Tampilkan postingan dengan label Anak Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Muslim. Tampilkan semua postingan
Ada masa ketika saya merasa, betapa tidak mudah membesarkan anak. Dan saya ingat pada orang tua dan keluarga besar yang membesarkan saya. Pastilah tidak mudah. Setiap keputusan benar-benar harus dipertimbangkan. Oh, bukan cuma perkara besar soal sekolah dan semacamnya, tapi bahkan, ketika ketegangan memuncak dan ada dorongan kuat untuk membentak, menghardik, mengabaikan...

Memangnya kenapa kalau saya memarahinya? orang tua punya hak untuk marah. Anak juga harus tau kalau ada masanya orang tua sedang labil, tidak bisa diganggu, dll, "hey son, welcome to the world!"
Ya... mereka memang tidak akan steril dari orang marah selamanya. Akan janggal kalau kita hendak membuatnya tidak pernah menerima kekesalan orang. Tapi sungguh, Maha Baik Allah dengan pengingatnya. Suatu hari ketika kita menua, ia akan berdoa... "Kasihi mereka seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil..."
Maka, biarkan ibu dan ayahmu berusaha lebih keras untuk berbuat baik dan menahan marah padamu Nak.. karena kami berutang itu pada Allah.

Apakah anak tidak boleh kecewa?
Saya sering mengatakan tidak pada anak. Tapi bukan berarti sebagai orang tua berhak melepas anak menghadapi kekecewaan sendirian. Saya memilih duduk di sampingnya, menjelaskan segumpal kesal di hatinya yang bernama kecewa. Ada banyak hal tidak mengenakkan di dunia ini, yang akan dia hadapi: orang menyerobot antrian, orang meludah sembarangan, orang mencuri karyanya, usahanya terlambat, seseorang yang dicintainya ternyata bukan jodohnya...
Maka, Nak, saat ini, ijinkan ayah dan ibumu menemanimu menghadapinya. Ingat2lah ini: dunia kadang tidak sesuai dengan yang kita minta. Tapi bukan berarti hidup harus berhenti. Seperti hujan yang turun saat kau berharap panas yang datang, masih ada hal lain yang bisa kau lakukan dan kau syukuri.

Banyak orang tua yang memertanyakan pola asuh liberatif. Parenting ala Amerika, kalau kata seorang kakak saya. Membiarkan anak jadi raja kecil? No... belajarlah lebih lanjut. Membiarkan anak melakukan banyak hal, bukan berarti membiarkan mereka menerabas yang haram, yang tidak disukai Allah. Tapi selama yang dilanggarnya hanyalah ego orang tua (tidak mau repot, tidak mau berisik, tidak mau disusahkan) layakkah kita mengambinghitamkan metode parenting? padahal masalahnya ada di kita.

ah... rasanya akan panjang membicarakan ini. Suatu hari saya ingin sekali mengatakan pada seseorang yang menganggap saya terlalu liberatif. Bahwa menerangkan perkara boleh dan tidak, haram dan halal, baik dan buruk, tidak mesti dengan pelototan, hardikan, apalagi pukulan. kita masih bisa duduk baik2 dan berbincang. Semoga, kelak anak2 kita akan menjadi generasi yang berlapang dada, muthmainnah, tidak tergesa-gesa, dan pintar membuka percakapan alih-alih menghakimi dan melempar batu pada orang.

Membiaran anak menangis agar dia tahan banting? sembuh sendiri dan bangkit lagi?
Maukah kau duduk di sana dan tersedu sendirian Bu? Dunia yang akan dimasuki anak2 kita adalah dunia yang keras. Duduklah di sampingnya selagi masih bisa untuk menyiapkan jiwanya.
Nak, meski dunia keras, bukan berarti kau harus mengeraskan hatimu. Teladani Rasulullah, yg tetap berhati lembut di zamannya yang jahiliyah. Semoga ayah dan ibumu ada ketika kau memanggil, dan kau akan ingat untuk ada ketika zamanmu memanggil.

Ya, saya pernah lepas kontrol, menghardik, mengabaikan. Pada Allah saja saya memohon ampun. Kepada anak saya meminta maaf. Haknya adalah diberi tahu, bukan dihardik, dan karena saya melanggar haknya, maka saya meminta maaf. Agar kelak ia tahu, tak peduli betapa tinggi jabatannya, jika ia melanggar hak seseorang, ia harus meminta maaf dan menebus kesalahannya.

Allah yang Maha Baik, lindungi kami dari sifat mencari pembenaran atas kejahilan kami. Terangkanlah yang salah itu salah, dan yang benar itu benar. Jadikan kami orang yang melihat hikmah. Berikan kami jalan untuk merendahkan hati, agar semakin banyak ilmu yang dapat kami terima dan amalkan. Jauhkan kami dari prasangka dan keterburu-buruan. Selamatkan kami dan anak2 kami hingga akhir jalan yang Kau tentukan. Amin.








pictureperfectforyou tumblr


Allah Yang Maha Pemurah, Terima kasih....

Untuk adanya keluarga yang bisa kurindukan,
Untuk sanak saudara yang bisa mencintai dan kucintai apa adanya,
Untuk tarikan nafas kesekian di hari ini, dalam hidup ini,
Untuk udara bersih tidak berduri,
Untuk matahari yang tidak melepaskan kulit dari tubuh--meski ia bisa
Untuk tubuh yang masih bisa bergerak,
Untuk keran yang masih mengalir,
Untuk saluran air yang tidak tersumbat,
Untuk hujan yang datang saat beberapa dari kami kepanasan,
Untuk panas yang ada ketika kami memerlukan sesuatu yang hangat dan kering,
Untuk segelas kopi, teh, dan minuman lain yang tidak menjadi racun di tubuh kami,
Untuk tawa anak-anak yang seperti lagu dari surga,
Untuk jeritan anak-anak sebagai irama hidup kami,
Untuk seribu pertanyaan anak-anak yang mengejar tumbuh akalnya,
Untuk kesabaran yang Kau sisipkan pelan-pelan di hati kami,
Untuk seseorang yang Kau percayai di sisi kami, mencintai dan setia,
Untuk angin yang membuat daun-daun bergoyang, menjadi peringan beban di kala sesak,
Untuk suap demi suap yang Kau halalkan,
Untuk tetangga yang selalu bertanya dan peduli,
Untuk teman yang bisa dipercaya dan bertukar mimpi,
Untuk mereka yang bekerja keras; menghidupkan listrik, menyuplai beras, menemukan internet, membuat film bagus...
Untuk tanah yang tidak banjir,
Untuk banjir yang mengingatkan kami pada kebutuhan Bumi,
Untuk pohon-pohon yang teduh,
Untuk Pohon-pohon yang tumbang, sebagai pengingat kami akan KemahabisaanMu,

Untuk Azan subuh yang mengudara: sejuk, hening, menyentuh...
Untuk ilmu yang Kau beri pada para ulama bersahaja..
Untuk nikmat iman, yang begitu terasa ketika kami tengah berduka...

Untuk segala yang termiliki, bahkan tanpa kami sadari, tanpa sempat kami minta,

Alhamdulillah...
Jika bukan karenaMu, tak akan sampai semua itu pada kami: makhuk-makhluk tapa daya di bumi.


Pictureperfeckforyou.tumblr

Sudah dua hari Ayah pergi ke kampung halaman di pulau Jawa sana, melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak. Sudah dua hari pula Mbah Uti dipanggil Allah, kembali ke rumahNya, sebenar-benarnya kampung halaman manusia. Tapi saya belum memberi tahu Yasmin tentang kepergian Mbah Uti kesayangannya. Mungkin ia menangkap kalimat-kalimat dari tamu yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa. Mungkin ia diam-diam bertanya, kenapa semua orang membicarakan Mbah Putri?

Lalu, di malam menjelang ia tidur, akhirnya saya berkata, "Nak, Mbak Uti sudah meninggal dunia..."
(bukan awal yang baik memang, tapi akhirnya saya memecahkan 'telur' itu).
Dia menangis. Air matanya berurai begitu saja, dan ia menarik ujung kaos tidurnya untuk mengusap air mata itu, sebelum bertanya, "Kenapa?"
Sumpah, saya bingung.
Gagu, saya menjawab, "Ami tahu kalau Mbah Uti sakit, kan? Mbah Uti sudah tua, karena Allah sayang Mbah Uti, Allah panggil Mbah Uti pulang. Waktu Mbah Uti bersama kita sudah habis."
"Seperti kalau bel sekolah Ami bunyi dan kata Bunda waktu bermain Ami habis?"
"Ya, seperti itu."
"Mbah Uti sakit, apa di tempat Allah ada rumah sakit?"
"Tidak. Di tempat Allah, semua orang menjadi sehat, tidak perlu rumah sakit."
"Di mana Mbah Uti tidur?"
"Mari kita berdoa pada Allah, semoga Mbah Uti mendapatkan kamar yang baik, terang, dan hangat..."
Ia mengangkat tangannya mulai berdoa dengan khidmat. Ia kembali membuka matanya,
"Apa Mbah Uti punya makanan?"
"Tentu, Allah menyediakan semuanya. Kita hanya perlu berdoa supaya Mbah Uti tidak kelaparan."
Ia kembali mengangkat tangannya, berdoa, tentang sekeranjang apel, strawberry, susu, sebotol madu, segelas air, dan kue krim yang lezat.
"Siapa yang mengantar Mbah Uti ke tempat Allah?"
"Malaikat Izrail."
"Yang bercahaya, bersayap, dan baik hati?"
"Mmmm. Ya. Tapi kita tidak bisa melihat malaikat," lanjut saya, menutupi keraguan yang bolong bolong.
"Apa Mbak uti terbang bersama malikat?"
"Tidak. Tubuh Mbah Uti disimpan di dalam bumi. Mbah Uti, Ami tahu, yang di dalam sini," saya menunjuk dadanya, "yang pergi menghadap Allah,."
"Kenapa tubuhnya disimpan di dalam bumi? seperti bunda menanam kacang waktu itu?"
"Ya. Karena tubuh manusia diperlukan oleh bumi. Nanti Allah akan ganti tubuh Mbah Uti dengan yang lebih baik, lebih sehat, muda dan cantik."
"Seperti bunda?"
----waktunya melempar botol, pemirsa.....---
"lebih cantik dan sehat dong. Bunda kan sering sakit pinggang."
Ia tersenyum, lebaar sekali. Air matanya sudah kering. "Ami tidak sedih lagi. Mbah Uti sudah baik-baik saja sama Allah."
"Benar, tapi kita harus berdoa setiap hari."
"Apa kalau kita lupa berdoa Mbah Uti dalam bahaya?"
"Tidak. Allah suruh kita berdoa terus untuk Mbah Uti, supaya kita tetap ingat Mbah Uti, dan Mbah Uti senang karena kita mengingatnya."
"Kalau Allah punya mesin untuk memperbaiki Mbah Uti, kenapa Allah tidak kembalikan Mbah Uti ke rumah Mbah Kung?"

Saya tidak tahu dari mana dia dapat ide tentang mesin ini, yang jelas saya perlu waktu untuk menjawabnya.
"Karena... Orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali. Waktu MBah Uti di dunia sudah habis."
Dia terkejut sekali. "Kapan kita ketemu Mbah Uti lagi? Ami sangat rindu...." Air matanya kembali merebak.
"Suatu hari kita semua akan meninggal, dan kita bisa saling berjumpa lagi di sana. tapi Bunda tidak tahu kapan. Allah saja yang tahu."

Hening cukup lama. Nizam hanya mengerutkan dahinya mendengar percakapan itu. Tiba-tiba dia berkata, "Ijam mau Ayah pulang ke mari."
Well, dad's little boy.. "Sabar ya, Ayah masih temani Mbah Kung."
Ami sudah pulih tampaknya, ia berkata, "Kenapa Mbah Kung ditemani?"
"Karena Mbah Kung kehilangan MBah Uti, Mbah Kung masih sedih."
"Apa Mbah Kung sudah tua?"
"Ya..." sungguh menyiksa menebak nebak akan ke mana arah pembicaraan ini.
"Kalau begitu Mbah Kung harus makan sayur, olah raga, tidur siang, tdur malam, tidak main panas..."

FYI, itu adalah kumpulan peraturan untuk dia dan adiknya. Titah Bunda.
"Mari kita berdoa semoga Mbah Kung diberi hati yang tenang oleh Allah..." kata saya. Kami berdoa bersama, dilanjut membaca doa tidur.

Senyap seketika. Saya memejamkan mata sejenak sebelum mereka terlelap dan saya kembali beraktifitas--membersihkan meja dapur yang masih berantakan.
Berbicara tentang kematian sebenarnya kesempatan untuk mengenalkan anak pada Allah.  Ada yang hal yang mencuat cuat di benak saya, minta dikeluarkan. Tapi, saya pikir, pelan-pelan saja, biarlah pertanyaan jernihnya yang membawanya pada tahap-tahap pemahaman itu. Saat ini, saya merasa cukup ketika dia bisa mengkhawatirkan Mbah Uti, meminta Allah mengobati khawatirnya dengan segala doa, dan percaya bahwa Allah adalah sebaik baik tempat kembali, bahwa Allah Maha Pengampun, Penyayang, dan kematian bukanlah sesuatu yang buruk sehingga tidak pantas untuk dibicarakan.

Di waktu kemudian, saya berharap masih sempat memberitahunya, bahwa fase hidup berikutnya, yang dilalui setelah kematian itu, memerlukan bekal yang harus benar-benar dikumpulkan selama waktu di dunia ini masih ada. Sebelum bel berbunyi. Sebelum kita harus pergi tanpa bisa kembali.

Lalu saya mendengar kalimat Putri saya, pelan dan jelas,
"Kalau Bunda dipanggil Allah, siapa yang akan cerita untuk Ami dan Ijam?"

"Ayah," jawab saya pendek, mangakhiri dialog panjang.



Fineart
Beberapa tahun lalu, saat Ami baru saja lancar berbicara, ia sering mempertanyakan banyak hal. Kadang tercetus begitu saja di depan orang.
Saya ingat hari itu kami pergi ke toko sepatu di pinggir kota Jogja. Toko itu tidak terlalu ramai. Sementara saya mencoba sepatu, Ami duduk di sofa di dekat saya dengan tatapan yang menjelajahi ruangan. Tiba-tiba ia berseru, "Wah, orang itu ketiaknya kelihatan. Malu ya, Bunda?"

Saya spontan menoleh, bukan karena mau melihat ketiak, melainkan cemas seruan anak saya akan terdengar dan disalahpahami. Ternyata seorang asing, berambut pirang dan kulit pucat. Di siang terik, wanita itu memakai tank top hitam dan celana pendek coklat. Sepertinya ia tidak mendengar celetuk Ami, kalaupun dengar sepertinya ia tidak mengerti.
Saya mendekati Ami, dan berkata pelan. "Allah meminta Ami menutup ketiak, bukan?"
"ya," jawabnya mantap. "Juga perut, pantat, dan yang lain."
"Mungkin dia belum mendengar Allah. Jadi jangan bilang keras-keras, nanti dia jadi malu dan pergi."
Sungguh, itu bukan usaha yang sekali jadi. Pemahaman tentang akhlak agar tidak mencela pakaian orang itu saya tanamkan setiap kejadian muncul. Pada orang berbaju warna-warni, pada orang yang rambutnya tak biasa, pada orang yang risletingnya terbuka, pada semua bentuk yang tidak sesuai dengan apa yang ia pahami sebagai sesuatu yang harus terjadi atau dilakukan.

Ketika usianya memasuki empat. Seorang anak tetangga, berjilbab, berkata pada Ami yang memakai kaos dan celana. "Tidak malu, berpakaian seperti laki-laki!"

Putri saya pulang dan menangis. Saya bisa merasai luka hatinya. Naun saya tidak terkejut. Bahkan orang dewasa banyak yang sama 'polosnya' dalam berkomentar.

Beberapa orang tua mungkin bangga ketika anaknya berani menunjukkan jari pada orang yang berbeda darinya. Mereka bilang itu fitrah anak dalam menilai.

Bagi saya tidak.

Karena pemahaman saya yang masih dangkal ini belum memberitahu saya bahwa saya harus menuding dengan keras dan kasar pada orang yang menurut saya tidak sama dengan saya. Pada hati, pemahaman anak akan tumbuh mengenai mana yang benar, patut, dan mana yang belum benar dan tidak patut. Di akal, kebijakannya haruslah tumbuh pula dalam menimbang-nimbang bagaimana menyampaikan sesuatu dengan tepat. Pesan yang benar haruslah disampaikan dengan baik.

Ada berbagai alasan kita berbeda. Dan kalaupun saya tahu alasannya, tidak berarti saya berhak menilainya dan menjadi hakim di depannya. Ada cara halus untuk memberitahu mereka yang seiman, dan kerendahhatian untuk tidak memaksakan aturan dan nilai kita pada orang yang tidak seiman. Ya, kita perlu tegas. Tapi tidak mempermalukan sesiapa.

Di Facebook, saya sering menemukan bagaimana poster-poster mengibaratkan orang yang tidak menutup aurat seperti ayam. Mengatakan mereka yang tidak berhijab serendah benda mati. Saya sedih. Saya malu karena beberapa teman saya menganggap mempermalukan saudaranya adalah bentuk dari menjaga malu. Seolah-olah kehabisan kata-kata baik dalam menyeru.

Teringat pada sebuah buku yang saya baca di awal-awal kuliah. Buku itu berjudul Bekal Dakwah Akhwat yang ditulis Haidar Quffah. Di sana, Haidar bercerita, pernah ia berada dalam pesawat dan duduk di dekat seorang wanita. Parfum wanita itu tercium hingga ke hidungnya. Haidar paham bahwa wewangian wanita haram hukumnya sampai pada hidung lelaki. Tapi ia menahan diri dari menegur wanita tersebut. Pertama, ia tidak yakin wanita itu muslim dan mengetahui hukum tersebut. Kedua, ia tidak ingin membuat wanita itu malu karena menegurnya sementara ia adalah orang asing.
Saya lupa bagaimana akhirnya Haidar menyelesaikan perkara tersebut. Yang saya ingat adalah, betapa pengetahuan akan sesuatu tidak membuat kita berhak menerabas batas-batas kesopanan dalam menyampaikan pesan. Bahwa menjadi alim, berilmu, tidak membuat kita serta merta menjadi hakim dan wajib didengar di mana pun.

Kalaulah dakwah memang disampaikan dengan lidah pedas dan telunjuk tajam yang menyasar ke mana-mana, tentulah hari ini kita tidak akan mengenang Rasulullah sebagai pribadi yang berakhlak mulia. Satu kata yang sering dlupa: ADAB.



          Siapa yang tidak cinta pada buah hatinya? Rahmat Allah yang diturunkan pada kita, sepasang ibu dan ayah. Darah kita mengalir di tubuhnya. Raut kita terpahat di wajahnya. Ia menjadi ahli waris kita. Mewarisi nama, harta, ilmu. Ia menjadi medan amal bagi kita. Ia menjadi amal yang pahalanya akan terus mengalir. Doanya, doa anak shaleh, menjadi peringan beban kita di yaumul akhir.

Cinta kita begitu besar. Sampai lupa mengapa kita mencintainya. Sebagian kita mengatakan cinta tanpa syarat. Sehingga kita rela memberi segalanya. Segala yang menurut kita akan membuatnya bahagia. Kita lupa, hakikat dirinya sama dengan kita: hamba yang diturunkan ke bumi untuk beribadah.

Kita takut dia sakit. Kita takut dia terluka. Kita ingin dia selalu baik-baik saja. Kita lupa, dia bisa tetap baik-baik saja meski dia sakit, dia terluka, jika hatinya di tempat yang aman: di dekat Rabb-nya.
Anak-anak ibarat spons. Ia menyerap segalanya. Bukan hanya apa yang dikatakan padanya. Tapi juga apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia lakukan bersama orang lain. Serapan-serapan itu, saya yakini sebagai apa yang akan membentuknya kelak.
Usia putri saya tiga tahun. Waktu bergulir cepat, dan saya merasa berbalapan dengan waktu untuk mengenalkannya dengan hakikat diri sebagai ciptaan Allah. Dulu saya bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk memulai semua itu. Lalu saya sadar, waktu itu tidak perlu ditunggu. Proses ini adalah proses panjang yang harus dicicil sedikit demi sedikit.
Anak-anak senang meniru. Mereka melekat pada kebiasaan. Ketika menjadi orang tua, tampaknya kata teladan dan konsisten juga disematkan di pundak kita. Anak-anak seperti pengawas yang akan meniru semua perilaku kita, baik atau buruk, bahkan yang paling tidak sengaja seklipun. Bukan perkara mudah, karena saat malas menyerang saya, ada sepasang mata manusia kecil yang mengawasi. Ada sebuah kepala mungil dengan otak aktif yang sedang berpikir dan mencerna mengapa saya demikian. Ada sebuah hati yang begitu bersih sedang berdebat apakah ia akan meniru saya atau memprotes saya. Seringnya, ia memprotes saya. Bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Sejatinya, mereka sedang menguji seberapa konsisten orang tuanya.
Saat usianya belum 2 tahun, dia sudah berdiri di sebelah saya untuk ikut shalat. Saat itu dia belum memiliki mukena sendiri. Dengan perasaan campur aduk, saya memakaikannya jilbab saya yang tentu saja kebesaran untuknya. Dia begitu senang dengan ‘mukenanya’ itu. setelah adzan berkumandang, dia akan membuntuti saya atau ayahnya untuk berwudhu, memperhatikan cara kami, dan menirunya. Tak perlu banyak intruksi tambahan, hanya membuatnya kesal dan batal mengikuti. Ia senang meniru tanpa ketahuan kalau dia sedang meniru, begitulah anak-anak. Mereka senang diberi tahu apa yang sedang kita lakukan, tapi pura-pura tak mendengar ketika kita memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kadang dia enggan, kadang dia bergerak lebih dulu ketika adzan berkumandang. Seolah-olah ingin menguji, seberapa sabar dan konsisten kita melakukannya. Jika kita lulus, sisanya lebih mudah, mereka akan meniru konsistensi kita. Sampai ia tahu fungsi adzan adalah memanggil orang untuk shalat. Ia pun dengan ringan berkata, “sudah adzan, kok nggak shalat?” Ya. Kadangkala lisan mereka menjadi perpanjangan teguran Allah.
            Jika gerakan shalat mudah ia tiru, tidak demikian dengan bacaannya. Semakin dini memperkenalkannya, semakin baik. Meski mereka hanya pendengar pasif, ternyata semua yang saya lafalkan terekam dengan baik. Tak apa-apa shalat menjadi lebih panjang karena harus mengeraskan suara dan membacanya pelan-pelan, karena ada anak yang mengikuti di sebelah kita. Anak usia 2 tahun saya bertahan hanya sampai rakaat kedua. Tak masalah bagi kami. Mendekati salam, dia akan kembali duduk dan menunggu waktunya berdoa.
            Suatu kali, saya sudah membaca ulang surah Al Ikhlas setidaknya tiga kali. Dan, bukannya mengikuti potongan demi potongan, anak saya malah memainkan rambutnya. Hati saya sedikit kecewa. Tapi saya memilih memejamkan mata dan pura-pura tidur. Pelan-pelan, saya mendengarnya mengulangi surah itu sepotong demi sepotong. Suaranya begitu halus, seolah takut membangunkan saya. Dia menyerapnya, meski belum sempurna di telinga saya, tapi saya tahu sudah terekam dengan baik di kepalanya. Hanya masalah waktu sampai dia bisa mengucapkannya dengan sempurna.
            Saya tak berani muluk-muluk memasang target anak menghafal sebuah surah. Menyenangkan memang ketika melihat ada anak sesusianya yang sudah hafal satu atau dua surah pendek. Tapi setiap anak berbeda. Bisa jadi anak itu sudah memulai lebih awal, bahkan di dalam kandungan. Membebani diri dan anak dengan target hanya akan membuat proses belajar itu sebagai sesuatu yang berat. Menjadi tergesa-gesa, dan akhirnya terjebak untuk kecewa. Padahal, setiap sorot kecewa di mata kita, diserap anak dalam benaknya, membuat mereka enggan, takut, dan tidak percaya diri.
            Begitu pula dengan mengaji. Awalnya dia mengikuti orang tua di dekatnya, ikut membuka sebuah Al-Qur’an, dan bersuara layaknya orang mengaji. Saya mengikuti alur itu. Ketika dia mulai menunjukkan kesanggupan untuk lebih, saya memberikannya buku Iqra’ jilid satu.
Ketika saya kecil, jam-jam belajar Al-Qur’an adalah jam yang tidak mengenakkan. Hanya karena guru mengaji saya suka memukul dengan rotan, keseluruhan yang saya ingat dari proses itu adalah sakitnya. Saya tidak menginginkan hal yang sama pada anak saya. Maka upaya pertama saya adalah membuat momen itu menyenangkan. Ketika ayah dan ibu duduk bersama, mengaji bersama, dalam suasana tenang tanpa ketegangan. Apakah saya akan memberikan hadiah boneka untuk prestasinya dalam mengaji? Tidak. Saya memujinya, mengucapkan hamdallah, tapi tidak memberinya sesuatu untuk membelokkan motivasinya. Jika dia lelah, dia boleh berhenti. “Allah pasti pasti rindu suaramu membaca surat-surat-Nya, apa kita besok mengaji lagi?”
Lalu, datanglah masa ketika saya mulai bertanya-tanya. Rutinitas beribadah tidaklah cukup. Bagaimana agar ibadah-ibadahnya tidak sekedar rutinitas, sehingga saya membenarkan segala cara untuk membuatnya menepati tenggat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan jajan tambahan agar anaknya shalat tepat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan kerudung cantik dan menakut-nakuti agar anaknya berjilbab. Tapi, di kemudian hari, anak-anak itu membelok dan mematahkan semua rutinitas itu, seperti mematahkan pohon yang tak berakar. Mendirikan shalat yang kosong, memakai kerudung yang hanya menutupi rambut. Bagian mana yang salah?
Mengenalkan anak pada Allah sama pentingnya dengan mengenalkan anak pada ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Membuat anak mengerti mengapa ia harus shalat, mengapa ia perlu membaca surat-surat Allah dalam Al-Qur’an, mengapa ia perlu mengenal dan mencintai Rasuulullah.
Banyak orang mengatakan, berbicara dengan anak menggunakan bahasa sederhana. Saya percaya, kemampuan anak lebih dari yang kita duga. Mengajaknya mengenal Allah dalam keseharian, dalam rinai hujan yang turun, dalam gugurnya daun-daun, dalam lezatnya hidangan, bahkan dalam petir yang menggelegar. Ada campur tangan Allah dalam segala hal. Itu menjadi pondasi kuat ketika mengajaknya untuk mendekati Allah.
            Petang itu dua balita saya bermain di lapangan yang luas. Matahari bersinar hangat dan langit begitu indah dengan awan-awannya yang berarak. Putri saya memunguti buah yang bertebaran di antara rerumputan, memasukkannya ke dalam keranjang. Ia begitu takjub melihat buah berwarna kuning kemilau itu. Seperti ketika baru mendapatkan sebuah pemberian, dia bertanya pada saya, “Bunda, ini dari siapa?”
Saya menunjuk pohon yang berbaris di tepi lapangan. Pohon itu menjulang tinggi. “Dari sana, mungkin dibawa angina dan burung, jatuh ke tengah rumput-rumput,” jelas saya panjang lebar. 
“Bukan itu. Ini dari siapa?” tanyanya sekali lagi, dengan penekanan pada kata siapa. Kalimatnya belum terlalu jelas, saya menebak-nebak arah pembicaraannya.
“Dari Allah,” jawab saya pendek, menguji akan kemana lagi dia mengarahkan pembicaraan ini.
“Seperti hidung? Rambut? Mata?”
“Ya benar. Ini pemberian Allah untuk pohon itu, seperti Allah memberi kita hidung, mata, dan semuanya.”
Dia puas dan melanjutkan kegiatannya, memunguti buah.
Magrib itu, sekali lagi dia menguji kesabaran saya. Ia ngambek, tidak mau ikut shalat. Mungkin kelelahan. Ia tidak memakai mukenanya, hanya mondar-mandir di sekitar sajadah saya. Meski demikian, saya tetap mengeraskan suara. Begitu juga ketika berdoa, bershalawat, dan menyebut namanya dalam doa saya. Saat itu kegiatannya memutar-mutar sajadah saya terhenti. Ia menatap satu titik dan diam. Entah bagian mana yang diserapnya.
Saya mendiamkannya setelah itu. Sebagai tanda bahwa ia kehilangan sedikit perhatian saya karena tidak ikut shalat. Bagi saya, itu adalah imbalan yang pas. Menjelang tidur, usai membaca cerita, surah pendek, dan shalawat, tiba saatnya membaca doa tidur. Saya memintanya berbicara pada Allah, apa saja.
“Allah duduk d Arsy-Nya, di atas sana.”
“Di dekat bintang?”
“Lebih tinggi lagi.”
“Allah bisa dengar Ami?”
“Allah Maha Pendengar, Nak. Allah juga dengar waktu semut minta hujan berhenti supaya dia bisa menyeberang ke rumahnya, untuk membawakan anaknya gula.”
Saya meredupkan lampu, dan berbaring di sebelahnya. Ia tampaknya melihat saya menutup mata. Lalu saya mendengar kalimat itu, kalimat yang membuat saya dapat merasakan Allah sedang melihat putri saya. Allah sedang mendengar doa putri saya, doa yang datang dari hatinya, bukan dari meniru saya.
“Allah, maaf Ami nggak shalat magrib. Tolong jaga Ami, jaga bunda, jaga ayah, jaga dek Nizam, jaga semut, jaga nenek… makasi untuk buah-buahnya, ya Allah. Amiin…”


*Tulisan ini dimuat bersama kisah-kisah orang tua lainnya di buku yang gambarnya ada di sebelah ini. I'm wondering, kenapa judulnya panjang banget ^__^ 
Tanggal 22 lalu, saya mendapatkan kartu ucapan Happy Mother's Day dari murid-muridnya suami saya. Mengharukan, melihat perhatian dan upaya mereka. 
Saya nggak punya dasar kenapa harus merayakan hari ibu pada hari ini. Mereka yang merayakannya pasti punya alasan, dasar, lihat saja:

1. Bangsa Yunani kuno merayakan hari ibu pada festival musim semi, untuk menghormati Rhea, dewi kesuburan mereka.

2. Bangsa Romawi juga mengadakan festival di musim semi untuk menhormati Dewi Ibu, Cybele. Festival itu disebut Hilaria.

3. Pada 1600-an, gereja di Inggris memiliki perayaan yang disebut Minggu Ibu untuk menghormati Perawan Suci Maria.

4. Di US, Mother's Day diusung oleh Julia Ward Howe (1872) dan Anna Jarvis (sejak ibunya meninggal pada 1905). Mulai 1911, Presiden Woodrow Wilson menetapan Minggu kedua pada bulan Mei sebagai hari ibu dan ditetapkan sebagai hari libur nasioal.

5. Di Nepal dan beberapa negeri Hindu lainnya, Hari Ibu disebut dengan Mata Tirtha Aunshi, yang juga merupakan perayaan bulan baru dalam penanggalan Baisakh.

6. Di Australia, hari ibu dimulai pada 1920 ketika seorang warga, Janet Heyden, menemukan banyaknya ibu-ibu kesepian ketika ia mengunjungi panti sosial. Heyden kemudian mengajak anak-anak di lingkungannya dan dari sekolah-sekolah untuk menjenguk wanita-wanita itu dengan membawa hadiah, juga bunga Chrysanthemum.




7. Di Mesir, hari ibu dipopulerkan oleh seorang jurnalis melalui bukunya Smiling America (1934). Saat itu Mustafa Amin mendengar cerita tentang seorang ibu yang ditelantarkan anaknya yang telah menjadi dokter. Mustafa kemudian mempopulerkan hari ibu agar tidak ada lagi ibu-ibu yang ditelantarkan anaknya.

8. Banyak negara lain juga merayakan hari ibu dengan berbagai sebutan. Umumnya negara-negara komunis seperti Ukraina menghindari komersialisasi hari ibu dengan mengganti nama perayaan menjadi Hari Perempuan Sedunia.

Daaaaan,
Indonesia! Hari ibu di negara ini dirayakan pada tanggal 22 Desember. Kalaulah bukan karena membaca sejarah, saya sudah mengira asal muasal kita merayakan hari ibu adalah peristiwa Malin Kundang :p

Ternyata, hari ibu didekritkan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dalam Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 pada Kongres Perempuan Indonesia ke 25. Hari ibu di sini dimaksudkan untuk memperingati Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali diadakan pada 22-25 Desember 1928 di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Sekedar tambahan, yang datang di kongres itu adalah 30 organisasi feminis dari Jawa dan Sumatera.



Sebagai muslim, saya memiliki seseorang yang harus saya hormati lebih dari siapapun, yaitu ibu.
Yang tidak boleh saya ucapkan kata 'ah' padanya (bisa lihat Al Qur'an Surah Al Isra' ayat 23)--apalagi jika perkataan yang lebih buruk.
Yang setiap hari harus saya doakan. "Ya Allah, lindungilah, jagalah, sayangi ia seperti dahulu ia melakukannya padaku..."


Note:

Untuk ilmu lebih jauh agar aqidah tetap terjaga, bisa mampir ke Lapak Tetangga Ini.
 Jika ada yang berkata, "kan tradisi baik, nggak apa-apalah diikuti..." Berarti Anda belum mampir dan baca tuntas tulisan di lapak tetangga saya tadi :)

Islam telah memberikan saya paket yang lebih baik. Mereka punya tradisi. Saya punya prinsip. Semoga saya dan anak-anak dikuatkan untuk menggenggamnya hingga akhir hayat.

Untuk keluhan lebih lanjut, siapkan hati mendengar tausyiah di Nasehat Ustadz.