Tampilkan postingan dengan label Umar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umar. Tampilkan semua postingan

pictureperfectforyou tumblr


Allah Yang Maha Pemurah, Terima kasih....

Untuk adanya keluarga yang bisa kurindukan,
Untuk sanak saudara yang bisa mencintai dan kucintai apa adanya,
Untuk tarikan nafas kesekian di hari ini, dalam hidup ini,
Untuk udara bersih tidak berduri,
Untuk matahari yang tidak melepaskan kulit dari tubuh--meski ia bisa
Untuk tubuh yang masih bisa bergerak,
Untuk keran yang masih mengalir,
Untuk saluran air yang tidak tersumbat,
Untuk hujan yang datang saat beberapa dari kami kepanasan,
Untuk panas yang ada ketika kami memerlukan sesuatu yang hangat dan kering,
Untuk segelas kopi, teh, dan minuman lain yang tidak menjadi racun di tubuh kami,
Untuk tawa anak-anak yang seperti lagu dari surga,
Untuk jeritan anak-anak sebagai irama hidup kami,
Untuk seribu pertanyaan anak-anak yang mengejar tumbuh akalnya,
Untuk kesabaran yang Kau sisipkan pelan-pelan di hati kami,
Untuk seseorang yang Kau percayai di sisi kami, mencintai dan setia,
Untuk angin yang membuat daun-daun bergoyang, menjadi peringan beban di kala sesak,
Untuk suap demi suap yang Kau halalkan,
Untuk tetangga yang selalu bertanya dan peduli,
Untuk teman yang bisa dipercaya dan bertukar mimpi,
Untuk mereka yang bekerja keras; menghidupkan listrik, menyuplai beras, menemukan internet, membuat film bagus...
Untuk tanah yang tidak banjir,
Untuk banjir yang mengingatkan kami pada kebutuhan Bumi,
Untuk pohon-pohon yang teduh,
Untuk Pohon-pohon yang tumbang, sebagai pengingat kami akan KemahabisaanMu,

Untuk Azan subuh yang mengudara: sejuk, hening, menyentuh...
Untuk ilmu yang Kau beri pada para ulama bersahaja..
Untuk nikmat iman, yang begitu terasa ketika kami tengah berduka...

Untuk segala yang termiliki, bahkan tanpa kami sadari, tanpa sempat kami minta,

Alhamdulillah...
Jika bukan karenaMu, tak akan sampai semua itu pada kami: makhuk-makhluk tapa daya di bumi.



Ketika ada teman menyebutkan--di Facebook atau Twitter atau di arisan--ia baru membeli mobil baru, rumah baru, atau bahkan sepatu baru, reaksi pertama saya adalah, "Wow" terus, "Alhamdulillah," lalu "Gue kapan ya?" :D

"Alhamdulillah" seharusnya jadi reaksi pertama, ya. Sorry, saya cuma manusia, kadang lupa untuk menyukuri rejeki yang diterima orang lain. Bukan gue ini yang nerima, begitu kata hati kelam saya.

Tapi saya tetap ikut senang kok. Bukan karena saya berharap kecipratan ya, tapi, rejeki seseorang membantu saya belajar bahwa Allah memberi setiap manusia rejeki. Meski porsinya berbeda, waktunya berbeda, sungguh, hanya Ia yang tahu kebutuhan luar dalam manusia. Tidak pada tempatnya untuk mendebat mengapa Allah memberi satu orang begitu banyak, sementara orang lain begitu sedikit. Siapalah kita yang mengetahui rahasiaNya?

Saya sering mendengar kalimat ini, "Berbagi kebahagiaan nih, saya baru diberi rejeki Allah berupa.... naik haji/rumah/mobil/cucu/dll".

Seperti saya bilang, reaksi pertama saya adalah wow. Alhamdulillah. Kapan ya giliran saya? :)

Lalu saya berpikir ulang tentang konsep menebar kebahagiaan ini. Kata seorang teman, "Membagi kebahagiaan itu perlu, memberikan kabar gembira, sebagai bukti bahwa Allah itu Maha Pemurah."

Lalu sampailah saya pada sebuah artikel tentang adab memberikan selamat dan kabar gembira yang ditulis oleh Majid Bin Su'ud Al Usyan. Disebutkan bahwa, Al Bisyaroh--memberikan kabar gembira--adalah sunnah Rasulullah. Kabar gembira ini adalah sesuatu yang dapat melegakan pendengarnya. Seperti ketika Rasulullah menjenguk seorang ibu yang sedang sakit, dan menyebutkan bahwa sesungguhnya penyakit bagi seorang muslim ibarat api yang membersihkan emas dan perak dari kotoran.
Kabar gembira juga diberikan pada mereka yang sedang menuntut ilmu, bahwa malaikat meletakkan sayapnya di atas para penuntut ilmu, sebagai bentuk keridhaan mereka. Kabar gembira juga dibawakan pada perempuan yang menunggu lamaran, mereka yang sedang berperang dan menunggu kemenangan... artikel ada di sini

Jadi, kabar gembira sesungguhnya adalah apa yang bisa melegakan pendengarnya.
 Ada pula Adh Dhuha ayat 11 yang berisi, "Dan tentang nikmat Rabbmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)," mengingatkan kita pentingnya mensyukuri pemberian Allah. Masalah menyebutkannya ke halayak, saya tidak berhak menghakimi orang lain. Saya sendiri akhirnya berpikir, nikmat yang dititipkan Allah pada kita, alangkah indahnya jika bukan beritanya saja yang kita bagi. Ada sesuatu pada nikmat itu yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Dulu ayah saya berkata, "kalau ada tetangga punya mobil, jangan iri. Alhamdulillah, kali aja besok2 bisa minjem, hehe..."
Saya kira kalimat itu benar-benar harus diterima secara harafiah. Lama-lama setelah direnung-renungkan, bukan bentuknya saja yang bisa kita bagi. Tapi esensi dari nikmat itu.

Jika kita adalah pegawai negeri yang diberikan nikmat Allah berupa kenaikan gaji, tentulah orang lain akan kecipratan nikmat itu jika kita kemudian menjadi pegawai yang bersemangat bekerja, bersemangat melayani bangsa. Tak hanya mengeluh dan mencaci. Tidak mamanfaatkan fasilitas publik demi kepentingan pribadi.

Jika kita mendapatkan rejeki berupa rumah baru, tetangga kita toh tidak berharap numpang tidur atau mandi di rumah mewah kita. Tetapi, mereka akan kecipratan nikmat jika kita bisa menjadi tetangga yang lebih baik. Tidak membongkar aibnya, tidak menggunjingnya, menjenguknya ketika ia sakit, dan memberikan apa yang menjadi haknya sebagai tetangga.



Maka, berbagi kebahagiaan, menebar kabar gembira, bukanlah semata-mata menyebutkan apa yang kita dapatkan pada halayak. Namun mengolah nikmat itu menjadi energi yang bisa menentramkan orang lain, melegakan orang lain, sehingga nikmat kita menjadi nikmatnya juga. Mengubah kita menjadi pribadi bersyukur yang bukan sekedar pamer saat riang dan memaki saat kecewa.

Jika besok kita naik haji, semoga bentuk syukur kita tidak hanya sebentuk status, "Alhamdulillah saya akhirnya dapat rejeki naek haji," tapi juga keindahan akhlak kita, keteduhan jiwa kita, menjadi penenang bagi yang lain. Menjadi bentuk kasih sayang Allah yang hadir di Bumi.

Wallahu a'lam.









It's about a week ago.
Saya menggandeng jemari putri 4tahun saya keluar dari sebuah mall ketika hari sudah gelap. Angin dingin musim kemarau terasa kering dan menusuk. Sementara udara berbau panas dan pengap. Kami melewati parkiran mobil, dan saya melihatnya di sana:
Terbaring, meringkuk, di antara dua mobil, seorang bocah lelaki kurus bersweater abu-abu.
Saya pelan-pelan mengingatnya. Ia adalah yang beberapa waktu lalu berada di dalam mall, menawarkan jasanya untuk membawakan barang saya. Saya telah menolaknya, karena barang saya tidak banyak. Dan dalam hati sempat berkata, kenapa bocah itu ada di dalam mall? Ya, dengan suara hati yang sedikit jahat.

Kembali ke parkiran. Putri saya menahan lengan saya agar berhenti dan memberikan sesuatu pada bocah itu. Don't ask. Putri saya menganggap semua yang duduk dan tidur di tanah wajib diberi recehan. And don't ask how could she has that idea. I don't know.


Saya hanya memelankan langkah, sambil meminta putri saya tidak melepaskan genggamannya. Sambil sesekali menoleh ke belakang, saya berpikir...

Alangkah sedihnya anak itu. Tidur karena kelelahan.
Apakah ia sudah makan? Karena ia meringkuk...seolah menahan perutnya yang kosong.
Mobil di sebelahnya menyala, menghidupkan lampu sorot. Ia terbangun. Terkejut, dan menyingkirkan barangnya yang tak seberapa; satu kresek kecil yang entah apa isinya.

Saya masih berdiri di sana, menoleh ke belakang, berpikir...
Kira-kira di mana rumahnya?
Kemana ibunya? Atau ayahnya?
Kalau saya beri dia uang... apakah tidak berarti meengawetkan ia dalam kehidupan jalanan?
Kalau saya ajak ia masuk dan makan... tidakkah itu sama dengan memberi pembenaran pada sikap pengemis?

Sementara putri saya menarik-narik tangan saya untuk kembali, saya bergeming.
Anak itu....

Lalu, saya melihat seorang wanita menghampiri anak itu. Ia membungkuk dan mengatakan sesuatu. Perempuan itu mengeluarkan sekotak makanan dari barang bawaannya. Ia mengelus kepala anak itu sesaat, tampaknya karena anak itu mengucapkan sesuatu. Entah apa. Lalu perempuan itu beranjak pergi. Anak saya tidak menarik-narik tangan saya lagi. Saya kembali berjalan, dengan hati tergugu. Saya kehilangan satu kesempatan. Kenapa bukan saya?

Karena saya terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak kalkulasi. Terlalu banyak pertimbangan. Saya mengkhawatirkan masa depan negara dan mental bangsa, sementara satu orang kelaparan benar-benar ada di depan saya.
Baiklah, government. Kalau Pemerintah memang mau merawat mereka di Dinas Sosial, go on. Itu tugas mereka. But, please, jangan mempengaruhi saya lagi untuk mencegah sedekah. Karena ketika Dinas Sosial menjadi tanggung jawabmu, hey Gov, biarkan saya menyelesaikan tanggung jawab yang ada di depan saya. Mereka yang diperlihatkan Tuhan ke depan mata saya sedang menadahkan tangan.





Ada masa, ketika kau merasa langit akan runtuh menimpamu…
Kau kira itulah batas mampumu,
Kau kira itulah ujian terberatmu.
Belum.
Itu hanya latihan-latihan kecil untuk masa depan yang lebih besar.

Ingatkah kau, tentang pundak yang kau rasa terlalu lelah dengan segala beban?
Lalu kau pinta Ia--Yang Maha Kuat-- mengurangi bebanmu.
Jangan.
Mintalah Ia menguatkan pundakmu,
Karena beban kecil hanya untuk orang kecil. 
Dan, mintalah hati seluas langit tak bertepi; sabar yang tak berbatas…

Ingatkan kau pada sujud-sujud panjang,
ketika kau merasa lebih baik melesak ke dalam bumi, dari pada berdiri menghadapinya?

Sabar,
Yang perlu kau hadapi hanya dirimu sendiri; rasa engganmu, rasa takutmu, rasa tak layakmu. Dari awal hingga akhirnya, ternyata itu hanya perasaanmu…

Ingatkah kau saat kakimu ragu melangkah, 
Karena kau takut orang sedang menunggu pembuktianmu; bahwa kau ada, kau bisa.
Tetaplah melangkah, jika mereka punya waktu untuk menonton nasibmu, menggunjingkan nasibmu, mereka juga harusnya bisa menunggu. 

Saat kau merasa,
Semua jalan berujung buntu, semua pintu terkunci, semua rambu tak terbaca…
Kau hanya mematung dan bingung, tak tahu harus mengetuk pintu yang mana..
Saat kau merasa sendiri, tak ada yang peduli,
Lupakah kau, pada kalimatNya, “Dan, apa bila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”

Jika kau telah mengingatNya, apakah kau kira Ia tak mengingatmu?

Saat kau merasa, kau telah mengetuk semua pintu, tapi jawaban yang kau dengar hanya kebisuan. Percayalah, kadang kau memang harus menunggu…

Ingatkah kau, pada masa-masa tersulitmu, yang kau kira bisa menjadi akhir segalanya,
Ternyata,
kau masih bisa berdiri dan berjalan lagi.
kau bahkan akan mengenal senangnya mengenang kesulitan yang sudah lewat.

Saat kau merasa orang melejit dengan hebat,
Seperti melihat rumput tetangga yang lebih hijau,
Kau hanya perlu bertanya bagaimana dia menyiramnya, di mana dia membeli pupuknya…
Kadangkala, makhluk dari api itu membisiki telingamu tentang kemudahan orang, tapi menutupi matamu dari kesukaran yang harus dilewati orang…

Saat kau tak lagi sanggup berdiri, dan tak tau hendak kemana,
Ingatkah kau tentang ketakutan Abu Bakar di samping Rasulullah dalam sebuah gua, di tengah kepungan musuh yang murka,
Saat itu Rasulullah berkata, “janganlah kau berduka cita, sesungguhNya Allah beserta kita…”
Maka pintu langit terbuka, dan Ia menurunkan bala bantuanNya…



Keheningan masjid berganti menjadi keriuhan jalan raya, ketika Umar dan gurunya memasuki kota. Gedung-gedung yang menjulang dengan kaca berkilauan terkena matahari waktu dhuha, kendaraan-kendaraan terbaru dengan suara mulus, dan orang-orang yang terlihat lebih bergaya. Umar tak percaya, ada dunia yang begitu berbeda dari yang biasa dijalaninya. 

Tapi Umar tak melihat raut takjub di wajah sang guru. Lelaki sepuh bernama Basyir itu terus berjalan dengan wajah menghadap lurus ke depan, tanpa meninggalkan kesempatan bagi Umar untuk melihat-lihat sekelilingnya lebih lama.
“Ustadz, sebenarnya kita mau kemana?” Umar bertanya. Karena, yang benar saja, masa turun dari gunung hanya untuk lewat begitu saja di kota?
 “Tidak lama lagi kita sampai. Renungkan saja apa yang kau lihat.”
 Restoran. Itu yang dia lihat. Maka Umar pun merenungkan berapa banyak orang yang makan di dalam sana. Apakah suatu hari ia akan makan di sana? Kira-kira, kalau dia memiliki uang atau dapat voucher, apakah dia akan makan di sana? Memakan sesuatu yang ia tak tahu dimasak dengan apa dan di wajan bekas apa. Apakah ia akan seperti orang-orang itu, makan dengan santai dan sesekali tertawa, seolah dunia rela menunggu berputar sampai ia selesai makan? Apakah ia akan menganggap ini cara menikmati hidup?
“Lekas Umar! Aku menyuruhmu merenung, bukan kelaparan.”
 Di persimpangan, Umar mengenali seseorang. Imam. Temannya ketika belajar beberapa waktu yang lalu. Umar dan Basyir menunggu lampu berwarna merah untuk menyeberang. Imam berada di sisi jalan yang lain. Pemuda berwajah elok itu tampak keluar dari mobil yang tak kalah elok pula. Pakaiannya bagus sekali. Bukan berarti pakaian Umar tidak bagus. Hanya saja, kau tahu, beda kelas. Sepertinya Imam berkantor di gedung itu.
Umar mendesah, “duhai, Rabb… Kau benar-benar menyayanginya.”
Rupanya, Sang Guru mendengar desahan sengsara-tapi-ikut-bahagia Umar tersebut. Setelah mereka melewati keramaian dan berjalan lebih santai di bawah pepohonan, Basyir mulai berkata, “apakah iri yang kulihat dalam tatapanmu pada Imam, Umar?”
Umar tak membantah. “Perih di sini. Kurasa hatiku sedikit cemas.” Ia menepuk dadanya.
Sang Guru tersenyum. “Mengapa demikian?”
Umar tercengang. Memangnya gurunya yang mulia itu tidak melihat apa, Imam seperti apa tadi. Mungkin, kalau Umar berdiri di sana lebih lama, Umar akan melihat juga seorang perempuan elok dan anak-anak luar biasa ada di belakang Imam. Sementara, apa yang sudah dimilikinya?
“Kalau Allah mau memberikan aku sepersekian saja dari apa yang dimiliki Imam, Ustadz, aku akan menghabiskan sisa umurku beribadah.”
Gurunya tesenyum. “Apakah kota ini memukaumu? Sungguh Umar, aku tak tahu apa lagi yang tak kau miliki…” gurunya kembali berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Umar bergeming.
“Ah… kurasa masalah iri hati ini agak serius rupanya?” Gurunya tersenyum arif. Basyir kembali dan menarik tangan Umar untuk melanjutkan langkah. “Umar, kalau kau membawa sepersekian yang dimiliki temanmu itu ke desa kita, percayalah, dalam sekejap kau akan membagi-bagikannya pada orang di sana, dan kau akan kembali seperti ini lagi. Kau tahu kenapa?”
“Karena Engkau pasti akan mengawasiku dan mengatakan, ‘mana tanda syukurmu, hai pelit!’ Engkau akan terus berkata begitu sampai aku meninggalkan hartaku seperlunya.”
“Bukan aku yang mengawasimu, tapi Allah.” Basyir menatap ke dalam mata muridnya. “Kau tahu, Nak. Pasti tak mudah menjadi temanmu itu. Kau kira dia sudah mencapai segalanya. Padahal bisa jadi kau tak tahu apa-apa tentangnya. Dia pasti memiliki ujian sendiri. Pantaskah kau mengira Allah dzalim dengan memberikanmu ujian sementara dia tidak?”
Mereka kembali berjalan menuju pemukiman di tepi kota.
“Dunia ini perhentian sementara, Umar. Apa yang kau lihat elok di sini sudah tersedia semua di tempat tujuanmu. Kenapa kau ingin memborong begitu banyak perkara. Apa kau kira, keretamu tidak akan keberatan dan membuatnya berjalan lebih lambat menuju tujuan utamamu?”
Mereka sampai di sebuah rumah yang teduh. Di bagian depan, beberapa orang tua sedang belajar mengeja huruf demi huruf. Ingatan-ingatan yang payah itu bersemangat menambah suku-suku kata ke dalam benak mereka. Di depannya, seseorang yang lebih tua duduk dengan payah di kursi rodanya, mengajarkan semua itu dengan kesabaran yang menyentuh hati Umar.
“Kalau kau mau berpesta pora dengan rasa irimu, irilah padanya, pada keluasan ilmunya dan caranya mengajak orang berlomba-lomba beramal.” Basyir menunjuk tak kentara pada pria di kursi roda itu, lalu bergabung dengan mereka.

Umar merenung. Meraba hatinya. “Duhai, segumpal darah, tidakkah kau merasa ingin berpacu langkah dengan orang tua ini, menuju syurgaNya?”