It's about a week ago.
Saya menggandeng jemari putri 4tahun saya keluar dari sebuah mall ketika hari sudah gelap. Angin dingin musim kemarau terasa kering dan menusuk. Sementara udara berbau panas dan pengap. Kami melewati parkiran mobil, dan saya melihatnya di sana:
Terbaring, meringkuk, di antara dua mobil, seorang bocah lelaki kurus bersweater abu-abu.
Saya pelan-pelan mengingatnya. Ia adalah yang beberapa waktu lalu berada di dalam mall, menawarkan jasanya untuk membawakan barang saya. Saya telah menolaknya, karena barang saya tidak banyak. Dan dalam hati sempat berkata, kenapa bocah itu ada di dalam mall? Ya, dengan suara hati yang sedikit jahat.
Kembali ke parkiran. Putri saya menahan lengan saya agar berhenti dan memberikan sesuatu pada bocah itu. Don't ask. Putri saya menganggap semua yang duduk dan tidur di tanah wajib diberi recehan. And don't ask how could she has that idea. I don't know.
Saya hanya memelankan langkah, sambil meminta putri saya tidak melepaskan genggamannya. Sambil sesekali menoleh ke belakang, saya berpikir...
Alangkah sedihnya anak itu. Tidur karena kelelahan.
Apakah ia sudah makan? Karena ia meringkuk...seolah menahan perutnya yang kosong.
Mobil di sebelahnya menyala, menghidupkan lampu sorot. Ia terbangun. Terkejut, dan menyingkirkan barangnya yang tak seberapa; satu kresek kecil yang entah apa isinya.
Saya masih berdiri di sana, menoleh ke belakang, berpikir...
Kira-kira di mana rumahnya?
Kemana ibunya? Atau ayahnya?
Kalau saya beri dia uang... apakah tidak berarti meengawetkan ia dalam kehidupan jalanan?
Kalau saya ajak ia masuk dan makan... tidakkah itu sama dengan memberi pembenaran pada sikap pengemis?
Sementara putri saya menarik-narik tangan saya untuk kembali, saya bergeming.
Anak itu....
Lalu, saya melihat seorang wanita menghampiri anak itu. Ia membungkuk dan mengatakan sesuatu. Perempuan itu mengeluarkan sekotak makanan dari barang bawaannya. Ia mengelus kepala anak itu sesaat, tampaknya karena anak itu mengucapkan sesuatu. Entah apa. Lalu perempuan itu beranjak pergi. Anak saya tidak menarik-narik tangan saya lagi. Saya kembali berjalan, dengan hati tergugu. Saya kehilangan satu kesempatan. Kenapa bukan saya?
Karena saya terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak kalkulasi. Terlalu banyak pertimbangan. Saya mengkhawatirkan masa depan negara dan mental bangsa, sementara satu orang kelaparan benar-benar ada di depan saya.
Baiklah, government. Kalau Pemerintah memang mau merawat mereka di Dinas Sosial, go on. Itu tugas mereka. But, please, jangan mempengaruhi saya lagi untuk mencegah sedekah. Karena ketika Dinas Sosial menjadi tanggung jawabmu, hey Gov, biarkan saya menyelesaikan tanggung jawab yang ada di depan saya. Mereka yang diperlihatkan Tuhan ke depan mata saya sedang menadahkan tangan.
Rasanya ngilu, ketika mendengar seorang ibu menghakimi ibu lain dengan ringan. Ringan, mungkin tidak dimaksudkan. Ringan, mungkin karena terbiasa. Tapi, bagaimana bisa membiarkan dirimu berlidah tajam tanpa menimbang-nimbang perasaan orang lain? Rasanya memang ngilu, bukan?
Ketika anak nilainya rendah, "Hah, ibunya kan guruuu?"
Ketika anaknya sakit ketiga kali dalam sebulan ini, "Nggak diperhatiin sih makanannya...."
Ketika anaknya belum mandi jam empat sore, "Ibumu kemana? Kok jam segini masih jorok??"
Ketika anaknya bertambah, "Ampun deh, lagi??? Yang ada aja nggak keurus."
Ketika ibunya kembali bekerja, "tugas perempuan itu di rumah..."
Kita lupa:
Bahwa anaknya guru pun harus belajar sama seperti anak-anak lain; kadang bersemangat, kadang tidak; lebih hebat di matematika, atau bahasa.
Bahwa sakitnya anak adalah ujian paling berat bagi seorang ibu. Apa kau pikir seorang ibu sengaja membuat anaknya terbaring, bernafas satu demi satu...sementara tiap tarikan nafasnya terasa seperti duri yang dicabut dari dagingmu....
Bahwa si ibu tidak memandikan anaknya pukul 4 sore, agar anaknya bebas berkeringat dan berlumpur. Untuk apa memamerkan anak yang sudah mandi?? Kelihatan bagus di mata orang mungkin adalah sumber kebahagiaan sebagian ibu, tapi tidak semua ibu. Lagi pula, sejak kapan jam mandi itu harus seragam, bu?
Bahwa bagi sebagian orang, mendapatkan anak adalah berkah. Penugasan yang mulia. Semangat untuk mencari rejeki lebih. Semangat untuk menjadi contoh yang lebih baik. Dan, hey, by the way, mungkin salah satu anaknya akan menjadi dokter dan mengobati kita kelak.
Bahwa ketika seorang perempuan bekerja keluar rumah... kita tidak tahu, mungkin ia memiliki ibu dan adik yang harus dinafkahi. Atau ia ingin memiliki sedekah tanpa membebani suaminya.
Ngilu, bukan, rasanya?
Padahal, darimulah, duhai para ibu, seorang ibu berharap dimengerti. Karena, meski ujian kita tidak sama, tapi bukankah kau adalah satu-satunya peran, hai ibu, yang akan memahami apa yang dirasakan seorang ibu?
--Bahwa setiap ibu pasti mencoba melakukan yang terbaik untuk anak dan keluarganya---
But, somehow, ujian kita berbeda. Ia mungkin tersandung ketika diuji masalah keuangan. Kau, mungkin akan diuji tentang kesyukuran. Aku, sudah jelas diuji tentang kesabaran.
Tidakkah akan lebih indah, jika seorang ibu memberikan dukungan dan mengenyahkan prasangkanya terhadap ibu lain? Karena... sekali lagi, bukankah kau yang seharusnya paling memahami besarnya tanggung jawab sebagai ibu? Karena kita sama-sama ibu. Itulah kesamaan kita.
Ada masa, ketika kau merasa langit akan runtuh menimpamu…
Kau kira itulah batas mampumu,
Kau kira itulah ujian terberatmu.
Belum.
Itu hanya latihan-latihan kecil untuk masa depan yang
lebih besar.
Ingatkah kau, tentang pundak yang kau rasa terlalu lelah dengan
segala beban?
Lalu kau pinta Ia--Yang Maha Kuat-- mengurangi bebanmu.
Jangan.
Mintalah Ia menguatkan pundakmu,
Karena beban kecil hanya untuk orang kecil.
Dan, mintalah hati seluas langit tak bertepi; sabar yang
tak berbatas…
Ingatkan kau pada sujud-sujud panjang,
ketika kau merasa lebih baik melesak ke dalam bumi, dari
pada berdiri menghadapinya?
Sabar,
Yang perlu kau hadapi hanya dirimu sendiri; rasa
engganmu, rasa takutmu, rasa tak layakmu. Dari awal hingga akhirnya, ternyata
itu hanya perasaanmu…
Ingatkah kau saat kakimu ragu melangkah,
Karena kau takut orang sedang menunggu pembuktianmu; bahwa
kau ada, kau bisa.
Tetaplah melangkah, jika mereka punya waktu untuk menonton
nasibmu, menggunjingkan nasibmu, mereka juga harusnya bisa menunggu.
Saat kau merasa,
Semua jalan berujung buntu, semua pintu terkunci, semua
rambu tak terbaca…
Kau hanya mematung dan bingung, tak tahu harus mengetuk
pintu yang mana..
Saat kau merasa sendiri, tak ada yang peduli,
Lupakah kau, pada kalimatNya, “Dan, apa bila
hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”
Jika kau telah mengingatNya, apakah kau kira Ia tak
mengingatmu?
Saat kau merasa, kau telah mengetuk semua pintu, tapi jawaban
yang kau dengar hanya kebisuan. Percayalah, kadang kau memang harus menunggu…
Ingatkah kau, pada masa-masa tersulitmu, yang kau kira
bisa menjadi akhir segalanya,
Ternyata,
kau masih bisa berdiri dan berjalan lagi.
kau
bahkan akan mengenal senangnya mengenang kesulitan yang sudah lewat.
Saat kau merasa orang melejit dengan hebat,
Seperti melihat rumput tetangga yang lebih hijau,
Kau hanya perlu bertanya bagaimana dia menyiramnya, di
mana dia membeli pupuknya…
Kadangkala, makhluk dari api itu membisiki telingamu
tentang kemudahan orang, tapi menutupi matamu dari kesukaran yang harus
dilewati orang…
Saat kau tak lagi sanggup berdiri, dan tak tau hendak
kemana,
Ingatkah kau tentang ketakutan Abu Bakar di samping
Rasulullah dalam sebuah gua, di tengah kepungan musuh yang murka,
Saat itu Rasulullah berkata, “janganlah kau berduka cita,
sesungguhNya Allah beserta kita…”
Maka pintu langit terbuka, dan Ia menurunkan bala
bantuanNya…
Dear teman-teman,
Lama nggak mosting apa-apa, kira-kira hampir sebulan. Atau lebih? >,< terkena flu batuk setelah pulang dari pantai (gathering kantor Ayah Iban) lalu disambung darah rendah (tekanannya maksud saya), dan gula darah naik (keenakan ngemut sari kurma). Lalu ada fase ketagihan kronis pada Novel-novel Meg Cabot, Videos Keith Urban, dan bernostalgia dengan Detective Conan. Tidak bergerak banyak membuat virus di tubuh (termasuk yang bergenre malas) lama baru beranjak. Ditambah saya protes menuntut dihadirkannya meja baru untuk tempat saya menulis dengan alasan sakit pinggang, and many else... Sekarang, setelah banyak bergerak dan merasa sehat, saya pun berpikir, kalau tahu begini dari kemarin-kemarin saya segera bergerak. Well, memang klise, tapi obat malas dan segala penyakit itu memang yang pertama-tama adalah: MOVE!
Bagaimana dengan anak-anak? Owh, mereka tetaplah the most ear-bleeding screamer. Emaknya sakit tidak membuat tuntutan mereka menurun. What they know is that the universe rotates for them. But, Thanks Allah, keduanya sedang dalam fase Freakin' in Jigsaw. *sigh* Mereka bertahan dengan satu puzzle untuk beberapa hari (3-4), dengan tipe puzzle delapan keping ke bawah. Oh, my lil boy did the 10 pieces. Dan awalnya memang selalu bertanya, "Bunda lihat ini seharusnya di mana? Apa di sini? Atau di sini?" nooo, they don't actually need your answer for sure. Saya cuma menjawab, "Yap. Mungkin di situ. atau coba di sebelah sana. Mungkin kalau diputar?" Sure, sometime I did while I closed my eyes. I got the headache, remember??
But then, mereka pun mulai menghafal letak keping2 jigsaw itu, dan perlahan mulai kehilangan rasa asiknya (yang kemudian disusul hilangnya keping-keping puzzle itu ke bawah meja, bawah lemari, bawah tumpukan baju di lemari....) Oke, itu bukan hilang, tapi nyelip.
Saya tidak punya tenaga untuk ke toko buku mencari puzzle baru, dan mengingat satu buah berharga 5000 rupiah, plus ongkos 30 ribu rupiah... well, I thought it's the time for DIY! *Tiup terompet perang*
Kami pun membongkar-bongkar lemari buku anak. Mencari inspirasi. Oh well, thanks pada beberapa majalah Disney yang memberi bonus puzzle jigsaw yang belum sempat terpakai. Tapi akhirnya jigsaw itupun solved! Kembali mencari ide.... So I made it:
1. Ada majalah Tinker Bell yang sudah kehilangan cover. Saya buka halaman komik (whatever it's named!)
2. Ambil dus susu yang sudha nyaris masuk ke keranjang daur ulang, lem, gunting (tau nggak, ini gunting kemarin dipakai untuk motong ekor ikan gurame, karena gunting di dapur bunda lagi susah dihubungi).
3. Gunting gambar, rekatkan seluruhnya super rapat ke balik dus bekas. Potng suka hati, saya sih motongnya rata jadi enam bagian.
4. Here we go!
As I have mentioned before... anak-anak suuuka sekali kalau sudah berurusan dengan gunting dan lem! Selamat bersenang-senang!
N.B: Pastikan halaman yang Anda gunting bebas gugatan. Anda juga bisa membuatnya dari halaman iklan yang berkilau di majalah.
Lama nggak mosting apa-apa, kira-kira hampir sebulan. Atau lebih? >,< terkena flu batuk setelah pulang dari pantai (gathering kantor Ayah Iban) lalu disambung darah rendah (tekanannya maksud saya), dan gula darah naik (keenakan ngemut sari kurma). Lalu ada fase ketagihan kronis pada Novel-novel Meg Cabot, Videos Keith Urban, dan bernostalgia dengan Detective Conan. Tidak bergerak banyak membuat virus di tubuh (termasuk yang bergenre malas) lama baru beranjak. Ditambah saya protes menuntut dihadirkannya meja baru untuk tempat saya menulis dengan alasan sakit pinggang, and many else... Sekarang, setelah banyak bergerak dan merasa sehat, saya pun berpikir, kalau tahu begini dari kemarin-kemarin saya segera bergerak. Well, memang klise, tapi obat malas dan segala penyakit itu memang yang pertama-tama adalah: MOVE!
Bagaimana dengan anak-anak? Owh, mereka tetaplah the most ear-bleeding screamer. Emaknya sakit tidak membuat tuntutan mereka menurun. What they know is that the universe rotates for them. But, Thanks Allah, keduanya sedang dalam fase Freakin' in Jigsaw. *sigh* Mereka bertahan dengan satu puzzle untuk beberapa hari (3-4), dengan tipe puzzle delapan keping ke bawah. Oh, my lil boy did the 10 pieces. Dan awalnya memang selalu bertanya, "Bunda lihat ini seharusnya di mana? Apa di sini? Atau di sini?" nooo, they don't actually need your answer for sure. Saya cuma menjawab, "Yap. Mungkin di situ. atau coba di sebelah sana. Mungkin kalau diputar?" Sure, sometime I did while I closed my eyes. I got the headache, remember??
But then, mereka pun mulai menghafal letak keping2 jigsaw itu, dan perlahan mulai kehilangan rasa asiknya (yang kemudian disusul hilangnya keping-keping puzzle itu ke bawah meja, bawah lemari, bawah tumpukan baju di lemari....) Oke, itu bukan hilang, tapi nyelip.
Saya tidak punya tenaga untuk ke toko buku mencari puzzle baru, dan mengingat satu buah berharga 5000 rupiah, plus ongkos 30 ribu rupiah... well, I thought it's the time for DIY! *Tiup terompet perang*
Kami pun membongkar-bongkar lemari buku anak. Mencari inspirasi. Oh well, thanks pada beberapa majalah Disney yang memberi bonus puzzle jigsaw yang belum sempat terpakai. Tapi akhirnya jigsaw itupun solved! Kembali mencari ide.... So I made it:
1. Ada majalah Tinker Bell yang sudah kehilangan cover. Saya buka halaman komik (whatever it's named!)
4. Here we go!
As I have mentioned before... anak-anak suuuka sekali kalau sudah berurusan dengan gunting dan lem! Selamat bersenang-senang!
N.B: Pastikan halaman yang Anda gunting bebas gugatan. Anda juga bisa membuatnya dari halaman iklan yang berkilau di majalah.
Siapa yang tidak
cinta pada buah hatinya? Rahmat Allah yang diturunkan pada kita, sepasang ibu
dan ayah. Darah kita mengalir di tubuhnya. Raut kita terpahat di wajahnya. Ia
menjadi ahli waris kita. Mewarisi nama, harta, ilmu. Ia menjadi medan amal bagi
kita. Ia menjadi amal yang pahalanya akan terus mengalir. Doanya, doa anak
shaleh, menjadi peringan beban kita di yaumul
akhir.
Cinta kita
begitu besar. Sampai lupa mengapa kita mencintainya. Sebagian kita mengatakan
cinta tanpa syarat. Sehingga kita rela memberi segalanya. Segala yang menurut
kita akan membuatnya bahagia. Kita lupa, hakikat dirinya sama dengan kita:
hamba yang diturunkan ke bumi untuk beribadah.
Kita takut dia
sakit. Kita takut dia terluka. Kita ingin dia selalu baik-baik saja. Kita lupa,
dia bisa tetap baik-baik saja meski dia sakit, dia terluka, jika hatinya di
tempat yang aman: di dekat Rabb-nya.
Anak-anak ibarat
spons. Ia menyerap segalanya. Bukan hanya apa yang dikatakan padanya. Tapi juga
apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia lakukan bersama orang lain. Serapan-serapan
itu, saya yakini sebagai apa yang akan membentuknya kelak.
Usia putri saya
tiga tahun. Waktu bergulir cepat, dan saya merasa berbalapan dengan waktu untuk
mengenalkannya dengan hakikat diri sebagai ciptaan Allah. Dulu saya
bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk memulai semua itu. Lalu saya sadar,
waktu itu tidak perlu ditunggu. Proses ini adalah proses panjang yang harus
dicicil sedikit demi sedikit.
Anak-anak senang
meniru. Mereka melekat pada kebiasaan. Ketika menjadi orang tua, tampaknya kata
teladan dan konsisten juga disematkan di pundak kita. Anak-anak seperti
pengawas yang akan meniru semua perilaku kita, baik atau buruk, bahkan yang
paling tidak sengaja seklipun. Bukan perkara mudah, karena saat malas menyerang
saya, ada sepasang mata manusia kecil yang mengawasi. Ada sebuah kepala mungil
dengan otak aktif yang sedang berpikir dan mencerna mengapa saya demikian. Ada
sebuah hati yang begitu bersih sedang berdebat apakah ia akan meniru saya atau
memprotes saya. Seringnya, ia memprotes saya. Bertanya mengapa begini dan
mengapa begitu. Sejatinya, mereka sedang menguji seberapa konsisten orang
tuanya.
Saat usianya belum
2 tahun, dia sudah berdiri di sebelah saya untuk ikut shalat. Saat itu dia
belum memiliki mukena sendiri. Dengan perasaan campur aduk, saya memakaikannya
jilbab saya yang tentu saja kebesaran untuknya. Dia begitu senang dengan
‘mukenanya’ itu. setelah adzan berkumandang, dia akan membuntuti saya atau
ayahnya untuk berwudhu, memperhatikan cara kami, dan menirunya. Tak perlu
banyak intruksi tambahan, hanya membuatnya kesal dan batal mengikuti. Ia senang
meniru tanpa ketahuan kalau dia sedang meniru, begitulah anak-anak. Mereka
senang diberi tahu apa yang sedang kita lakukan, tapi pura-pura tak mendengar
ketika kita memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kadang dia
enggan, kadang dia bergerak lebih dulu ketika adzan berkumandang. Seolah-olah
ingin menguji, seberapa sabar dan konsisten kita melakukannya. Jika kita lulus,
sisanya lebih mudah, mereka akan meniru konsistensi kita. Sampai ia tahu fungsi
adzan adalah memanggil orang untuk shalat. Ia pun dengan ringan berkata, “sudah
adzan, kok nggak shalat?” Ya. Kadangkala lisan mereka menjadi perpanjangan
teguran Allah.
Jika gerakan shalat mudah ia tiru,
tidak demikian dengan bacaannya. Semakin dini memperkenalkannya, semakin baik.
Meski mereka hanya pendengar pasif, ternyata semua yang saya lafalkan terekam
dengan baik. Tak apa-apa shalat menjadi lebih panjang karena harus mengeraskan
suara dan membacanya pelan-pelan, karena ada anak yang mengikuti di sebelah
kita. Anak usia 2 tahun saya bertahan hanya sampai rakaat kedua. Tak masalah
bagi kami. Mendekati salam, dia akan kembali duduk dan menunggu waktunya
berdoa.
Suatu kali, saya sudah membaca ulang
surah Al Ikhlas setidaknya tiga kali. Dan, bukannya mengikuti potongan demi
potongan, anak saya malah memainkan rambutnya. Hati saya sedikit kecewa. Tapi
saya memilih memejamkan mata dan pura-pura tidur. Pelan-pelan, saya mendengarnya
mengulangi surah itu sepotong demi sepotong. Suaranya begitu halus, seolah
takut membangunkan saya. Dia menyerapnya, meski belum sempurna di telinga saya,
tapi saya tahu sudah terekam dengan baik di kepalanya. Hanya masalah waktu
sampai dia bisa mengucapkannya dengan sempurna.
Saya tak berani muluk-muluk memasang
target anak menghafal sebuah surah. Menyenangkan memang ketika melihat ada anak
sesusianya yang sudah hafal satu atau dua surah pendek. Tapi setiap anak
berbeda. Bisa jadi anak itu sudah memulai lebih awal, bahkan di dalam
kandungan. Membebani diri dan anak dengan target hanya akan membuat proses
belajar itu sebagai sesuatu yang berat. Menjadi tergesa-gesa, dan akhirnya
terjebak untuk kecewa. Padahal, setiap sorot kecewa di mata kita, diserap anak
dalam benaknya, membuat mereka enggan, takut, dan tidak percaya diri.
Begitu pula dengan mengaji. Awalnya
dia mengikuti orang tua di dekatnya, ikut membuka sebuah Al-Qur’an, dan
bersuara layaknya orang mengaji. Saya mengikuti alur itu. Ketika dia mulai
menunjukkan kesanggupan untuk lebih, saya memberikannya buku Iqra’ jilid satu.
Ketika saya
kecil, jam-jam belajar Al-Qur’an adalah jam yang tidak mengenakkan. Hanya
karena guru mengaji saya suka memukul dengan rotan, keseluruhan yang saya ingat
dari proses itu adalah sakitnya. Saya tidak menginginkan hal yang sama pada
anak saya. Maka upaya pertama saya adalah membuat momen itu menyenangkan.
Ketika ayah dan ibu duduk bersama, mengaji bersama, dalam suasana tenang tanpa
ketegangan. Apakah saya akan memberikan hadiah boneka untuk prestasinya dalam
mengaji? Tidak. Saya memujinya, mengucapkan hamdallah, tapi tidak memberinya
sesuatu untuk membelokkan motivasinya. Jika dia lelah, dia boleh berhenti.
“Allah pasti pasti rindu suaramu membaca surat-surat-Nya, apa kita besok
mengaji lagi?”
Lalu, datanglah
masa ketika saya mulai bertanya-tanya. Rutinitas beribadah tidaklah cukup.
Bagaimana agar ibadah-ibadahnya tidak sekedar rutinitas, sehingga saya
membenarkan segala cara untuk membuatnya menepati tenggat waktu. Berapa banyak
orang tua yang memberikan jajan tambahan agar anaknya shalat tepat waktu.
Berapa banyak orang tua yang memberikan kerudung cantik dan menakut-nakuti agar
anaknya berjilbab. Tapi, di kemudian hari, anak-anak itu membelok dan
mematahkan semua rutinitas itu, seperti mematahkan pohon yang tak berakar.
Mendirikan shalat yang kosong, memakai kerudung yang hanya menutupi rambut.
Bagian mana yang salah?
Mengenalkan anak
pada Allah sama pentingnya dengan mengenalkan anak pada ibadah-ibadah wajib dan
sunnah. Membuat anak mengerti mengapa ia harus shalat, mengapa ia perlu membaca
surat-surat Allah dalam Al-Qur’an, mengapa ia perlu mengenal dan mencintai
Rasuulullah.
Banyak orang
mengatakan, berbicara dengan anak menggunakan bahasa sederhana. Saya percaya,
kemampuan anak lebih dari yang kita duga. Mengajaknya mengenal Allah dalam
keseharian, dalam rinai hujan yang turun, dalam gugurnya daun-daun, dalam
lezatnya hidangan, bahkan dalam petir yang menggelegar. Ada campur tangan Allah
dalam segala hal. Itu menjadi pondasi kuat ketika mengajaknya untuk mendekati
Allah.
Petang itu dua balita saya bermain
di lapangan yang luas. Matahari bersinar hangat dan langit begitu indah dengan
awan-awannya yang berarak. Putri saya memunguti buah yang bertebaran di
antara rerumputan, memasukkannya ke dalam keranjang. Ia begitu takjub melihat
buah berwarna kuning kemilau itu. Seperti ketika baru mendapatkan sebuah
pemberian, dia bertanya pada saya, “Bunda, ini dari siapa?”
Saya menunjuk
pohon yang berbaris di tepi lapangan. Pohon itu menjulang tinggi. “Dari
sana, mungkin dibawa angina dan burung, jatuh ke tengah rumput-rumput,” jelas
saya panjang lebar.
“Bukan itu. Ini
dari siapa?” tanyanya sekali lagi, dengan penekanan pada kata siapa. Kalimatnya
belum terlalu jelas, saya menebak-nebak arah pembicaraannya.
“Dari Allah,”
jawab saya pendek, menguji akan kemana lagi dia mengarahkan pembicaraan ini.
“Seperti hidung?
Rambut? Mata?”
“Ya benar. Ini
pemberian Allah untuk pohon itu, seperti Allah memberi kita hidung, mata, dan semuanya.”
Dia puas dan
melanjutkan kegiatannya, memunguti buah.
Magrib itu,
sekali lagi dia menguji kesabaran saya. Ia ngambek,
tidak mau ikut shalat. Mungkin kelelahan. Ia tidak memakai mukenanya, hanya
mondar-mandir di sekitar sajadah saya. Meski demikian, saya tetap mengeraskan
suara. Begitu juga ketika berdoa, bershalawat, dan menyebut namanya dalam doa
saya. Saat itu kegiatannya memutar-mutar sajadah saya terhenti. Ia menatap satu
titik dan diam. Entah bagian mana yang diserapnya.
Saya mendiamkannya
setelah itu. Sebagai tanda bahwa ia kehilangan sedikit perhatian saya karena
tidak ikut shalat. Bagi saya, itu adalah imbalan yang pas. Menjelang tidur,
usai membaca cerita, surah pendek, dan shalawat, tiba saatnya membaca doa
tidur. Saya memintanya berbicara pada Allah, apa saja.
“Allah duduk d
Arsy-Nya, di atas sana.”
“Di dekat
bintang?”
“Lebih tinggi
lagi.”
“Allah bisa
dengar Ami?”
“Allah Maha
Pendengar, Nak. Allah juga dengar waktu semut minta hujan berhenti supaya dia
bisa menyeberang ke rumahnya, untuk membawakan anaknya gula.”
Saya meredupkan
lampu, dan berbaring di sebelahnya. Ia tampaknya melihat saya menutup mata.
Lalu saya mendengar kalimat itu, kalimat yang membuat saya dapat merasakan
Allah sedang melihat putri saya. Allah sedang mendengar doa putri saya, doa
yang datang dari hatinya, bukan dari meniru saya.
“Allah, maaf Ami nggak shalat magrib. Tolong jaga Ami,
jaga bunda, jaga ayah, jaga dek Nizam, jaga semut, jaga nenek… makasi untuk
buah-buahnya, ya Allah. Amiin…”
*Tulisan ini dimuat bersama kisah-kisah orang tua lainnya di buku yang gambarnya ada di sebelah ini. I'm wondering, kenapa judulnya panjang banget ^__^
![]() |
| cartoon by Ros Asquith |
Itu adalah pertanyaan yang umum dilontarkan antarorangtua tentang anak-anak mereka yang masih preschooler.
"April sudah bisa menghafal abjad!"
"Julia sudah bisa menggambar kelinci!"
"Okta sudah bisa menghafal tiga surat pendek."
Sebagian ibu berhati lapang akan menjawab, "Waa...hebaaat," sebagian lain tersenyum dan berpikir, "anakku sudah bisa apa ya?"
--saya berpikir, kadang-kadang sebagai orang tua kita membicarakan hal seperti di atas di depan anak-anak, tanpa menyadari bahwa mereka mendengar dan mencerna: bahwa Mama bangga padaku karena aku bisa melakukan ini/ Mama tidak menyebutkan aku sudah bisa ini// Mama bohong mengatakan aku bisa ini // Mama diam saja tidak membanggakanku, apa aku begitu buruk?-- mengapresiasi kehebatan anak ada porsinya. Tujuannya bukan agar orang lain mengetahui anak kita hebat, melainkan agar anak kita mengetahui bahwa kita menghargai dirinya.
Apakah saya ingin memiliki anak yang cerdas? Kalau cerdas berarti ia mampu membawa diri, mampu menyelesaikan masalahnya, sopan perilakunya, takut pada Tuhan, menyayangi sesama, bisa menolong orang lain...(panjang sekali daftarnya) ya, siapa yang tidak mau anaknya sehebat itu? Tapi, buat seorang ibu, cinta itu tanpa syarat. Cintanya tidak ada hubungan dengan apa-apa yang bisa dicapain buah hatinya. Belajarlah dari ketulusan seorang ibu yang anaknya memiliki keterbatasan. Lihat bagaimana mereka tetap setia mencintai dan mendukung buah hatinya. Dan nyatanya, cinta ibu yang utuh dan tanp syarat itu bahkan bisa menjadikan anak dengan keterbatasan fisik atau pertumbuhan menjadi anak hebat: anak yang bahagia karena ia tahu ia dicintai.
![]() |
| Raising Children |
Ya, katakan padanya bahwa Anda bangga ketika dia bisa melakukan sesuatu. Tapi jangan cemberut dan mengeluh ketika ia tidak bisa melakukan hal lain.
Bagi saya, cerdas tidak selalu tentang IQ tinggi. Cerdas tidak hanya berarti ia menguasai apa yang orang lain tidak kuasai. Cerdas tidak sama dengan ia juara di kelasnya--bukan berarti saya menolak anak saya jadi juara, tapi itu bukan satu-satunya tolak ukur. Well, mugkin anak saya belum bisa mewarnai dengan benar, tapi dia sudah bisa mengocok telur dengan baik. Dia mungkin tidak hafal lagu Indonesia Raya, tapi dia sudah bisa menjawab telepon dengan sopan. Saya melihat kecerdasan dari berbagai sudut, itu intinya.
Bagi saya, cerdas tidak selalu tentang IQ tinggi. Cerdas tidak hanya berarti ia menguasai apa yang orang lain tidak kuasai. Cerdas tidak sama dengan ia juara di kelasnya--bukan berarti saya menolak anak saya jadi juara, tapi itu bukan satu-satunya tolak ukur. Well, mugkin anak saya belum bisa mewarnai dengan benar, tapi dia sudah bisa mengocok telur dengan baik. Dia mungkin tidak hafal lagu Indonesia Raya, tapi dia sudah bisa menjawab telepon dengan sopan. Saya melihat kecerdasan dari berbagai sudut, itu intinya.
Pada 1900, Alfred Binet menemukan metode untuk mengukur kecerdasan melalui seperangkat tes yang disebut Intelligence Quotient atau IQ (dulunya dikenal sebagai Binet Test). Kalau Anda pernah menjalani tes ini, Anda pasti ingat bahwa rentetan pertanyaan itu based on two types of intelligences: Bahasa dan matematika-logika. Saya termasuk generasi yang kecerdasanya diukur oleh tingkat IQ. Generasi berikutnya mulai mengenal EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient), serta keduanya yakni ESQ.
Howard Gardner, psikolog dari Harvard University, melihat kembali kekurangan teori Binet. Kalau yang IQ-nya tinggi dikatakan cerdas, lalu bagaimana mereka yang tidak bisa menyelesaikan soal bahasa dan matematika itu?
Pertanyaan sederhana itu yang membawa Gardner pada penelitiannya pada awal 1990-an yang kemudian menemukan teori Multiple Intelligences (MI). Sederhananya, kalau Binet mengukur kecerdasan melalui dua area kemampuan manusia, Gardner mengukurnya dalam area yang lebih luas, yang meliputi tujuh area kecerdasan. Ia menekankan, kita semua memiliki ketujuh potensi kecerdasan tersebut, meski tingkat perkembangan antara satu area dengan yang lainnya tidak sama. Namun kita dimungkinkan untuk melakukan stimulasi agar ketujuhnya dapat seimbang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, meskipun seorang anak belum bisa menyanyi (Music intelligence) ia sudah bisa menjawab telepon dengan baik (Interpersonal Intelligence). Dan ia bisa saja mengimbangi keduanya dengan stimulasi yang tepat dan bijak.
Perlu Anda ingat, tidak ada satu kecerdasan yang mengungguli kecerdasan lainnya. Seluruhnya menyumbang peran yang sama penting dalam kehidupan manusia. Amati kebiasaannya, dan gunakan untuk mendukung kecerdasannya.
![]() | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Multiple Intelligences |
Saya mencetak chart dari website Edorigami dan menempelnya di rumah agar saya selalu ingat bagaimana anak-anak saya belajar dan bagian mana yang masih harus didukung. Kenapa saya malah menampilkan banyak chart, bukannya menjelaskan.... it's simple, I want you to learn from the genuine source :) saya cuma menyertakan linknya. Biar lebih puasss gitu, Mam....
Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak hebatnya?
# Mencintai tanpa syarat
Saya menyebutkan ini di awal tulisan. Love them just the way they are. Anak yang hebat adalah anak yang bahagia. Ia tahu dirinya dicintai orang tuanya, diinginkan, dipedulikan. Anak-anak dengan harga diri yang utuh akan lebih mudah untuk berkembang.
#Dampingi Ia Mengenal Dunia
Jangan biarkan anak mengenal dunia dari TV, di mana dunia itu penuh keajaiban, dunia itu banyak orang jahat, dunia itu melulu tentang cinta antarlawan jenis.
Bawa ia mengenal lingkungannya. Sepetak lapangan di dekat rumah bersama sekumpuluan bocah yang sedang bermain sepak bola--ia akan belajar tentang manusia lain dan bagiaman bersikap ramah. Semeter tanah yang ditanami cabe dan tomat--ia akan belajar tentang proses alam dan kesabaran. Mengunjungi saudara yang lama tak dijenguk--ia akan lihat indahnya silaturahmi. Membiarkannya membantu di dapur--ia akan belajar banyaaak hal!
#Bukan berikan benda, tapi berikan waktu
Baiklaaah, dia mungkin akan senang ketika Anda membelikannya seperangkat mainan baru. Tapi akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang jika Anda juga memberikan waktu Anda. Percaya deh, setengah jam Anda temani pun dia mungkin sudah mulai bosan. Lagi pula, semakin mereka besar, semakin sedikit waktunya yang akan ia habiskan dengan kita, calon jompo ini. Saya sendiri berprinsip, temani sepuluh menit (matikan komputer, TV, Facebook, iPad, bahkan kompr!), dan selanjutnya biarkan mandiri dua puluh menit. Dengan porsi seperti itu, anak-anak cenderung bermain dengan tenang di 20 menit berikutnya karena ia sudah puas Anda perhatikan semata wayang di sepuluh menit awalnya. Coba saja, akan sangat berbeda dengan ketika Anda temani selama 30 menit tapi selama itu pula Anda sambi dengan pekerjaan lain.
#Biarkan imajinasinya berkembang
Kalau ia bilang barusan melihat bulan menyenggol bintang, percayai saja. Otaknya sedang mencoba mencerna bagaimana alam ini bekerja. Membantahnya hanya akan membuat ia kesal dan berhenti berpikir. Dengan loncatan-loncatan pikirannya, ia pada akhirnya akan sampai pada kenyataan sebenarnya. Di lain waktu, Anda bisa menemaninya membaca buku tentang bulan dan alam semesta. Ia pasti senang sekali mendapati kalau bukan cuma ia sendiri yang memikirkan alam semesta ini.
#Sediakan lingkungan yang mendukung kecerdasannya
Itu termasuk Anda. Kalau Anda suka membaca dan berdiskusi, anak-anak juga akan menyukainya. Dinding yang penuh coret cemoret adalah hal lumrah bagi Anda yang memiliki balita. Daripada menjauhkan krayon darinya, kenapa tidak mencoba alteratif lain i.e. memberikan ruangan/dinding yang bisa dia coret; lapisi dinding dengan kertas, berikan dia krayon yang bisa dihapus hanya dengan lap basah. Jangan hentikan anak yang suka bertanya, jangan larang ini itu selama tidak bahaya dan melanggar kesopanan.
Melaranglah dengan bahasa yang enak di telinga anak. Daripada mengatakan, "jangan coreti buku Mama!" lebih baik megatakan, "coreti kertas ini saja ya, kertas Mama mau dibaca."
#Active body, active mind
Sekali lagi, jangan biarkan ia menghabiska kebanyakan waktunya di depan TV. Ini peringatan untuk saya sendiri sebenarnya. Anak-anak jelas akan menyukai TV, apalagi di usia 3-5 tahun dengan acara-acara Disney yang dibuat (memang) semenarik mungkin. Tapi, ia tidak akan belajar dari sana. Ia mungkin akan menerima satu atau dua informasi baru. Tapi ini terkait dengan cara belajarnya. Jika ia biasa hanya menerima, ia tentu akan sulit terstimulai untuk mencari sendiri. Berbeda dengan jika Anda melepaskannya di sepetak kebun untuk mencari ladybug, atau di lapangan untuk bermain bola bersama temannya. Sekedar contoh, Amy putri saya senang sekali dengan Jake and The Never Island Pirates, tapi tetap saja ia lebih tertarik dengan bermain pasar-pasaran bersama teman-temannya. Anak bisa dialihkan dari TV, selama kita mau mencarikan kegiatan alternatif yang memancing kegiatan fisik dan otak.
#Berikan nutrisi yang tepat
Tidak perlu mahal atau keren, yang penting adalah kelengkapan nutrisi dalam sebuah piring. Komposisinya adalah setengah buah dan sayur, seperempat grain (padi-padian), dan seperempat protein.
Tidak harus Apel kalau Anda cuma punya pepaya. Sudah tanggung jawab kita untuk belajar tentang nutrisi anak. Apa yang meraka makan dan tidak akan menjadi tanggung jawab kita--dunia akhirat kalau menurut saya.
Di usia-usia pertumbuhannya, anak membutuhkan banyak energi, baik untuk kinerja fisik maupun otaknya. Jangan lupa, makanan dan minuman itu haruslah halal dan baik. Halal ketika ia tidak mengandung sesuatu yang haram, juga tidak dihidangkan dengan cara yang haram (termasuk sumber uangnya), baik dalam artian makanan/minuman itu tidak mengandung bahaya atau sesuatu yang tidak baik. Seperti pengawet (bayangin nugget dan sosis di rumah ya Bu...hehe), pewarna (minuman anak-anak apa saja yang boleh ada di kulkas Anda?), dan proses yang berlebihan sehingga menghilangkan nutrisinya. Ayolah Bu, daripada beli buah kalengan yang diimpor dari Cina, lebih lengkap nutrisinya beli pepaya di kebun tetangga :)
#Beri makan otaknya, jasadnya, dan hatinya....
Diajari mengenal huruf sudah, diajak main ke sodara sudah, diajari sopan santun sudah, diberi susu murni sudah, brokoli juga habis... apalagi?
Kenalkan ia pada Penciptanya. Memulainya sedini mungkin dari hal terdekat. Misal, ketika ia bertanya, dari mana datangnya adik? Maka saya menjawab, "dititipkan Allah pada ayah dan bunda."
Jangan sampai kita mengenalkan anak kepada Tuhannya ketika menakut-nakutinya. "Kalau nasinya nggak habis nanti dimarahi Tuhan, lho!" Karena yang diingat anak kemudian hanya sisi kemurkaan Tuhan.
Ajak anak mengenal seluruh sifat Allah yang terentang di permukaan bumi :) Kenalkan anak pada RahmatNya dalam hujan yang turun, RahmanNya dalam rejeki yang turun, AkbarNya pada kemegahan jagad raya....
Setiap anak hebat--meski tidak perlu kita umumkan pada dunia tentang hebatnya anak kita--karena ia diberikan akal oleh Allah untuk berpikir. Tugas kitalah untuk mengenalkannya agar ia bisa menggunakan akal pikirannya agar bermanfaat bagi orang banyak. Membawa maslahat bagi ummat. Menjadi problem solver. Menjadi penyejuk hati di akhir zaman yang gersang ini... Aamiin.
Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak hebatnya?
# Mencintai tanpa syarat
Saya menyebutkan ini di awal tulisan. Love them just the way they are. Anak yang hebat adalah anak yang bahagia. Ia tahu dirinya dicintai orang tuanya, diinginkan, dipedulikan. Anak-anak dengan harga diri yang utuh akan lebih mudah untuk berkembang.
#Dampingi Ia Mengenal Dunia
Jangan biarkan anak mengenal dunia dari TV, di mana dunia itu penuh keajaiban, dunia itu banyak orang jahat, dunia itu melulu tentang cinta antarlawan jenis.
Bawa ia mengenal lingkungannya. Sepetak lapangan di dekat rumah bersama sekumpuluan bocah yang sedang bermain sepak bola--ia akan belajar tentang manusia lain dan bagiaman bersikap ramah. Semeter tanah yang ditanami cabe dan tomat--ia akan belajar tentang proses alam dan kesabaran. Mengunjungi saudara yang lama tak dijenguk--ia akan lihat indahnya silaturahmi. Membiarkannya membantu di dapur--ia akan belajar banyaaak hal!
![]() |
| berkebun |
#Bukan berikan benda, tapi berikan waktu
Baiklaaah, dia mungkin akan senang ketika Anda membelikannya seperangkat mainan baru. Tapi akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang jika Anda juga memberikan waktu Anda. Percaya deh, setengah jam Anda temani pun dia mungkin sudah mulai bosan. Lagi pula, semakin mereka besar, semakin sedikit waktunya yang akan ia habiskan dengan kita, calon jompo ini. Saya sendiri berprinsip, temani sepuluh menit (matikan komputer, TV, Facebook, iPad, bahkan kompr!), dan selanjutnya biarkan mandiri dua puluh menit. Dengan porsi seperti itu, anak-anak cenderung bermain dengan tenang di 20 menit berikutnya karena ia sudah puas Anda perhatikan semata wayang di sepuluh menit awalnya. Coba saja, akan sangat berbeda dengan ketika Anda temani selama 30 menit tapi selama itu pula Anda sambi dengan pekerjaan lain.
![]() |
| itallkidsplay |
#Biarkan imajinasinya berkembang
Kalau ia bilang barusan melihat bulan menyenggol bintang, percayai saja. Otaknya sedang mencoba mencerna bagaimana alam ini bekerja. Membantahnya hanya akan membuat ia kesal dan berhenti berpikir. Dengan loncatan-loncatan pikirannya, ia pada akhirnya akan sampai pada kenyataan sebenarnya. Di lain waktu, Anda bisa menemaninya membaca buku tentang bulan dan alam semesta. Ia pasti senang sekali mendapati kalau bukan cuma ia sendiri yang memikirkan alam semesta ini.
#Sediakan lingkungan yang mendukung kecerdasannya
Itu termasuk Anda. Kalau Anda suka membaca dan berdiskusi, anak-anak juga akan menyukainya. Dinding yang penuh coret cemoret adalah hal lumrah bagi Anda yang memiliki balita. Daripada menjauhkan krayon darinya, kenapa tidak mencoba alteratif lain i.e. memberikan ruangan/dinding yang bisa dia coret; lapisi dinding dengan kertas, berikan dia krayon yang bisa dihapus hanya dengan lap basah. Jangan hentikan anak yang suka bertanya, jangan larang ini itu selama tidak bahaya dan melanggar kesopanan.
![]() |
| CartoonStock |
Melaranglah dengan bahasa yang enak di telinga anak. Daripada mengatakan, "jangan coreti buku Mama!" lebih baik megatakan, "coreti kertas ini saja ya, kertas Mama mau dibaca."
#Active body, active mind
Sekali lagi, jangan biarkan ia menghabiska kebanyakan waktunya di depan TV. Ini peringatan untuk saya sendiri sebenarnya. Anak-anak jelas akan menyukai TV, apalagi di usia 3-5 tahun dengan acara-acara Disney yang dibuat (memang) semenarik mungkin. Tapi, ia tidak akan belajar dari sana. Ia mungkin akan menerima satu atau dua informasi baru. Tapi ini terkait dengan cara belajarnya. Jika ia biasa hanya menerima, ia tentu akan sulit terstimulai untuk mencari sendiri. Berbeda dengan jika Anda melepaskannya di sepetak kebun untuk mencari ladybug, atau di lapangan untuk bermain bola bersama temannya. Sekedar contoh, Amy putri saya senang sekali dengan Jake and The Never Island Pirates, tapi tetap saja ia lebih tertarik dengan bermain pasar-pasaran bersama teman-temannya. Anak bisa dialihkan dari TV, selama kita mau mencarikan kegiatan alternatif yang memancing kegiatan fisik dan otak.
#Berikan nutrisi yang tepat
Tidak perlu mahal atau keren, yang penting adalah kelengkapan nutrisi dalam sebuah piring. Komposisinya adalah setengah buah dan sayur, seperempat grain (padi-padian), dan seperempat protein.
Tidak harus Apel kalau Anda cuma punya pepaya. Sudah tanggung jawab kita untuk belajar tentang nutrisi anak. Apa yang meraka makan dan tidak akan menjadi tanggung jawab kita--dunia akhirat kalau menurut saya.
Di usia-usia pertumbuhannya, anak membutuhkan banyak energi, baik untuk kinerja fisik maupun otaknya. Jangan lupa, makanan dan minuman itu haruslah halal dan baik. Halal ketika ia tidak mengandung sesuatu yang haram, juga tidak dihidangkan dengan cara yang haram (termasuk sumber uangnya), baik dalam artian makanan/minuman itu tidak mengandung bahaya atau sesuatu yang tidak baik. Seperti pengawet (bayangin nugget dan sosis di rumah ya Bu...hehe), pewarna (minuman anak-anak apa saja yang boleh ada di kulkas Anda?), dan proses yang berlebihan sehingga menghilangkan nutrisinya. Ayolah Bu, daripada beli buah kalengan yang diimpor dari Cina, lebih lengkap nutrisinya beli pepaya di kebun tetangga :)
#Beri makan otaknya, jasadnya, dan hatinya....
Diajari mengenal huruf sudah, diajak main ke sodara sudah, diajari sopan santun sudah, diberi susu murni sudah, brokoli juga habis... apalagi?
Kenalkan ia pada Penciptanya. Memulainya sedini mungkin dari hal terdekat. Misal, ketika ia bertanya, dari mana datangnya adik? Maka saya menjawab, "dititipkan Allah pada ayah dan bunda."
Jangan sampai kita mengenalkan anak kepada Tuhannya ketika menakut-nakutinya. "Kalau nasinya nggak habis nanti dimarahi Tuhan, lho!" Karena yang diingat anak kemudian hanya sisi kemurkaan Tuhan.
Ajak anak mengenal seluruh sifat Allah yang terentang di permukaan bumi :) Kenalkan anak pada RahmatNya dalam hujan yang turun, RahmanNya dalam rejeki yang turun, AkbarNya pada kemegahan jagad raya....
Setiap anak hebat--meski tidak perlu kita umumkan pada dunia tentang hebatnya anak kita--karena ia diberikan akal oleh Allah untuk berpikir. Tugas kitalah untuk mengenalkannya agar ia bisa menggunakan akal pikirannya agar bermanfaat bagi orang banyak. Membawa maslahat bagi ummat. Menjadi problem solver. Menjadi penyejuk hati di akhir zaman yang gersang ini... Aamiin.
| Nizam Memilih Sayuran |
Sekarang, pertanyaannya sehari-hari adalah kapan dia bisa memakai seragam TK-nya.
Mungkin ini belum saatnya untuk lega. Tapi lumayan lega...karena saya menganggap fase krusial Amy sudah sebagian besar terlewati. Saya bersyukur sudah melakukan seoptimal mungkin selama 3 tahun awal usianya yang merupakan golden age bagi proses tumbuh kembang. Tak sempurna memang, bahkan ketika menjalaninya saya sempat merasa goyah. Tapi sekarang semua tantangan soal nutrisi tepat dan stimulasi optimal itu menjadi catatan yang berharga, salah satunya untuk memantau tumbuh kembang Nizam, si adik.
TAHUN PERTAMA....
Sejak mereka bayi, dalam mengontrol tumbuh kembangnya saya hanya berpegang pada: KMS, catatan dokter anak, ahli gizi, dan rekaman tahapan tumbuh kembangnya. Saya tidak membanding-bandingkannya dengan anak lain. Karena saya tahu, setiap anak akan mencapai tahapan tumbuh kembangnya dengan cara dan waktu yang berbeda. Yang harus saya lakukan hanyalah memberinya nutrisi yang tepat, memeriksakan kesehatannya dengan teratur, and love them just the way they are.
Tentang ASI Eksklusif
Saya pikir sudah berhasil memberikan putri saya ASI ekslusif selama 6 bulan pertama. Sebagai sumber gizi terbaik untuk bayi, ya, dia memang mendapatkannya. Tapi soal kualitas ASI, saya hanya berharap ia mendapatkan nutrisi terbaik dari ASI yang saya berikan, karena.... sekali dua kali saya kecelakaan juga makan sembarangan--dan ini pasti berpengaruh pada kualitas ASI saya-- Tapi itu tidak membuat saya merasa bersalah berkepanjangan dan putus asa memberikan anak saya ASI. Pasal satu dalam memberika ASI eksklusif adalah komitmen. Pasal kedua, nutrisi yang baik bagi ibu sejak hamil. Kalau kata ibu saya, malah sejak jauuh sebelumnya harus sudah membiasakan diri mengkonsumsi makanan sehat.
Setelah disarankan Pediatrik langganan kami, saya menggunakan developmental milestone chart seperti yang di bawah ini, untuk memantau tumbuh kembang kedua anak saya. Pas anak pertama, saya hampir setiap hari membacanya dan mencentangnya, hingga nyaris hafal luar kepala--akhirnya memang hafal. Tapi di anak kedua sudah lebih tenang, bagi saya yang pentig momennya.
Dengan chart ini, saya bisa tahu tahapan yang harus dilaluinya, sehingga saya tidak perlu merasa risau ketika melihat tumbuh kembang anak lain. Maklum, ibu baru, suka galau kalau lihat anak lain lebih sehat :) Misalnya saja, ketika usia setahun Amy masih melangkah pendek-pendek sementara temannya sudah berjalan lancar, saya kembali mengacu pada chart ini. Kata pakar, tidak terlalu penting usia berapa dia bisa berjalan lancar. Yang penting adalah ia melalui tahapan seperti berpijak dengan pegangan, berpijak dengan pegangan satu tangan, berpijak tanpa pegangan, dan seterusnya. Kalau dalam pemantauan itu ada tahap yang terlewati, saya akan konsultasikan pada pediatrik pada kunjungan bulanan kami.
Dengan chart ini, saya bisa tahu tahapan yang harus dilaluinya, sehingga saya tidak perlu merasa risau ketika melihat tumbuh kembang anak lain. Maklum, ibu baru, suka galau kalau lihat anak lain lebih sehat :) Misalnya saja, ketika usia setahun Amy masih melangkah pendek-pendek sementara temannya sudah berjalan lancar, saya kembali mengacu pada chart ini. Kata pakar, tidak terlalu penting usia berapa dia bisa berjalan lancar. Yang penting adalah ia melalui tahapan seperti berpijak dengan pegangan, berpijak dengan pegangan satu tangan, berpijak tanpa pegangan, dan seterusnya. Kalau dalam pemantauan itu ada tahap yang terlewati, saya akan konsultasikan pada pediatrik pada kunjungan bulanan kami.
![]() |
| Children Developmental Milestone Chart diambil dari sini |
Hal yang perlu diingat adalah, masa pencapaian tahapan tumbuh kembang ini dibuat cukup lebar karena setiap anak berbeda. Ada anak yang sudah bisa berjala di usia 9 bulan, dan ada juga anak yang bisa berjalan di usia 18 bulan. Keduanya sama normal. Yang saya lakukan sebagai ibu hanya memastikan ia mendapatkan stimulasi yang tepat--bukan paksaan dengan tatapan menyesal, "kenapa kamu belum jalan juga sih Naaak"--
Meski sering melototin chart ini, sambil menunggu-nunggu perkembangan selanjutnya, saya berusaha menikmati setiap momen yang kami lewati. Mungkin itu yang membuat tidak terasa waktu sudah berjalan hampir empat tahun.
MPASI
Nah, ini dia yang hingga tahun kedua usia Amy sedikit menguras otak Bundanya. Ada banyak sekali bubur instan dengan berbagai rasa di luar sana. Percayalah, saya saaangat tergoda untuk memakainya. Tapi, mungkin makanan bungkusan itu benar mengadung gizi dan sebagainya seperti yang disebutkan. Mungkin. Tapi saya tahu yang benar-benar mengandung gizi: bahan di dapur saya.
Sampai usia setahun, rasanya dia mudah-mudah saja membuka mulut untuk makan...
MEMASUKI TAHUN KEDUA....
(Masih) MPASI
Ya, sekarang usianya 15 bulan dan dia sudah bisa protes kalau makaannya itu-itu saja. Atau kalau rasa wortel buatan saya pahit. Ia juga bisa mengeluhkan sakit perut karena ketajaman rasa makanan tertentu. Di satu sisi, itu baik karena saya jadi tahu apa yang ia inginkan atau tidak cocok dengan lambungnya. Di sisi lain, itu benar-benar menantang kreatifitas saya untuk menghidangkan makanan yang tidak akan berakhir di tong sampah.
Berburu resep teryata tidak cukup. Seorang ibu harus punya nyali chef di restoran bintang lima, dengan prefeksionis lidah pelanggannya. Kalau dia menolak makanan yang satu, saya harus bersiap dengan makanan berikutnya. Bukan berarti memanjakannya, tapi prioritas saya saat itu adalah dia makan. Kalau tidak nasi, maka karbohidrat lain. Tidak sayur, ya buah. Tidak daging ya bakso. Menolak ayam, saya buatkan nugget.
Selain variasi menu, sangat penting untuk menemani ketika anak sedang makan. Saya tidak membiarkannya duduk di depan TV dengan piring yang teracak-acak. Tak ada masalah dengan makanan berantakannya, selama itu adalah proses ia menuju kemandirian, tapi TV? No waaay... Itu hanya akan mementahkan secantik apapun bento yang saya hidangkan untukya.
Seorang ibu juga harus rela belajar lebih di luar ilmu yang ia kuasai. Dalam hal ini saya butuh pendamping, karena itulah saya berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli gizi. Penting bagi orang tua untuk mengkonsultasikan gizi si kecil kepada ahlinya. Misal, ketika saya khawatir Amy kekuragan gizi karena tubuhya lumayan kurus, saya membawaya ke dokter untuk memeriksakan zat besi (setelah ia berumur satu tahun) dan kemudian ke ahli gizi. Ternyata hasilnya ia baik-baik saja. Tapi memeriksa dengan rutin itu perlu, karena kadang kekurangan nutrisi yang tepat tidak terlihat begitu saja. Pernah suatu kali pula, saya membawanya ke ahli gizi yang sama dan mengkonsultasikan kondisi Amy yang cepat sekali lapar. Dari daftar menu sebulan kemarin yang saya bawa saat itu, ahli gizi bisa mengetahui kalau putri kami kekurangan lemak dalam menunya.
Piring pada gambar di sebelah disebut Healthy Plate. Anda bisa kunjungi website resmi Healthy Kids Plate untuk lebih banyak ide. Ini adalah cara sederhana untuk memastikan apa yang anak makan. Aturanya sederhana sekali:
Setengah dari piring adalah buah dan sayur. Seperempatnya adalah protein. Seperempatnya lagi adalah karbohidrat.
Ada beberapa nutrisi yang sering terabaikan dari menu anak-anak. Pakar nutrisi Maryann T. Jacobsen menyebutkanya:
1. Zat besi
Selama beberapa tahun pertama, pertumbuhan terjadi dengan cepat dan tubuh akan bermasalah ketika tidak memiliki pasokan zat besi yang cukup. Salah satu fungsi utama zat besi adalah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Defisiensi zat besi sering kali tidak terlihat gejalanya. Ia baru terlihat ketika sudah menjadi anemia. Anak menjadi mudah lelah, sariawan, imunitasnya turun, dan kognitifnya melemah.
Tips: Vitamin C akan membantu penyerapan zat besi higga 3 kali lipat. Jadi, tambahkan buah bervitamin C pada sereal anak, tomat pada burritosnya, atau kemangi pada sate kerangnya.
2. Vitamin E
Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan. Vit E terdapat di biji-bijian, minyak sayur, kacang-kacangan, dan alpukat.
Tips: Ganti mayonise dengan alpukat.
3. Vitamin D
Meski namanya vitamin, para ilmuwan lebih menganggap ini sebagai hormon, berdasarkan fungsinya. Vitamin D diperlukan tubuh sebagai simpanan kalsium di dalam tulang. Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan diabetes, penyakit pada cardiovascular, kerusakan imunitas, dan memicu pertumbuhan sel kanker. Kebanyakan orang tidak mendapatkan vitamin D dari makanan, melainkan dari sinar matahari. Sumber makanan untuk vitamin D adalah minyak ikan, minyak hati ikan, susu, dan beberapa jus jeruk yang sudah ditambahkan Vit D.
Tips: ASI adalah sumber vitamin D paling tinggi bagi bayi.
4. Kalsium
Asupan kalsium yang cukup ketika pembentukan tulang di masa anak-anak akan mencegah terjadinya osteoporosis di masa tuanya. Sumber untuk kalsium adalah susu dan semua produk olahannya, serta bayam, kedelai, okra, sardine, salmon.
5. Potassium
Jika kebanyakan sodium bisa membuat tekanan darah naik, maka potassium melakukan sebaliknya. Potassium berguna untuk kesehatan tulang dan mencegah batu ginjal. Kekurangan potassium biasanya disebabkan kurangnya mengkonsumsi sayuran dan buah, dan terlalu banyak mengkosumsi makanan kemasan dan berpengawet. Sumber untuk potassium adalah tomat, kedelai, kentang, prune, wortel.
![]() |
| Potassium Foods |
6.Asam Lemak Esensial (atara lain ALA, DHA, Asam lemak Omega-3)
Rata-rata anak di bawah usia lima tahun kekurangan asam lemak esensial, karena kita tidak tahu lemak seharusnya yang bisa mereka konsumsi. Sumber-sumbernya antara lain adalah minyak sawit dan ikan laut tertentu.
7. Serat
Sebagai bagian dari karbohidrat yang tidak diserap pencernaan, serat berfungsi untuk mengatur gula darah, bermanfaat sebagai memperlancar pencernaan, da mengurangi resiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
--Kunjungi Health Gov untuk list sumber nutrisi lebih lengkap.
Saya juga memasukkan daftar menu Amy minggu lalu sebagai contoh yang disarankan ahli gizinya.
Kadang-kadang, sumber makanan yang sehat belum tentu menjamin anak menerima nutrisi yang cukup. Masalahnya ada pada bagaimana mengolah makanan tersebut. Seperti sayur. Setiap sayur memiliki penanganan yang berbeda. Untuk aman, saya memilih mengukus sayuran hijau, atau menumisya sebentar dengan menggunakan minyak Canola. Ikan lebih sering dipanggang atau di Slow Cooking. Percaya deh, ternyata ada banyaaak sekali hal-hal seru yang patut dicoba setiap ibu sebelum menyerah karena anaknya tidak mau makan.
Langganan:
Postingan (Atom)




















