Mungkin Anda pernah membaca artikel tentang "Istri Bukan Pembantu". Kalau belum, Anda akan dengan mudah mendapatkannya melalui Google atau Facebook. What do you think?:)

Tentu, post tersebut banyak mendulang tanda jempol di Facebook. Apalagi yang share. Adapula yang men-tag suaminya... whatever it means.
Saya menulis ini tanpa berniat menyinggung sesiapa. Kita sudah dewasa dan bebas berpikir, I guess. And I hope you agree.

Saya seorang ibu, yang pasti merasa tersinggung ketika ada yang menghina perempuan dan peran seorang ibu. Tapi, ketika ada yang membesar-besarkan peran ibu (terutama ibu rumah tangga) entah mengapa saya merasa tidak nyaman, meski saya sendiri adalah ibu rumah tangga.
Bagi saya, ibu-ibu di masa lalu adalah sosok sempurna untuk dicontoh keikhlasannya. Sulit membayangkan mereka bisa bercerita tentang 'baru membuatkan kopi untuk suami, masak ini, itu, ngepel, nyapu' pada halayak seperti yang beberapa orang lakukan di Facebook :)

Saya tidak menyalahkan mereka yang senang berbagi di Facebook. Itu hak setiap pengguna Facebook. Memaki-maki di Facebook saja tidak bisa ditangkap polisi, apalagi cuma menyebut agenda
harian di dapur.

Kembali pada peran ibu. Kenapa saya bilang mereka terlalu membesar-besarkan? Semua ibu rumahan tanpa pembantu seperti saya pasti tahu rasanya berada dalam jet coaster itu. Tapi maaf, saya rasa kami sepakat bahwa kami melakukannya bukan untuk dikenal media sebagai 'pahlawan rumah tangga'. Peran sebagai ibu dan istri itu bukan pekerjaan, itu adalah ujian yang diberikan Tuhan ketika seseorang memasuki perjanjian yang namanya pernikahan. Semua bentuk balasan yang kita terima--baik maupun buruk-- tidaklah cash and carry. Melainkan seperti deposit, yang hanya bisa diambil saat kita sudah dihidupkan kembali, kelak.

Bahkan, ketika seorang ibu mendengar kata TERIMA KASIH, ia tersenyum senang bukanlah karena mengetahui pekerjaannya dihargai, namun karena suami atau anaknya adalah orang baik yang tak sungkan berterima kasih. Seorang ibu mengambilnya sebagai sebuah pelajaran, bukan sebagai kebanggan pribadi.

Seorang ibu merasa lega ketika anak dan suaminya menjadi orang baik. Bukan untuk dibanggakan pada orang lain. Agar, jikalau ia harus berpulang lebih dulu, ia telah menyiapkan anak dan suaminya sebagajiwa-jiwa yang kuat dan baik. Itu saja.

Jadi, ketika ada yang berkoar-koar tentang 'hargai kami sebagai istri, jangan jadikan kami pembantu' dan rengekan lainnya...

Perasaan saya campur aduk.
Seperti menagih pada manusia atas sesuatu yang saya lakukan untuk Allah. Pantaskah? Padahal yang kami upayakan belum seberapa. Toh kami masih diberi rejeki, diberi anak-anak sebagai penyambung nafas dan nama. Bahkan sebenarnya, kami bisa memilih melalui doa.

Saya jadi bertanya-tanya, benarkah ada yang pernah menyebut para istri sebagai pembantu? Saya merasa, kalaulah para ibu, ibu mertua, suami, dan anak mengetahui bagaimana orang yang selama ini memudahkan mereka menganggap telah diperlakukan sebagai pembantu.... mereka pasti sedih. Mereka pasti tidak mau dianggap telah semena-mena. Mereka mungkin akan berkata, "kenapa tidak kau katakan saja tidak bisa, daripada mengatakan kami mendzalimimu?" Sungguh berat beban yang ditimpakan pada mereka, padahal mereka tidak tahu...

Ah...sedihnya.

Seorang istri adalah pembantu; mengerjakan banyak hal sekaligus, diperintah ini itu, masih juga diprotes. Anak dan suami bahkan mertua punya selera berbeda.... semua itu seperti memborbardir seorang istri. Itukah yang kau sebut sebagai pembantu? Bagiku kau terdengar seperti orang yang dicintai, dipercayai, dan dianugerahkan pundak yang kuat. Bukankah tidak ada beban yang melebihi pundak? Begitu janjiNya.

Pembantu itu dibayar. Sementara saya, dan saya yakin beberapa istri di luar sana setuju, kami akan tersinggung kalau apa yang kami berikan dinilai dengan uang. Maka, bukan. Kami BUKAN pembantu.

Pembantu mengerjakan semua hal karena diinstruksikan demikian. Kami, para istri, melakukan semua itu semata-mata untuk memudahkan penghuni rumah kami. Jika mereka lapang, sungguh kami senang. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya? Jika itu yang kau sebut sebagai pembantu.... baiklah, kami mungkin pembantu. Pelayan manusia yang mengharapkan ridha Allah.

Pembantu tidak boleh balik memerintah. Kami boleh. Bahkan kami akan membagi sedikit tugas ketika kami memerlukan tambahan waktu tidur. Kami diperbolehkan melakukannya, hanya saja ditantang soal bagaimana menyampaikan permintaan itu, karena laki-laki harus selalu mendengar permintaan dengan kalimat jelas, bukan sindiran, rajukan, atau ancaman samar. Apalagi lewat Facebook.

Janganlah nistakan diri kita dengan menganggap diri direndahkan oleh orang lain. Muliakan diri kita dengan melakukan banyak hal melelahkan itu semata-mata karena Allah mencintai yang demikian. Dan, jika kau sudah merasa sampai pada batasmu....

.........mintalah bantuan!

Beberapa istri nabi meminta bantuan dengan do'a. Siapa lagi yang lebih kuat dari DIA yang MAHA KUAT?
Lalu, mintalah bantuan pada suami, atau siapapun yang bisa mendengarmu.
Ukurlah kemampuan diri. Kerjakan sesuai kemampuan diri, bukan sesuai standar rumah tangga orang lain. Ringankan diri dari kompetisi menjadi ibu rumah tangga paling tulen. Hati yang ringan, ibu yang bahagia, lebih akan dikenang keluarga daripada rumah yang cantik.
Jika berkemampuan lebih, lebih baik membayar pembantu betulan daripada menghinakan diri di depan publik dengan mengatakan bahwa sebagai istri kita dianggap pembantu.
Kalau tidak punya kelebihan dana untuk membayar pembantu... jangan memaksakan diri. Dapur yang keren adalah dapur yang berantakan, istana yang menyenangkan adalah tempat anak bebas bermain tanpa  khawatir soal kerapian. Masakan paling enak adalah yang dimasak dengan cinta, bukan seberapa ribetnya proses itu. Buang hal-hal tidak penting yang menguras tenaga, termasuk Facebook-an tengah malam jika tidak mengundang manfaat (lebih baik tidur).

 (Beneran saya heran, para ibu yang mengeluh dirinya menjadi budak rumah tangga, padahal suaminya memberikan laptop, jaringan internet, dan malam hari ketika anak dan suami tidur mereka bebas berselancar di dunia maya. Mana ada budak semewah itu?)

Menjadi istri dan ibu adalah peluang terbaik mengatur tenaga dan pikiran. Fokus pada apa yang menjadi tanggung jawab, dan abaikan apa yang tidak memberi pengaruh signifikan pada kehidupan sekarang dan di masa yang akan datang.

Ada banyak para istri yang benar-benar membanting tulang di luar sana. Semoga Allah merahmatinya dan memudahkan urusan mereka.Sementara pada istri yang diberi kelapangan, teruslah berkarya, mendidik anak, menjadi teladan, memberi pengaruh baik bagi sesama.


Bagaimana dengan suami yang berperilaku semena-mena memerintah istrinya? Suami jenis pemalas tidak berguna?

Mungkin tidak sesederhana saya mengatakannya. Tapi, bisa jadi kita memiliki banyak pilihan; memberitahunya dengan jelas, mendiskusikannya, memengaruhinya pelan-pelan... Karena suami yang malas adalah ujian bagi istri shalihah. Memperbaiki hubungan dengan Allah akan memudahkan kita memperbaiki hubungan dengan manusia, itu yang saya yakini. Banyak cara yang layak dicoba, namun, mendzalimi diri sendiri dengan mengemis belas kasih manusia--dengan menghinakan suami dan keluarga-- tentulah bukan cara yang bijak.

Apa yang kita keluhkan dari ini, akan memengaruhi apa yang akan kita kenang di masa yang akan datang.

wallahu 'alam. Nasehati saya jika salah.
It's about a week ago.
Saya menggandeng jemari putri 4tahun saya keluar dari sebuah mall ketika hari sudah gelap. Angin dingin musim kemarau terasa kering dan menusuk. Sementara udara berbau panas dan pengap. Kami melewati parkiran mobil, dan saya melihatnya di sana:
Terbaring, meringkuk, di antara dua mobil, seorang bocah lelaki kurus bersweater abu-abu.
Saya pelan-pelan mengingatnya. Ia adalah yang beberapa waktu lalu berada di dalam mall, menawarkan jasanya untuk membawakan barang saya. Saya telah menolaknya, karena barang saya tidak banyak. Dan dalam hati sempat berkata, kenapa bocah itu ada di dalam mall? Ya, dengan suara hati yang sedikit jahat.

Kembali ke parkiran. Putri saya menahan lengan saya agar berhenti dan memberikan sesuatu pada bocah itu. Don't ask. Putri saya menganggap semua yang duduk dan tidur di tanah wajib diberi recehan. And don't ask how could she has that idea. I don't know.


Saya hanya memelankan langkah, sambil meminta putri saya tidak melepaskan genggamannya. Sambil sesekali menoleh ke belakang, saya berpikir...

Alangkah sedihnya anak itu. Tidur karena kelelahan.
Apakah ia sudah makan? Karena ia meringkuk...seolah menahan perutnya yang kosong.
Mobil di sebelahnya menyala, menghidupkan lampu sorot. Ia terbangun. Terkejut, dan menyingkirkan barangnya yang tak seberapa; satu kresek kecil yang entah apa isinya.

Saya masih berdiri di sana, menoleh ke belakang, berpikir...
Kira-kira di mana rumahnya?
Kemana ibunya? Atau ayahnya?
Kalau saya beri dia uang... apakah tidak berarti meengawetkan ia dalam kehidupan jalanan?
Kalau saya ajak ia masuk dan makan... tidakkah itu sama dengan memberi pembenaran pada sikap pengemis?

Sementara putri saya menarik-narik tangan saya untuk kembali, saya bergeming.
Anak itu....

Lalu, saya melihat seorang wanita menghampiri anak itu. Ia membungkuk dan mengatakan sesuatu. Perempuan itu mengeluarkan sekotak makanan dari barang bawaannya. Ia mengelus kepala anak itu sesaat, tampaknya karena anak itu mengucapkan sesuatu. Entah apa. Lalu perempuan itu beranjak pergi. Anak saya tidak menarik-narik tangan saya lagi. Saya kembali berjalan, dengan hati tergugu. Saya kehilangan satu kesempatan. Kenapa bukan saya?

Karena saya terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak kalkulasi. Terlalu banyak pertimbangan. Saya mengkhawatirkan masa depan negara dan mental bangsa, sementara satu orang kelaparan benar-benar ada di depan saya.
Baiklah, government. Kalau Pemerintah memang mau merawat mereka di Dinas Sosial, go on. Itu tugas mereka. But, please, jangan mempengaruhi saya lagi untuk mencegah sedekah. Karena ketika Dinas Sosial menjadi tanggung jawabmu, hey Gov, biarkan saya menyelesaikan tanggung jawab yang ada di depan saya. Mereka yang diperlihatkan Tuhan ke depan mata saya sedang menadahkan tangan.



Rasanya ngilu, ketika mendengar seorang ibu menghakimi ibu lain dengan ringan. Ringan, mungkin tidak dimaksudkan. Ringan, mungkin karena terbiasa. Tapi, bagaimana bisa membiarkan dirimu berlidah tajam tanpa menimbang-nimbang perasaan orang lain? Rasanya memang ngilu, bukan?

Ketika anak nilainya rendah, "Hah, ibunya kan guruuu?"
Ketika anaknya sakit ketiga kali dalam sebulan ini, "Nggak diperhatiin sih makanannya...."
Ketika anaknya belum mandi jam empat sore, "Ibumu kemana? Kok jam segini masih jorok??"
Ketika anaknya bertambah, "Ampun deh, lagi??? Yang ada aja nggak keurus."
Ketika ibunya kembali bekerja, "tugas perempuan itu di rumah..."


Kita lupa:
Bahwa anaknya guru pun harus belajar sama seperti anak-anak lain; kadang bersemangat, kadang tidak; lebih hebat di matematika, atau bahasa.

Bahwa sakitnya anak adalah ujian paling berat bagi seorang ibu. Apa kau pikir seorang ibu sengaja membuat anaknya terbaring, bernafas satu demi satu...sementara tiap tarikan nafasnya terasa seperti duri yang dicabut dari dagingmu....

Bahwa si ibu tidak memandikan anaknya pukul 4 sore, agar anaknya bebas berkeringat dan berlumpur. Untuk apa memamerkan anak yang sudah mandi?? Kelihatan bagus di mata orang mungkin adalah sumber kebahagiaan sebagian ibu, tapi tidak semua ibu. Lagi pula, sejak kapan jam mandi itu harus seragam, bu?

Bahwa bagi sebagian orang, mendapatkan anak adalah berkah. Penugasan yang mulia. Semangat untuk mencari rejeki lebih. Semangat untuk menjadi contoh yang lebih baik. Dan, hey, by the way, mungkin salah satu anaknya akan menjadi dokter dan mengobati kita kelak. 

Bahwa ketika seorang perempuan bekerja keluar rumah... kita tidak tahu, mungkin ia memiliki ibu dan adik yang harus dinafkahi. Atau ia ingin memiliki sedekah tanpa membebani suaminya. 

Ngilu, bukan, rasanya?

Padahal, darimulah, duhai para ibu, seorang ibu berharap dimengerti. Karena, meski ujian kita tidak sama, tapi bukankah kau adalah satu-satunya peran, hai ibu, yang akan memahami apa yang dirasakan seorang ibu?

--Bahwa setiap ibu pasti mencoba melakukan yang terbaik untuk anak dan keluarganya---

But, somehow, ujian kita berbeda. Ia mungkin tersandung ketika diuji masalah keuangan. Kau, mungkin akan diuji tentang kesyukuran. Aku, sudah jelas diuji tentang kesabaran.

Tidakkah akan lebih indah, jika seorang ibu memberikan dukungan dan mengenyahkan prasangkanya terhadap ibu lain? Karena... sekali lagi, bukankah kau yang seharusnya paling memahami besarnya tanggung jawab sebagai ibu? Karena kita sama-sama ibu. Itulah kesamaan kita.








Ada masa, ketika kau merasa langit akan runtuh menimpamu…
Kau kira itulah batas mampumu,
Kau kira itulah ujian terberatmu.
Belum.
Itu hanya latihan-latihan kecil untuk masa depan yang lebih besar.

Ingatkah kau, tentang pundak yang kau rasa terlalu lelah dengan segala beban?
Lalu kau pinta Ia--Yang Maha Kuat-- mengurangi bebanmu.
Jangan.
Mintalah Ia menguatkan pundakmu,
Karena beban kecil hanya untuk orang kecil. 
Dan, mintalah hati seluas langit tak bertepi; sabar yang tak berbatas…

Ingatkan kau pada sujud-sujud panjang,
ketika kau merasa lebih baik melesak ke dalam bumi, dari pada berdiri menghadapinya?

Sabar,
Yang perlu kau hadapi hanya dirimu sendiri; rasa engganmu, rasa takutmu, rasa tak layakmu. Dari awal hingga akhirnya, ternyata itu hanya perasaanmu…

Ingatkah kau saat kakimu ragu melangkah, 
Karena kau takut orang sedang menunggu pembuktianmu; bahwa kau ada, kau bisa.
Tetaplah melangkah, jika mereka punya waktu untuk menonton nasibmu, menggunjingkan nasibmu, mereka juga harusnya bisa menunggu. 

Saat kau merasa,
Semua jalan berujung buntu, semua pintu terkunci, semua rambu tak terbaca…
Kau hanya mematung dan bingung, tak tahu harus mengetuk pintu yang mana..
Saat kau merasa sendiri, tak ada yang peduli,
Lupakah kau, pada kalimatNya, “Dan, apa bila hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”

Jika kau telah mengingatNya, apakah kau kira Ia tak mengingatmu?

Saat kau merasa, kau telah mengetuk semua pintu, tapi jawaban yang kau dengar hanya kebisuan. Percayalah, kadang kau memang harus menunggu…

Ingatkah kau, pada masa-masa tersulitmu, yang kau kira bisa menjadi akhir segalanya,
Ternyata,
kau masih bisa berdiri dan berjalan lagi.
kau bahkan akan mengenal senangnya mengenang kesulitan yang sudah lewat.

Saat kau merasa orang melejit dengan hebat,
Seperti melihat rumput tetangga yang lebih hijau,
Kau hanya perlu bertanya bagaimana dia menyiramnya, di mana dia membeli pupuknya…
Kadangkala, makhluk dari api itu membisiki telingamu tentang kemudahan orang, tapi menutupi matamu dari kesukaran yang harus dilewati orang…

Saat kau tak lagi sanggup berdiri, dan tak tau hendak kemana,
Ingatkah kau tentang ketakutan Abu Bakar di samping Rasulullah dalam sebuah gua, di tengah kepungan musuh yang murka,
Saat itu Rasulullah berkata, “janganlah kau berduka cita, sesungguhNya Allah beserta kita…”
Maka pintu langit terbuka, dan Ia menurunkan bala bantuanNya…



Dear teman-teman,

Lama nggak mosting apa-apa, kira-kira hampir sebulan. Atau lebih? >,< terkena flu batuk setelah pulang dari pantai (gathering kantor Ayah Iban) lalu disambung darah rendah (tekanannya maksud saya), dan gula darah naik (keenakan ngemut sari kurma). Lalu ada fase ketagihan kronis pada Novel-novel Meg Cabot, Videos Keith Urban, dan bernostalgia dengan Detective Conan. Tidak bergerak banyak membuat virus di tubuh (termasuk yang bergenre malas) lama baru beranjak. Ditambah saya protes menuntut dihadirkannya meja baru untuk tempat saya menulis dengan alasan sakit pinggang, and many else... Sekarang, setelah banyak bergerak dan merasa sehat, saya pun berpikir, kalau tahu begini dari kemarin-kemarin saya segera bergerak. Well, memang klise, tapi obat malas dan segala penyakit itu memang yang pertama-tama adalah: MOVE!

Bagaimana dengan anak-anak? Owh, mereka tetaplah the most ear-bleeding screamer. Emaknya sakit tidak membuat tuntutan mereka menurun. What they know is that the universe rotates for them. But, Thanks Allah, keduanya sedang dalam fase Freakin' in Jigsaw. *sigh* Mereka bertahan dengan satu puzzle untuk beberapa hari (3-4), dengan tipe puzzle delapan keping ke bawah. Oh, my lil boy did the 10 pieces. Dan awalnya memang selalu bertanya, "Bunda lihat ini seharusnya di mana? Apa di sini? Atau di sini?" nooo, they don't actually need your answer for sure. Saya cuma menjawab, "Yap. Mungkin di situ. atau coba di sebelah sana. Mungkin kalau diputar?" Sure, sometime I did while I closed my eyes. I got the headache, remember??

But then, mereka pun mulai menghafal letak keping2 jigsaw itu, dan perlahan mulai kehilangan rasa asiknya (yang kemudian disusul hilangnya keping-keping puzzle itu ke bawah meja, bawah lemari, bawah tumpukan baju di lemari....) Oke, itu bukan hilang, tapi nyelip.

Saya tidak punya tenaga untuk ke toko buku mencari puzzle baru, dan mengingat satu buah berharga 5000 rupiah, plus ongkos 30 ribu rupiah... well, I thought it's the time for DIY! *Tiup terompet perang*

Kami pun membongkar-bongkar lemari buku anak. Mencari inspirasi. Oh well, thanks pada beberapa majalah Disney yang memberi bonus puzzle jigsaw yang belum sempat terpakai. Tapi akhirnya jigsaw itupun solved! Kembali mencari ide.... So I made it:
1. Ada majalah Tinker Bell yang sudah kehilangan cover. Saya buka halaman komik (whatever it's named!)

2. Ambil dus susu yang sudha nyaris masuk ke keranjang daur ulang, lem, gunting (tau nggak, ini gunting kemarin dipakai untuk motong ekor ikan gurame, karena gunting di dapur bunda lagi susah dihubungi).

3. Gunting gambar, rekatkan seluruhnya super rapat ke balik dus bekas. Potng suka hati, saya sih motongnya rata jadi enam bagian.




4. Here we go!

As I have mentioned before... anak-anak suuuka sekali kalau sudah berurusan dengan gunting dan lem! Selamat bersenang-senang!

N.B: Pastikan halaman yang Anda gunting bebas gugatan. Anda juga bisa membuatnya dari halaman iklan yang berkilau di majalah.

          Siapa yang tidak cinta pada buah hatinya? Rahmat Allah yang diturunkan pada kita, sepasang ibu dan ayah. Darah kita mengalir di tubuhnya. Raut kita terpahat di wajahnya. Ia menjadi ahli waris kita. Mewarisi nama, harta, ilmu. Ia menjadi medan amal bagi kita. Ia menjadi amal yang pahalanya akan terus mengalir. Doanya, doa anak shaleh, menjadi peringan beban kita di yaumul akhir.

Cinta kita begitu besar. Sampai lupa mengapa kita mencintainya. Sebagian kita mengatakan cinta tanpa syarat. Sehingga kita rela memberi segalanya. Segala yang menurut kita akan membuatnya bahagia. Kita lupa, hakikat dirinya sama dengan kita: hamba yang diturunkan ke bumi untuk beribadah.

Kita takut dia sakit. Kita takut dia terluka. Kita ingin dia selalu baik-baik saja. Kita lupa, dia bisa tetap baik-baik saja meski dia sakit, dia terluka, jika hatinya di tempat yang aman: di dekat Rabb-nya.
Anak-anak ibarat spons. Ia menyerap segalanya. Bukan hanya apa yang dikatakan padanya. Tapi juga apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia lakukan bersama orang lain. Serapan-serapan itu, saya yakini sebagai apa yang akan membentuknya kelak.
Usia putri saya tiga tahun. Waktu bergulir cepat, dan saya merasa berbalapan dengan waktu untuk mengenalkannya dengan hakikat diri sebagai ciptaan Allah. Dulu saya bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk memulai semua itu. Lalu saya sadar, waktu itu tidak perlu ditunggu. Proses ini adalah proses panjang yang harus dicicil sedikit demi sedikit.
Anak-anak senang meniru. Mereka melekat pada kebiasaan. Ketika menjadi orang tua, tampaknya kata teladan dan konsisten juga disematkan di pundak kita. Anak-anak seperti pengawas yang akan meniru semua perilaku kita, baik atau buruk, bahkan yang paling tidak sengaja seklipun. Bukan perkara mudah, karena saat malas menyerang saya, ada sepasang mata manusia kecil yang mengawasi. Ada sebuah kepala mungil dengan otak aktif yang sedang berpikir dan mencerna mengapa saya demikian. Ada sebuah hati yang begitu bersih sedang berdebat apakah ia akan meniru saya atau memprotes saya. Seringnya, ia memprotes saya. Bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Sejatinya, mereka sedang menguji seberapa konsisten orang tuanya.
Saat usianya belum 2 tahun, dia sudah berdiri di sebelah saya untuk ikut shalat. Saat itu dia belum memiliki mukena sendiri. Dengan perasaan campur aduk, saya memakaikannya jilbab saya yang tentu saja kebesaran untuknya. Dia begitu senang dengan ‘mukenanya’ itu. setelah adzan berkumandang, dia akan membuntuti saya atau ayahnya untuk berwudhu, memperhatikan cara kami, dan menirunya. Tak perlu banyak intruksi tambahan, hanya membuatnya kesal dan batal mengikuti. Ia senang meniru tanpa ketahuan kalau dia sedang meniru, begitulah anak-anak. Mereka senang diberi tahu apa yang sedang kita lakukan, tapi pura-pura tak mendengar ketika kita memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kadang dia enggan, kadang dia bergerak lebih dulu ketika adzan berkumandang. Seolah-olah ingin menguji, seberapa sabar dan konsisten kita melakukannya. Jika kita lulus, sisanya lebih mudah, mereka akan meniru konsistensi kita. Sampai ia tahu fungsi adzan adalah memanggil orang untuk shalat. Ia pun dengan ringan berkata, “sudah adzan, kok nggak shalat?” Ya. Kadangkala lisan mereka menjadi perpanjangan teguran Allah.
            Jika gerakan shalat mudah ia tiru, tidak demikian dengan bacaannya. Semakin dini memperkenalkannya, semakin baik. Meski mereka hanya pendengar pasif, ternyata semua yang saya lafalkan terekam dengan baik. Tak apa-apa shalat menjadi lebih panjang karena harus mengeraskan suara dan membacanya pelan-pelan, karena ada anak yang mengikuti di sebelah kita. Anak usia 2 tahun saya bertahan hanya sampai rakaat kedua. Tak masalah bagi kami. Mendekati salam, dia akan kembali duduk dan menunggu waktunya berdoa.
            Suatu kali, saya sudah membaca ulang surah Al Ikhlas setidaknya tiga kali. Dan, bukannya mengikuti potongan demi potongan, anak saya malah memainkan rambutnya. Hati saya sedikit kecewa. Tapi saya memilih memejamkan mata dan pura-pura tidur. Pelan-pelan, saya mendengarnya mengulangi surah itu sepotong demi sepotong. Suaranya begitu halus, seolah takut membangunkan saya. Dia menyerapnya, meski belum sempurna di telinga saya, tapi saya tahu sudah terekam dengan baik di kepalanya. Hanya masalah waktu sampai dia bisa mengucapkannya dengan sempurna.
            Saya tak berani muluk-muluk memasang target anak menghafal sebuah surah. Menyenangkan memang ketika melihat ada anak sesusianya yang sudah hafal satu atau dua surah pendek. Tapi setiap anak berbeda. Bisa jadi anak itu sudah memulai lebih awal, bahkan di dalam kandungan. Membebani diri dan anak dengan target hanya akan membuat proses belajar itu sebagai sesuatu yang berat. Menjadi tergesa-gesa, dan akhirnya terjebak untuk kecewa. Padahal, setiap sorot kecewa di mata kita, diserap anak dalam benaknya, membuat mereka enggan, takut, dan tidak percaya diri.
            Begitu pula dengan mengaji. Awalnya dia mengikuti orang tua di dekatnya, ikut membuka sebuah Al-Qur’an, dan bersuara layaknya orang mengaji. Saya mengikuti alur itu. Ketika dia mulai menunjukkan kesanggupan untuk lebih, saya memberikannya buku Iqra’ jilid satu.
Ketika saya kecil, jam-jam belajar Al-Qur’an adalah jam yang tidak mengenakkan. Hanya karena guru mengaji saya suka memukul dengan rotan, keseluruhan yang saya ingat dari proses itu adalah sakitnya. Saya tidak menginginkan hal yang sama pada anak saya. Maka upaya pertama saya adalah membuat momen itu menyenangkan. Ketika ayah dan ibu duduk bersama, mengaji bersama, dalam suasana tenang tanpa ketegangan. Apakah saya akan memberikan hadiah boneka untuk prestasinya dalam mengaji? Tidak. Saya memujinya, mengucapkan hamdallah, tapi tidak memberinya sesuatu untuk membelokkan motivasinya. Jika dia lelah, dia boleh berhenti. “Allah pasti pasti rindu suaramu membaca surat-surat-Nya, apa kita besok mengaji lagi?”
Lalu, datanglah masa ketika saya mulai bertanya-tanya. Rutinitas beribadah tidaklah cukup. Bagaimana agar ibadah-ibadahnya tidak sekedar rutinitas, sehingga saya membenarkan segala cara untuk membuatnya menepati tenggat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan jajan tambahan agar anaknya shalat tepat waktu. Berapa banyak orang tua yang memberikan kerudung cantik dan menakut-nakuti agar anaknya berjilbab. Tapi, di kemudian hari, anak-anak itu membelok dan mematahkan semua rutinitas itu, seperti mematahkan pohon yang tak berakar. Mendirikan shalat yang kosong, memakai kerudung yang hanya menutupi rambut. Bagian mana yang salah?
Mengenalkan anak pada Allah sama pentingnya dengan mengenalkan anak pada ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Membuat anak mengerti mengapa ia harus shalat, mengapa ia perlu membaca surat-surat Allah dalam Al-Qur’an, mengapa ia perlu mengenal dan mencintai Rasuulullah.
Banyak orang mengatakan, berbicara dengan anak menggunakan bahasa sederhana. Saya percaya, kemampuan anak lebih dari yang kita duga. Mengajaknya mengenal Allah dalam keseharian, dalam rinai hujan yang turun, dalam gugurnya daun-daun, dalam lezatnya hidangan, bahkan dalam petir yang menggelegar. Ada campur tangan Allah dalam segala hal. Itu menjadi pondasi kuat ketika mengajaknya untuk mendekati Allah.
            Petang itu dua balita saya bermain di lapangan yang luas. Matahari bersinar hangat dan langit begitu indah dengan awan-awannya yang berarak. Putri saya memunguti buah yang bertebaran di antara rerumputan, memasukkannya ke dalam keranjang. Ia begitu takjub melihat buah berwarna kuning kemilau itu. Seperti ketika baru mendapatkan sebuah pemberian, dia bertanya pada saya, “Bunda, ini dari siapa?”
Saya menunjuk pohon yang berbaris di tepi lapangan. Pohon itu menjulang tinggi. “Dari sana, mungkin dibawa angina dan burung, jatuh ke tengah rumput-rumput,” jelas saya panjang lebar. 
“Bukan itu. Ini dari siapa?” tanyanya sekali lagi, dengan penekanan pada kata siapa. Kalimatnya belum terlalu jelas, saya menebak-nebak arah pembicaraannya.
“Dari Allah,” jawab saya pendek, menguji akan kemana lagi dia mengarahkan pembicaraan ini.
“Seperti hidung? Rambut? Mata?”
“Ya benar. Ini pemberian Allah untuk pohon itu, seperti Allah memberi kita hidung, mata, dan semuanya.”
Dia puas dan melanjutkan kegiatannya, memunguti buah.
Magrib itu, sekali lagi dia menguji kesabaran saya. Ia ngambek, tidak mau ikut shalat. Mungkin kelelahan. Ia tidak memakai mukenanya, hanya mondar-mandir di sekitar sajadah saya. Meski demikian, saya tetap mengeraskan suara. Begitu juga ketika berdoa, bershalawat, dan menyebut namanya dalam doa saya. Saat itu kegiatannya memutar-mutar sajadah saya terhenti. Ia menatap satu titik dan diam. Entah bagian mana yang diserapnya.
Saya mendiamkannya setelah itu. Sebagai tanda bahwa ia kehilangan sedikit perhatian saya karena tidak ikut shalat. Bagi saya, itu adalah imbalan yang pas. Menjelang tidur, usai membaca cerita, surah pendek, dan shalawat, tiba saatnya membaca doa tidur. Saya memintanya berbicara pada Allah, apa saja.
“Allah duduk d Arsy-Nya, di atas sana.”
“Di dekat bintang?”
“Lebih tinggi lagi.”
“Allah bisa dengar Ami?”
“Allah Maha Pendengar, Nak. Allah juga dengar waktu semut minta hujan berhenti supaya dia bisa menyeberang ke rumahnya, untuk membawakan anaknya gula.”
Saya meredupkan lampu, dan berbaring di sebelahnya. Ia tampaknya melihat saya menutup mata. Lalu saya mendengar kalimat itu, kalimat yang membuat saya dapat merasakan Allah sedang melihat putri saya. Allah sedang mendengar doa putri saya, doa yang datang dari hatinya, bukan dari meniru saya.
“Allah, maaf Ami nggak shalat magrib. Tolong jaga Ami, jaga bunda, jaga ayah, jaga dek Nizam, jaga semut, jaga nenek… makasi untuk buah-buahnya, ya Allah. Amiin…”


*Tulisan ini dimuat bersama kisah-kisah orang tua lainnya di buku yang gambarnya ada di sebelah ini. I'm wondering, kenapa judulnya panjang banget ^__^ 
cartoon by Ros Asquith
"Sudah bisa apa sekarang?"
Itu adalah pertanyaan yang umum dilontarkan antarorangtua tentang anak-anak mereka yang masih preschooler.
"April sudah bisa menghafal abjad!"
"Julia sudah bisa menggambar kelinci!"
"Okta sudah bisa menghafal tiga surat pendek."
Sebagian ibu berhati lapang akan menjawab, "Waa...hebaaat," sebagian lain tersenyum dan berpikir, "anakku sudah bisa apa ya?"
--saya berpikir, kadang-kadang sebagai orang tua kita membicarakan hal seperti di atas di depan anak-anak, tanpa menyadari bahwa mereka mendengar dan mencerna: bahwa Mama bangga padaku karena aku bisa melakukan ini/ Mama tidak menyebutkan aku sudah bisa ini// Mama bohong mengatakan aku bisa ini // Mama diam saja tidak membanggakanku, apa aku begitu buruk?-- mengapresiasi kehebatan anak ada porsinya. Tujuannya bukan agar orang lain mengetahui anak kita hebat, melainkan agar anak kita mengetahui bahwa kita menghargai dirinya.

Apakah saya ingin memiliki anak yang cerdas? Kalau cerdas berarti ia mampu membawa diri, mampu menyelesaikan masalahnya, sopan perilakunya, takut pada Tuhan, menyayangi sesama, bisa menolong orang lain...(panjang sekali daftarnya) ya, siapa yang tidak mau anaknya sehebat itu? Tapi, buat seorang ibu, cinta itu tanpa syarat. Cintanya tidak ada hubungan dengan apa-apa yang bisa dicapain buah hatinya. Belajarlah dari ketulusan seorang ibu yang anaknya memiliki keterbatasan. Lihat bagaimana mereka tetap setia mencintai dan mendukung buah hatinya. Dan nyatanya, cinta ibu yang utuh dan tanp syarat itu bahkan bisa menjadikan anak dengan keterbatasan fisik atau pertumbuhan menjadi anak hebat: anak yang bahagia karena ia tahu ia dicintai.

Raising Children

Ya, katakan padanya bahwa Anda bangga ketika dia bisa melakukan sesuatu. Tapi jangan cemberut dan mengeluh ketika ia tidak bisa melakukan hal lain.

Bagi saya, cerdas tidak selalu tentang IQ tinggi. Cerdas tidak hanya berarti ia menguasai apa yang orang lain tidak kuasai. Cerdas tidak sama dengan ia juara di kelasnya--bukan berarti saya menolak anak saya jadi juara, tapi itu bukan satu-satunya tolak ukur. Well, mugkin anak saya belum bisa mewarnai dengan benar, tapi dia sudah bisa mengocok telur dengan baik. Dia mungkin tidak hafal lagu Indonesia Raya, tapi dia sudah bisa menjawab telepon dengan sopan. Saya melihat kecerdasan dari berbagai sudut, itu intinya.

Pada 1900, Alfred Binet menemukan metode untuk mengukur kecerdasan melalui seperangkat tes yang disebut Intelligence Quotient atau IQ (dulunya dikenal sebagai Binet Test). Kalau Anda pernah menjalani tes ini, Anda pasti ingat bahwa rentetan pertanyaan itu based on two types of intelligences: Bahasa dan matematika-logika. Saya termasuk generasi yang kecerdasanya diukur oleh tingkat IQ. Generasi berikutnya mulai mengenal EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient), serta keduanya yakni ESQ.

Howard Gardner, psikolog dari Harvard University, melihat kembali kekurangan teori Binet. Kalau yang IQ-nya tinggi dikatakan cerdas, lalu bagaimana mereka yang tidak bisa menyelesaikan soal bahasa dan matematika itu? 
Pertanyaan sederhana itu yang membawa Gardner pada penelitiannya pada awal 1990-an yang kemudian menemukan teori Multiple Intelligences (MI). Sederhananya, kalau Binet mengukur kecerdasan melalui dua area kemampuan manusia, Gardner mengukurnya dalam area yang lebih luas, yang meliputi tujuh area kecerdasan. Ia menekankan, kita semua memiliki ketujuh potensi kecerdasan tersebut, meski tingkat perkembangan antara satu area dengan yang lainnya tidak sama. Namun kita dimungkinkan untuk melakukan stimulasi agar ketujuhnya dapat seimbang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, meskipun seorang anak belum bisa menyanyi (Music intelligence) ia sudah bisa menjawab telepon dengan baik (Interpersonal Intelligence). Dan ia bisa saja mengimbangi keduanya dengan stimulasi yang tepat dan bijak.


Perlu Anda ingat, tidak ada satu kecerdasan yang mengungguli kecerdasan lainnya. Seluruhnya menyumbang peran yang sama penting dalam kehidupan manusia. Amati kebiasaannya, dan gunakan untuk mendukung kecerdasannya.

Multiple Intelligences






Saya mencetak chart dari website Edorigami dan menempelnya di rumah agar saya selalu ingat bagaimana anak-anak saya belajar dan bagian mana yang masih harus didukung. Kenapa saya malah menampilkan banyak chart, bukannya menjelaskan.... it's simple, I want you to learn from the genuine source :) saya cuma menyertakan linknya. Biar lebih puasss gitu, Mam....

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak hebatnya?

# Mencintai tanpa syarat
Saya menyebutkan ini di awal tulisan. Love them just the way they are. Anak yang hebat adalah anak yang bahagia. Ia tahu dirinya dicintai orang tuanya, diinginkan, dipedulikan. Anak-anak dengan harga diri yang utuh akan lebih mudah untuk berkembang.

#Dampingi Ia Mengenal Dunia
Jangan biarkan anak mengenal dunia dari TV, di mana dunia itu penuh keajaiban, dunia itu banyak orang jahat, dunia itu melulu tentang cinta antarlawan jenis.
Bawa ia mengenal lingkungannya. Sepetak lapangan di dekat rumah bersama sekumpuluan bocah yang sedang bermain sepak bola--ia akan belajar tentang manusia lain dan bagiaman bersikap ramah. Semeter tanah yang ditanami cabe dan tomat--ia akan belajar tentang proses alam dan kesabaran. Mengunjungi saudara yang lama tak dijenguk--ia akan lihat indahnya silaturahmi. Membiarkannya membantu di dapur--ia akan belajar banyaaak hal!
berkebun

#Bukan berikan benda, tapi berikan waktu
Baiklaaah, dia mungkin akan senang ketika Anda membelikannya seperangkat mainan baru. Tapi akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang jika Anda juga memberikan waktu Anda. Percaya deh, setengah jam Anda temani pun dia mungkin sudah mulai bosan. Lagi pula, semakin mereka besar, semakin sedikit waktunya yang akan ia habiskan dengan kita, calon jompo ini. Saya sendiri berprinsip, temani sepuluh menit (matikan komputer, TV, Facebook, iPad, bahkan kompr!), dan selanjutnya biarkan mandiri dua puluh menit. Dengan porsi seperti itu, anak-anak cenderung bermain dengan tenang di 20 menit berikutnya karena ia sudah puas Anda perhatikan semata wayang di sepuluh menit awalnya. Coba saja, akan sangat berbeda dengan ketika Anda temani selama 30 menit tapi selama itu pula Anda sambi dengan pekerjaan lain.
itallkidsplay
 
#Biarkan imajinasinya berkembang
Kalau ia bilang barusan melihat bulan menyenggol bintang, percayai saja. Otaknya sedang mencoba mencerna bagaimana alam ini bekerja. Membantahnya hanya akan membuat ia kesal dan berhenti berpikir. Dengan loncatan-loncatan pikirannya, ia pada akhirnya akan sampai pada kenyataan sebenarnya. Di lain waktu, Anda bisa menemaninya membaca buku tentang bulan dan alam semesta. Ia pasti senang sekali mendapati kalau bukan cuma ia sendiri yang memikirkan alam semesta ini.


#Sediakan lingkungan yang mendukung kecerdasannya
Itu termasuk Anda. Kalau Anda suka membaca dan berdiskusi, anak-anak juga akan menyukainya. Dinding yang penuh coret cemoret adalah hal lumrah bagi Anda yang memiliki balita. Daripada menjauhkan krayon darinya, kenapa tidak mencoba alteratif lain i.e. memberikan ruangan/dinding yang bisa dia coret; lapisi dinding dengan kertas, berikan dia krayon yang bisa dihapus hanya dengan lap basah. Jangan hentikan anak yang suka bertanya, jangan larang ini itu selama tidak bahaya dan melanggar kesopanan.
CartoonStock

Melaranglah dengan bahasa yang enak di telinga anak. Daripada mengatakan, "jangan coreti buku Mama!" lebih baik megatakan, "coreti kertas ini saja ya, kertas Mama mau dibaca."

#Active body, active mind

Sekali lagi, jangan biarkan ia menghabiska kebanyakan waktunya di depan TV. Ini peringatan untuk saya sendiri sebenarnya. Anak-anak jelas akan menyukai TV, apalagi di usia 3-5 tahun dengan acara-acara Disney yang dibuat (memang) semenarik mungkin. Tapi, ia tidak akan belajar dari sana. Ia mungkin akan menerima satu atau dua informasi baru. Tapi ini terkait dengan cara belajarnya. Jika ia biasa hanya menerima, ia tentu akan sulit terstimulai untuk mencari sendiri. Berbeda dengan jika Anda melepaskannya di sepetak kebun untuk mencari ladybug, atau di lapangan untuk bermain bola bersama temannya. Sekedar contoh, Amy putri saya senang sekali dengan Jake and The Never Island Pirates, tapi tetap saja ia lebih tertarik dengan bermain pasar-pasaran bersama teman-temannya. Anak bisa dialihkan dari TV, selama kita mau mencarikan kegiatan alternatif yang memancing kegiatan fisik dan otak.

#Berikan nutrisi yang tepat
Tidak perlu mahal atau keren, yang penting adalah kelengkapan nutrisi dalam sebuah piring. Komposisinya adalah setengah buah dan sayur, seperempat grain (padi-padian), dan seperempat protein.
Tidak harus Apel kalau Anda cuma punya pepaya. Sudah tanggung jawab kita untuk belajar tentang nutrisi anak. Apa yang meraka makan dan tidak akan menjadi tanggung jawab kita--dunia akhirat kalau menurut saya.
Di usia-usia pertumbuhannya, anak membutuhkan banyak energi, baik untuk kinerja fisik maupun otaknya. Jangan lupa, makanan dan minuman itu haruslah halal dan baik. Halal ketika ia tidak mengandung sesuatu yang haram, juga tidak dihidangkan dengan cara yang haram (termasuk sumber uangnya), baik dalam artian makanan/minuman itu tidak mengandung bahaya atau sesuatu yang tidak baik. Seperti pengawet (bayangin nugget dan sosis di rumah ya Bu...hehe), pewarna (minuman anak-anak apa saja yang boleh ada di kulkas Anda?), dan proses yang berlebihan sehingga menghilangkan nutrisinya. Ayolah Bu, daripada beli buah kalengan yang diimpor dari Cina, lebih lengkap nutrisinya beli pepaya di kebun tetangga :)

#Beri makan otaknya, jasadnya, dan hatinya....
Diajari mengenal huruf sudah, diajak main ke sodara sudah, diajari sopan santun sudah, diberi susu murni sudah, brokoli juga habis... apalagi?

Kenalkan ia pada Penciptanya. Memulainya sedini mungkin dari hal terdekat. Misal, ketika ia bertanya, dari mana datangnya adik? Maka saya menjawab, "dititipkan Allah pada ayah dan bunda."
Jangan sampai kita mengenalkan anak kepada Tuhannya ketika menakut-nakutinya. "Kalau nasinya nggak habis nanti dimarahi Tuhan, lho!" Karena yang diingat anak kemudian hanya sisi kemurkaan Tuhan.
Ajak anak mengenal seluruh sifat Allah yang terentang di permukaan bumi :) Kenalkan anak pada RahmatNya dalam hujan yang turun, RahmanNya dalam rejeki yang turun, AkbarNya pada kemegahan jagad raya....



Setiap anak hebat--meski tidak perlu kita umumkan pada dunia tentang hebatnya anak kita--karena ia diberikan akal oleh Allah untuk berpikir. Tugas kitalah untuk mengenalkannya agar ia bisa menggunakan akal pikirannya agar bermanfaat bagi orang banyak. Membawa maslahat bagi ummat. Menjadi problem solver. Menjadi penyejuk hati di akhir zaman yang gersang ini... Aamiin.