Ada masa ketika saya merasa, betapa tidak mudah membesarkan anak. Dan saya ingat pada orang tua dan keluarga besar yang membesarkan saya. Pastilah tidak mudah. Setiap keputusan benar-benar harus dipertimbangkan. Oh, bukan cuma perkara besar soal sekolah dan semacamnya, tapi bahkan, ketika ketegangan memuncak dan ada dorongan kuat untuk membentak, menghardik, mengabaikan...
Memangnya kenapa kalau saya memarahinya? orang tua punya hak untuk marah. Anak juga harus tau kalau ada masanya orang tua sedang labil, tidak bisa diganggu, dll, "hey son, welcome to the world!"
Ya... mereka memang tidak akan steril dari orang marah selamanya. Akan janggal kalau kita hendak membuatnya tidak pernah menerima kekesalan orang. Tapi sungguh, Maha Baik Allah dengan pengingatnya. Suatu hari ketika kita menua, ia akan berdoa... "Kasihi mereka seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil..."
Maka, biarkan ibu dan ayahmu berusaha lebih keras untuk berbuat baik dan menahan marah padamu Nak.. karena kami berutang itu pada Allah.
Apakah anak tidak boleh kecewa?
Saya sering mengatakan tidak pada anak. Tapi bukan berarti sebagai orang tua berhak melepas anak menghadapi kekecewaan sendirian. Saya memilih duduk di sampingnya, menjelaskan segumpal kesal di hatinya yang bernama kecewa. Ada banyak hal tidak mengenakkan di dunia ini, yang akan dia hadapi: orang menyerobot antrian, orang meludah sembarangan, orang mencuri karyanya, usahanya terlambat, seseorang yang dicintainya ternyata bukan jodohnya...
Maka, Nak, saat ini, ijinkan ayah dan ibumu menemanimu menghadapinya. Ingat2lah ini: dunia kadang tidak sesuai dengan yang kita minta. Tapi bukan berarti hidup harus berhenti. Seperti hujan yang turun saat kau berharap panas yang datang, masih ada hal lain yang bisa kau lakukan dan kau syukuri.
Banyak orang tua yang memertanyakan pola asuh liberatif. Parenting ala Amerika, kalau kata seorang kakak saya. Membiarkan anak jadi raja kecil? No... belajarlah lebih lanjut. Membiarkan anak melakukan banyak hal, bukan berarti membiarkan mereka menerabas yang haram, yang tidak disukai Allah. Tapi selama yang dilanggarnya hanyalah ego orang tua (tidak mau repot, tidak mau berisik, tidak mau disusahkan) layakkah kita mengambinghitamkan metode parenting? padahal masalahnya ada di kita.
ah... rasanya akan panjang membicarakan ini. Suatu hari saya ingin sekali mengatakan pada seseorang yang menganggap saya terlalu liberatif. Bahwa menerangkan perkara boleh dan tidak, haram dan halal, baik dan buruk, tidak mesti dengan pelototan, hardikan, apalagi pukulan. kita masih bisa duduk baik2 dan berbincang. Semoga, kelak anak2 kita akan menjadi generasi yang berlapang dada, muthmainnah, tidak tergesa-gesa, dan pintar membuka percakapan alih-alih menghakimi dan melempar batu pada orang.
Membiaran anak menangis agar dia tahan banting? sembuh sendiri dan bangkit lagi?
Maukah kau duduk di sana dan tersedu sendirian Bu? Dunia yang akan dimasuki anak2 kita adalah dunia yang keras. Duduklah di sampingnya selagi masih bisa untuk menyiapkan jiwanya.
Nak, meski dunia keras, bukan berarti kau harus mengeraskan hatimu. Teladani Rasulullah, yg tetap berhati lembut di zamannya yang jahiliyah. Semoga ayah dan ibumu ada ketika kau memanggil, dan kau akan ingat untuk ada ketika zamanmu memanggil.
Ya, saya pernah lepas kontrol, menghardik, mengabaikan. Pada Allah saja saya memohon ampun. Kepada anak saya meminta maaf. Haknya adalah diberi tahu, bukan dihardik, dan karena saya melanggar haknya, maka saya meminta maaf. Agar kelak ia tahu, tak peduli betapa tinggi jabatannya, jika ia melanggar hak seseorang, ia harus meminta maaf dan menebus kesalahannya.
Allah yang Maha Baik, lindungi kami dari sifat mencari pembenaran atas kejahilan kami. Terangkanlah yang salah itu salah, dan yang benar itu benar. Jadikan kami orang yang melihat hikmah. Berikan kami jalan untuk merendahkan hati, agar semakin banyak ilmu yang dapat kami terima dan amalkan. Jauhkan kami dari prasangka dan keterburu-buruan. Selamatkan kami dan anak2 kami hingga akhir jalan yang Kau tentukan. Amin.
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
Bulan Nosarios
Selasa, 04 Februari 2014
Label: Anak Muslim, Islamic Parenting, Motherhood 0 komentar![]() |
| pictureperfectforyou tumblr |
Allah Yang Maha Pemurah, Terima kasih....
Untuk adanya keluarga yang bisa kurindukan,
Untuk sanak saudara yang bisa mencintai dan kucintai apa adanya,
Untuk tarikan nafas kesekian di hari ini, dalam hidup ini,
Untuk udara bersih tidak berduri,
Untuk matahari yang tidak melepaskan kulit dari tubuh--meski ia bisa
Untuk tubuh yang masih bisa bergerak,
Untuk keran yang masih mengalir,
Untuk saluran air yang tidak tersumbat,
Untuk hujan yang datang saat beberapa dari kami kepanasan,
Untuk panas yang ada ketika kami memerlukan sesuatu yang hangat dan kering,
Untuk segelas kopi, teh, dan minuman lain yang tidak menjadi racun di tubuh kami,
Untuk tawa anak-anak yang seperti lagu dari surga,
Untuk jeritan anak-anak sebagai irama hidup kami,
Untuk seribu pertanyaan anak-anak yang mengejar tumbuh akalnya,
Untuk kesabaran yang Kau sisipkan pelan-pelan di hati kami,
Untuk seseorang yang Kau percayai di sisi kami, mencintai dan setia,
Untuk angin yang membuat daun-daun bergoyang, menjadi peringan beban di kala sesak,
Untuk suap demi suap yang Kau halalkan,
Untuk tetangga yang selalu bertanya dan peduli,
Untuk teman yang bisa dipercaya dan bertukar mimpi,
Untuk mereka yang bekerja keras; menghidupkan listrik, menyuplai beras, menemukan internet, membuat film bagus...
Untuk tanah yang tidak banjir,
Untuk banjir yang mengingatkan kami pada kebutuhan Bumi,
Untuk pohon-pohon yang teduh,
Untuk Pohon-pohon yang tumbang, sebagai pengingat kami akan KemahabisaanMu,
Untuk Azan subuh yang mengudara: sejuk, hening, menyentuh...
Untuk ilmu yang Kau beri pada para ulama bersahaja..
Untuk nikmat iman, yang begitu terasa ketika kami tengah berduka...
Untuk segala yang termiliki, bahkan tanpa kami sadari, tanpa sempat kami minta,
Alhamdulillah...
Jika bukan karenaMu, tak akan sampai semua itu pada kami: makhuk-makhluk tapa daya di bumi.
Diposting oleh
Bulan Nosarios
Jumat, 03 Januari 2014
Label: Anak Muslim, Motherhood, Umar 4 komentar
Memaafkan
mereka yang tidak mengerti,
Memaafkan
mereka yang tidak pandai berkata-kata,
Memaafkan
mereka yang tidak sesuai harapan,
Memaafkan
mereka yang sering salah paham,
Memaafkan
mereka yang berpikir seperti adanya mereka,
Memaafkan
diri sendiri atas semua ketidakmengertian, kemampuan yang terbatas, nilai diri
yang tidak sempurna.
Memaafkan,
Menjadi
hadiah terbaik yang bisa diberikan setiap orang untuk dirinya sendiri.
Agar diri itu
menjadi pundak yang ringan dari beban, menjadi hati yang lapang.
Saya memutuskan untuk menemani anak-anak di rumah, alih-alih bekerja. Meski dengan banyak konsekuensi (ga bisa berfoya-foya karena tidak ada gaji ganda, hehehe) juga dianggap tidak memanfaatkan ilmu.
Sudahlah, saya tidak akan membela diri. Terserah saja. Setiap ibu punya tantangan, bukan? Dari yang kecil sampai besar...(tantangannya ya, bukan body-nya :D)
Para SAHM (Stay at Home Mom) kadang dikomentari, "Enak ya, jadi ibu rumah tangga..."
Bu, percayalah, menjadi ibu itu bukan perkara enak dan nggak enak. Kita semua memilih. Ibu-ibu yang tidak berseragam itu juga sudah memilih, menerima resiko, menegakkan harga diri dan tetap berjalan. Begitu juga ibu yang bekerja. Karena kehadiran anak bukanlah perkara yang kita putuskan sendiri. Ada kekuatan Allah di dalamnya. Namun untuk memutuskan akan menjadi ibu seperti apa kita, kitalah yang menentukan. Pilihan apakah kita akan membersamainya atau memilih ladang lain. Pilihan antara menjadi ibu yang kuat atau ibu yang terus memandangi diri di cermin, "Bagaimana aku terlihat di mata masyarakat?"
Pernah, melihat seorang sahabat yang risau karena harus meninggalkan anaknya dengan pengasuh. Di lain waktu, ketika pengasuh mendadak libur, ia harus membawa putrinya ke tempat kerja. Babak belur lahir batin: menghadapi keriuhan, cibiran, dan multichallenge dalam waktu yang bersamaan. Sedih sekaligus takjub melihatnya. Siapa bilang menjadi ibu bekerja itu enak-enakan?
Tidak semua ibu yang bekerja akan menghasilkan anak yang terlantar, kurang kasih sayang, tidak terurus lahir batinnya. Ada yang bilang, anak yang ibunya bekerja, yang dirindukannya adalah pengasuh, yang disukainya adalah masakan pembantu. Benarkah? Mmm....nggak sedramatisir itulah. Satu dua ada yang begitu, tapi bukan karena ibu bekerja, tapi karena ibunya emang ga bisa masakdan jarang mangku anak :)
Dan tidak semua ibu rumahan akan menghasilkan anak santun baik budi dan bergizi.
masalahnya adalah, berusaha atau tidak?
Semoga kita menjadi ibu yang menyadari diri kita sebagai ibu. Jika kondisi membuat kita harus bekerja, semoga Allah kuatkan hati kita untuk mengemban amanah ganda. Jika kita menjadi ibu yang berkesempatan di rumah 24 jam bersama anak, semoga kita ingat bahwa Allah sedang mengawasi amanah ini.
Menjadi ibu bekerja tidak membuat seorang ibu bisa berhenti memikirkan anaknya. Sama seperti menjadi ibu di rumah tidak membuat seorang ibu abai terhadap kondisi dunia di luarnya. Jadilah ibu yang kuat. Ketika telah mengambil keputusan, jangan merengek.
Dulu, awal-awal karir saya sebagai ibu rumahan (lagaaak), saya sakit hati kalau ada yang dengan suka rela menyebut saya tidak berpendidikan dan tidak berpengaruh pada perubahan dunia. Ibaratnya, saya ini sebutir debu atau rakyat jelata yang kalau krisis tiba, dikorbankan tidak apa-apa. Beuh. Lama-lama, setelah memikir ulang kenapa saya ada di posisi ini, saya mulai lapang dada dengan komentar orang. Toh itu cuma komentar. Mereka tidak tahu apa-apa, lalu kenapa hal seperti itu harus mengubah prinsip saya.
Tidak adil menilai ibu yang bekerja sementara saya tidak pernah merasakannya. Begitu juga sebaliknya.
Memilihlah karena prinsip. Sertakan Allah dalam setiap pilihan. Sehingga ia tak tergoyahkan.
Keraguan, ketidakpercayadirian, bertindak setengah-setengah, akan terlihat dalam keseharian kita. Ibu rumahan yang tidak ikhlas berada di rumah, akan terlihat oleh anaknya, sehingga anaknya merasa menjadi penyebab dunia ibunya menyempit. Ibu yang bekerja namun pikirannya ada di rumah, tidak bisa fokus bekerja apalagi menghasilkan sesuatu bagi dunia.
Jangan melangkah setengah-setengah. Kekuatan para ibu dalam setiap tindakannya akan menginspirasi anak untuk menjadi kuat, menjadi superhero dalam benaknya, di lapangan manapun yang ibu pilih untuk bertarung.
Ibu yang bekerja demi biaya sekolah anak-anak, demi meringakan beban suami agar tidak bekerja dari minggu malam hingga sabtu pagi, bukanlah ia sama mulianya dengan ibu yang meninggalkan standar hidup tinggi demi sebuah pekerjaan tak bergaji bernama "ibu rumah tangga"... Pada Allah sajalah kita bertanggung jawab. Saat ini, cukuplah kita berkuat diri dan mengingat-ingat, kenapa masing-masing kita ada di sini.
Tegakkan kepala, Bu, ada anak-anak masa depan yang sedang mengamati, seberapa tangguh kita menanggung beban zaman. Saya ingat sebuah pepatah, Bukanlah untuk menjadi tempat bersandar seorang ibu diciptakan, melainkan agar bersandar itu tidak lagi diperlukan.
Kuatlah, Bu, maka ia juga akan kuat sepertimu.
Jelang sahur. Gorontalo.
Tahun 1991. Saya dan teman berjalan pulang dari sekolah di bawah terik matahari pukul sebelas. Kami berjalan kurang lebih dua kilometer. Saya masih kelas satu SD saat itu. Sebelumnya, guru bertanya tentang cita-cita kami. Di antara semua teman, saya nyaris tidak sempat menjawab. Ada banyak tangan yang mengacung dan berebut menjawab. "Dokter!" "Pilot!" "Bos!" dan sebagainya. Saya, si pemikir, ternyata terlalu lama berpikir. Di sepanjang perjalanan pulang itu saya terus berpikir, dan akhirnya teman seperjalanan saya bertanya. "Kau mau jadi apa?"
"Hari senin aku akan menjadi dokter. Hari rabu aku jadi polisi (waktu itu saya takjub pada Robocop). Hari berikutnya aku akan jadi istri Superman (waktu itu superman=Dean Cain)."
Teman saya melihat saya dengan tatapan kalau saya sudah gila.
Saya memang terlahir dengan banyak cita-cita. Ingin menjadi segalanya. Ketika ditanya Bapak (almarhum) saya akan menjawab "bankir" biar beliau senang. Ketika ditanya ibu, saya menjawab "dokter" juga agar beliau senang.
Makin kemari ternyata cita-cita saya tidak mengerucut. Tetap saja masih banyak. Tapi saya lama-lama sadar, ada beberapa hal yang tidak bisa saya kuasai meskipun saya ingin. Mungkin bisa, tapi kemudian saya sadar bahwa kita harus berbagi peran. Keinginan saya untuk menjadi segalanya mungkin secara tidak sadar berawal dari ketidakpercayaan saya pada orang lain. Atau karena saya terlalu ingin menyenangkan ibu bapak saya. Begitu saya bisa memercayai orang bisa melakukannya dengan baik, saya merasa tidak perlu mengerjakan hal itu. Dulu saya berpikir (maafkan pikiran sok anak umur 5 thn ini) kalau dunia akan beres (waktu itu Bosnia lagi perang) kalau saya mengerjakan semuanya.
Ketika beranjak dewasa, saya menyadari hal lain lagi. Kita sering mendengar kalimat, "gantungkan cita-citamu setinggi langit." Tapi saya lupa diberitahu bahwa langit itu milik bersama. Cita-cita satu orang akan memengaruhi cita-cita orang lain. Saya pun berpikir, betapa egoisnya saya selama ini, mengumumkan cita-cita saya tanpa mempertimbangkan, bintang yang saya gantung di langit itu akan bersinggungan dengan bintang siapa?
Saya memiliki seorang teman, namanya Mai. Suatu hari ia datang ke kamar saya--waktu saya hampir lulus SMU. Ia berkata bahwa tidak bisa kuliah. Karena tahun depan adiknya akan kuliah juga di jurusan yang sama. Ayahnya meminta dia untuk segera bekerja, dan membantu membiayai kuliah adiknya, atau setidaknya menafkahi dirinya sendiri.
Saya berduka untuk Mai. Ia bahkan tak bisa menggantung bintang di langit cita-citanya, karena bagi keluarganya, langit itu sangat sempit dan mereka harus berbagi. Lalu saya teringat kakak saya yang masuk militer. Apakah dia mengganti cita-citanya--dia adalah penulis dan kartunis yang hebat-- agar saya bisa menggantung cita-cita lebih tinggi? Ah... andai saya tahu.
Saya masih belum dewasa juga, ketika akhirnya saya menikah. Dan perkara cita-cita ini bertambah pelik. Suatu hari tanpa sengaja saya mendengar obrolan di radio, antara seorang penelepon dengan psikolog. Penelepon itu bertanya, "Saya diterima kuliah di Jerman, tapi suami dan anak saya tidak bisa ikut, bagaimana saya harus memutuskannya?" psikolog itu menjawab,
"itu adalah pertanyaan yang seharusnya Anda tanyakan sebelum melamar pekerjaan atau beasiswa. Sekarang, Anda harus memilih dengan resiko yang cukup ekstrim. Meninggalkan salah satunya." --jangan bahas jawaban psikolog tega ini, sepertinya dia capek atau bagaimana--
"itu adalah pertanyaan yang seharusnya Anda tanyakan sebelum melamar pekerjaan atau beasiswa. Sekarang, Anda harus memilih dengan resiko yang cukup ekstrim. Meninggalkan salah satunya." --jangan bahas jawaban psikolog tega ini, sepertinya dia capek atau bagaimana--
Saya merenung. Setiap keputusan, bahkan yang menyangkut hal yang paling kita inginkan... kini harus diambil bersama setelah seseorang menikah. Karena keputusannya akan memengaruhi orang lain di sisinya.
Setelah punya anak, saya jarang memikirkan cita-cita saya pribadi. Ketika ditanya punya target apa, otomatis otak saya akan memindai target-target pertumbuhan anak saya. Sekolah mana yang cocok, kurikulum apa yang diperlukan, metode apa yang kami setujui. Baru beberapa saat kemudian saya akan sadar, "oh, target saya?"
"Nggak ingin sekolah S2 lagi, Mbak?" tanya seorang teman.
Tentu. Meski bukan kata 'S2' yang dicerna oleh benak saya, melainkan kata 'sekolah'. Mungkin mengulang S1 dengan jurusan yang berbeda. Mungkin sekedar short course terkait pekerjaan saya. Tidak penting. Asal itu adalah judul dari menuntut ilmu.
"Tidak mau mengajukan aplikasi beasiswa?"
Untuk saat ini tidak. Tidak memungkinkan bagi saya untuk meninggalkan anak-anak. Membawa mereka? Dan menjadi beban orang lain? Saya berpikir tentang mereka yang masih single dan benar-benar membutuhkan pendidikan lanjutan. Sementara saya, saya tidak sekepepet itu untuk harus mengambil S2. Untuk kebutuhan saya, masih banyak pendidikan di dalam negeri yang terjangkau. Tidak tahu kalau besok-besok.
"Kasihan, sudah sarjana cuma di rumah." Saya tertawa pada kalimat ini. Tak masalah bagi saya. Saya juga tidak merasa harus membela diri. Kenapa?
Mm... saya justru bertanya, untuk apa saya membela diri?
Saya tahu saya ada di titik mana dalam hidup dan akan ke mana melangkah. Jadi kenapa saya harus menjelaskan pada orang yang tidak menjalaninya.
Mm... saya justru bertanya, untuk apa saya membela diri?
Saya tahu saya ada di titik mana dalam hidup dan akan ke mana melangkah. Jadi kenapa saya harus menjelaskan pada orang yang tidak menjalaninya.
Sekarang, anak-anak sudah mau masuk sekolah. Saya akan menjadi ibu kesepian di jendela. Sedih rasanya membayangkan rumah sepi tanpa teriakan mereka. Kosong, tidak lagi meneriaki mereka dari jendela, "Heeey, itu kotoran ayaaam!"
Tapi mereka bertumbuh. Saya harap ilmu dan amal saya pun akan bertumbuh. Karena itu, meski rasanya sesak, saya mulai mencari-cari sekolah dan pekerjaan untuk diri saya sendiri. Secukupnya, yang tidak perlu merenggut saya dari rumah. Mungkin sekedar menghabiskan waktu selama anak-anak di luar.
"Apa kamu punya cita-cita?" tanya seseorang, melihat saya yang katanya tidak memiliki ambisi. Saya tersenyum. Saya punya. Tak perlu saya sebutkan.
Ia ada dalam doa. Di antara bisikan agar Allah menjernihkan hati saya, membedakan antara cita-cita dan nafsu mengejar citra: wanita berpendidikan tinggi.
Ia ada dalam doa. Di antara bisikan agar Allah menjernihkan hati saya, membedakan antara cita-cita dan nafsu mengejar citra: wanita berpendidikan tinggi.
Bagi saya, cita-cita adalah yang digenggam dalam diam, diupayakan selangkah demi selangkah, tetap gigih meski tak ada yang mengetahui ia menginginkannya. Tak iri melihat orang lebih duluan mencapai cita-citanya. Tak lemah melihat tak ada yang menyemangatinya. Tak tergempur oleh arus. Tak berkarat oleh sorak-sorai. Ia teguh sejak dalam hati. Berusaha dan berusaha....
Saya meyakini, Allah akan mendekatkan apa yang diam-diam kita idamkan, jika kita bersungguh-sungguh mengerjakan apa yang diamanahkan sekarang.
Mungkin Anda pernah membaca artikel tentang "Istri Bukan Pembantu". Kalau belum, Anda akan dengan mudah mendapatkannya melalui Google atau Facebook. What do you think?:)
Tentu, post tersebut banyak mendulang tanda jempol di Facebook. Apalagi yang share. Adapula yang men-tag suaminya... whatever it means.
Saya menulis ini tanpa berniat menyinggung sesiapa. Kita sudah dewasa dan bebas berpikir, I guess. And I hope you agree.
Saya seorang ibu, yang pasti merasa tersinggung ketika ada yang menghina perempuan dan peran seorang ibu. Tapi, ketika ada yang membesar-besarkan peran ibu (terutama ibu rumah tangga) entah mengapa saya merasa tidak nyaman, meski saya sendiri adalah ibu rumah tangga.
Bagi saya, ibu-ibu di masa lalu adalah sosok sempurna untuk dicontoh keikhlasannya. Sulit membayangkan mereka bisa bercerita tentang 'baru membuatkan kopi untuk suami, masak ini, itu, ngepel, nyapu' pada halayak seperti yang beberapa orang lakukan di Facebook :)
Saya tidak menyalahkan mereka yang senang berbagi di Facebook. Itu hak setiap pengguna Facebook. Memaki-maki di Facebook saja tidak bisa ditangkap polisi, apalagi cuma menyebut agenda
harian di dapur.
Kembali pada peran ibu. Kenapa saya bilang mereka terlalu membesar-besarkan? Semua ibu rumahan tanpa pembantu seperti saya pasti tahu rasanya berada dalam jet coaster itu. Tapi maaf, saya rasa kami sepakat bahwa kami melakukannya bukan untuk dikenal media sebagai 'pahlawan rumah tangga'. Peran sebagai ibu dan istri itu bukan pekerjaan, itu adalah ujian yang diberikan Tuhan ketika seseorang memasuki perjanjian yang namanya pernikahan. Semua bentuk balasan yang kita terima--baik maupun buruk-- tidaklah cash and carry. Melainkan seperti deposit, yang hanya bisa diambil saat kita sudah dihidupkan kembali, kelak.
Bahkan, ketika seorang ibu mendengar kata TERIMA KASIH, ia tersenyum senang bukanlah karena mengetahui pekerjaannya dihargai, namun karena suami atau anaknya adalah orang baik yang tak sungkan berterima kasih. Seorang ibu mengambilnya sebagai sebuah pelajaran, bukan sebagai kebanggan pribadi.
Seorang ibu merasa lega ketika anak dan suaminya menjadi orang baik. Bukan untuk dibanggakan pada orang lain. Agar, jikalau ia harus berpulang lebih dulu, ia telah menyiapkan anak dan suaminya sebagajiwa-jiwa yang kuat dan baik. Itu saja.
Jadi, ketika ada yang berkoar-koar tentang 'hargai kami sebagai istri, jangan jadikan kami pembantu' dan rengekan lainnya...
Perasaan saya campur aduk.
Seperti menagih pada manusia atas sesuatu yang saya lakukan untuk Allah. Pantaskah? Padahal yang kami upayakan belum seberapa. Toh kami masih diberi rejeki, diberi anak-anak sebagai penyambung nafas dan nama. Bahkan sebenarnya, kami bisa memilih melalui doa.
Saya jadi bertanya-tanya, benarkah ada yang pernah menyebut para istri sebagai pembantu? Saya merasa, kalaulah para ibu, ibu mertua, suami, dan anak mengetahui bagaimana orang yang selama ini memudahkan mereka menganggap telah diperlakukan sebagai pembantu.... mereka pasti sedih. Mereka pasti tidak mau dianggap telah semena-mena. Mereka mungkin akan berkata, "kenapa tidak kau katakan saja tidak bisa, daripada mengatakan kami mendzalimimu?" Sungguh berat beban yang ditimpakan pada mereka, padahal mereka tidak tahu...
Ah...sedihnya.
Seorang istri adalah pembantu; mengerjakan banyak hal sekaligus, diperintah ini itu, masih juga diprotes. Anak dan suami bahkan mertua punya selera berbeda.... semua itu seperti memborbardir seorang istri. Itukah yang kau sebut sebagai pembantu? Bagiku kau terdengar seperti orang yang dicintai, dipercayai, dan dianugerahkan pundak yang kuat. Bukankah tidak ada beban yang melebihi pundak? Begitu janjiNya.
Pembantu itu dibayar. Sementara saya, dan saya yakin beberapa istri di luar sana setuju, kami akan tersinggung kalau apa yang kami berikan dinilai dengan uang. Maka, bukan. Kami BUKAN pembantu.
Pembantu mengerjakan semua hal karena diinstruksikan demikian. Kami, para istri, melakukan semua itu semata-mata untuk memudahkan penghuni rumah kami. Jika mereka lapang, sungguh kami senang. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya? Jika itu yang kau sebut sebagai pembantu.... baiklah, kami mungkin pembantu. Pelayan manusia yang mengharapkan ridha Allah.
Pembantu tidak boleh balik memerintah. Kami boleh. Bahkan kami akan membagi sedikit tugas ketika kami memerlukan tambahan waktu tidur. Kami diperbolehkan melakukannya, hanya saja ditantang soal bagaimana menyampaikan permintaan itu, karena laki-laki harus selalu mendengar permintaan dengan kalimat jelas, bukan sindiran, rajukan, atau ancaman samar. Apalagi lewat Facebook.
Janganlah nistakan diri kita dengan menganggap diri direndahkan oleh orang lain. Muliakan diri kita dengan melakukan banyak hal melelahkan itu semata-mata karena Allah mencintai yang demikian. Dan, jika kau sudah merasa sampai pada batasmu....
.........mintalah bantuan!
Beberapa istri nabi meminta bantuan dengan do'a. Siapa lagi yang lebih kuat dari DIA yang MAHA KUAT?
Lalu, mintalah bantuan pada suami, atau siapapun yang bisa mendengarmu.
Ukurlah kemampuan diri. Kerjakan sesuai kemampuan diri, bukan sesuai standar rumah tangga orang lain. Ringankan diri dari kompetisi menjadi ibu rumah tangga paling tulen. Hati yang ringan, ibu yang bahagia, lebih akan dikenang keluarga daripada rumah yang cantik.
Jika berkemampuan lebih, lebih baik membayar pembantu betulan daripada menghinakan diri di depan publik dengan mengatakan bahwa sebagai istri kita dianggap pembantu.
Kalau tidak punya kelebihan dana untuk membayar pembantu... jangan memaksakan diri. Dapur yang keren adalah dapur yang berantakan, istana yang menyenangkan adalah tempat anak bebas bermain tanpa khawatir soal kerapian. Masakan paling enak adalah yang dimasak dengan cinta, bukan seberapa ribetnya proses itu. Buang hal-hal tidak penting yang menguras tenaga, termasuk Facebook-an tengah malam jika tidak mengundang manfaat (lebih baik tidur).
(Beneran saya heran, para ibu yang mengeluh dirinya menjadi budak rumah tangga, padahal suaminya memberikan laptop, jaringan internet, dan malam hari ketika anak dan suami tidur mereka bebas berselancar di dunia maya. Mana ada budak semewah itu?)
Menjadi istri dan ibu adalah peluang terbaik mengatur tenaga dan pikiran. Fokus pada apa yang menjadi tanggung jawab, dan abaikan apa yang tidak memberi pengaruh signifikan pada kehidupan sekarang dan di masa yang akan datang.
Ada banyak para istri yang benar-benar membanting tulang di luar sana. Semoga Allah merahmatinya dan memudahkan urusan mereka.Sementara pada istri yang diberi kelapangan, teruslah berkarya, mendidik anak, menjadi teladan, memberi pengaruh baik bagi sesama.
Bagaimana dengan suami yang berperilaku semena-mena memerintah istrinya? Suami jenis pemalas tidak berguna?
Mungkin tidak sesederhana saya mengatakannya. Tapi, bisa jadi kita memiliki banyak pilihan; memberitahunya dengan jelas, mendiskusikannya, memengaruhinya pelan-pelan... Karena suami yang malas adalah ujian bagi istri shalihah. Memperbaiki hubungan dengan Allah akan memudahkan kita memperbaiki hubungan dengan manusia, itu yang saya yakini. Banyak cara yang layak dicoba, namun, mendzalimi diri sendiri dengan mengemis belas kasih manusia--dengan menghinakan suami dan keluarga-- tentulah bukan cara yang bijak.
Apa yang kita keluhkan dari ini, akan memengaruhi apa yang akan kita kenang di masa yang akan datang.
wallahu 'alam. Nasehati saya jika salah.
Tentu, post tersebut banyak mendulang tanda jempol di Facebook. Apalagi yang share. Adapula yang men-tag suaminya... whatever it means.
Saya menulis ini tanpa berniat menyinggung sesiapa. Kita sudah dewasa dan bebas berpikir, I guess. And I hope you agree.
Saya seorang ibu, yang pasti merasa tersinggung ketika ada yang menghina perempuan dan peran seorang ibu. Tapi, ketika ada yang membesar-besarkan peran ibu (terutama ibu rumah tangga) entah mengapa saya merasa tidak nyaman, meski saya sendiri adalah ibu rumah tangga.
Bagi saya, ibu-ibu di masa lalu adalah sosok sempurna untuk dicontoh keikhlasannya. Sulit membayangkan mereka bisa bercerita tentang 'baru membuatkan kopi untuk suami, masak ini, itu, ngepel, nyapu' pada halayak seperti yang beberapa orang lakukan di Facebook :)
Saya tidak menyalahkan mereka yang senang berbagi di Facebook. Itu hak setiap pengguna Facebook. Memaki-maki di Facebook saja tidak bisa ditangkap polisi, apalagi cuma menyebut agenda
harian di dapur.
Kembali pada peran ibu. Kenapa saya bilang mereka terlalu membesar-besarkan? Semua ibu rumahan tanpa pembantu seperti saya pasti tahu rasanya berada dalam jet coaster itu. Tapi maaf, saya rasa kami sepakat bahwa kami melakukannya bukan untuk dikenal media sebagai 'pahlawan rumah tangga'. Peran sebagai ibu dan istri itu bukan pekerjaan, itu adalah ujian yang diberikan Tuhan ketika seseorang memasuki perjanjian yang namanya pernikahan. Semua bentuk balasan yang kita terima--baik maupun buruk-- tidaklah cash and carry. Melainkan seperti deposit, yang hanya bisa diambil saat kita sudah dihidupkan kembali, kelak.
Bahkan, ketika seorang ibu mendengar kata TERIMA KASIH, ia tersenyum senang bukanlah karena mengetahui pekerjaannya dihargai, namun karena suami atau anaknya adalah orang baik yang tak sungkan berterima kasih. Seorang ibu mengambilnya sebagai sebuah pelajaran, bukan sebagai kebanggan pribadi.
Seorang ibu merasa lega ketika anak dan suaminya menjadi orang baik. Bukan untuk dibanggakan pada orang lain. Agar, jikalau ia harus berpulang lebih dulu, ia telah menyiapkan anak dan suaminya sebagajiwa-jiwa yang kuat dan baik. Itu saja.
Jadi, ketika ada yang berkoar-koar tentang 'hargai kami sebagai istri, jangan jadikan kami pembantu' dan rengekan lainnya...
Perasaan saya campur aduk.
Seperti menagih pada manusia atas sesuatu yang saya lakukan untuk Allah. Pantaskah? Padahal yang kami upayakan belum seberapa. Toh kami masih diberi rejeki, diberi anak-anak sebagai penyambung nafas dan nama. Bahkan sebenarnya, kami bisa memilih melalui doa.
Saya jadi bertanya-tanya, benarkah ada yang pernah menyebut para istri sebagai pembantu? Saya merasa, kalaulah para ibu, ibu mertua, suami, dan anak mengetahui bagaimana orang yang selama ini memudahkan mereka menganggap telah diperlakukan sebagai pembantu.... mereka pasti sedih. Mereka pasti tidak mau dianggap telah semena-mena. Mereka mungkin akan berkata, "kenapa tidak kau katakan saja tidak bisa, daripada mengatakan kami mendzalimimu?" Sungguh berat beban yang ditimpakan pada mereka, padahal mereka tidak tahu...
Ah...sedihnya.
Seorang istri adalah pembantu; mengerjakan banyak hal sekaligus, diperintah ini itu, masih juga diprotes. Anak dan suami bahkan mertua punya selera berbeda.... semua itu seperti memborbardir seorang istri. Itukah yang kau sebut sebagai pembantu? Bagiku kau terdengar seperti orang yang dicintai, dipercayai, dan dianugerahkan pundak yang kuat. Bukankah tidak ada beban yang melebihi pundak? Begitu janjiNya.
Pembantu itu dibayar. Sementara saya, dan saya yakin beberapa istri di luar sana setuju, kami akan tersinggung kalau apa yang kami berikan dinilai dengan uang. Maka, bukan. Kami BUKAN pembantu.
Pembantu mengerjakan semua hal karena diinstruksikan demikian. Kami, para istri, melakukan semua itu semata-mata untuk memudahkan penghuni rumah kami. Jika mereka lapang, sungguh kami senang. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya? Jika itu yang kau sebut sebagai pembantu.... baiklah, kami mungkin pembantu. Pelayan manusia yang mengharapkan ridha Allah.
Pembantu tidak boleh balik memerintah. Kami boleh. Bahkan kami akan membagi sedikit tugas ketika kami memerlukan tambahan waktu tidur. Kami diperbolehkan melakukannya, hanya saja ditantang soal bagaimana menyampaikan permintaan itu, karena laki-laki harus selalu mendengar permintaan dengan kalimat jelas, bukan sindiran, rajukan, atau ancaman samar. Apalagi lewat Facebook.
Janganlah nistakan diri kita dengan menganggap diri direndahkan oleh orang lain. Muliakan diri kita dengan melakukan banyak hal melelahkan itu semata-mata karena Allah mencintai yang demikian. Dan, jika kau sudah merasa sampai pada batasmu....
.........mintalah bantuan!
Beberapa istri nabi meminta bantuan dengan do'a. Siapa lagi yang lebih kuat dari DIA yang MAHA KUAT?
Lalu, mintalah bantuan pada suami, atau siapapun yang bisa mendengarmu.
Ukurlah kemampuan diri. Kerjakan sesuai kemampuan diri, bukan sesuai standar rumah tangga orang lain. Ringankan diri dari kompetisi menjadi ibu rumah tangga paling tulen. Hati yang ringan, ibu yang bahagia, lebih akan dikenang keluarga daripada rumah yang cantik.
Jika berkemampuan lebih, lebih baik membayar pembantu betulan daripada menghinakan diri di depan publik dengan mengatakan bahwa sebagai istri kita dianggap pembantu.
Kalau tidak punya kelebihan dana untuk membayar pembantu... jangan memaksakan diri. Dapur yang keren adalah dapur yang berantakan, istana yang menyenangkan adalah tempat anak bebas bermain tanpa khawatir soal kerapian. Masakan paling enak adalah yang dimasak dengan cinta, bukan seberapa ribetnya proses itu. Buang hal-hal tidak penting yang menguras tenaga, termasuk Facebook-an tengah malam jika tidak mengundang manfaat (lebih baik tidur).
(Beneran saya heran, para ibu yang mengeluh dirinya menjadi budak rumah tangga, padahal suaminya memberikan laptop, jaringan internet, dan malam hari ketika anak dan suami tidur mereka bebas berselancar di dunia maya. Mana ada budak semewah itu?)
Menjadi istri dan ibu adalah peluang terbaik mengatur tenaga dan pikiran. Fokus pada apa yang menjadi tanggung jawab, dan abaikan apa yang tidak memberi pengaruh signifikan pada kehidupan sekarang dan di masa yang akan datang.
Ada banyak para istri yang benar-benar membanting tulang di luar sana. Semoga Allah merahmatinya dan memudahkan urusan mereka.Sementara pada istri yang diberi kelapangan, teruslah berkarya, mendidik anak, menjadi teladan, memberi pengaruh baik bagi sesama.
Bagaimana dengan suami yang berperilaku semena-mena memerintah istrinya? Suami jenis pemalas tidak berguna?
Mungkin tidak sesederhana saya mengatakannya. Tapi, bisa jadi kita memiliki banyak pilihan; memberitahunya dengan jelas, mendiskusikannya, memengaruhinya pelan-pelan... Karena suami yang malas adalah ujian bagi istri shalihah. Memperbaiki hubungan dengan Allah akan memudahkan kita memperbaiki hubungan dengan manusia, itu yang saya yakini. Banyak cara yang layak dicoba, namun, mendzalimi diri sendiri dengan mengemis belas kasih manusia--dengan menghinakan suami dan keluarga-- tentulah bukan cara yang bijak.
Apa yang kita keluhkan dari ini, akan memengaruhi apa yang akan kita kenang di masa yang akan datang.
wallahu 'alam. Nasehati saya jika salah.
Rasanya ngilu, ketika mendengar seorang ibu menghakimi ibu lain dengan ringan. Ringan, mungkin tidak dimaksudkan. Ringan, mungkin karena terbiasa. Tapi, bagaimana bisa membiarkan dirimu berlidah tajam tanpa menimbang-nimbang perasaan orang lain? Rasanya memang ngilu, bukan?
Ketika anak nilainya rendah, "Hah, ibunya kan guruuu?"
Ketika anaknya sakit ketiga kali dalam sebulan ini, "Nggak diperhatiin sih makanannya...."
Ketika anaknya belum mandi jam empat sore, "Ibumu kemana? Kok jam segini masih jorok??"
Ketika anaknya bertambah, "Ampun deh, lagi??? Yang ada aja nggak keurus."
Ketika ibunya kembali bekerja, "tugas perempuan itu di rumah..."
Kita lupa:
Bahwa anaknya guru pun harus belajar sama seperti anak-anak lain; kadang bersemangat, kadang tidak; lebih hebat di matematika, atau bahasa.
Bahwa sakitnya anak adalah ujian paling berat bagi seorang ibu. Apa kau pikir seorang ibu sengaja membuat anaknya terbaring, bernafas satu demi satu...sementara tiap tarikan nafasnya terasa seperti duri yang dicabut dari dagingmu....
Bahwa si ibu tidak memandikan anaknya pukul 4 sore, agar anaknya bebas berkeringat dan berlumpur. Untuk apa memamerkan anak yang sudah mandi?? Kelihatan bagus di mata orang mungkin adalah sumber kebahagiaan sebagian ibu, tapi tidak semua ibu. Lagi pula, sejak kapan jam mandi itu harus seragam, bu?
Bahwa bagi sebagian orang, mendapatkan anak adalah berkah. Penugasan yang mulia. Semangat untuk mencari rejeki lebih. Semangat untuk menjadi contoh yang lebih baik. Dan, hey, by the way, mungkin salah satu anaknya akan menjadi dokter dan mengobati kita kelak.
Bahwa ketika seorang perempuan bekerja keluar rumah... kita tidak tahu, mungkin ia memiliki ibu dan adik yang harus dinafkahi. Atau ia ingin memiliki sedekah tanpa membebani suaminya.
Ngilu, bukan, rasanya?
Padahal, darimulah, duhai para ibu, seorang ibu berharap dimengerti. Karena, meski ujian kita tidak sama, tapi bukankah kau adalah satu-satunya peran, hai ibu, yang akan memahami apa yang dirasakan seorang ibu?
--Bahwa setiap ibu pasti mencoba melakukan yang terbaik untuk anak dan keluarganya---
But, somehow, ujian kita berbeda. Ia mungkin tersandung ketika diuji masalah keuangan. Kau, mungkin akan diuji tentang kesyukuran. Aku, sudah jelas diuji tentang kesabaran.
Tidakkah akan lebih indah, jika seorang ibu memberikan dukungan dan mengenyahkan prasangkanya terhadap ibu lain? Karena... sekali lagi, bukankah kau yang seharusnya paling memahami besarnya tanggung jawab sebagai ibu? Karena kita sama-sama ibu. Itulah kesamaan kita.
Ada masa, ketika kau merasa langit akan runtuh menimpamu…
Kau kira itulah batas mampumu,
Kau kira itulah ujian terberatmu.
Belum.
Itu hanya latihan-latihan kecil untuk masa depan yang
lebih besar.
Ingatkah kau, tentang pundak yang kau rasa terlalu lelah dengan
segala beban?
Lalu kau pinta Ia--Yang Maha Kuat-- mengurangi bebanmu.
Jangan.
Mintalah Ia menguatkan pundakmu,
Karena beban kecil hanya untuk orang kecil.
Dan, mintalah hati seluas langit tak bertepi; sabar yang
tak berbatas…
Ingatkan kau pada sujud-sujud panjang,
ketika kau merasa lebih baik melesak ke dalam bumi, dari
pada berdiri menghadapinya?
Sabar,
Yang perlu kau hadapi hanya dirimu sendiri; rasa
engganmu, rasa takutmu, rasa tak layakmu. Dari awal hingga akhirnya, ternyata
itu hanya perasaanmu…
Ingatkah kau saat kakimu ragu melangkah,
Karena kau takut orang sedang menunggu pembuktianmu; bahwa
kau ada, kau bisa.
Tetaplah melangkah, jika mereka punya waktu untuk menonton
nasibmu, menggunjingkan nasibmu, mereka juga harusnya bisa menunggu.
Saat kau merasa,
Semua jalan berujung buntu, semua pintu terkunci, semua
rambu tak terbaca…
Kau hanya mematung dan bingung, tak tahu harus mengetuk
pintu yang mana..
Saat kau merasa sendiri, tak ada yang peduli,
Lupakah kau, pada kalimatNya, “Dan, apa bila
hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”
Jika kau telah mengingatNya, apakah kau kira Ia tak
mengingatmu?
Saat kau merasa, kau telah mengetuk semua pintu, tapi jawaban
yang kau dengar hanya kebisuan. Percayalah, kadang kau memang harus menunggu…
Ingatkah kau, pada masa-masa tersulitmu, yang kau kira
bisa menjadi akhir segalanya,
Ternyata,
kau masih bisa berdiri dan berjalan lagi.
kau
bahkan akan mengenal senangnya mengenang kesulitan yang sudah lewat.
Saat kau merasa orang melejit dengan hebat,
Seperti melihat rumput tetangga yang lebih hijau,
Kau hanya perlu bertanya bagaimana dia menyiramnya, di
mana dia membeli pupuknya…
Kadangkala, makhluk dari api itu membisiki telingamu
tentang kemudahan orang, tapi menutupi matamu dari kesukaran yang harus
dilewati orang…
Saat kau tak lagi sanggup berdiri, dan tak tau hendak
kemana,
Ingatkah kau tentang ketakutan Abu Bakar di samping
Rasulullah dalam sebuah gua, di tengah kepungan musuh yang murka,
Saat itu Rasulullah berkata, “janganlah kau berduka cita,
sesungguhNya Allah beserta kita…”
Maka pintu langit terbuka, dan Ia menurunkan bala
bantuanNya…
Pernahkah Anda, sedang membawa anak atau keponakan jalan-jalan, lalu bertemu ibu lain yang juga membawa anaknya. Lalu si ibu berkata,
"Wah... kok kurusan?" atau,
"Gemuk ya sekarang? Susunya apa? Awas obesitas lho...." atau, apakah Anda familiar dengan kalimat berikut,
"Umurnya 18 bulan, belum bisa jalan? Si kecil saya udah bisa jalan umur 9 bulan....(senyum lebar)"
Aaaand many else...
Pertanyaan sejenis itu sering sekali saya dengar, bahkan saya alami sendiri. Tidak terhitung berapa mata yang sudah memindai anak saya dan tiba-tiba menjadi timbangan otomatis dan mengeluarkan hasilnya: "kurus banget sekaraaang?" atau "iih, gemuk, obes nih!"
Pernah, di sebuah playdate, putri saya bertepuk tangan karena temannya menyanyi. Ibu si anak mengatakan anak saya bertingkah aneh seperti sedang melihat pertunjukan. Well, bukankah dia memang sedang mengapresiasi 'pertunjukan' temannya?
Saya memaklumi komentar-komentar sesama ibu. Seperti saya sendiri, kadang saya tidak tahu harus mengatakan apa, membicarakan apa, dan kadang menemukan sebuah bahan obrolan yang setelah dipikir-pikir ternyata itu tidak baik. Jadi, daripada saya ngotot anak saya baik-baik saja (hal yang biasa dilakukan para ayah), saya memilih untuk senyum dan berkata.. "Masa sih Tante...? Alhamdulillah sehat kok!"
Itu jawab untuk yang kepedulian yang tidak diungkapkan dengan benar. Kalau untuk yang memang hobinya mencibir dan membagi-bagi aura negatif sampai bumi dipastikan kiamat... What I supposed to say? Sementara saya tahu dia tidak butuh jawaban.
Saya sudah kebal, sehingga tidak pulang dengan membawa beban, "Apa yang salah dengan anak saya?" atau buru-buru membuka google untuk mencari tahu kenapa anak saya.
Selama saya tahu anak saya sehat (siapa yang lebih tahu apa yang dilakukan dan dimakan anak saya selain saya?----hanya di kalangan manusia lho ya) dan tidak menunjukkan gejala-gejala kelainan psikologis, saya tetap percaya diri bahwa anak saya tidak seperti yang orang nilai, dengan tatapan penilaian beberapa menit itu. Satu-satunya pendapat yang bisa menggoyahkan pertahanan saya cuma pendapat dokter anak. Itu juga hanya dokter yang sudah menangani anak saya sejak bayi.
Tapi, lain cerita kalau seseorang menilai langsung di depan anak saya. Mereka hanyalah anak-anak yang mendengar setiap ucapan, dan seseorang harus membantu menyaringnya. Misal, ketika ada yang mengatakan, "Udah besar kok masih ngemut jempol?" atau, "Nggak bisa bilang R ya? Kasihan...udah mau sekolah lho..." atau, "Wah, kalah tinggi nih sama anakku...."
Oke, dalam mimpi buruk saya, mungkin saya sudah melakban mulut itu. Tapi, dalam dunia nyata, yang perlu saya lakukan adalah tarik nafas dan beristighfar banyak-banyak dalam hati, ngusir setan yang terus mengompori supaya saya marah, dan fokus pada anak saya. Seorang anak perlu mengetahui bahwa ibunya tidak menganggap dia aneh, nakal, atau kurang sesuatu, apalagi salah, terutama di depan umum. Ada cara lain (yang dikuasai oleh naluri keibuan) untuk membahas kelakuan anak. Bukan di depan umum.
Maka saya biasanya akan mengatakan, "Dia baik-baik saja." dan menatap anak saya dan memberi senyum mendukung.
Dunia ini cukup kejam, Moms, tidak perlulah senyinyir itu di depan anak-anak.
Untuk saya sendiri, berdasarkan pengalaman tidak enaknya ketika anak dipindai dan dihakimi, saya mengusahakan beberapa hal berikut ketika saya berada di antara ibu-ibu lain.
1. Daripada menebak-nebak dalam hati umurnya, lalu berkata, "Udah besar yaaa?" padahal umurnya masih 3 bulan dan dia hanya kelebihan berat badan, lebih baik saya bertanya umurnya. Lagi pula, kenapa saya harus mengukur besar kecil anak orang?
2. Gunakanlah rekam medis dan kartu sehat untuk mengukur tumbuh kembang anak kita, bukan ukuran anak lain. Daripada sibuk mengawasi dan menilai anak orang untuk memastikan anak kita baik-baik saja, mending ke pediatrik!
3. Tetap fokus dan bersikap tulus. Keduanya memudahkan saya untuk melihat dengan jelas kelebihan lawan bicara (dan anaknya) daripada kekurangannya. Fokus juga membuat saya bisa berpikir jernih dan gampang mendapatkan kalimat percakapan yang bermutu. Daripada mengatakan, "kurusan ya, sakit?" lebih baik mengatakan, "main ke mana weekend ini? ke rumah yuk...." ---kalau dia mengiyakan, urusan nantilah siap-siapnya.
4. Berusaha untuk mengeluarkan pertanyaan yang netral, bukan menggurui dan menghakimi. Kalau anak teman terlihat sakit, kurus, dan tidak beres, lebih baik bertanya pelan-pelan pada ibunya, "apa kabar? sehat-sehat kan?" Saya percaya, kalau memang itu yang paling tepat, teman saya sendiri yang akan mengatakan kalau ada apa-apa dengan anaknya. Kalau dia tidak mengatakan, mungkin dia masih mau menghadapinya di internal keluarga dulu. Tidak semua orang gampang curhat, Moms...
5. Hargai anak-anak. Jangan anggap mereka patung mini yang tidak bisa mendengar dan merasa, sehingga orang dewasa menjadikan mereka objek pembicaraan dengan semena-mena. Mereka, anak-anak itu, mendengar dan merasakan kalimat-kalimat kita. "Ah, masih bayi kok, mana ngerti dia." justru semakin kecil maka sifat spons (menyerap)nya makin tinggi.
6. Saya cenderung memerhatikan ibu dan anak yang sebaya dengan anak saya. Kenapa? Sifat dasar saya sebagai manusia menyuruh saya untuk membandingkan capaian-capaian keduanya. Apa yang dia sudah bisa dan anak saya belum, begitu pula sebaliknya. Padahal, setiap anak memiliki asupan gizi, pengalaman, dan pengasuhan yang berbeda. Bagaimana kita bisa mengharap mereka tumbuh dan melewati milestone-nya dengan cara dan waktu yang sama?
Mungkin itulah yang membuat saya berpikir dulu sebelum keluar. Jika mood sedang buruk dan saya sedang tidak waras, saya menghindari bertemu orang. Kasihan kalau sampai ia dan anaknya yang jadi korban ucapan tidak waras saya. But, maybe it's only me... What about you, Moms? :)
"Wah... kok kurusan?" atau,
"Gemuk ya sekarang? Susunya apa? Awas obesitas lho...." atau, apakah Anda familiar dengan kalimat berikut,
"Umurnya 18 bulan, belum bisa jalan? Si kecil saya udah bisa jalan umur 9 bulan....(senyum lebar)"
Aaaand many else...
Pertanyaan sejenis itu sering sekali saya dengar, bahkan saya alami sendiri. Tidak terhitung berapa mata yang sudah memindai anak saya dan tiba-tiba menjadi timbangan otomatis dan mengeluarkan hasilnya: "kurus banget sekaraaang?" atau "iih, gemuk, obes nih!"
Pernah, di sebuah playdate, putri saya bertepuk tangan karena temannya menyanyi. Ibu si anak mengatakan anak saya bertingkah aneh seperti sedang melihat pertunjukan. Well, bukankah dia memang sedang mengapresiasi 'pertunjukan' temannya?
Saya memaklumi komentar-komentar sesama ibu. Seperti saya sendiri, kadang saya tidak tahu harus mengatakan apa, membicarakan apa, dan kadang menemukan sebuah bahan obrolan yang setelah dipikir-pikir ternyata itu tidak baik. Jadi, daripada saya ngotot anak saya baik-baik saja (hal yang biasa dilakukan para ayah), saya memilih untuk senyum dan berkata.. "Masa sih Tante...? Alhamdulillah sehat kok!"
Itu jawab untuk yang kepedulian yang tidak diungkapkan dengan benar. Kalau untuk yang memang hobinya mencibir dan membagi-bagi aura negatif sampai bumi dipastikan kiamat... What I supposed to say? Sementara saya tahu dia tidak butuh jawaban.
Saya sudah kebal, sehingga tidak pulang dengan membawa beban, "Apa yang salah dengan anak saya?" atau buru-buru membuka google untuk mencari tahu kenapa anak saya.
Selama saya tahu anak saya sehat (siapa yang lebih tahu apa yang dilakukan dan dimakan anak saya selain saya?----hanya di kalangan manusia lho ya) dan tidak menunjukkan gejala-gejala kelainan psikologis, saya tetap percaya diri bahwa anak saya tidak seperti yang orang nilai, dengan tatapan penilaian beberapa menit itu. Satu-satunya pendapat yang bisa menggoyahkan pertahanan saya cuma pendapat dokter anak. Itu juga hanya dokter yang sudah menangani anak saya sejak bayi.
Tapi, lain cerita kalau seseorang menilai langsung di depan anak saya. Mereka hanyalah anak-anak yang mendengar setiap ucapan, dan seseorang harus membantu menyaringnya. Misal, ketika ada yang mengatakan, "Udah besar kok masih ngemut jempol?" atau, "Nggak bisa bilang R ya? Kasihan...udah mau sekolah lho..." atau, "Wah, kalah tinggi nih sama anakku...."
Oke, dalam mimpi buruk saya, mungkin saya sudah melakban mulut itu. Tapi, dalam dunia nyata, yang perlu saya lakukan adalah tarik nafas dan beristighfar banyak-banyak dalam hati, ngusir setan yang terus mengompori supaya saya marah, dan fokus pada anak saya. Seorang anak perlu mengetahui bahwa ibunya tidak menganggap dia aneh, nakal, atau kurang sesuatu, apalagi salah, terutama di depan umum. Ada cara lain (yang dikuasai oleh naluri keibuan) untuk membahas kelakuan anak. Bukan di depan umum.
Maka saya biasanya akan mengatakan, "Dia baik-baik saja." dan menatap anak saya dan memberi senyum mendukung.
Dunia ini cukup kejam, Moms, tidak perlulah senyinyir itu di depan anak-anak.
Untuk saya sendiri, berdasarkan pengalaman tidak enaknya ketika anak dipindai dan dihakimi, saya mengusahakan beberapa hal berikut ketika saya berada di antara ibu-ibu lain.
1. Daripada menebak-nebak dalam hati umurnya, lalu berkata, "Udah besar yaaa?" padahal umurnya masih 3 bulan dan dia hanya kelebihan berat badan, lebih baik saya bertanya umurnya. Lagi pula, kenapa saya harus mengukur besar kecil anak orang?
2. Gunakanlah rekam medis dan kartu sehat untuk mengukur tumbuh kembang anak kita, bukan ukuran anak lain. Daripada sibuk mengawasi dan menilai anak orang untuk memastikan anak kita baik-baik saja, mending ke pediatrik!
3. Tetap fokus dan bersikap tulus. Keduanya memudahkan saya untuk melihat dengan jelas kelebihan lawan bicara (dan anaknya) daripada kekurangannya. Fokus juga membuat saya bisa berpikir jernih dan gampang mendapatkan kalimat percakapan yang bermutu. Daripada mengatakan, "kurusan ya, sakit?" lebih baik mengatakan, "main ke mana weekend ini? ke rumah yuk...." ---kalau dia mengiyakan, urusan nantilah siap-siapnya.
4. Berusaha untuk mengeluarkan pertanyaan yang netral, bukan menggurui dan menghakimi. Kalau anak teman terlihat sakit, kurus, dan tidak beres, lebih baik bertanya pelan-pelan pada ibunya, "apa kabar? sehat-sehat kan?" Saya percaya, kalau memang itu yang paling tepat, teman saya sendiri yang akan mengatakan kalau ada apa-apa dengan anaknya. Kalau dia tidak mengatakan, mungkin dia masih mau menghadapinya di internal keluarga dulu. Tidak semua orang gampang curhat, Moms...
5. Hargai anak-anak. Jangan anggap mereka patung mini yang tidak bisa mendengar dan merasa, sehingga orang dewasa menjadikan mereka objek pembicaraan dengan semena-mena. Mereka, anak-anak itu, mendengar dan merasakan kalimat-kalimat kita. "Ah, masih bayi kok, mana ngerti dia." justru semakin kecil maka sifat spons (menyerap)nya makin tinggi.
6. Saya cenderung memerhatikan ibu dan anak yang sebaya dengan anak saya. Kenapa? Sifat dasar saya sebagai manusia menyuruh saya untuk membandingkan capaian-capaian keduanya. Apa yang dia sudah bisa dan anak saya belum, begitu pula sebaliknya. Padahal, setiap anak memiliki asupan gizi, pengalaman, dan pengasuhan yang berbeda. Bagaimana kita bisa mengharap mereka tumbuh dan melewati milestone-nya dengan cara dan waktu yang sama?
Mungkin itulah yang membuat saya berpikir dulu sebelum keluar. Jika mood sedang buruk dan saya sedang tidak waras, saya menghindari bertemu orang. Kasihan kalau sampai ia dan anaknya yang jadi korban ucapan tidak waras saya. But, maybe it's only me... What about you, Moms? :)
Akhir-akhir ini, konon ada beberapa jenis ibu. Pertama, FTM (full time mother), meski saya nggak ngerti-ngerti juga, kenapa harus ada istilah full time segala. Memangnya ada gitu ibu paro waktu? Kedua, SAHM (Stay At Home Mother), ketiga, WM (working mother), dan juga WAHM (working at home mother), saya sih pingin menambahkan: SAM (Studying Abroad Mother)--sayang saya nggak tahu harus mengajukan inisial itu kemana-- Anda yang mana? Yang manapun, setiap ibu punya ujiannya masing-masing. Tidak ada kelompok yang lebih baik dari yang lain. Lagian, siapa pula yang tega-teganya menyuruh para ibu ini berlomba.
Meski tidak secara resmi diperlombakan, tetap saja beberapa di antara kami merasa sedang berlomba. Mungkin darah kompetitif itu sudah dari sananya mengalir di beberapa orang. Atau tekanan hidup akhir-akhir ini--taulah, tentang reach your dream, you can if you will, be the best of your, etc etc--membuat kami, para ibu,mulai bertanya-tanya, sudah seberapa baik saya di depan dunia? (Saya anjurkan untuk mengganti kata dunia dengan kata anak/anak-anak, demi keselamatan jiwa Anda).
Beberapa saat yang lalu,salah seroang sahabat saya jatuh sakit. Ia pingsan di tengah-tengah aktifitasnya. Dengan bayi yang bahkan belum bisa duduk tegak,tentu saja hal ini mengkhawatirkan. Ia terlalu lelah, dan sebagai ibu menyusui (juga peronda malam) kekurangan waktu istirahat juga makanan baik. Menurut saya, makanan baik selalu dihasilkan oleh dapur sendiri, tidak peduli siapa yang masak. Dengan komposisi dan juga bumbu-bumbu yang bisa kita pastikan sehat dan bermanfaat. Masalahnya, sahabat saya bukan pemasak yang baik, ia juga kesulitan untuk menemukan sayur segar. Di tempat saya tinggal, untuk bisa mendapatkan sayur segar, Anda harus memburunya ke pasar yang buka dari pukul 7-10 pagi dan berpindah setiap harinya. Dengan keadaan bayi, minimnya transportasi, dll, ia juga kesulitan mendapatkan sayur dan makanan segar. Ah, andai saja ada yang siap siaga membantunya...
Oke, mungkin beberapa orang akan mengatakan "Ah, manja." atau "Seharusnya cari akal dan beradaptasi." But, we never know until we walk on her shoes.
Saya sendiri punya dua balita, tanpa asisten, tapi saya juga pernah mengalami masa abu-abu itu. Ketika menjalankan semua roda itu terasa berat dan sulit. Ketika saya berharap memiliki kemewahan untuk memilih cara lain dalam menjalankannya. Akhirnya saya memilih, I'm not wonder mom. Saya jalani saja yang ini semampunya, tidak usah ikut kompetisi Ibu Terbaik, Rumah yg Paling Rapi, Istri Idaman, Chef Rumahan Abad Ini, dll. Dan, nomor kontak asisten per jam masih tertempel di kulkas, kalau-kalau suatu hari saya berubah pikiran dan membutuhkan bantuannya.
Seorang sahabat lain lebih beruntung, memiliki uang lebih untuk membayar asisten. Ketika ada yang mengatakan, "Ya iyalah, dia bisa jadi Ibu Hebat, semua pekerjaan kasar dikerjakan pembantunya!" saya pikir, well, toh dia bayar dengan uangnya, bukan dengan uang saya. Dan dia pasti sudah berusaha dalam dimensi lain untuk menghasilkan uang itu. Atau mungkin dia hanya diberikan kemudahan oleh Allah untuk membayar orang. Bagi saya, setiap kebaikan yang diterima seseorang pastilah tidak semata-mata karena Tuhan ingin memanjakan dia. Mungkin dia sudah atau akan melewati sesuatu yang berat, siapalah kita yang bisa menebak-nebak hidup orang lain.
Sayangnya, seperti ada peraturan SAHM tidak boleh punya asisten. Apalagi anaknya cuma/baru satu. Hm... benarkah? Tergantung juga, apa Anda mau jadi kelabakan demi sebuah gelar super mom, atau memang Anda menikmati semua hal kerumahtanggaan ini. Buat saya, masalahnya memang di situ: Anda nyaman tidak? kalau nyaman, who cares what people say.
Jadi, kalau Anda, pembaca yang disayangi Tuhan, sedang menimang-nimang apakah layak mempekerjakan seorang asisten di rumah, padahal Anda adalah SAHM, pertimbangkan hal-hal berikut:
1. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa terjebak dalam rutinitas tidak berguna yang hanya menghabiskan tenaga--ngepel sehari lima kali, nyuci lap sehari dua kali, masak satu jam dikali tiga dikali empat orang,etc-- Kalau Anda pikir lebih baik waktu itu Anda habiskan dengan anak-anak, bukankah itu lebih baik?
2. Pekerjakan Asisten, kalau Anda mulai berpikir anak-anak telah mencabut Anda dari dunia nyata. Daripada Anda menyalahkan anak-anakkarena tidak punya waktu menikmati hidup, pekerjakan saja asisten
3. Pekerjakan Asisten, kalau setelah dua tahun menikah ternyata tidak satu orangpun di rumah merasa masakan Anda enak ^^ Tetaplah belajar memasak, tapi pastikan ada seseorang yang benar-benar bisa memasaka untuk anggota keluarga Anda, sementara Anda belajar.
4. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa gampang lelah, memiliki riwayat penyakit tertentu, dan mudah marah atau pingsan saat lelah. Tidak ada keharusan menjadi Super Mom, ask for help, sebelum keadaan terlalu parah.
Meski tidak secara resmi diperlombakan, tetap saja beberapa di antara kami merasa sedang berlomba. Mungkin darah kompetitif itu sudah dari sananya mengalir di beberapa orang. Atau tekanan hidup akhir-akhir ini--taulah, tentang reach your dream, you can if you will, be the best of your, etc etc--membuat kami, para ibu,mulai bertanya-tanya, sudah seberapa baik saya di depan dunia? (Saya anjurkan untuk mengganti kata dunia dengan kata anak/anak-anak, demi keselamatan jiwa Anda).
Beberapa saat yang lalu,salah seroang sahabat saya jatuh sakit. Ia pingsan di tengah-tengah aktifitasnya. Dengan bayi yang bahkan belum bisa duduk tegak,tentu saja hal ini mengkhawatirkan. Ia terlalu lelah, dan sebagai ibu menyusui (juga peronda malam) kekurangan waktu istirahat juga makanan baik. Menurut saya, makanan baik selalu dihasilkan oleh dapur sendiri, tidak peduli siapa yang masak. Dengan komposisi dan juga bumbu-bumbu yang bisa kita pastikan sehat dan bermanfaat. Masalahnya, sahabat saya bukan pemasak yang baik, ia juga kesulitan untuk menemukan sayur segar. Di tempat saya tinggal, untuk bisa mendapatkan sayur segar, Anda harus memburunya ke pasar yang buka dari pukul 7-10 pagi dan berpindah setiap harinya. Dengan keadaan bayi, minimnya transportasi, dll, ia juga kesulitan mendapatkan sayur dan makanan segar. Ah, andai saja ada yang siap siaga membantunya...
Oke, mungkin beberapa orang akan mengatakan "Ah, manja." atau "Seharusnya cari akal dan beradaptasi." But, we never know until we walk on her shoes.
Saya sendiri punya dua balita, tanpa asisten, tapi saya juga pernah mengalami masa abu-abu itu. Ketika menjalankan semua roda itu terasa berat dan sulit. Ketika saya berharap memiliki kemewahan untuk memilih cara lain dalam menjalankannya. Akhirnya saya memilih, I'm not wonder mom. Saya jalani saja yang ini semampunya, tidak usah ikut kompetisi Ibu Terbaik, Rumah yg Paling Rapi, Istri Idaman, Chef Rumahan Abad Ini, dll. Dan, nomor kontak asisten per jam masih tertempel di kulkas, kalau-kalau suatu hari saya berubah pikiran dan membutuhkan bantuannya.
Seorang sahabat lain lebih beruntung, memiliki uang lebih untuk membayar asisten. Ketika ada yang mengatakan, "Ya iyalah, dia bisa jadi Ibu Hebat, semua pekerjaan kasar dikerjakan pembantunya!" saya pikir, well, toh dia bayar dengan uangnya, bukan dengan uang saya. Dan dia pasti sudah berusaha dalam dimensi lain untuk menghasilkan uang itu. Atau mungkin dia hanya diberikan kemudahan oleh Allah untuk membayar orang. Bagi saya, setiap kebaikan yang diterima seseorang pastilah tidak semata-mata karena Tuhan ingin memanjakan dia. Mungkin dia sudah atau akan melewati sesuatu yang berat, siapalah kita yang bisa menebak-nebak hidup orang lain.
Sayangnya, seperti ada peraturan SAHM tidak boleh punya asisten. Apalagi anaknya cuma/baru satu. Hm... benarkah? Tergantung juga, apa Anda mau jadi kelabakan demi sebuah gelar super mom, atau memang Anda menikmati semua hal kerumahtanggaan ini. Buat saya, masalahnya memang di situ: Anda nyaman tidak? kalau nyaman, who cares what people say.
Jadi, kalau Anda, pembaca yang disayangi Tuhan, sedang menimang-nimang apakah layak mempekerjakan seorang asisten di rumah, padahal Anda adalah SAHM, pertimbangkan hal-hal berikut:
1. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa terjebak dalam rutinitas tidak berguna yang hanya menghabiskan tenaga--ngepel sehari lima kali, nyuci lap sehari dua kali, masak satu jam dikali tiga dikali empat orang,etc-- Kalau Anda pikir lebih baik waktu itu Anda habiskan dengan anak-anak, bukankah itu lebih baik?
2. Pekerjakan Asisten, kalau Anda mulai berpikir anak-anak telah mencabut Anda dari dunia nyata. Daripada Anda menyalahkan anak-anakkarena tidak punya waktu menikmati hidup, pekerjakan saja asisten
3. Pekerjakan Asisten, kalau setelah dua tahun menikah ternyata tidak satu orangpun di rumah merasa masakan Anda enak ^^ Tetaplah belajar memasak, tapi pastikan ada seseorang yang benar-benar bisa memasaka untuk anggota keluarga Anda, sementara Anda belajar.
4. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa gampang lelah, memiliki riwayat penyakit tertentu, dan mudah marah atau pingsan saat lelah. Tidak ada keharusan menjadi Super Mom, ask for help, sebelum keadaan terlalu parah.
Tapi, sebelum Anda benar-benar mempekerjakan Asisten, cobalah beberapa hal ini:
1. Carilah akar masalah yang membuat Anda tidak bisa menangani urusan rumah tangga ini.
2. Kenali apa yang membuat Anda nyaman. Saya sendiri nyaman dengan jadwal. Jika sesuatu melenceng dari jadwal, saya stress. Jaman dulu saya menyamankan diri dengan barang. Kalau mau fokus, maka saya harus memiliki barang bagus--kompor bagus, mangkok mie bagus, cangkir bagus, pemandangan bagus.... Well, I'm Human Beiiiing....
3. Anda kwalahan, atau cuma sedang bosan? Tarik nafaaaas....hembuuuus.... ayo take a break. Daripada membayar Asisten untuk sebulan penuh, mungkin Anda cuma perlu mengajak anak-anak ke rumah ibu atau mertua dan mendapatkan bantuan dan nasehat di sana (kalau saya, untuk mendapatkan tidur lebih sementara anak-anak bermain dengan nenek kakeknya).
4. Kenali apa yang Anda bisa kerjakan dan yang tidak. Kerjakan yang Anda bisa, pelajari yang Anda pikir Anda akan bisa, dan sisanya, mungkin bisa Anda serahkan pada ahlinya. Saya tidak bisa menyetrika. Seumur hidup, selalu ada orang yang membantu saya mengerjakan itu. Ibu, lalu adik perempuan.... dan sekarang tukang setrika. Saya membayar Asisten milik tetangga saya untuk menyetrika. Hanya setengah jam sehari. Dia mendapatkan upah di jam istirahat siangnya, dan saya tidak perlu pusing melihat pakaian berserakan. Anda akan temukan siasat lain, cobalah!
5. Bicarakan dengan pasangan, apa yang membuat Anda kwalahan. Mungkin sebenarnya dia bisa bantu cuci piring atau buang sampah, hanya saja Anda tidak pernah memintanya! You know them, moms....
Sekarang, kalau Anda yakin benar-benar perlu Asisten, tinggal lakukan dua hal ini:
1. Cek catatan finansial Anda, apakah ada pos yang bisa disiasati atau memang ada dana lebih untuk menggaji.
2. Bicarakan dengan pasangan. Apakah Anda memang perlu Asisten penuh waktu, tukang masak, atau tukang cuci-setrika.
Tapi, ada hal yang membuat saya benar-benar kesal! Yaitu, ibu yang membayar Asisten, Nanny, Koki.... dan dia menghabiskan waktunya di depan layar facebook.... Agar tidak disesali dikemudian hari, catatlah hal ini: anak Anda akan tumbuh dewasa dengan membawa ingatan apa yang telah ibunya lakukan untuk menemaninya belajar tentang dunia.
Kita pasti pernah berdoa untuk anak-anak kita. Membayangkan zaman yang akan ditempuhnya, kadang saya mengernyit ngeri, dan terbersitlah harapan itu, "selamatkan dia, Allah..."
Tina Fey, aktris yang kocak itu, membuat sederet doa untuk putrinya. doa yang detil, yang kalau dipikir-pikir, benar juga ya, kita harus jelas maunya apa, dan kita tunggu Allah bekerja :)
Saya ngambil Gambar dan tulisan ini di webnya Melody Godfred (di web lain juga banyak sih), silakan buka di web Write in Color. Tulisan ini sebenernya ada di bukunya Tina Fey, Bossypants, sayang belum ada di Indonesia :(
First, Lord: No tattoos. May neither Chinese symbol for
truth nor Winnie-the-Pooh holding the FSU logo stain her tender haunches.
May she be Beautiful but not Damaged, for it’s the Damage
that draws the creepy soccer coach’s eye, not the Beauty.
When the Crystal Meth is offered, May she remember the
parents who cut her grapes in half And stick with Beer.
Guide her, protect her
When crossing the street, stepping onto boats, swimming in
the ocean, swimming in pools, walking near pools, standing on the subway
platform, crossing 86th Street, stepping off of boats, using mall restrooms,
getting on and off escalators, driving on country roads while arguing, leaning
on large windows, walking in parking lots, riding Ferris wheels,
roller-coasters, log flumes, or anything called “Hell Drop,” “Tower of
Torture,” or “The Death Spiral Rock ‘N Zero G Roll featuring Aerosmith,” and
standing on any kind of balcony ever, anywhere, at any age.
Lead her away from Acting but not all the way to Finance.
Something where she can make her own hours but still feel intellectually
fulfilled and get outside sometimes And not have to wear high heels.
What would that be, Lord? Architecture? Midwifery? Golf
course design? I’m asking You, because if I knew, I’d be doing it, Youdammit.
May she play the Drums to the fiery rhythm of her Own Heart
with the sinewy strength of her Own Arms, so she need Not Lie With Drummers.
Grant her a Rough Patch from twelve to seventeen. Let her
draw horses and be interested in Barbies for much too long, For childhood is
short – a Tiger Flower blooming Magenta for one day – And adulthood is long and
dry-humping in cars will wait.
O Lord, break the Internet forever, That she may be spared
the misspelled invective of her peers And the online marketing campaign for
Rape Hostel V: Girls Just Wanna Get Stabbed.
And when she one day turns on me and calls me a Bitch in
front of Hollister, Give me the strength, Lord, to yank her directly into a cab
in front of her friends, For I will not have that Shit. I will not have it.
And should she choose to be a Mother one day, be my eyes,
Lord, that I may see her, lying on a blanket on the floor at 4:50 A.M.,
all-at-once exhausted, bored, and in love with the little creature whose poop
is leaking up its back.
“My mother did this for me once,” she will realize as she
cleans feces off her baby’s neck. “My mother did this for me.” And the delayed
gratitude will wash over her as it does each generation and she will make a
Mental Note to call me. And she will forget. But I’ll know, because I peeped it
with Your God eyes.
(aamiin)
Pernah baca artikel di bawah ini? Saya nggak tahu penulis dan penerjemahnya. Tau-tau tulisan itu sudah tersebar di facebook. Di bawahnya saya sertakan versi asli dari web marie curie foundation.
Cuma Sekedar Ibu?
Ada seorang wanita yang sedang memperbarui SIM-nya. Dia diminta oleh wanita petugas di bagian pendaftaran untuk menyebutkan pekerjaannya. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan pekerjaannya. "Maksud saya," kata wanita di bagian pendaftaran itu, 'Anda memiliki pekerjaan atau Anda hanya ...?' "Tentu saja saya punya pekerjaan," bentak wanita itu. "Saya seorang ibu." "Kami tidak menuliskan 'Ibu' sebagai pekerjaan, 'ibu rumah tangga' saja sudah cukup,' katanya tegas.
***
Saya lupa semua tentang kisah itu sampai suatu hari saya berada di situasi yang sama. Petugas di bagian administrasi itu adalah jelas seorang wanita karir, tegap, tegas, dan memiliki titel yang kedengarannya hebat sperti, 'Petugas Interogasi Resmi' atau "Petugas Administrasi Kota. " "Apa pekerjaan Anda?" Dia mengecek. Apa yang membuat saya mengatakan itu, Saya tidak tahu. Kata-kata itu muncul begitu saja.
"Saya adalah seorang Research Associate di bidang Child Development dan Human Relations (Peneliti di bidang Perkembangan Anak dan Hubungan Manusia)". Petugas itu berhenti, ujung pena pun beku di udara, dan dia mendongak seolah-olah dia tidak mendengar dengan benar. Saya mengulanginya lagi dengan perlahan, berusaha mengatakannya mirip dengan yang tadi. Lalu saya menatapnya dengan heran karena pernyataan saya ditulis dengan tinta hitam yang tebal pada sebuah kuesioner resmi.
"Kalu boleh saya mau bertanya," kata petugas wanita itu dengan rasa ingin tahu, "Apakah yang Anda lakukan di bidang Anda?". Dingin, tanpa ragu-ragu, saya mendengar diri saya menjawab, "Saya punya program penelitian yang berkelanjutan, (ibu mana yang tidak)... Di laboratorium dan di lapangan, (biasanya saya bilang dalam ruangan dan di luar)... Saya bekerja untuk Atasan saya, (pertama Tuhan dan kemudian seluruh keluarga)... dan sudah mendapatkan 4 penghargaan (semua anak
perempuan)... Tentu saja, pekerjaan itu sangat membutuhkan banyak pengorbanan, (semua ibu pasti setuju)... dan seringnya saya bekerja 14 jam sehari, (24 jam tepatnya)... Tapi pekerjaan itu lebih menantang daripada kebanyakan karir yang harus dikejar lainnya, dan hasilnya adalah lebih kepada kepuasaan, daripada uang "
Suara pegawai itu pun kemudian terdengar lebih menghormati saya ketika mengakhiri kuisioner itu, dia pun berdiri dan mengantarkan saya ke luar pintu.
***
Saya pun melaju menuju rumah saya, bersama dengan karir baru saya yang glamor, saya disambut oleh asisten lab saya - usia 13, 7, dan 3.
Di lantai atas saya bisa mendengar model baru percobaan kami, (bayi berusia 6 bulan), dalam program perkembangan anak, menguji pola vokal baru.
Saya merasa telah berhasil mengalahkan birokrasi! Dan saya telah menjadi catatan resmi sebagai seseorang yang lebih terhormat dan sangat diperlukan bagi umat
manusia dari 'sekadar ibu'. ke-ibu-an. Karir yang luar biasa. Apalagi kalau ada papan namanya di pintu.
***
Ini berarti Nenek bisa jadi: 'Senior Research associates in the field of Child Development and Human Relations' ('Peneliti Senior di bidang Perkembangan Anak dan Hubungan Manusia')
Dan Nenek Buyut: 'Executive Senior Research Associates" (Peneliti Senior paling senior)
Bibi adalah "Research Associate Asisten. " (Asisten Peneliti)
***
Silakan kalau mau kirim tulisan ini ke ibu2 yang lain, Nenek, Bibi, dan teman-teman yang Anda tahu. Semoga masalah Anda dapat berkurang, sementara berkahnya bertambah. Dan tidak ada selain kebahagiaan menghampiri Anda. Jadilah ramah kepada siapa saja dan terhadap apa pun yang terjadi. Setiap orang yang Anda temui
sedang berperang dalam peperangannya masing2. Anda tidak pernah tahu kapan saat kata-kata yang tulus, walau sedikit, bisa berdampak pada kehidupan.
Nah, ini aslinya (saya ambil dari http://www.poeticexpressions.co.uk/POEMS/Not%20just%20a%20Mum.htm) silakan berkunjung ke sana. Selain ada tulisan2 bagus lainnya, juga siapa tahu Anda mau menyumbang :)) Ada seorang wanita yang sedang memperbarui SIM-nya. Dia diminta oleh wanita petugas di bagian pendaftaran untuk menyebutkan pekerjaannya. Dia bingung bagaimana harus menjelaskan pekerjaannya. "Maksud saya," kata wanita di bagian pendaftaran itu, 'Anda memiliki pekerjaan atau Anda hanya ...?' "Tentu saja saya punya pekerjaan," bentak wanita itu. "Saya seorang ibu." "Kami tidak menuliskan 'Ibu' sebagai pekerjaan, 'ibu rumah tangga' saja sudah cukup,' katanya tegas.
***
Saya lupa semua tentang kisah itu sampai suatu hari saya berada di situasi yang sama. Petugas di bagian administrasi itu adalah jelas seorang wanita karir, tegap, tegas, dan memiliki titel yang kedengarannya hebat sperti, 'Petugas Interogasi Resmi' atau "Petugas Administrasi Kota. " "Apa pekerjaan Anda?" Dia mengecek. Apa yang membuat saya mengatakan itu, Saya tidak tahu. Kata-kata itu muncul begitu saja.
"Saya adalah seorang Research Associate di bidang Child Development dan Human Relations (Peneliti di bidang Perkembangan Anak dan Hubungan Manusia)". Petugas itu berhenti, ujung pena pun beku di udara, dan dia mendongak seolah-olah dia tidak mendengar dengan benar. Saya mengulanginya lagi dengan perlahan, berusaha mengatakannya mirip dengan yang tadi. Lalu saya menatapnya dengan heran karena pernyataan saya ditulis dengan tinta hitam yang tebal pada sebuah kuesioner resmi.
"Kalu boleh saya mau bertanya," kata petugas wanita itu dengan rasa ingin tahu, "Apakah yang Anda lakukan di bidang Anda?". Dingin, tanpa ragu-ragu, saya mendengar diri saya menjawab, "Saya punya program penelitian yang berkelanjutan, (ibu mana yang tidak)... Di laboratorium dan di lapangan, (biasanya saya bilang dalam ruangan dan di luar)... Saya bekerja untuk Atasan saya, (pertama Tuhan dan kemudian seluruh keluarga)... dan sudah mendapatkan 4 penghargaan (semua anak
perempuan)... Tentu saja, pekerjaan itu sangat membutuhkan banyak pengorbanan, (semua ibu pasti setuju)... dan seringnya saya bekerja 14 jam sehari, (24 jam tepatnya)... Tapi pekerjaan itu lebih menantang daripada kebanyakan karir yang harus dikejar lainnya, dan hasilnya adalah lebih kepada kepuasaan, daripada uang "
Suara pegawai itu pun kemudian terdengar lebih menghormati saya ketika mengakhiri kuisioner itu, dia pun berdiri dan mengantarkan saya ke luar pintu.
***
Saya pun melaju menuju rumah saya, bersama dengan karir baru saya yang glamor, saya disambut oleh asisten lab saya - usia 13, 7, dan 3.
Di lantai atas saya bisa mendengar model baru percobaan kami, (bayi berusia 6 bulan), dalam program perkembangan anak, menguji pola vokal baru.
Saya merasa telah berhasil mengalahkan birokrasi! Dan saya telah menjadi catatan resmi sebagai seseorang yang lebih terhormat dan sangat diperlukan bagi umat
manusia dari 'sekadar ibu'. ke-ibu-an. Karir yang luar biasa. Apalagi kalau ada papan namanya di pintu.
***
Ini berarti Nenek bisa jadi: 'Senior Research associates in the field of Child Development and Human Relations' ('Peneliti Senior di bidang Perkembangan Anak dan Hubungan Manusia')
Dan Nenek Buyut: 'Executive Senior Research Associates" (Peneliti Senior paling senior)
Bibi adalah "Research Associate Asisten. " (Asisten Peneliti)
***
Silakan kalau mau kirim tulisan ini ke ibu2 yang lain, Nenek, Bibi, dan teman-teman yang Anda tahu. Semoga masalah Anda dapat berkurang, sementara berkahnya bertambah. Dan tidak ada selain kebahagiaan menghampiri Anda. Jadilah ramah kepada siapa saja dan terhadap apa pun yang terjadi. Setiap orang yang Anda temui
sedang berperang dalam peperangannya masing2. Anda tidak pernah tahu kapan saat kata-kata yang tulus, walau sedikit, bisa berdampak pada kehidupan.
Not just a Mum
A woman named Emily renewing her driver's license at the County Clerk's office was asked by the woman recorder to state her occupation.
She hesitated, uncertain how to classify herself.
"What I mean is," explained the recorder, "do you have a job, or are you just a..."
"Of course I have a job," snapped Emily. "I'm a mother."
"We don't list 'mother' as an occupation... 'housewife' covers it," said the recorder emphatically.
I forgot all about her story until one day I found myself in the same situation, this time at our own Town Hall.
The Clerk was obviously a career woman, poised, efficient, and possessed of a high sounding title like, "Official Interrogator" or "Town Registrar." "What is your occupation?" she probed.
What made me say it, I do not know...
The words simply popped out. "I'm a Research Associate in the field of Child Development and Human Relations."
The clerk paused, ballpoint pen frozen in midair, and looked up as though she had not heard right.
I repeated the title slowly, emphasizing the most significant words.
Then I stared with wonder as my pronouncement was written in bold, black ink on the official questionnaire.
'Might I ask," said the clerk with new interest, "just what you do in your field?"
Coolly, without any trace of fluster in my voice, I heard myself reply, "I have a continuing program of research, (what mother doesn't), in the laboratory and in the field, (normally I would have said indoors and out). I'm working for my Masters, (the whole darned family), and already have four credits, (all daughters). Of course, the job is one of the most demanding in the humanities, (any mother care to disagree?) and I often work 14 hours a day, (24 is more like it). But the job is more challenging than most run-of-the-mill careers and the rewards are more of a satisfaction rather than just money."
There was an increasing note of respect in the clerk's voice as she completed the form, stood up, and personally ushered me to the door.
"We don't list 'mother' as an occupation... 'housewife' covers it," said the recorder emphatically.
I forgot all about her story until one day I found myself in the same situation, this time at our own Town Hall.
The Clerk was obviously a career woman, poised, efficient, and possessed of a high sounding title like, "Official Interrogator" or "Town Registrar." "What is your occupation?" she probed.
What made me say it, I do not know...
The words simply popped out. "I'm a Research Associate in the field of Child Development and Human Relations."
The clerk paused, ballpoint pen frozen in midair, and looked up as though she had not heard right.
I repeated the title slowly, emphasizing the most significant words.
Then I stared with wonder as my pronouncement was written in bold, black ink on the official questionnaire.
'Might I ask," said the clerk with new interest, "just what you do in your field?"
Coolly, without any trace of fluster in my voice, I heard myself reply, "I have a continuing program of research, (what mother doesn't), in the laboratory and in the field, (normally I would have said indoors and out). I'm working for my Masters, (the whole darned family), and already have four credits, (all daughters). Of course, the job is one of the most demanding in the humanities, (any mother care to disagree?) and I often work 14 hours a day, (24 is more like it). But the job is more challenging than most run-of-the-mill careers and the rewards are more of a satisfaction rather than just money."
There was an increasing note of respect in the clerk's voice as she completed the form, stood up, and personally ushered me to the door.
As I drove into our driveway, buoyed up by my glamorous new career, I was greeted by my lab assistants - ages 13, 7, and 3. Upstairs I could hear our new experimental model, (a 6 month old baby), in the child-development program, testing out a new vocal pattern.
I felt triumphant! I had scored a beat on bureaucracy! And I had gone on the official records as someone more distinguished and indispensable to mankind than "just another mother."
Motherhood...What a glorious career! Especially when there's a title on the door.
This makes grandmothers "Senior Research Associates in the field of Child Development and Human Relations" and great grandmothers "Executive Senior Research Associates" And Aunts "Associate Research Assistant.
"Poetic Expressions is a proud supporter of Marie Curie whose Nurses provide free nursing care to cancer patients and those with other terminal illnesses in their own homes"
"Please take time to click here and donate what you can"
Thank you
The Poetic Expressions Team
'Words of Comfort and Joy'
Langganan:
Postingan (Atom)























