Nizam Memilih Sayuran
Juli besok kedua anak saya akan mulai bersekolah. Si kakak masuk ke Taman Kanak-Kanak dan adiknya masuk Playgroup. Setelah selama ini disekolahkan di rumah--banyak mainnya jelas-- sekarang mereka terlihat sudah siap untuk menghadapi kelas, guru, dan teman-teman. Sebenarnya saya mau memasukkan mereka tahun lalu, tapi setelah di sekolah selama seminggu, Amy terlihat tidak juga nyaman dan masih belum antusias mengikuti kelas. Salah satu tanda yang paling kentara dia belum suka sekolah adalah, gurunya baru berdiri untuk membubarkan kelas, dia sudah berlari mengambil dan memakai sepatunya. Minta pulang!
Sekarang, pertanyaannya sehari-hari adalah kapan dia bisa memakai seragam TK-nya.

Mungkin ini belum saatnya untuk lega. Tapi lumayan lega...karena saya menganggap fase krusial Amy sudah sebagian besar terlewati. Saya bersyukur sudah melakukan seoptimal mungkin selama 3 tahun awal usianya yang merupakan golden age bagi proses tumbuh kembang. Tak sempurna memang, bahkan ketika menjalaninya saya sempat merasa goyah. Tapi sekarang semua tantangan soal nutrisi tepat dan stimulasi optimal itu menjadi catatan yang berharga, salah satunya untuk memantau tumbuh kembang Nizam, si adik.

TAHUN PERTAMA....

Sejak mereka bayi, dalam mengontrol tumbuh kembangnya saya hanya berpegang pada: KMS, catatan dokter anak, ahli gizi, dan rekaman tahapan tumbuh kembangnya. Saya tidak membanding-bandingkannya dengan anak lain. Karena saya tahu, setiap anak akan mencapai tahapan tumbuh kembangnya dengan cara dan waktu yang berbeda. Yang harus saya lakukan hanyalah memberinya nutrisi yang tepat, memeriksakan kesehatannya dengan teratur, and love them just the way they are.

Tentang ASI Eksklusif

Saya pikir sudah berhasil memberikan putri saya ASI ekslusif selama 6 bulan pertama. Sebagai sumber gizi terbaik untuk bayi, ya, dia memang mendapatkannya. Tapi soal kualitas ASI, saya hanya berharap ia mendapatkan nutrisi terbaik dari ASI yang saya berikan, karena.... sekali dua kali saya kecelakaan juga makan sembarangan--dan ini pasti berpengaruh pada kualitas ASI saya-- Tapi itu tidak membuat saya merasa bersalah berkepanjangan dan putus asa memberikan anak saya ASI. Pasal satu dalam memberika ASI eksklusif adalah komitmen. Pasal kedua, nutrisi yang baik bagi ibu sejak hamil. Kalau kata ibu saya, malah sejak jauuh sebelumnya harus sudah membiasakan diri mengkonsumsi makanan sehat.

Memantau Developmental Milestone Chart
Setelah disarankan Pediatrik langganan kami, saya menggunakan developmental milestone chart seperti yang di bawah ini, untuk memantau tumbuh kembang kedua anak saya. Pas anak pertama, saya hampir setiap hari membacanya dan mencentangnya, hingga nyaris hafal luar kepala--akhirnya memang hafal. Tapi di anak kedua sudah lebih tenang, bagi saya yang pentig momennya.
Dengan chart ini, saya bisa tahu tahapan yang harus dilaluinya, sehingga saya tidak perlu merasa risau ketika melihat tumbuh kembang anak lain. Maklum, ibu baru, suka galau kalau lihat anak lain lebih sehat :) Misalnya saja, ketika usia setahun Amy masih melangkah pendek-pendek sementara temannya sudah berjalan lancar, saya kembali mengacu pada chart ini. Kata pakar, tidak terlalu penting usia berapa dia bisa berjalan lancar. Yang penting adalah ia melalui tahapan seperti berpijak dengan pegangan, berpijak dengan pegangan satu tangan, berpijak tanpa pegangan, dan seterusnya. Kalau dalam pemantauan itu ada tahap yang terlewati, saya akan konsultasikan pada pediatrik pada kunjungan bulanan kami.


Children Developmental Milestone Chart diambil dari sini

Hal yang perlu diingat adalah, masa pencapaian tahapan tumbuh kembang ini dibuat cukup lebar karena setiap anak berbeda. Ada anak yang sudah bisa berjala di usia 9 bulan, dan ada juga anak yang bisa berjalan di usia 18 bulan. Keduanya sama normal. Yang saya lakukan sebagai ibu hanya memastikan ia mendapatkan stimulasi yang tepat--bukan paksaan dengan tatapan menyesal, "kenapa kamu belum jalan juga sih Naaak"--

Meski sering melototin chart ini, sambil menunggu-nunggu perkembangan selanjutnya, saya berusaha menikmati setiap momen yang kami lewati. Mungkin itu yang membuat tidak terasa waktu sudah berjalan hampir empat tahun.

MPASI
Nah, ini dia yang hingga tahun kedua usia Amy sedikit menguras otak Bundanya. Ada banyak sekali bubur instan dengan berbagai rasa di luar sana. Percayalah, saya saaangat tergoda untuk memakainya. Tapi, mungkin makanan bungkusan itu benar mengadung gizi dan sebagainya seperti yang disebutkan. Mungkin. Tapi saya tahu yang benar-benar mengandung gizi: bahan di dapur saya.


Sampai usia setahun, rasanya dia mudah-mudah saja membuka mulut untuk makan...

MEMASUKI TAHUN KEDUA....

(Masih) MPASI
Ya, sekarang usianya 15 bulan dan dia sudah bisa protes kalau makaannya itu-itu saja. Atau kalau rasa wortel buatan saya pahit. Ia juga bisa mengeluhkan sakit perut karena ketajaman rasa makanan tertentu. Di satu sisi, itu baik karena saya jadi tahu apa yang ia inginkan atau tidak cocok dengan lambungnya. Di sisi lain, itu benar-benar menantang kreatifitas saya untuk menghidangkan makanan yang tidak akan berakhir di tong sampah.
Berburu resep teryata tidak cukup. Seorang ibu harus punya nyali chef di restoran bintang lima, dengan prefeksionis lidah pelanggannya. Kalau dia menolak makanan yang satu, saya harus bersiap dengan makanan berikutnya. Bukan berarti memanjakannya, tapi prioritas saya saat itu adalah dia makan. Kalau tidak nasi, maka karbohidrat lain. Tidak sayur, ya buah. Tidak daging ya bakso. Menolak ayam, saya buatkan nugget.

Selain variasi menu, sangat penting untuk menemani ketika anak sedang makan. Saya tidak membiarkannya duduk di depan TV dengan piring yang teracak-acak. Tak ada masalah dengan makanan berantakannya, selama itu adalah proses ia menuju kemandirian, tapi TV? No waaay... Itu hanya akan mementahkan secantik apapun bento yang saya hidangkan untukya.

Seorang ibu juga harus rela belajar lebih di luar ilmu yang ia kuasai. Dalam hal ini saya butuh pendamping, karena itulah saya berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli gizi. Penting bagi orang tua untuk mengkonsultasikan gizi si kecil kepada ahlinya. Misal, ketika saya khawatir Amy kekuragan gizi karena tubuhya lumayan kurus, saya membawaya ke dokter untuk memeriksakan zat besi (setelah ia berumur satu tahun) dan kemudian ke ahli gizi. Ternyata hasilnya ia baik-baik saja. Tapi memeriksa dengan rutin itu perlu, karena kadang kekurangan nutrisi yang tepat tidak terlihat begitu saja. Pernah suatu kali pula, saya membawanya ke ahli gizi yang sama dan mengkonsultasikan kondisi Amy yang cepat sekali lapar. Dari daftar menu sebulan kemarin yang saya bawa saat itu, ahli gizi bisa mengetahui kalau putri kami kekurangan lemak dalam menunya.

 
  




Piring pada gambar di sebelah disebut Healthy Plate. Anda bisa kunjungi website resmi Healthy Kids Plate untuk lebih banyak ide. Ini adalah cara sederhana untuk memastikan apa yang anak makan. Aturanya sederhana sekali:
Setengah dari piring adalah buah dan sayur. Seperempatnya adalah protein. Seperempatnya lagi adalah karbohidrat.

Ada beberapa nutrisi yang sering terabaikan dari menu anak-anak.  Pakar nutrisi Maryann T. Jacobsen menyebutkanya:
1. Zat besi
Selama beberapa tahun pertama, pertumbuhan terjadi dengan cepat dan tubuh akan bermasalah ketika tidak memiliki pasokan zat besi yang cukup. Salah satu fungsi utama zat besi adalah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Defisiensi zat besi sering kali tidak terlihat gejalanya. Ia baru terlihat ketika sudah menjadi anemia. Anak menjadi mudah lelah, sariawan, imunitasnya turun, dan kognitifnya melemah.
Tips: Vitamin C akan membantu penyerapan zat besi higga 3 kali lipat. Jadi, tambahkan buah bervitamin C pada sereal anak, tomat pada burritosnya, atau kemangi pada sate kerangnya.

2. Vitamin E
Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan. Vit E terdapat di biji-bijian, minyak sayur, kacang-kacangan, dan alpukat.
Tips: Ganti mayonise dengan alpukat.

3. Vitamin D
Meski namanya vitamin, para ilmuwan lebih menganggap ini sebagai hormon, berdasarkan fungsinya. Vitamin D diperlukan tubuh sebagai simpanan kalsium di dalam tulang. Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan diabetes, penyakit pada cardiovascular, kerusakan imunitas, dan memicu pertumbuhan sel kanker. Kebanyakan orang tidak mendapatkan vitamin D dari makanan, melainkan dari sinar matahari. Sumber makanan untuk vitamin D adalah minyak ikan, minyak hati ikan, susu, dan beberapa jus jeruk yang sudah ditambahkan Vit D.
Tips: ASI adalah sumber vitamin D paling tinggi bagi bayi.

4. Kalsium
Asupan kalsium yang cukup ketika pembentukan tulang di masa anak-anak akan mencegah terjadinya osteoporosis di masa tuanya. Sumber untuk kalsium adalah susu dan semua produk olahannya, serta bayam, kedelai, okra, sardine, salmon.

5. Potassium
Jika kebanyakan sodium bisa membuat tekanan darah naik, maka potassium melakukan sebaliknya. Potassium berguna untuk kesehatan tulang dan mencegah batu ginjal. Kekurangan potassium biasanya disebabkan kurangnya mengkonsumsi sayuran dan buah, dan terlalu banyak mengkosumsi makanan kemasan dan berpengawet. Sumber untuk potassium adalah tomat, kedelai, kentang, prune, wortel.
Potassium Foods

6.Asam Lemak Esensial (atara lain ALA, DHA, Asam lemak Omega-3)
Rata-rata anak di bawah usia lima tahun kekurangan asam lemak esensial, karena kita tidak tahu lemak seharusnya yang bisa mereka konsumsi. Sumber-sumbernya antara lain adalah minyak sawit dan ikan laut tertentu.


7. Serat
Sebagai bagian dari karbohidrat yang tidak diserap pencernaan, serat berfungsi untuk mengatur gula darah, bermanfaat sebagai memperlancar pencernaan, da mengurangi resiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

--Kunjungi Health Gov untuk list sumber nutrisi lebih lengkap.


Saya juga memasukkan daftar menu Amy minggu lalu sebagai contoh yang disarankan ahli gizinya.



Kadang-kadang, sumber makanan yang sehat belum tentu menjamin anak menerima nutrisi yang cukup. Masalahnya ada pada bagaimana mengolah makanan tersebut. Seperti sayur. Setiap sayur memiliki penanganan yang berbeda. Untuk aman, saya memilih mengukus sayuran hijau, atau menumisya sebentar dengan menggunakan minyak Canola. Ikan lebih sering dipanggang atau di Slow Cooking. Percaya deh, ternyata ada banyaaak sekali hal-hal seru yang patut dicoba setiap ibu sebelum menyerah karena anaknya tidak mau makan.





Saya paling males buat kue yang takarannya ribet, apalagi kalau ada aturan kecepatan mixing. Mungkin nanti, kalau anak-anak sudah berhenti ikut mengacak-acak tepung dan menembakkan seratus pertanyaan per sesi. Jadi, syarat memasak di dapur kami adalah masakan yang disaster minimalis. Yang tetap bisa dimakan meski anak-anak ikut mengaduk-aduk atau tuang ini itu.

Klik di sini untuk lihat resep asli


Sodara-sodara, itu gambar asli dari resep yang ada di www.essentially-england.com.
Waktu itu kebetulan saya punya roti tawar yang nggak dimakan-makan, daripada terbuang, mending diolah jadi apa gitu. Sebenarnya mau buat roti apel, tapi apelnya tinggal sebiji ^__^ akhirnya inget makanan ini. Buat saya, makanan ini memorable banget! Aroma clovesnya (cengkeh--kalau resep lain pakai nutmeg atau cinnamon) membuat saya ingat sama almarhum bapak. Dan aroma rumah ketika sedang memanggang kue ini bisa membawa saya merasa pulang ke masa dua puluh tahun lalu. Entahlah, I love cloves!

Kenapa juga resep ini jadi andalan, karena selain mudaaah banget, anak-anak juga suka. Nggak ada takaran dalam resep ini. Campur aduk semua yang Anda punya, ukurannya cuma besar kecilnya loyang.

Ini bahannya:

Roti tawar (tergantung besaran loyang. KIta ambil yang sepuluh lembar aja ya)
Susu cair (350 ml--boleh susu murni, susu UHT, pernah saya pakai susu Dancow bubuk sebungkus dan   dicairkan dengan segelas air hangat)
Gula (2 sendok makan)
Butter (2 sendok makan)
Telur (3 biji)
Kismis suka hati, mau diganti keju juga boleh.
cengkeh dua biji (boleh diganti kayu manis)

Panaskan susu cair dan gula dengan api kecil, masukkan cengkeh. Matikan api sebelum mendidih, masukkan butter yang sudah dicairkan, telur yang sudah dikocok, aduk semua....

Susun roti dalam loyang tahan panas (mau pirex, mangkok berlapis aluminium foil, atau loyang aluminium, sama saja) Rotinya mau disobek2 boleh, mau di begitukan juga boleh. Ada yang suka ditoast dulu biar garing, ada yang dioles butter dulu seperti resep di gambar.

Siram adonan susu ke dalam loyang. Taburi kismis (ada juga yang menaburi keju atau kacang almond)
tunggu sepuluh menit sampai air terserap roti.
Panggang dengan 180'C selama 30 menit api atas bawah. Nggak punya oven? nggak apa-apa, kukus juga boleh!

Kenapa namanya pudding?
Setelah matang, dinginkan sebentar, dan potong. See, tengahnya itu lembut menuju cair. Makanya makannya harus pakai piring. hehe... tapi enaaak banget. Anak-anak lebih suka kalau makanan ini dicetak di mangkok muffin yang dilapisi aluminium foil. Saya lebih suka dihidangkan hangat, tapi enak juga setelah nginap di kulkas^___^
 
 . Kalau membuatnya melibatkan anak-anak, mereka akan dengan senang hati membantu:
1. Mengocok telur 
2. Menyusun roti
3. Menuang adonan susu ke loyang
4. Menaburkan kismis
5. Mencicipi ^___^

Hm, ini memang kue yang ramah anak-anak ternyata. Kecuali bagian memanaskan susu. Tapi sebenarnya nggak dipanaskan juga nggak apa-apa, saya cuma mau gulanya menyatu. Kalau memanaskan butter bisa juga dimasukkan ke rice cooker atau microwave atau oven.


Silakan dicoba!


Bedtime Stories 
Honestly, saya bukan ibu yang disiplin membacakan cerita sebelum tidur. Ketika saya mulai membentangkan buku di hadapan anak-anak, mulai dari halaman judul, mereka sudah bertanya banyaaak sekali. Misalnya, siapa yang memutuskan untuk menuliskan "A" sebesar itu? Siapa yang mewarnai tupai itu? Di mana kita membeli buku ini kemarin? Kadang-kadang menyenangkan menjawab pertanyaan mereka yang selusin itu. Tapi kadang yang saya inginkan cuma agar mereka cepat tidur dan tidak membuat telinga saya berdenging. Oke, it's my flaws.

Tapi membacakan cerita untuk anak merupakan proses yang penting. Untuk lengkapnya manfaat membacakan buku bagi anak, silakan berkunjung ke earlymoments. Dua hal yang benar-benar terasa yakni bonding antara orang tua dan anak, dan kemampuan berbicara anak. Itu baru dua hal yang terlihat dengan mudah, belum efek lainnya dalam jangka panjang, seperti art of listening, melatih fokus, dan pengaruhnya pada kemampuan anak membaca.

Bali Rai
Ada banyak sekali alasan kenapa kita harus mulai membacakan buku kepada anak sejak dini. Oke, memang lebih enak meletakkan anak di depan TV (24 jam babysitter) tapi para pakar sepakat membaca buku thounsands times better for stimulating your children development. Membaca buku akan membuat anak menggunakan otaknya lebih aktif daripada ketika dia menonton. Membaca juga membuat anak memiliki kesempatan untuk memerhatikan dan bertanya sehingga lebih banyak merangsang daya pikir mereka. Silakan kunjungi Totsites untuk kata pakar lainnya.


Bagi saya pribadi, membaca adalah salah satu cara untuk mengenal dan belajar tentang banyak hal. Tanpa membaca, orang akan mengunci dirinya dalam ketidaktahuan. Jadi, kalau saya ingin anak saya tumbuh sebagai manusia pembaca, maka sejak dini saya mulai mengenalkannya dengan kebaikan membaca. Yang saya lakukan pertama kali bukanlah membeli buku anak melainkan mengenalkan anak pada prosesnya. Karena saya tidak mau membatasi diri hanya membaca ketika membeli buku. Saat ini kita bisa membaca apa saja.
Ketika anak sering melihat orang tuanya membaca, anak akan tertular untuk ikut senang memegang buku. Coba perhatikan, anak pasti senang mengikuti tingkah laku orang tuanya, kan? Seperti ketika orang tua berbicara di telepon, memasak, berdandan, bahkan cara bicara. Begitu juga dengan membaca. Tidak penting mengenai berapa banyak buku yang dimiliki, yang perlu diserap anak adalah bahwa membaca itu menyenangkan.

Bagaimana kalau anak belum bisa membaca?
Bagi saya, yang terpenting adalah anak mengenal buku. Dan proses perkenalan itu tentu saja disesuaikan dengan usia.
Sekarang sudah banyak buku dari bahan flanel yang berwarna-warni yang ditujukan agar tidak sobek. Buku-bukuan ini aman untuk bayi karena tidak akan ada kertas atau tinta yang akan termakan oleh mereka. Tau kan, bayi suka memasukkan segalanya ke dalam mulut untuk mengenali benda itu.
Tapi balita saya tidak suka dengan buku ini. Mereka benar-benar mau buku. Yang ada hurufnya, yang berat seperti milik ayah bundanya. Karena umur mereka sudah mencukupi (sejak1,5 tahun) untuk mengetahui buku bukan untuk dimakan, saya memberikan mereka buku apa saja. Kalau robek, saya akan mengajak mereka merekatkan kembali. Supaya mereka tahu 'repot'nya memperbaiki buku.

 It worked for me :D Meski buku anak-anak jadinya penuh selotip. Hanya satu atau dua buku yang jadi korban, lalu mereka mulai terbiasa untuk memperlakukan buku dengan baik.

Buku apa yang tepatnya dibacakan untuk anak?
Anak saya suka buku bergambar seperti kamus bergambar Thomas and Friends. Mereka juga senang dengan fabel. Untuk fabel dari penulis Indonesia, saya suka tulisan2 Clara Ng. Saya juga menemukan link fabel klasik yang cocok di internet.  Printable pula. Coba cek di Nutricia Baby Books. Ada dua belas buku yang bisa Anda print. Bahasa aslinya Belanda, tapi ada terjemahan Inggrisnya di bagian bawah. Ini salah satunya:


Selain buku-buku itu, kalau dompet lagi tipis, kami bisa membuat sendiri. Sekarang setelah anak-anak lebih besar, mereka jadi ikut senang mewarnai dan menyusun cerita mereka sendiri. Well, don't ask the ending. You'll find the elephant will turn into a bug.

Saya mengenalkan mereka pada buku. Bukan tergesa-gesa mengajarkan mereka membaca. Itu adalah dua hal yang berbeda. Dengan kebiasaan dekat dengan buku, saya yakin anak akan lebih mudah dalam proses belajar membacanya kelak. Begitu juga dengan masalah bilingual atau membaca kitab suci. Saya tidak menargetkan apa-apa selain mengenalkan anak agar mereka menjadi terbiasa. Kalau dia sudah terbiasa dan senang, sisanya akan lebih mudah.

Kapan saya membacakan buku untuk anak?
Tidak harus sebelum tidur. Bisa di pagi hari ketika kami ke perpustakaan. Atau sore hari ketika hujan dan tidak bisa main di luar, atau malam, ketika anak seharian lelah dan memerlukan kegiatan asik yang tidak menguras tenaga fisik. Sehari 20 menit, itu kata pakar.


Once upon a time...

Melalui cerita yang saya bacakan, anak-anak juga ternyata sudah bisa mengambil nilai atau pesan yang disampaikan.
Ketika putri sulung saya (4) beberapa waktu lalu bermain ke rumah tetangga tanpa ijin, saya mencari cara untuk memberitahunya dengan baik. Kalimat, "jika kamu pergi tanpa ijin dan Bunda mencarimu bla bla bla" terlihat agak terlalu panjang dan mungkin yang dia terima hanya betapa kesalnya saya. Dan belum tentu dia tidak akan melakukannya lagi.

Lalu, malamnya saya membuat cerita dengan menggunakan gambar-gambar memungut di sana-sini (Google, of course. As long as I won't sell it). Dan saya membacakannya sebelum anak-anak tidur. Itu adalah cerita tentang dua anak burung yang bertualang ke hutan seberang, mengabaikan pesan ibunya kalau mereka tidak boleh jauh-jauh dari pohon besar tempat keluarga burung tinggal. Lalu mereka tersesat dan Ibu burung mencari mereka. Ibu burung merasa bingung dan sedih karena anak-anaknya hilang.You know the kind of story.... 
Yang dicecar dua anak saya adalah apakah pohon itu sebesar menara? Apakah di hutan itu ada singa baik hati? Apakah di hutan itu tinggal perompak? Apakah burung itu membawa bekal?

Cerita selesai dibacakan, anak-anak tertidur. Telinga saya berdenging, tiba-tiba sepi dari suara anak-anak. Cerita yang hanya lima halaman itu menjadi 45 menit karena kedua anak saya menambahkan versi mereka sendiri. Betapa hebat isi benak mereka...

Saya sudah hampir lupa dengan cerita itu, ketika suatu hari, dari jendela dapur tempat saya sedang mencuci piring, saya mendengar obrolan dua anak saya di halaman belakang:

Adik: Lihat, kucingnya pergi ke sana. ayo kita ikuti!

Kakak: Kita harus bilang dulu sama Bunda, kalau nggak, kalau kita tersesat Bunda akan bingung nyari ke mana.

Adik: Di sana ada perompak?

Kakak: Bukan, cuma ada bahaya. Ayo kita bilang sama Bunda!

Saya nyaris tertawa mendengarnya. Sejak itu, anak saya selalu ijin jika mau pergi.  Mereka bukan takut hilang, tapi takut Bundanya sedih dan kebingungan mencari anak-anaknya.

I'll keep reading books to them. I will.










Anak siapa yang nggak pernah tantrum, ayo ngacung? :) Whining, stomping, screaming, even slap-thing, sebut saja yang mana variasinya.
There are so many articles telling us about tantrum. Teori, tips, whatever, semuanya ada, tinggal Google.
Apa anak saya pernah mengamuk? whoaaa.... who doesn't? Bahkan anak sulung saya yang paling kalem saja pernah mengamuk sekali dua kali selama masa tumbuhnya. Dan anak saya yang kedua sedang dalam tahap itu, tantrum, as a unwanted of developmental milestone.

Ya benar, horibel-horibel begitu, tantrum itu bagian dari emosional dan sosial milestone. Jadi, jangan buru-buru merasa anak Anda tidak beres hanya karena dia teriak setiap kali Anda suruh tidur siang. Ray Levi, Ph.D, psikolog yang juga konsultan majalah Parents, mengatakan adalah wajar ketika anak melakukan penolakan atau bahkan mengamuk dengan cara yang sedikit mengerikan itu, karena mereka belum selesai memahami bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkan penolakan itu.
Orang udah gede aja masih ada yang suka ngotot :D
Michael Potegal, Ph.D, pediatrik dan neuropsikolog dari Universitas Minessota yang sudah melakukan penelitian terhadap tantrum selama bertahun-tahun mengatakan bahwa tanrum sebagai respon biologis terhadap amarah dan frustasi adalah normal, senormal orang menguap ketika penat.





Seperti yang saya bilang tadi, ada banyak tips untuk mengatasi anak tantrum. Tantangannya apakah kita bisa konsisten menerapkannya. Saya sendiri suka gigit geraham kalau menghadapi anak mengamuk. Lama-lama emaknya ikutan ngglesor di tanah kali ya... jangan sampe deh >,<

Beberapa kali menghadapi anak tantrum di depan umum, akhirnya saya tahu kalau sebaiknya mencegah daripada menghadapi. Putri sulung saya tidak pernah mengamuk di luar, beneran. Tapi luar biasa kalau dia mengamuk di dalam rumah. She has a kind of ear-bleeding-screaming!  With her, the only way for me to deal with is just wait.

Saya akan duduk atau berbaring (tergantung posisinya dia) dan membiarkan dia selesai teriak. Setelah mereda dan dia menunjukkan tanda-tanda dia capek dan butuh pelukan, saya memeluknya, begitu saja. Selesai? No. Ketika sudah tenang dalam pelukan saya biasanya minta dia untuk tidak mengulanginya. Saya minta si kakak untuk mengungkapkan apa maunya jika besok-besok dia meminta sesuatu. Tentu saja ini bukan cuma omongan. Kalau menawarkan kesempatan negosiasi ke anak berarti harus siap untuk kalah sewaktu-waktu. Misal, ketika dia tidak mau tidur siang, dan dia memilih untuk negosiasi... "Lima menit lagi, Bunda?" maka saya harus menghormati hasil kesepakatan itu. She follows my rule, so I should follow the result.


Kebiasaan untuk lobbying and negotiating itu kebawa sampai ke luar rumah. Dia boleh minta apa saja, tapi tidak mendapatkannya saat itu juga. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku :) dia menurut, karena tahu ayah bundanya akan menepati janji. Jadi, kalau mau lobbying and negotiating ini berhasil, orang tua haruslah bisa dipercaya. Kalau nggak, anak akan cari jalan lain: ngamuk!

Saya kira saya sudah pakar dalam masalah tantrum ini. Ternyata, ketika anak kedua mencapai usia 1,5 (masa-masa awal tantrum) haishhh..... saya balik lagi ke titik nol! Dengan si adik, perlu usaha dan tenaga lebih untuk bernegosiasi. Dan seringnya gagal, karena dia belum memahami konsekuensi kalau dia melanggar perjanjian. Well, setiap anak berbeda, bukan?

Si adik bersikap penuh penentangan di waktu... hampir setiap saat. Jam tidur siang, ganti pakaian, jadwal mandi, jadwal makan, jadwal minum susu, ke toko (it's horrrrible!) bahkan di taman bermain. Karena temperamennya yang meledak-ledak ini, saya jadi harus waspada, jangan sampaaai deh dia tantrum di wilayah publik, bakal susah diamnya (juga berat malunya). Tapi, tidak bisa 100% dihindari. It happens.

 
Percayalah, setiap ibu pasti bisa membaca tanda-tanda apa yang menyebabkan anaknya mengamuk. Kadang, ibu suka mendadak blank dan merasa tidak tahu bagaimana anaknya bisa mengamuk karena sedang fokus pada hal lain: komentar orang yang melihat adegan itu.

Saya pernah mengalaminya. Maka saya mulai menyuruh diri untuk fokus pada si adik dan mencari tanda-tanda (juga mengingat-ingat) apa gerangan yang membuat dia mengamuk. Ini hal yang mebuat anak saya mengamuk:

1. Ketika berpergian dalam keadaan lapar.
2. Disuruh tidur ketika sedang asik main
3. Disuruh mandi dengan rapi dan tertib
4. Bosan tingkat tinggi sampai mencari sesuatu yang seru yang ternyata bahaya hingga dilarang emaknya
5. Mencari perhatian (saat emaknya keasikan menatap monitor atau ponsel atau ngobrol)
6. Kurang tidur atau terlalu lelah

Maka, saya melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Tidak membawanya pergi di jam makan atau jam tidur. Kalau harus, maka bawa bekal. Terutama air minum.
2. Sebelum jam tidur, pastikan dia memiliki waktu untuk mendinginkan adrenalinnya (oke, ini istilah yang salah kayaknya, semacam itulah). Misal, jam tidurnya jam 2, maka sepuluh menit sebelum waktu habis saya sudah memberitahunya supaya dia bisa siap-siap.
3. Kalau dia mau mandi dengan gayanya, silakan, selama tidak bahaya.
4. Tidak membiarkan dia bosan. Berarti mengawasi jam kegiatannya agar bervariasi. Kalau bosan ketika bertamu, saya atau suami akan membawanya keluar sejenak untuk refresh.
5. Tidak melewatkan jam tidur. Memastikan dia tidak terlalu lelah.
6. Pay attention, pleaseee. Main dengannya lima belas menit, lalu dia akan merasa cukup dan bisa main sendiri selama setengah jam. Main di sini bukan main di luar tanpa pengawasan lho ya... :) instead mengawasinya 12 jam tapi disambi mengawasi lalulalang status facebook... (hm, sounds familiar)

Ada teman yang bertanya, kalau dia minta mainan terus ngamuk karena nggak dikasi, gimana?
Bagi saya, penyelesaian soal beli beli barang ini ada jauuh di belakang saat anak mengamuk. Ketika anak mengamuk yang dipicu beberapa hal di atas, semua tuntutannya akan keluar. Lihat saja, Anda akan mendapati permintaan-perminaat super ajaib keluar dari mulutnya di sela-sela tangisan. Bukan tidak mungkin dia minta Anda membawakan Jake and The Never Island Pirrates ke hadapannya! Tapi, bukan itu sebenarnya yang mereka minta. Anda pernah kan, merasa kesal dan tiba-tiba kekesalan yang sudah terlupakan tiba-tiba teringat lagi?



Kalau sejak di rumah--ketika mereka masih tenang--anak sudah diberi pemahaman (gradually of course) tentang apa dan kapan mereka boleh membeli mainan, Anda tidak akan gampang takluk dan menyerah. Mengabulkan semua permintaan anak ketika mereka mengamuk, akan mereka terima sebagai tanda bahwa itulah cara mengomunikasikan keinginan: teriak.

Jadi, tidak ya tidak.

Saya selalu bilang, "I love you, tapi mainan itu sudah ada di rumah/untuk usia yang lebih besar/bahannya berbahaya untukmu/etc..." jadi dia bisa faham bahwa menolak permintaannya bukan karena kita tidak mencintainya.





Saya masih terus memperpanjang catatan tentang perilaku anak-anak saya. Catatan ini cuma sekedar berbagi, sekedar isyarat kalau Anda tidak sendirian. Soal tips dan how exactly you supposed to deal with it, percayalah, Anda akan tahu, hanya perlu fokus pada kebutuhan anak.

Ya, fokus pada kebutuhan dan perasaan anak.


Kalau sudah terlanjur terjadi... dia nggelesor dan meraung-raung di tempat umum, teriak, melempar, atau mojok sendirian, jangan salahkan anak Anda, Moms...
Saya biasanya cukup percaya diri untuk mengangkat wajah dan minta maaf pada orang di dekat situ yang mungkin terganggu. Lagi pula, hanya ada dua kemungkinan: orang-orang tua yang ada di dekat situ pasti mengerti apa yang saya hadapi, dan anak-anak muda yang menatap saya dengan tatapan "I will never having kids!" oh you will, trust me, dan kalian saat itu akan memaklumi semua ayah ibu yang anaknya tantrum di depan umum --karena pada akhirnya anak kalian juga akan melewati milestone itu, like or not.
 
So far, pelukan selalu menjadi obat terbaik bagi anak-anak yang merasa lapar, lelah, bosan, apalagi kurang perhatian. Jadi, berhenti memelototi mereka dan raih mereka pelan-pelan, Moms! Gooood luck!



Pernahkah Anda, sedang membawa anak atau keponakan jalan-jalan, lalu bertemu ibu lain yang juga membawa anaknya. Lalu si ibu berkata,
"Wah... kok kurusan?" atau,
"Gemuk ya sekarang? Susunya apa? Awas obesitas lho...." atau, apakah Anda familiar dengan kalimat berikut,
 "Umurnya 18 bulan, belum bisa jalan? Si kecil saya udah bisa jalan umur 9 bulan....(senyum lebar)"

Aaaand many else...

Pertanyaan sejenis itu sering sekali saya dengar, bahkan saya alami sendiri. Tidak terhitung berapa mata yang sudah memindai anak saya dan tiba-tiba menjadi timbangan otomatis dan mengeluarkan hasilnya: "kurus banget sekaraaang?" atau "iih, gemuk, obes nih!"
Pernah, di sebuah playdate, putri saya bertepuk tangan karena temannya menyanyi. Ibu si anak mengatakan anak saya bertingkah aneh seperti sedang melihat pertunjukan. Well, bukankah dia memang sedang mengapresiasi 'pertunjukan' temannya?

Saya memaklumi komentar-komentar sesama ibu. Seperti saya sendiri, kadang saya tidak tahu harus mengatakan apa, membicarakan apa, dan kadang menemukan sebuah bahan obrolan yang setelah dipikir-pikir ternyata itu tidak baik. Jadi, daripada saya ngotot anak saya baik-baik saja (hal yang biasa dilakukan para ayah), saya memilih untuk senyum dan berkata.. "Masa sih Tante...? Alhamdulillah sehat kok!"
Itu jawab untuk yang kepedulian yang tidak diungkapkan dengan benar. Kalau untuk yang memang hobinya mencibir dan membagi-bagi aura negatif sampai bumi dipastikan kiamat... What I supposed to say? Sementara saya tahu dia tidak butuh jawaban.

Saya sudah kebal, sehingga tidak pulang dengan membawa beban, "Apa yang salah dengan anak saya?" atau buru-buru membuka google untuk mencari tahu kenapa anak saya.
Selama saya tahu anak saya sehat (siapa yang lebih tahu apa yang dilakukan dan dimakan anak saya selain saya?----hanya di kalangan manusia lho ya) dan tidak menunjukkan gejala-gejala kelainan psikologis, saya tetap percaya diri bahwa anak saya tidak seperti yang orang nilai, dengan tatapan penilaian beberapa menit itu. Satu-satunya pendapat yang bisa menggoyahkan pertahanan saya cuma pendapat dokter anak. Itu juga hanya dokter yang sudah menangani anak saya sejak bayi.


Tapi, lain cerita kalau seseorang menilai langsung di depan anak saya. Mereka hanyalah anak-anak yang mendengar setiap ucapan, dan seseorang harus membantu menyaringnya. Misal, ketika ada yang mengatakan, "Udah besar kok masih ngemut jempol?" atau, "Nggak bisa bilang R ya? Kasihan...udah mau sekolah lho..." atau, "Wah, kalah tinggi nih sama anakku...."

Oke, dalam mimpi buruk saya, mungkin saya sudah melakban mulut itu. Tapi, dalam dunia nyata, yang perlu saya lakukan adalah tarik nafas dan beristighfar banyak-banyak dalam hati, ngusir setan yang terus mengompori supaya saya marah, dan fokus pada anak saya. Seorang anak perlu mengetahui bahwa ibunya tidak menganggap dia aneh, nakal, atau kurang sesuatu, apalagi salah, terutama di depan umum. Ada cara lain (yang dikuasai oleh naluri keibuan) untuk membahas kelakuan anak. Bukan di depan umum.
Maka saya biasanya akan mengatakan, "Dia baik-baik saja." dan menatap anak saya dan memberi senyum mendukung.

Dunia ini cukup kejam, Moms, tidak perlulah senyinyir itu di depan anak-anak.



Untuk saya sendiri, berdasarkan pengalaman tidak enaknya ketika anak dipindai dan dihakimi, saya mengusahakan beberapa hal berikut ketika saya berada di antara ibu-ibu lain.

1. Daripada menebak-nebak dalam hati umurnya, lalu berkata, "Udah besar yaaa?" padahal umurnya masih 3 bulan dan dia hanya kelebihan berat badan, lebih baik saya bertanya umurnya. Lagi pula, kenapa saya harus mengukur besar kecil anak orang?

2. Gunakanlah rekam medis dan kartu sehat untuk mengukur tumbuh kembang anak kita, bukan ukuran anak lain. Daripada sibuk mengawasi  dan menilai anak orang untuk memastikan anak kita baik-baik saja, mending ke pediatrik!

3. Tetap fokus dan bersikap tulus. Keduanya memudahkan saya untuk melihat dengan jelas kelebihan lawan bicara (dan anaknya) daripada kekurangannya. Fokus juga membuat saya bisa berpikir jernih dan gampang mendapatkan kalimat percakapan yang bermutu. Daripada mengatakan, "kurusan ya, sakit?" lebih baik mengatakan, "main ke mana weekend ini? ke rumah yuk...." ---kalau dia mengiyakan, urusan nantilah siap-siapnya.

4. Berusaha untuk mengeluarkan pertanyaan yang netral, bukan menggurui dan menghakimi. Kalau anak teman terlihat sakit, kurus, dan tidak beres, lebih baik bertanya pelan-pelan pada ibunya, "apa kabar? sehat-sehat kan?" Saya percaya, kalau memang itu yang paling tepat, teman saya sendiri yang akan mengatakan kalau ada apa-apa dengan anaknya. Kalau dia tidak mengatakan, mungkin dia masih mau menghadapinya di internal keluarga dulu. Tidak semua orang gampang curhat, Moms...

5. Hargai anak-anak. Jangan anggap mereka patung mini yang tidak bisa mendengar dan merasa, sehingga orang dewasa menjadikan mereka objek pembicaraan dengan semena-mena. Mereka, anak-anak itu, mendengar dan merasakan kalimat-kalimat kita. "Ah, masih bayi kok, mana ngerti dia." justru semakin kecil maka sifat spons (menyerap)nya makin tinggi.



6. Saya cenderung memerhatikan ibu dan anak yang sebaya dengan anak saya. Kenapa? Sifat dasar saya sebagai manusia menyuruh saya untuk membandingkan capaian-capaian keduanya. Apa yang dia sudah bisa dan anak saya belum, begitu pula sebaliknya. Padahal, setiap anak memiliki asupan gizi, pengalaman, dan pengasuhan yang berbeda. Bagaimana kita bisa mengharap mereka tumbuh dan melewati milestone-nya dengan cara dan waktu yang sama?

Mungkin itulah yang membuat saya berpikir dulu sebelum keluar. Jika mood sedang buruk dan saya sedang tidak waras, saya menghindari bertemu orang. Kasihan kalau sampai ia dan anaknya yang jadi korban ucapan tidak waras saya. But, maybe it's only me... What about you, Moms? :)





Tanggal 22 lalu, saya mendapatkan kartu ucapan Happy Mother's Day dari murid-muridnya suami saya. Mengharukan, melihat perhatian dan upaya mereka. 
Saya nggak punya dasar kenapa harus merayakan hari ibu pada hari ini. Mereka yang merayakannya pasti punya alasan, dasar, lihat saja:

1. Bangsa Yunani kuno merayakan hari ibu pada festival musim semi, untuk menghormati Rhea, dewi kesuburan mereka.

2. Bangsa Romawi juga mengadakan festival di musim semi untuk menhormati Dewi Ibu, Cybele. Festival itu disebut Hilaria.

3. Pada 1600-an, gereja di Inggris memiliki perayaan yang disebut Minggu Ibu untuk menghormati Perawan Suci Maria.

4. Di US, Mother's Day diusung oleh Julia Ward Howe (1872) dan Anna Jarvis (sejak ibunya meninggal pada 1905). Mulai 1911, Presiden Woodrow Wilson menetapan Minggu kedua pada bulan Mei sebagai hari ibu dan ditetapkan sebagai hari libur nasioal.

5. Di Nepal dan beberapa negeri Hindu lainnya, Hari Ibu disebut dengan Mata Tirtha Aunshi, yang juga merupakan perayaan bulan baru dalam penanggalan Baisakh.

6. Di Australia, hari ibu dimulai pada 1920 ketika seorang warga, Janet Heyden, menemukan banyaknya ibu-ibu kesepian ketika ia mengunjungi panti sosial. Heyden kemudian mengajak anak-anak di lingkungannya dan dari sekolah-sekolah untuk menjenguk wanita-wanita itu dengan membawa hadiah, juga bunga Chrysanthemum.




7. Di Mesir, hari ibu dipopulerkan oleh seorang jurnalis melalui bukunya Smiling America (1934). Saat itu Mustafa Amin mendengar cerita tentang seorang ibu yang ditelantarkan anaknya yang telah menjadi dokter. Mustafa kemudian mempopulerkan hari ibu agar tidak ada lagi ibu-ibu yang ditelantarkan anaknya.

8. Banyak negara lain juga merayakan hari ibu dengan berbagai sebutan. Umumnya negara-negara komunis seperti Ukraina menghindari komersialisasi hari ibu dengan mengganti nama perayaan menjadi Hari Perempuan Sedunia.

Daaaaan,
Indonesia! Hari ibu di negara ini dirayakan pada tanggal 22 Desember. Kalaulah bukan karena membaca sejarah, saya sudah mengira asal muasal kita merayakan hari ibu adalah peristiwa Malin Kundang :p

Ternyata, hari ibu didekritkan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dalam Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 pada Kongres Perempuan Indonesia ke 25. Hari ibu di sini dimaksudkan untuk memperingati Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali diadakan pada 22-25 Desember 1928 di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Sekedar tambahan, yang datang di kongres itu adalah 30 organisasi feminis dari Jawa dan Sumatera.



Sebagai muslim, saya memiliki seseorang yang harus saya hormati lebih dari siapapun, yaitu ibu.
Yang tidak boleh saya ucapkan kata 'ah' padanya (bisa lihat Al Qur'an Surah Al Isra' ayat 23)--apalagi jika perkataan yang lebih buruk.
Yang setiap hari harus saya doakan. "Ya Allah, lindungilah, jagalah, sayangi ia seperti dahulu ia melakukannya padaku..."


Note:

Untuk ilmu lebih jauh agar aqidah tetap terjaga, bisa mampir ke Lapak Tetangga Ini.
 Jika ada yang berkata, "kan tradisi baik, nggak apa-apalah diikuti..." Berarti Anda belum mampir dan baca tuntas tulisan di lapak tetangga saya tadi :)

Islam telah memberikan saya paket yang lebih baik. Mereka punya tradisi. Saya punya prinsip. Semoga saya dan anak-anak dikuatkan untuk menggenggamnya hingga akhir hayat.

Untuk keluhan lebih lanjut, siapkan hati mendengar tausyiah di Nasehat Ustadz.





Akhir-akhir ini, konon ada beberapa jenis ibu. Pertama, FTM (full time mother), meski saya nggak ngerti-ngerti juga, kenapa harus ada istilah full time segala. Memangnya ada gitu ibu paro waktu? Kedua, SAHM (Stay At Home Mother), ketiga, WM (working mother), dan juga WAHM (working at home mother), saya sih pingin menambahkan: SAM (Studying Abroad Mother)--sayang saya nggak tahu harus mengajukan inisial itu kemana-- Anda yang mana? Yang manapun, setiap ibu punya ujiannya masing-masing. Tidak ada kelompok yang lebih baik dari yang lain. Lagian, siapa pula yang tega-teganya menyuruh para ibu ini berlomba.

Meski tidak secara resmi diperlombakan, tetap saja beberapa di antara kami merasa sedang berlomba. Mungkin darah kompetitif itu sudah dari sananya mengalir di beberapa orang. Atau tekanan hidup akhir-akhir ini--taulah, tentang reach your dream, you can if you will, be the best of your, etc etc--membuat kami, para ibu,mulai bertanya-tanya, sudah seberapa baik saya di depan dunia? (Saya anjurkan untuk mengganti kata dunia dengan kata anak/anak-anak, demi keselamatan jiwa Anda).


Beberapa saat yang lalu,salah seroang sahabat saya jatuh sakit. Ia pingsan di tengah-tengah aktifitasnya. Dengan bayi yang bahkan belum bisa duduk tegak,tentu saja hal ini mengkhawatirkan. Ia terlalu lelah, dan sebagai ibu menyusui (juga peronda malam) kekurangan waktu istirahat juga makanan baik. Menurut saya, makanan baik selalu dihasilkan oleh dapur sendiri, tidak peduli siapa yang masak. Dengan komposisi dan juga bumbu-bumbu yang bisa kita pastikan sehat dan bermanfaat. Masalahnya, sahabat saya bukan pemasak yang baik, ia juga kesulitan untuk menemukan sayur segar. Di tempat saya tinggal, untuk bisa mendapatkan sayur segar, Anda harus memburunya ke pasar yang buka dari pukul 7-10 pagi dan berpindah setiap harinya. Dengan keadaan bayi, minimnya transportasi, dll, ia juga kesulitan mendapatkan sayur dan makanan segar. Ah, andai saja ada yang siap siaga membantunya...
Oke, mungkin beberapa orang akan mengatakan "Ah, manja." atau "Seharusnya cari akal dan beradaptasi." But, we never know until we walk on her shoes.

Saya sendiri punya dua balita, tanpa asisten, tapi saya juga pernah mengalami masa abu-abu itu. Ketika menjalankan semua roda itu terasa berat dan sulit. Ketika saya berharap memiliki kemewahan untuk memilih cara lain dalam menjalankannya. Akhirnya saya memilih, I'm not wonder mom. Saya jalani saja yang ini semampunya, tidak usah ikut kompetisi Ibu Terbaik, Rumah yg Paling Rapi, Istri Idaman, Chef Rumahan Abad Ini, dll. Dan, nomor kontak asisten per jam masih tertempel di kulkas, kalau-kalau suatu hari saya berubah pikiran dan membutuhkan bantuannya.

Seorang sahabat lain lebih beruntung, memiliki uang lebih untuk membayar asisten. Ketika ada yang mengatakan, "Ya iyalah, dia bisa jadi Ibu Hebat, semua pekerjaan kasar dikerjakan pembantunya!" saya pikir, well, toh dia bayar dengan uangnya, bukan dengan uang saya. Dan dia pasti sudah berusaha dalam dimensi lain untuk menghasilkan uang itu. Atau mungkin dia hanya diberikan kemudahan oleh Allah untuk membayar orang. Bagi saya, setiap kebaikan yang diterima seseorang pastilah tidak semata-mata karena Tuhan ingin memanjakan dia. Mungkin dia sudah atau akan melewati sesuatu yang berat, siapalah kita yang bisa menebak-nebak hidup orang lain.

Sayangnya, seperti ada peraturan SAHM tidak boleh punya asisten. Apalagi anaknya cuma/baru satu. Hm... benarkah? Tergantung juga, apa Anda mau jadi kelabakan demi sebuah gelar super mom, atau memang Anda menikmati semua hal kerumahtanggaan ini. Buat saya, masalahnya memang di situ: Anda nyaman tidak? kalau nyaman, who cares what people say.




Jadi, kalau Anda, pembaca yang disayangi Tuhan, sedang menimang-nimang apakah layak mempekerjakan seorang asisten di rumah, padahal Anda adalah SAHM, pertimbangkan hal-hal berikut:


1. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa terjebak dalam rutinitas tidak berguna yang hanya menghabiskan tenaga--ngepel sehari lima kali, nyuci lap sehari dua kali, masak satu jam dikali tiga dikali empat orang,etc-- Kalau Anda pikir lebih baik waktu itu Anda habiskan dengan anak-anak, bukankah itu lebih baik?

2. Pekerjakan Asisten, kalau Anda mulai berpikir anak-anak telah mencabut Anda dari dunia nyata. Daripada Anda menyalahkan anak-anakkarena tidak punya waktu menikmati hidup, pekerjakan saja asisten

3. Pekerjakan Asisten, kalau setelah dua tahun menikah ternyata tidak satu orangpun di rumah merasa masakan Anda enak ^^ Tetaplah belajar memasak, tapi pastikan ada seseorang yang benar-benar bisa memasaka untuk anggota keluarga Anda, sementara Anda belajar.

4. Pekerjakan Asisten, kalau Anda merasa gampang lelah, memiliki riwayat penyakit tertentu, dan mudah marah atau pingsan saat lelah. Tidak ada keharusan menjadi Super Mom, ask for help, sebelum keadaan terlalu parah.

Tapi, sebelum Anda benar-benar mempekerjakan Asisten, cobalah beberapa hal ini:

1. Carilah akar masalah yang membuat Anda tidak bisa menangani urusan rumah tangga ini. 

2. Kenali apa yang membuat Anda nyaman. Saya sendiri nyaman dengan jadwal. Jika sesuatu melenceng dari jadwal, saya stress. Jaman dulu saya menyamankan diri dengan barang. Kalau mau fokus, maka saya harus memiliki barang bagus--kompor bagus, mangkok mie bagus, cangkir bagus, pemandangan bagus.... Well, I'm Human Beiiiing....

3. Anda kwalahan, atau cuma sedang bosan? Tarik nafaaaas....hembuuuus.... ayo take a break. Daripada membayar Asisten untuk sebulan penuh, mungkin Anda cuma perlu mengajak anak-anak ke rumah ibu atau mertua dan mendapatkan bantuan dan nasehat di sana (kalau saya, untuk mendapatkan tidur lebih sementara anak-anak bermain dengan nenek kakeknya).

4. Kenali apa yang Anda bisa kerjakan dan yang tidak. Kerjakan yang Anda bisa, pelajari yang Anda pikir Anda akan bisa, dan sisanya, mungkin bisa Anda serahkan pada ahlinya. Saya tidak bisa menyetrika. Seumur hidup, selalu ada orang yang membantu saya mengerjakan itu. Ibu, lalu adik perempuan.... dan sekarang tukang setrika. Saya membayar Asisten milik tetangga saya untuk menyetrika. Hanya setengah jam sehari. Dia mendapatkan upah di jam istirahat siangnya, dan saya tidak perlu pusing melihat pakaian berserakan. Anda akan temukan siasat lain, cobalah!

5. Bicarakan dengan pasangan, apa yang membuat Anda kwalahan. Mungkin sebenarnya dia bisa bantu cuci piring atau buang sampah, hanya saja Anda tidak pernah memintanya! You know them, moms....

Sekarang, kalau Anda yakin benar-benar perlu Asisten, tinggal lakukan dua hal ini:

1. Cek catatan finansial Anda, apakah ada pos yang bisa disiasati atau memang ada dana lebih untuk menggaji.

2. Bicarakan dengan pasangan. Apakah Anda memang perlu Asisten penuh waktu, tukang masak, atau tukang cuci-setrika.

Tapi, ada hal yang membuat saya benar-benar kesal! Yaitu, ibu yang membayar Asisten, Nanny, Koki.... dan dia menghabiskan waktunya di depan layar facebook.... Agar tidak disesali dikemudian hari, catatlah hal ini: anak Anda akan tumbuh dewasa dengan membawa ingatan apa yang telah ibunya lakukan untuk menemaninya belajar tentang dunia.