amazingsky.net 





Adzan subuh. Kadang tergoda untuk menilai suara yang memanggil-manggil itu. Ada yang masih diselimuti kantuk, ada yang begitu syahdu, seolah menembus langit, menceritakan rindunya pada Allah, Rabb pemilik jiwa. Terima kasih para pemanggil...

Ada rasa berat di hati ini, beberapa hari ke belakang. Bumi seolah gelap. Keributan di mana-mana. Dari darah yang tumpah hingga kata yang kotor terlempar dan berserak. Sedih. Karena sebagian besar adalah orang-orang yang bersujud ketika adzan telah memanggil. Ada yang salah. Mungkin karena kita tergesa-gesa, ada satu langkah yang kita lupa. Sungguh, keterburu-buruan itu menyesatkan.

Kudengarkan lagi adzan subuh ini. Suaranya benar-benar seperti menembus langit. Adakah ia menembus setiap hati?

Aku bersedih karena manusia. Aku bertanya-tanya, mengapa kita begitu mudah membenci, menuduh, tersinggung, membalas dengan keji, melontarkan semua yang di kepala, meludahkan semua apa yang belum terpikir, dan tak pernah melihat dengan selain mata...

Sebentar lagi adzan itu berhenti. Aku melihat langit di luar jendela.
Ah... alih-alih menatap langit yang terbentang, aku selama ini bersedih karena melihat langit-langit yang suram.

Mari membuka jendela kita.








Kalaulah anak hanya sekedar anak,
bukan amanah Allah,
bukan bagian dunia di masa depan,
bukan penggenggam palu-palu peradaban..
Kalaulah ia sekedar anak: tentu aku akan memperlakukannya sesuai keinginanku.

Tapi, apa yang aku tinggalkan untuknya akan ditanyai oleh Tuhanku.
Caraku berbicara padanya akan menjadi caranya berbicara pada dunia.
Caraku menghadapinya akan memengaruhi caranya menghadapi zamannya.
Apakah yang kutinggalkan itu adalah kebingungan, ketidakpastian,
Apakah yang kukenalkan adalah cara2 tak beradab, penuh cela dan hina,
Apakah aku menghadapinya sebagai keburukan, beban, penuh keluh kesah, penuh hardikan dan prasangka...




Ada masa ketika saya merasa, betapa tidak mudah membesarkan anak. Dan saya ingat pada orang tua dan keluarga besar yang membesarkan saya. Pastilah tidak mudah. Setiap keputusan benar-benar harus dipertimbangkan. Oh, bukan cuma perkara besar soal sekolah dan semacamnya, tapi bahkan, ketika ketegangan memuncak dan ada dorongan kuat untuk membentak, menghardik, mengabaikan...

Memangnya kenapa kalau saya memarahinya? orang tua punya hak untuk marah. Anak juga harus tau kalau ada masanya orang tua sedang labil, tidak bisa diganggu, dll, "hey son, welcome to the world!"
Ya... mereka memang tidak akan steril dari orang marah selamanya. Akan janggal kalau kita hendak membuatnya tidak pernah menerima kekesalan orang. Tapi sungguh, Maha Baik Allah dengan pengingatnya. Suatu hari ketika kita menua, ia akan berdoa... "Kasihi mereka seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil..."
Maka, biarkan ibu dan ayahmu berusaha lebih keras untuk berbuat baik dan menahan marah padamu Nak.. karena kami berutang itu pada Allah.

Apakah anak tidak boleh kecewa?
Saya sering mengatakan tidak pada anak. Tapi bukan berarti sebagai orang tua berhak melepas anak menghadapi kekecewaan sendirian. Saya memilih duduk di sampingnya, menjelaskan segumpal kesal di hatinya yang bernama kecewa. Ada banyak hal tidak mengenakkan di dunia ini, yang akan dia hadapi: orang menyerobot antrian, orang meludah sembarangan, orang mencuri karyanya, usahanya terlambat, seseorang yang dicintainya ternyata bukan jodohnya...
Maka, Nak, saat ini, ijinkan ayah dan ibumu menemanimu menghadapinya. Ingat2lah ini: dunia kadang tidak sesuai dengan yang kita minta. Tapi bukan berarti hidup harus berhenti. Seperti hujan yang turun saat kau berharap panas yang datang, masih ada hal lain yang bisa kau lakukan dan kau syukuri.

Banyak orang tua yang memertanyakan pola asuh liberatif. Parenting ala Amerika, kalau kata seorang kakak saya. Membiarkan anak jadi raja kecil? No... belajarlah lebih lanjut. Membiarkan anak melakukan banyak hal, bukan berarti membiarkan mereka menerabas yang haram, yang tidak disukai Allah. Tapi selama yang dilanggarnya hanyalah ego orang tua (tidak mau repot, tidak mau berisik, tidak mau disusahkan) layakkah kita mengambinghitamkan metode parenting? padahal masalahnya ada di kita.

ah... rasanya akan panjang membicarakan ini. Suatu hari saya ingin sekali mengatakan pada seseorang yang menganggap saya terlalu liberatif. Bahwa menerangkan perkara boleh dan tidak, haram dan halal, baik dan buruk, tidak mesti dengan pelototan, hardikan, apalagi pukulan. kita masih bisa duduk baik2 dan berbincang. Semoga, kelak anak2 kita akan menjadi generasi yang berlapang dada, muthmainnah, tidak tergesa-gesa, dan pintar membuka percakapan alih-alih menghakimi dan melempar batu pada orang.

Membiaran anak menangis agar dia tahan banting? sembuh sendiri dan bangkit lagi?
Maukah kau duduk di sana dan tersedu sendirian Bu? Dunia yang akan dimasuki anak2 kita adalah dunia yang keras. Duduklah di sampingnya selagi masih bisa untuk menyiapkan jiwanya.
Nak, meski dunia keras, bukan berarti kau harus mengeraskan hatimu. Teladani Rasulullah, yg tetap berhati lembut di zamannya yang jahiliyah. Semoga ayah dan ibumu ada ketika kau memanggil, dan kau akan ingat untuk ada ketika zamanmu memanggil.

Ya, saya pernah lepas kontrol, menghardik, mengabaikan. Pada Allah saja saya memohon ampun. Kepada anak saya meminta maaf. Haknya adalah diberi tahu, bukan dihardik, dan karena saya melanggar haknya, maka saya meminta maaf. Agar kelak ia tahu, tak peduli betapa tinggi jabatannya, jika ia melanggar hak seseorang, ia harus meminta maaf dan menebus kesalahannya.

Allah yang Maha Baik, lindungi kami dari sifat mencari pembenaran atas kejahilan kami. Terangkanlah yang salah itu salah, dan yang benar itu benar. Jadikan kami orang yang melihat hikmah. Berikan kami jalan untuk merendahkan hati, agar semakin banyak ilmu yang dapat kami terima dan amalkan. Jauhkan kami dari prasangka dan keterburu-buruan. Selamatkan kami dan anak2 kami hingga akhir jalan yang Kau tentukan. Amin.








Don't let fears hold you back...



Ini bukanlah kali pertama, aku merasa kau sedang menatapku.
Kadang, entah bagaimana, kita bertukar pandang dalam diam:
di antara percakapan, berpapasan di jalan, atau suatu waktu di persimpangan,
kau melihatku, dan aku diam-diam berpaling.. Diam-diam menolak.

Di antara hening, di tengah keramaian... aku tahu kau mengikutiku.
Aku juga tahu, pada akhirnya kita akan bertemu. Kau, aku, tanpa jarak.
Hanya masalah waktu, bukan?
Kita bahkan tak perlu membahas tempat. Asal bukan di tempat sampah, kukatakan pada seseorang, berharap kau mendengar.

Aku melihatmu, dan mengingat berapa lama waktu yang sudah kuhabiskan,
dan menebak-nebak berapa sisa yang bisa kumiliki.
Lalu pada suatu titik, kau melihatnya di mataku:
aku terlalu mencintai semua ini; terlalu berat meninggalkan apa yang memang seharusnya kulepaskan.

Kapan kau akan belajar untuk siap?
tanyamu, tidak bosan pada kosa kata yang sama.

Kau sungguh-sungguh mau tahu?
Kurasa aku tidak akan pernah siap.
Kau benar, aku harus belajar, selama... berapa waktu yang aku punya?

Kau menggeleng, setia di tempatmu.
"Bahkan aku tak mengetahuinya," katamu. "Bisa kapan saja.
Kau, bersiaplah. Aku akan tetap menjemputmu. Karena aku hanya menjalankan titah."

Ya... pada suatu waktu, di masa yang telah ditulis, kau akan mengatarku pulang.




pictureperfectforyou tumblr


Allah Yang Maha Pemurah, Terima kasih....

Untuk adanya keluarga yang bisa kurindukan,
Untuk sanak saudara yang bisa mencintai dan kucintai apa adanya,
Untuk tarikan nafas kesekian di hari ini, dalam hidup ini,
Untuk udara bersih tidak berduri,
Untuk matahari yang tidak melepaskan kulit dari tubuh--meski ia bisa
Untuk tubuh yang masih bisa bergerak,
Untuk keran yang masih mengalir,
Untuk saluran air yang tidak tersumbat,
Untuk hujan yang datang saat beberapa dari kami kepanasan,
Untuk panas yang ada ketika kami memerlukan sesuatu yang hangat dan kering,
Untuk segelas kopi, teh, dan minuman lain yang tidak menjadi racun di tubuh kami,
Untuk tawa anak-anak yang seperti lagu dari surga,
Untuk jeritan anak-anak sebagai irama hidup kami,
Untuk seribu pertanyaan anak-anak yang mengejar tumbuh akalnya,
Untuk kesabaran yang Kau sisipkan pelan-pelan di hati kami,
Untuk seseorang yang Kau percayai di sisi kami, mencintai dan setia,
Untuk angin yang membuat daun-daun bergoyang, menjadi peringan beban di kala sesak,
Untuk suap demi suap yang Kau halalkan,
Untuk tetangga yang selalu bertanya dan peduli,
Untuk teman yang bisa dipercaya dan bertukar mimpi,
Untuk mereka yang bekerja keras; menghidupkan listrik, menyuplai beras, menemukan internet, membuat film bagus...
Untuk tanah yang tidak banjir,
Untuk banjir yang mengingatkan kami pada kebutuhan Bumi,
Untuk pohon-pohon yang teduh,
Untuk Pohon-pohon yang tumbang, sebagai pengingat kami akan KemahabisaanMu,

Untuk Azan subuh yang mengudara: sejuk, hening, menyentuh...
Untuk ilmu yang Kau beri pada para ulama bersahaja..
Untuk nikmat iman, yang begitu terasa ketika kami tengah berduka...

Untuk segala yang termiliki, bahkan tanpa kami sadari, tanpa sempat kami minta,

Alhamdulillah...
Jika bukan karenaMu, tak akan sampai semua itu pada kami: makhuk-makhluk tapa daya di bumi.







Memaafkan mereka yang tidak mengerti,
Memaafkan mereka yang tidak pandai berkata-kata,
Memaafkan mereka yang tidak sesuai harapan,
Memaafkan mereka yang sering salah paham,
Memaafkan mereka yang berpikir seperti adanya mereka,

Memaafkan diri sendiri atas semua ketidakmengertian, kemampuan yang terbatas, nilai diri yang tidak sempurna.

Memaafkan,

Menjadi hadiah terbaik yang bisa diberikan setiap orang untuk dirinya sendiri.
Agar diri itu menjadi pundak yang ringan dari beban, menjadi hati yang lapang.