeri dengan banyak keterbatasan, sementara mereka tidak punya banyak pilihan. Saya mungkin bisa berlega untuk anak-anak saya, tp bagaimana dengan anak lain? Karena itu, saya memilih menerima ketidaksempurnaan, tidak menghindarinya mati-matian sampai kategori alergi sekolah miskin, dan bersama ibu-ibu lain, saya harap kami bisa memperbaikinya (cita-cita itu harus muluk, biar rajin mencapainya :))