Tampilkan postingan dengan label Empati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Empati. Tampilkan semua postingan





Memaafkan mereka yang tidak mengerti,
Memaafkan mereka yang tidak pandai berkata-kata,
Memaafkan mereka yang tidak sesuai harapan,
Memaafkan mereka yang sering salah paham,
Memaafkan mereka yang berpikir seperti adanya mereka,

Memaafkan diri sendiri atas semua ketidakmengertian, kemampuan yang terbatas, nilai diri yang tidak sempurna.

Memaafkan,

Menjadi hadiah terbaik yang bisa diberikan setiap orang untuk dirinya sendiri.
Agar diri itu menjadi pundak yang ringan dari beban, menjadi hati yang lapang.






Bagi saya, pertanyaan apa kabar itu penting. Kalau saya menanyakan "apa kabar?" saya senang sekali mendengar jawaban yang panjang lebar. Karena ketika saya bertanya apa kabar, saya benar-benar mau mengetahui kabarnya, bukan sekedar basa-basi di awal pertemuan. 

Jaman masih aktif di organisasi kampus dulu, seorang rekan menganggap saya 'keterlaluan' karena bagi saya mengetahui kabar rekan-rekan dan staf saya jauh lebih penting daripada mendengar laporan kerja. Itu menurut dia. Buat saya pribadi, saya akan mengetahui kabar mereka lebih dulu sebelum bertanya tentang tugas mereka. Pernah, seorang ketua tim berkata pada bawahannya, "Kamu mau pulang lagi? Terus tugasmu bagaimana? Ya sudahlah. Salam untuk bapak ya." Sang ketua tidak tahu, bapak yang ia maksud sudah meninggal dunia beberapa minggu sebelumnya. 

Dengan mengetahui kabar seseorang, saya tahu saya berhadapan dengan kondisi apa dan tuntutan apa yang memang layak saya berikan padanya. Karena itu sebelum membuka laporannya, saya bertanya, "ada kabar apa minggu ini? Kabarmu, maksud saya. Kalau kabar nasional saya bisa baca koran..."

Lately, saya melihat teman-teman saya kebanyakan masih sama, seperti saya yang juga masih sama seperti dulu: saya sibuk bertanya apa kabar pada semua teman-teman saya, dan mereka melaju dalam pekerjaan besar bernama membangun peradaban... :) I guess.

Hari ini saya sedang berduka. Tanah kelahiran saya diguncang gempa 6,5 SR. Banyak yg tewas, hilang, luka...dan tidak sedikit rumah2 yang hancur dan sekolah2 rubuh. Hidup mereka mungkin diamputasi mendadak. Saya berdoa, semoga dengan ini Allah melembutkan hati mereka, membuat kita mempersering menyebut namanya, dan merenung. There's something wrong with our life. Each of us need to figure it out.

Biasanya musibah seperti ini akan cepat menimba simpati nasional. Kenapa sekarang tidak? Ada kejadian yang mereka anggap lebih penting di luar sana. Kisruh politik dunia Islam di Mesir. 
Saya mencoba berprasangka baik. Sedikitnya hastag Pray For Gayo dibanding Pray for Mesir mungkin tidak berarti sedikit juga doa yang mengalir ke desa-desa kecil di Barat Indonesia sana. Saya berbaik sangka, bahwa di ruang empatinya yang luas, saudara2 saya bisa menyempatkan diri melihat ke dalam negeri. 

Kita memiliki ruang empati yang luas. Setiap kejadian adalah latihan untuk membuat kita arif. 

Semoga Allah membuat kita lebih kuat dari masa ke masa. Aamiin.

"Nizam, jangan digigit-gigit stik esnya."
"Kenapa?"

"Nizam, kalau nyeberang pegang erat tangan Bunda, ya."
"Kenapa?"

"Nizam, segera pakai celanamu."
"Kenapa?"

"Nizam, matikan televisinya kalau sedang makan."
"Kenapa?"

Hanya perasaanku saja atau memang benar kepala ini mau lepas dari tempatnya???
Saya sudah lupa fase "Why" -nya Yasmin. Jadi waktu Nizam (3+ y.o) sedikit-sedikit bertanya "Kenapa?" saya merasa cenut-cenut. Oke kalau kondisi lagi lapang dan bahagia. Kalau lagi sibuk, heboh, crowded, dan dia terus menerus menjerit "Kenapa???" sampai saya menjawabnya...arghhh...
Ya Allah...kasihinilah hambamu yang ini.... >.<

Jadi sekarang saya memangkas kalimat itu menjadi,
"Kalau tidak mau kena tabrak, pegang tangan bunda ya!"
"Pakai celanamu sebelum penismu digigit semut atau kejepit sesuatu."
"Matikan televisi sebelum kamu tersedak nasi dan sakit tenggorokan."
"gigit saja batang esnya kalau mau tenggorokanmu sakit."

Memangnya dia mau berhenti bertanya kenapa? NOOO.
Di akhir semua kalimat itu, dia tetap bertanya, "Kenapa?"

Akhirnya saya mengalah. Inilah fasenya bertanya tentang mengapa begini dan mengapa begitu.
"Nak, tolong matikan televisinya kalau sedang makan."
"Kenapa?"
"Kalau matamu ke tivi terus nanti tersedak."
"Kenapa?"
"Karena kamu jadi nggak lihat apa yang masuk ke mulut."
"Kenapa?"
"Karena matamu sedang melotot ke Tv."
"Kenapa?"
"Karena kamu nggak mau matikan TVnya."
"Oh..."

Tenang, dia cuma bilang OH. bukan berarti dia mau mematikan TV. Percakap mirip2 itu terulang lagi.
"Kenapa Bunda matikan tv nya?" (menjerit)
"Karena kamu sedang makan."
"Kenapa??"
"Karena orang makan matanya ke piring bukan ke tv."
"kenapa????"
-----------teruskan saja sendiri-------------

Pertanyaan KENAPA ini berarti dua hal: menguji kesabaran saya, dan memancing akal pikirannya. Amiin.
Dan lama2 saya paham, lebih baik bercerita padanya di waktu lapang daripada memberinya instruksi di waktu kejepit. Dan "kenapa?" nya itu tidak melulu tentang apa alasan di balik sesuatu. Kadang, ternyata dia mau tau BAGAIMANA, bukan KENAPA. Dan yang jelas dia mau saya berbusa busa cerita padanya. Sampai dia bosan mendengarkan dan akhirnya berhenti bertanya kenapa.

N.B: Bahkan di usia setua ini saya masih sering bertanya, "Kenapa, ya Allah?"







Ada masa, ketika kau merasa langit akan runtuh menimpamu…
Kau kira itulah batas mampumu,
Kau kira itulah ujian terberatmu.
Belum.
Itu hanya latihan-latihan kecil untuk masa depan yang lebih besar.

Ingatkah kau, tentang pundak yang kau rasa terlalu lelah dengan segala beban?
Lalu kau pinta Ia--Yang Maha Kuat-- mengurangi bebanmu.
Jangan.
Mintalah Ia menguatkan pundakmu,
Karena beban kecil hanya untuk orang kecil. 
Dan, mintalah hati seluas langit tak bertepi; sabar yang tak berbatas…

Ingatkan kau pada sujud-sujud panjang,
ketika kau merasa lebih baik melesak ke dalam bumi, dari pada berdiri menghadapinya?

Sabar,
Yang perlu kau hadapi hanya dirimu sendiri; rasa engganmu, rasa takutmu, rasa tak layakmu. Dari awal hingga akhirnya, ternyata itu hanya perasaanmu…

Ingatkah kau saat kakimu ragu melangkah, 
Karena kau takut orang sedang menunggu pembuktianmu; bahwa kau ada, kau bisa.
Tetaplah melangkah, jika mereka punya waktu untuk menonton nasibmu, menggunjingkan nasibmu, mereka juga harusnya bisa menunggu. 

Saat kau merasa,
Semua jalan berujung buntu, semua pintu terkunci, semua rambu tak terbaca…
Kau hanya mematung dan bingung, tak tahu harus mengetuk pintu yang mana..
Saat kau merasa sendiri, tak ada yang peduli,
Lupakah kau, pada kalimatNya, “Dan, apa bila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”

Jika kau telah mengingatNya, apakah kau kira Ia tak mengingatmu?

Saat kau merasa, kau telah mengetuk semua pintu, tapi jawaban yang kau dengar hanya kebisuan. Percayalah, kadang kau memang harus menunggu…

Ingatkah kau, pada masa-masa tersulitmu, yang kau kira bisa menjadi akhir segalanya,
Ternyata,
kau masih bisa berdiri dan berjalan lagi.
kau bahkan akan mengenal senangnya mengenang kesulitan yang sudah lewat.

Saat kau merasa orang melejit dengan hebat,
Seperti melihat rumput tetangga yang lebih hijau,
Kau hanya perlu bertanya bagaimana dia menyiramnya, di mana dia membeli pupuknya…
Kadangkala, makhluk dari api itu membisiki telingamu tentang kemudahan orang, tapi menutupi matamu dari kesukaran yang harus dilewati orang…

Saat kau tak lagi sanggup berdiri, dan tak tau hendak kemana,
Ingatkah kau tentang ketakutan Abu Bakar di samping Rasulullah dalam sebuah gua, di tengah kepungan musuh yang murka,
Saat itu Rasulullah berkata, “janganlah kau berduka cita, sesungguhNya Allah beserta kita…”
Maka pintu langit terbuka, dan Ia menurunkan bala bantuanNya…