Fineart
Beberapa tahun lalu, saat Ami baru saja lancar berbicara, ia sering mempertanyakan banyak hal. Kadang tercetus begitu saja di depan orang.
Saya ingat hari itu kami pergi ke toko sepatu di pinggir kota Jogja. Toko itu tidak terlalu ramai. Sementara saya mencoba sepatu, Ami duduk di sofa di dekat saya dengan tatapan yang menjelajahi ruangan. Tiba-tiba ia berseru, "Wah, orang itu ketiaknya kelihatan. Malu ya, Bunda?"

Saya spontan menoleh, bukan karena mau melihat ketiak, melainkan cemas seruan anak saya akan terdengar dan disalahpahami. Ternyata seorang asing, berambut pirang dan kulit pucat. Di siang terik, wanita itu memakai tank top hitam dan celana pendek coklat. Sepertinya ia tidak mendengar celetuk Ami, kalaupun dengar sepertinya ia tidak mengerti.
Saya mendekati Ami, dan berkata pelan. "Allah meminta Ami menutup ketiak, bukan?"
"ya," jawabnya mantap. "Juga perut, pantat, dan yang lain."
"Mungkin dia belum mendengar Allah. Jadi jangan bilang keras-keras, nanti dia jadi malu dan pergi."
Sungguh, itu bukan usaha yang sekali jadi. Pemahaman tentang akhlak agar tidak mencela pakaian orang itu saya tanamkan setiap kejadian muncul. Pada orang berbaju warna-warni, pada orang yang rambutnya tak biasa, pada orang yang risletingnya terbuka, pada semua bentuk yang tidak sesuai dengan apa yang ia pahami sebagai sesuatu yang harus terjadi atau dilakukan.

Ketika usianya memasuki empat. Seorang anak tetangga, berjilbab, berkata pada Ami yang memakai kaos dan celana. "Tidak malu, berpakaian seperti laki-laki!"

Putri saya pulang dan menangis. Saya bisa merasai luka hatinya. Naun saya tidak terkejut. Bahkan orang dewasa banyak yang sama 'polosnya' dalam berkomentar.

Beberapa orang tua mungkin bangga ketika anaknya berani menunjukkan jari pada orang yang berbeda darinya. Mereka bilang itu fitrah anak dalam menilai.

Bagi saya tidak.

Karena pemahaman saya yang masih dangkal ini belum memberitahu saya bahwa saya harus menuding dengan keras dan kasar pada orang yang menurut saya tidak sama dengan saya. Pada hati, pemahaman anak akan tumbuh mengenai mana yang benar, patut, dan mana yang belum benar dan tidak patut. Di akal, kebijakannya haruslah tumbuh pula dalam menimbang-nimbang bagaimana menyampaikan sesuatu dengan tepat. Pesan yang benar haruslah disampaikan dengan baik.

Ada berbagai alasan kita berbeda. Dan kalaupun saya tahu alasannya, tidak berarti saya berhak menilainya dan menjadi hakim di depannya. Ada cara halus untuk memberitahu mereka yang seiman, dan kerendahhatian untuk tidak memaksakan aturan dan nilai kita pada orang yang tidak seiman. Ya, kita perlu tegas. Tapi tidak mempermalukan sesiapa.

Di Facebook, saya sering menemukan bagaimana poster-poster mengibaratkan orang yang tidak menutup aurat seperti ayam. Mengatakan mereka yang tidak berhijab serendah benda mati. Saya sedih. Saya malu karena beberapa teman saya menganggap mempermalukan saudaranya adalah bentuk dari menjaga malu. Seolah-olah kehabisan kata-kata baik dalam menyeru.

Teringat pada sebuah buku yang saya baca di awal-awal kuliah. Buku itu berjudul Bekal Dakwah Akhwat yang ditulis Haidar Quffah. Di sana, Haidar bercerita, pernah ia berada dalam pesawat dan duduk di dekat seorang wanita. Parfum wanita itu tercium hingga ke hidungnya. Haidar paham bahwa wewangian wanita haram hukumnya sampai pada hidung lelaki. Tapi ia menahan diri dari menegur wanita tersebut. Pertama, ia tidak yakin wanita itu muslim dan mengetahui hukum tersebut. Kedua, ia tidak ingin membuat wanita itu malu karena menegurnya sementara ia adalah orang asing.
Saya lupa bagaimana akhirnya Haidar menyelesaikan perkara tersebut. Yang saya ingat adalah, betapa pengetahuan akan sesuatu tidak membuat kita berhak menerabas batas-batas kesopanan dalam menyampaikan pesan. Bahwa menjadi alim, berilmu, tidak membuat kita serta merta menjadi hakim dan wajib didengar di mana pun.

Kalaulah dakwah memang disampaikan dengan lidah pedas dan telunjuk tajam yang menyasar ke mana-mana, tentulah hari ini kita tidak akan mengenang Rasulullah sebagai pribadi yang berakhlak mulia. Satu kata yang sering dlupa: ADAB.



Di sekolah, ketika tiba waktunya bermain, ada pemandangan yang selalu sama.
Anak-anak yang heboh bermain, jungkir-balik, tertawa, menjerit, menangis.
Ada guru dan pengawas yang ikut gembira sekaligus cemas.
Ada orang tua dan pengasuh yang seperti elang, mengawasi dari jauh dalam diam, melesat cepat tepat sebelum sasaran jatuh ke tanah. Atau ada pula yang seperti bangau, yang sesekali mengangkat kepala dari gadget, dan berseru, "Awas!"

Ada yang hilang di sana.
Seseorang yang mengingatkan tentang baiknya mengantri, serunya bergiliran, asiknya bekerja sama, indahnya memaafkan.... di antara hiruk pikuk itu, sesungguhnya kesempatan untuk mengasah perilaku anak telah terbengkalai.

Alih-alih teriakan cemas dan segala larangan.

Ada yang hilang di taman bermain sekolah anak-anak hari itu. Pendidikan. Sejak perilaku baik dan sopan tinggallah kata-kata dalam poster di dinding kelas atau lembar-lembar buku. Kalah oleh gaung berhitung dan membaca.







Sekolah sudah bubar beberapa saat yang lalu. Masih ada beberapa anak bermain di halaman. Hujan turun rintik. Anak-anak tak peduli. Mereka berlari, memanjat, melompat. Menjerit dan tertawa. 
Saya duduk di gazebo di samping gerbang sekolah, menunggu jemputan datang. Tak jauh dari saya, seorang anak perempuan duduk dengan kakinya yang bergoyang. Matanya menatap teman-temannya yang sedang bermain, sesekali melempar pandang ke gerbang. 
Orin, gadis kecil bermata tajam dan berambut hitam lebat itu adalah anak dari kawasan tinggal saya juga. Ia juga sekelas dengan Yasmin, putri sulung saya. Kadang mereka memang berdua. Saya ingat Orin beberapa kali ikut makan dan mandi di rumah. 
"Hari ini Mama yang jemput?" tanya saya setelah menggeser duduk untuk lebih dekat dengannya.
"Em..." jawabnya, mengangguk dan kembali menggoyangkan kaki. 
Rinai hujan semakin rapat. Saya memanggil anak-anak agar berteduh. Mereka mengabaikan, tentu saja. Mereka baru mendekat dengan kepala basah beberapa menit kemudian, tergelak di antara kecipak air yang dihentak kaki-kaki kecilnya.
Jemputan datang.
Saya memanggil Orin, mengajaknya pulang bersama. "Nanti Tante telepon Mama Orin, ya? Mungkin Mama masih ada pekerjaan."
Orin menatap ke seberang jalan, tempat gedung kantor mamanya berada. Ia mengangguk, menyeret tas dan langkahnya.
Hujan sudha berhenti, menyisakan bau tanah dan rumput segar. Bunga pukul sepuluh tetap mekar dengan bandel di pot-pot di halaman. Sementara anak-anak masuk dengan berisiknya, saya mengantarkan Orin. Baru beberapa langkah, telepon saya berbunyi. Ada pesan masuk.

Bunda Ami? Masih di sekolah? Orin belum pulang juga Bu, bisakah tolong ibu lihatkan? Saya khawatir.

Saya segera membalas. Orin sudah dengan saya. Ini Mama Orin ya? Nomor baru ya Bu? :)

Di depan rumahnya, di bawah payung, seorang wanita paruh baya berdiri. Pengasuh Orin di rumah, saya mengenalnya. Ia sedang memakai ponselnya sambil berjalan.

Ponsel saya kembali berbunyi.

Tak peduli pada hujan, Orin berlari menuju pengasuhnya. Ia tertawa. "Aku pulang bareng Amii..."
Setelah mengantar Orin dan sedikit berbasa-basi, saya pulang. Anak-anak sudah berganti baju dan menunggu susu hangat. "Jangan terlalu panas ya Bundaaa..."

Saya memerika ponsel saya. Meski saya sudah tahu jawabannya. 

Ini Tante yang jaga Orin, Bunda. Terima kasih banyak, Bu. Biar saya jemput Orin ke sana...

Setiap anak mungkin menginginkan seorang ibu. Setiap anak, pasti menginginkan cinta dan kasih sayang. Handuk kering di saat kehujanan. Susu hangat di saat kedinginan. Segelas air di saat kehausan. Berbahagialah mereka yang memiliki ibu untuk menyediakannya. Jika tidak ada, semoga Allah hadirkan orang penuh cinta lainnya di hari-hari mereka, dan semoga Allah membalas jerih ibu yang bekerja dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Pengasih. Allah Maha Penyayang. Aamiin.







ASEAN Youth Volunteers Network

ASEAN: One Vision

ASEAN, yang tahun ini memasuki usia ke 46, telah bertumbuh menjadi kekuatan besar yang cukup dipertimbangkan, di mata dunia. Sementara di dalam negara-negaranya, terutama di Indonesia, saya berharap ASEAN lebih dari sekadar sebuah bab bahasan dalam sebuah buku pelajaran IPS. Membicarakan ASEAN bagi generasi ini seperti nostalgia tentang orang-orang heroik yang berhasil menandatangani sebuah kesepakatan dan cita-cita bersama yang mulia. Peace, prosperity, and freedom.

Cita-cita itu mungkin belum sepenuhnya terwujud, tapi setidaknya formula untuk mencapainya sudah mendekati yang paling tepat untuk masa ini. Lihat saja bagaimana Komunitas ASEAN 2015 telah mulai digagas. Seperti sebuah gurita yang menggeliat, tentakel-tentakelnya mulai bergerak. Berbagai komunitas sebagai bagian dari roadmap menuju Komunitas ASEAN 2015 telah berjalan. Di dunia pendidikan, ekonomi, pariwisata, geliat ini lebih terasa.

Tapi, apakah ASEAN hanya milik mereka yang bermodal yang bersinggungan dengan perekonomian kelas dunia? Atau hanya milik mereka yang duduk di universitas bergengsi dan mendapatkan kesempatan untuk pertukaran pelajar di negara-negara ASEAN?

Sejatinya ASEAN adalah milik semua warga negara anggotanya. Peace, propsperity, dan freedom yang diidam-idamkan oleh para pendirinya dahulu itu bukanlah milik selapis warga negara saja. Ia tidak semata-mata menjadi bahasan eksklusif kaum cerdik cendekia, namun terasa jauh ketika warga berdebat tentang batas-batas budaya dan ketimpangan kemajuan antarnegara. 
Menjadi bangsa maju yang berada di garis depan pelaku pembangunan seharusnya mampu mendorong setiap warga bangsa untuk berbenah. Jika tidak ingin menjadi penonton dan objek kebijakan di masa depan, maka hari ini adalah titik awal untuk segera mengejar ketertinggalan. Ada pekerjaan rumah yang menunggu kita: kemerataan pendidikan bagi anak-anak kita, keseteraan kesempatan berusaha bagi semua kelompok ekonomi, dan keadilan gender. Sejalan dengan itu, ketika ASEAN akan menjadi bagian dari tatanan dunia yang stabil dan damai, maka negara-negara di dalam ASEAN memiliki tanggung jawab untuk menjaga komitmen terhadap kestabilan dan kedamaian hubungan regionalnya. 



ASEAN: One Identity

ASEAN Cultural Exchange
ASEAN, sejak semula adalah kerja sama regional yang dibangun di atas keragaman. Negara-negara anggotanya memiliki sistem pemerintahan dan politik yang berbeda, mata uang yang berbeda, bahasa yang berbeda, keunggulan sumber daya yang juga berbeda. Jikalah tidak berbeda, ia beririsan sehingga mudah membuatnya bergesekan--ingat kasus kemiripan budaya antara Mayasia dan Indonesia?
Untuk menjadi apa yang kita cita-citakan, sebuah komunitas kelas dunia yang berperan aktif dalam peta peradaban, setidaknya kita harus berangkat dari titik pemahaman yang sama.  Bahwa yang membuat kerja sama ini memungkinkan bukanlah dasar yang sama, namun keinginan yang sama untuk menjadi entitas besar yang kuat dan tidak terjajah.
Kita memang beragam, dan keragaman yang bersinggungan ini kadang-kadang meletup, menimbulkan gesekan identitas dan kepentingan. Sebutlah itu konflik. Jika kita antarbangsa di dalam ASEAN masih kesulitan untuk berdamai, bagaimana kita akan menjadi referensi perdamaian bagi dunia? 
Kehidupan Indonesia yang multikultural menjadi semacam cermin bagi kemampuan kita untuk hidup dalam keragaman. Kemampuan untuk bertoleransi. Kemampuan untuk mengedepankan kesamaan visi, alih-alih mengedepankan perbedaan. Jika kita-masyarakat Indonesia-masih sensitif dengan cara tetangga kita melakukan urusanpribadinya, maka pertanyakanlah kemampuan kita untuk menolelir tetangga bangsa kita.

Perbedaan yag berasal dari akar budaya tak seharusnya ditentangkan. Kalaulah ada perbedaan yang membuat kita harus berlomba, maka berlombalah demi kesetaraan pendidikan, kemerataan ekonomi, kemampuan berbahasa antarbangsa.

Apakah menjadi satu identitas berarti melunturkan identitas asli kita? Tentu saja tidak. Kita tetaplah apa yang diwariskan oleh bangsa kita dalam nilai-nilai baiknya. Dalam dunia yang lebih luas, kita tetap menyimpan identitas itu, kemudian melebur dalam entitas yang lebih besar: bangsa yang beradab; bangsa yang damai;  bangsa yang cendekia; bangsa yang adil. 


ASEAN: One Community

ASEAN Blogger Community

Jadi di sinilah kita, sebagai sebuah tubuh yang lebih besar dan beragam warna. Mengambil dan memberi keuntungan. Merumuskan dan melaksanakan kebijakan, bukan lagi untuk kepentingan semata-mata sebuah bangsa, tetapi multibangsa. Ketidakmampuan kita menghadapi gejolak regional akan membawa kita mundur dari percaturan politik-ekonomi-sosial secara global. Namun tergesa-gesa mengeluarkan kebijakan dengan mencampuri urusan rumah tangga negara sahabat akan membuat perseteruan regional. Beban untuk menjalani hubungan tersebut tidak hanya ada di pundak pemimpin negara, melainkan di pundak seluruh warga negaranya. Harapan paling sederhananya adalah, sebanyak itu sebuah bangsa berkontribusi, semoga sebanyak itu pula seluruh bangsa mendapat manfaatnya.
Sebuah komunitas bisa saja dibangun dengan dasar kesepahaman dan kesepakatan. Namun yang mengisinya dan membuatnya menjadi komunitas yang bekelanjutan, adalah perilaku orang-orang di dalamnya. Beberapa orang mungkin akan menganggap ASEAN melulu tentang kesepakatan perdagangan yang mementingkan negara-negara bermodal besar. Beberapa yang lain bisa saja menganggap ASEAN hanya lembaga formalitas di mana para pemimpin  bertemu dan berbasa-basi tanpa bisa membuat keputusan yang signifikan, atau lowongan pekerjaan bagi mereka yang suka menyusun rencana tanpa tahu bagaimana mewujudkannya. 
Ya, bisa saja begitu. Kalau kita membiarkannya begitu. 

Sharing and Caring...
People
Sebagai bagian dari netizen, ketika dunia kita lebur dari batas-batas geografis, persebaran ide terjadi dalam hitungan detik, dengan jangkauan yang luas. Kita mengambil dan memberi informasi di dunia cyber. Mungkin di sinilah satu-satunya tempat bagi manusia untuk lebih dulu melihat isi daripada kulit. Mengutamakan informasi daripada pembawanya. Mungkin itulah sebabnya, para blogger (penulis blog) lebih mudah menjalin hubungan antarbangsa daripada orang-orang di luar sana. Di masa ini, blogger menjadi duta bangsa tak resmi yang terus menyuarakan pelbagai berita. Ketika berita di media mainstream tidak bisa lagi dipercaya, maka blogger memiliki tempat khusus sebagai referensi kabar. 

Komunitas ASEAN Blogger kemudian menjadi signifikan, mengingat jumlah dan jangkauan keberadaannya. Setiap blog anggota komunitas ini bisa berkontribusi sesuai dengan keahliannya masing-masing. Tidak hanya menyebar informasi pariwisata dan kuliner (yang tampaknya paling banyak peminat, sejalan dengan tren backpacker di Asia), tetapi juga dalam penyebaran ilmu, pengetahuan budaya negara lain, peluang ekonomi, gerakan lingkungan hijau, semuanya bisa bekerja sama lebih baik dengan bantuan informasi dari para blogger. 
Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil peran dalam  lompatan menuju Komunitas ASEAN 2015. Tetapi tidak semua orang dimudahkan untuk memiliki jalan menuju peran itu. Blogger, dengan segenap potensi yang dimilikinya, haruslah benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Jika kita masih bertanya mengapa, maka wajah-wajah anak bangsa inilah yang bisa menjadi alasan kita untuk bersuara dan mengambil posisi dalam tubuh Komunitas ASEAN 2015:

Pasar Indonesia

Petani Indonesia


Pelajar Indonesia









Di rumah saya tidak berlaku program sensor. Ketika melihat artis korea yang pakai rok mini, dengan sendirinya anak-anak bertanya, "Kenapa dia pakai rok sependek itu? Apa aku boleh memakainya?" jawaban saya biasanya, "Boleh, kalau kamu nggak malu sama Allah." dan berikutnya dia sudah tau, yang nampak2 itu berhubungan dengan rasa malu.

Lain waktu, anak saya melihat darah. Dengan penasaran, ia bertanya. "Ih, apa ini?"
saya: "Luka."
Anak:"sakit?"
saya:"Ya. itu darahnya. Luka berdarah kadang bikin sakit. Mau mengobati bunda? tolong ambilkan kotak obat."

berikutnya, ketika adiknya terluka dan berdarah-darah (menginjak beling di parkiran), si kakak mendekat dan mengusap darah itu dengan tangannya. Lalu mencari obat. Begitu saja, ia menerjemahkan luka berdarah sebagai sesuatu yang perlu ia obati, bukan sesuatu yang menjijikkan dan perlu dihebohi.
Sampai, ia ada di pangkuan saya ketika saya membuka berita di Aljazeera. Ia melihat banyak orang terluka. Saya memerhatikan wajahnya yang terlihat tertarik, beralih dari bukunya.
"Anak itu kenapa, bunda?"
saya: "Terluka."
kakak: "Tidak ada yang obati?"
saya: "tidak, pasiennya terlalu banyak, dokternya sedikit."
kakak: "kenapa pasiennya banyak?"
saya: "karena mereka sedang perang. Orang-orang dewasa rebutan tanah dan anak-anak terkena tembakan dan bom."
kakak: "aku mau jadi dokter."
saya: "boleh. InsyaAllah."
ia masih tercenung. "Apa anak itu akan sembuh?"
saya: "tidak, dia sudah meninggal. Jiwanya pulang ke Allah."
Kakak: "Apa dia kesakitan?"
saya: "Mari berdoa, semoga perang selesai dan anak-anak bisa bermain lagi. Atau, kamu mau doakan yang lain?"

Dan dia mengucapkan sederet doa lain, termasuk agar Allah melimpahkan mereka roti yang enak dan hangat.

Kadang, kita menganggap anak terlalu kecil untuk tahu tentang dunia. Padahal perasaan mereka, pertanyaan mereka, sedang menuntut untuk dilatih oleh orang tua. Memang kadang memelahkan berdialog dengan anak, mengingat pertanyaan mereka yang seperti tidak berujung. Tapi janganlah asal menjawab hanya agar anak diam, karena jawaban itulah yang akan membentuk persepsinya terhadap dunia. Tidak remeh, kan?

Apakah anak akan takut pada dunia yang mengerikan atau anak dengan berani maju menjadi penyembuh dunia, ada di jawaban2 orang tua. It depends to us. Mau anak yang aman damai sentosa seperti katak dalam tempurung, atau anak yang memiliki bekal berbagai rasa yang terasah dengan positif dalam menghadapi dunia yang carut marut. Pilihlah!
Setiap ibu yang bekerja, mungkin merasa terbelah hatinya ketika harus meninggalkan si kecil di rumah. Entah dengan ibu/mertua, pengasuh, saudara... kalaulah boleh, pasti rasanya ingin bersama dengan anak sepanjang waktu. Apalagi, ketika waktu yang ingin digenggam itu terasa bergulir begitu cepat...

Saya memutuskan untuk menemani anak-anak di rumah, alih-alih bekerja. Meski dengan banyak konsekuensi (ga bisa berfoya-foya karena tidak ada gaji ganda, hehehe) juga dianggap tidak memanfaatkan ilmu.
Sudahlah, saya tidak akan membela diri. Terserah saja. Setiap ibu punya tantangan, bukan? Dari yang kecil sampai besar...(tantangannya ya, bukan body-nya :D)


Para SAHM (Stay at Home Mom) kadang dikomentari, "Enak ya, jadi ibu rumah tangga..."

Bu, percayalah, menjadi ibu itu bukan perkara enak dan nggak enak. Kita semua memilih. Ibu-ibu yang tidak berseragam itu juga sudah memilih, menerima resiko, menegakkan harga diri dan tetap berjalan. Begitu juga ibu yang bekerja. Karena kehadiran anak bukanlah perkara yang kita putuskan sendiri. Ada kekuatan Allah di dalamnya. Namun untuk memutuskan akan menjadi ibu seperti apa kita, kitalah yang menentukan. Pilihan apakah kita akan membersamainya atau memilih ladang lain. Pilihan antara menjadi ibu yang kuat atau ibu yang terus memandangi diri di cermin, "Bagaimana aku terlihat di mata masyarakat?"
 
Pernah, melihat seorang sahabat yang risau karena harus meninggalkan anaknya dengan pengasuh. Di lain waktu, ketika pengasuh mendadak libur, ia harus membawa putrinya ke tempat kerja. Babak belur lahir batin: menghadapi keriuhan, cibiran, dan multichallenge dalam waktu yang bersamaan. Sedih sekaligus takjub melihatnya. Siapa bilang menjadi ibu bekerja itu enak-enakan?

Tidak semua ibu yang bekerja akan menghasilkan anak yang terlantar, kurang kasih sayang, tidak terurus lahir batinnya. Ada yang bilang, anak yang ibunya bekerja, yang dirindukannya adalah pengasuh, yang disukainya adalah masakan pembantu. Benarkah? Mmm....nggak sedramatisir itulah. Satu dua ada yang begitu, tapi bukan karena ibu bekerja, tapi karena ibunya emang ga bisa masakdan jarang mangku anak :)

Dan tidak semua ibu rumahan akan menghasilkan anak santun baik budi dan bergizi.
masalahnya adalah, berusaha atau tidak?

Semoga kita menjadi ibu yang menyadari diri kita sebagai ibu. Jika kondisi membuat kita harus bekerja, semoga Allah kuatkan hati kita untuk mengemban amanah ganda. Jika kita menjadi ibu yang berkesempatan di rumah 24 jam bersama anak, semoga kita ingat bahwa Allah sedang mengawasi amanah ini.

Menjadi ibu bekerja tidak membuat seorang ibu bisa berhenti memikirkan anaknya. Sama seperti menjadi ibu di rumah tidak membuat seorang ibu abai terhadap kondisi dunia di luarnya. Jadilah ibu yang kuat. Ketika telah mengambil keputusan, jangan merengek.

Dulu, awal-awal karir saya sebagai ibu rumahan (lagaaak), saya sakit hati kalau ada yang dengan suka rela menyebut saya tidak berpendidikan dan tidak berpengaruh pada perubahan dunia. Ibaratnya, saya ini sebutir debu atau rakyat jelata yang kalau krisis tiba, dikorbankan tidak apa-apa. Beuh. Lama-lama, setelah memikir ulang kenapa saya ada di posisi ini, saya mulai lapang dada dengan komentar orang. Toh itu cuma komentar. Mereka tidak tahu apa-apa, lalu kenapa hal seperti itu harus mengubah prinsip saya.

Tidak adil menilai ibu yang bekerja sementara saya tidak pernah merasakannya. Begitu juga sebaliknya.
Memilihlah karena prinsip. Sertakan Allah dalam setiap pilihan. Sehingga ia tak tergoyahkan.
Keraguan, ketidakpercayadirian, bertindak setengah-setengah, akan terlihat dalam keseharian kita. Ibu rumahan yang tidak ikhlas berada di rumah, akan terlihat oleh anaknya, sehingga anaknya merasa menjadi penyebab dunia ibunya menyempit. Ibu yang bekerja namun pikirannya ada di rumah, tidak bisa fokus bekerja apalagi menghasilkan sesuatu bagi dunia.
Jangan melangkah setengah-setengah. Kekuatan para ibu dalam setiap tindakannya akan menginspirasi anak untuk menjadi kuat, menjadi superhero dalam benaknya, di lapangan manapun yang ibu pilih untuk bertarung.


Ibu yang bekerja demi biaya sekolah anak-anak, demi meringakan beban suami agar tidak bekerja dari minggu malam hingga sabtu pagi, bukanlah ia sama mulianya dengan ibu yang meninggalkan standar hidup tinggi demi sebuah pekerjaan tak bergaji bernama "ibu rumah tangga"... Pada Allah sajalah kita bertanggung jawab. Saat ini, cukuplah kita berkuat diri dan mengingat-ingat, kenapa masing-masing kita ada di sini.

Tegakkan kepala, Bu, ada anak-anak masa depan yang sedang mengamati, seberapa tangguh kita menanggung beban zaman. Saya ingat sebuah pepatah, Bukanlah untuk menjadi tempat bersandar seorang ibu diciptakan, melainkan agar bersandar itu tidak lagi diperlukan.

Kuatlah, Bu, maka ia juga akan kuat sepertimu. 



Jelang sahur. Gorontalo.






Bagi saya, pertanyaan apa kabar itu penting. Kalau saya menanyakan "apa kabar?" saya senang sekali mendengar jawaban yang panjang lebar. Karena ketika saya bertanya apa kabar, saya benar-benar mau mengetahui kabarnya, bukan sekedar basa-basi di awal pertemuan. 

Jaman masih aktif di organisasi kampus dulu, seorang rekan menganggap saya 'keterlaluan' karena bagi saya mengetahui kabar rekan-rekan dan staf saya jauh lebih penting daripada mendengar laporan kerja. Itu menurut dia. Buat saya pribadi, saya akan mengetahui kabar mereka lebih dulu sebelum bertanya tentang tugas mereka. Pernah, seorang ketua tim berkata pada bawahannya, "Kamu mau pulang lagi? Terus tugasmu bagaimana? Ya sudahlah. Salam untuk bapak ya." Sang ketua tidak tahu, bapak yang ia maksud sudah meninggal dunia beberapa minggu sebelumnya. 

Dengan mengetahui kabar seseorang, saya tahu saya berhadapan dengan kondisi apa dan tuntutan apa yang memang layak saya berikan padanya. Karena itu sebelum membuka laporannya, saya bertanya, "ada kabar apa minggu ini? Kabarmu, maksud saya. Kalau kabar nasional saya bisa baca koran..."

Lately, saya melihat teman-teman saya kebanyakan masih sama, seperti saya yang juga masih sama seperti dulu: saya sibuk bertanya apa kabar pada semua teman-teman saya, dan mereka melaju dalam pekerjaan besar bernama membangun peradaban... :) I guess.

Hari ini saya sedang berduka. Tanah kelahiran saya diguncang gempa 6,5 SR. Banyak yg tewas, hilang, luka...dan tidak sedikit rumah2 yang hancur dan sekolah2 rubuh. Hidup mereka mungkin diamputasi mendadak. Saya berdoa, semoga dengan ini Allah melembutkan hati mereka, membuat kita mempersering menyebut namanya, dan merenung. There's something wrong with our life. Each of us need to figure it out.

Biasanya musibah seperti ini akan cepat menimba simpati nasional. Kenapa sekarang tidak? Ada kejadian yang mereka anggap lebih penting di luar sana. Kisruh politik dunia Islam di Mesir. 
Saya mencoba berprasangka baik. Sedikitnya hastag Pray For Gayo dibanding Pray for Mesir mungkin tidak berarti sedikit juga doa yang mengalir ke desa-desa kecil di Barat Indonesia sana. Saya berbaik sangka, bahwa di ruang empatinya yang luas, saudara2 saya bisa menyempatkan diri melihat ke dalam negeri. 

Kita memiliki ruang empati yang luas. Setiap kejadian adalah latihan untuk membuat kita arif. 

Semoga Allah membuat kita lebih kuat dari masa ke masa. Aamiin.